From: "HKSIS" <[EMAIL PROTECTED]>  
Date: Thu, 5 Aug 2004 08:48:03 +0800 
Subject: [nasional-list] Mengapa Jerman Berpaling ke
Cina? 

    
http://www.suarapembaruan.com/News/2004/08/04/index.html
SUARA PEMBARUAN DAILY 
--------------------------------------------------------------------------------

Mengapa Jerman Berpaling ke Cina?
Oleh Justino Djogo MA 

ERSINGGAHAN ketiga Kanselir Jerman Dr Gerhard
Schroeder dalam rangkaian kunjungan lima harinya di
Asia Tenggara tahun lalu adalah Indonesia. Tanggal 14
Mei 2003, dengan upacara kehormatan militer di Istana
Merdeka, Presiden RI Megawati Soekarnoputri menyambut
kedatangan tamu kehormatannya ini. Lebih dari dua
puluh kali dentuman meriam dilontarkan ketika lagu
kebangsaan kedua negara, Indonesia Raya dan Einigkeit
und Recht und Freiheit (Kesatuan dan Hukum dan
Kebebasan), dikumandangkan. Menurut sumber di kalangan
Istana, tidak semua pemimpin negara diterima dengan
acara kemiliteran seperti ini. Artinya, Kanselir
Jerman sangat spesial. 

Ketika berpidato di hadapan pers dan disaksikan
sejumlah menteri kabinet, Kanselir Republik Federal
Jerman dan Presiden Megawati, menyerukan penguatan
peran PBB dalam dunia yang multipolar, terutama dalam
bantuan kemanusiaan untuk proses pembangunan kembali
Irak. Secara khusus Megawati melukiskan, kunjungan itu
sebagai revitalisasi kerja sama ekonomi antarakedua
negara yang makin erat di masa depan. Megawati juga
menekankan, untuk menumpas terorisme internasional,
ada komitmen bersama dalam mencari pemecahan yang
konstruktif. 

Sayangnya, setelah hampir satu tahun kunjungan itu,
belum ada langkah spektakuler yang menandai kerja sama
bilateral Indonesia-Jerman di bidang ekonomi. Yang ada
justru bantuan ''sosial'' beberapa LSM Jerman seperti
Gesellschaft der Technische Zusammenarbeit
(GTZ-kerjasama dalam bidang teknik), Kreditanstalt
fuer Wiederaufbau (KfW-bank pembangunan Jerman),
Deutsche Entwicklungsgesellschaft (DEG-masyarakat
pembangunan Jerman). Memang, intervensi pemerintah
Jerman dalam menyukseskan proyek LSM Jerman di
Indonesia, pasti ada. 

Jika tidak ingin dikatakan acuh tak acuh, sebenarnya
respons pemerintahan kita terlambat. Bayangkan,
Kanselir di akhir pidatonya saat itu secara pribadi
dan juga atas nama Presiden Republik Federal Jerman Dr
Johannes Rau, mengundang Presiden Megawati
Soekarnoputri untuk berkunjung ke Jerman. Namun,
sampai hari ini, capres PDI-P itu belum punya waktu
untuk kunjungan balasan ke Jerman. Padahal, Presiden
Jerman Dr Johannes Rau sudah ke Indonesia tahun 2001. 

Kita pun berharap agar pemerintahan yang baru nanti
bisa lebih serius mengatur daftar perjalanan
kenegaraan ke kawasan Uni Eropa dengan agenda bisnis
yang jelas, efisien dan tidak sekadar jalan-jalan.
Bagaimanapun, ikatan silaturahmi Indonesia-Jerman
sudah terjalin sangat baik sejak masanya Pak Harto.
Bahkan, sebelum Pak Harto lengser, Dr Helmut Kohl
pernah mengunjungi negara ini Juni 1996 lalu. Kita
hanya bisa menepuk dada, karena Kanselir Jerman tahun
2003 saja, sudah 3 kali ke Cina. Awal tahun 2004 ini
pun ia sudah berkunjung ke Cina lagi. 

Selain Prancis, Jerman tampil sebagai ujung tombak Uni
Eropa. Karena itu, kebijakan perekonomiannya pun
menjadi sangat penting untuk diperhatikan. Ekspor
memberikan angin segar bagi perekonomian Jerman. Kamar
Dagang dan Industri Jerman (DIHK-Deutsche Industrie
Handelskammer) memprediksikan kinerja ekspor akan
meningkat di tahun 2004 sebesar 4,8 persen. Fase suram
dalam dua tahun belakangan ini akan berakhir. Menurut
Dr Juergen Wagenmann, Managing Director of EKONID
(Perkumpulan Ekonomi Indonesia Jerman), Indonesia
tetap menjadi target bisnis Uni Eropa termasuk Jerman.



Indonesia Diremehkan 

Dr Arifin Siregar, mantan Gubernur BI dan mantan Ketua
Perkumpulan Ekonomi Indonesia Jerman (EKONID) pernah
menyampaikan, relasi bisnis antara Jerman dan
Indonesia sudah berlangsung sekian lama. Aneka
perusahaan populer seperti Siemens, DaimlerChrysler,
Allianz, BMW, Volkswagen, AUDI, BASF, MERCK, BAYER
adalah perusahaan-perusahaan Jerman yang sudah sangat
akrab di pasar Indonesia. Namun dalam beberapa tahun
terakhir, peranan Indonesia seakan-akan dilupakan
Jerman dan memalingkan perhatiannya ke Cina. 

Padahal, Indonesia adalah negara yang terus bergerak
ke era demokrasi yang tidak pernah terjadi sebelumnya.
Sebagai negara demokratis, Indonesia adalah pasar yang
sangat potensial bagi pelaku bisnis dari Jerman. Salah
satu faktornya adalah jumlah penduduk Indonesia yang
mendekati 220 juta jiwa. Kanselir Jerman saat itu
menegaskan, kunjungan ke beberapa negara ASEAN lainnya
didasarkan atas keyakinan bahwa masa depan bisnis di
planet ini ada di Asia. ASEAN sebagai satu kesatuan
regional, sangat potensial. Dengan penduduk lebih dari
500 juta jiwa, ASEAN merupakan lahan dan target bisnis
Jerman di masa depan selain Cina. 

Pada sisi lain, Jerman bukanlah negara yang sempurna.
Tapi mutlak diperlukan suatu kerja sama antarnegara di
dunia. Tak ada satu negara pun yang bisa menjalankan
roda bisnisnya sendiri tanpa kerja sama dengan negara
lain. Karena itu, harus ada kerja sama timbal balik
penanaman modal antara Indonesia dan Jerman. 

Meskipun Indonesia masih sangat diremehkan di Eropa,
namun negara kathulistiwa ini sekarang memiliki
cadangan devisa yang cukup setelah dibebani dengan
kelebihan utang yang sangat besar selama beberapa
tahun. Vietnam juga menunjukkan perkembangan yang sama
namun perlahan-lahan mendapatkan perhatian luar biasa
dari berbagai perusahaan di Eropa dan Jerman. Kita
tidak boleh salah menilai bahwa di samping, Cina masih
ada perkembangan penting lain di Asia, yaitu
Indonesia. 

Banyak pemerhati ekonomi mengatakan, Indonesia sangat
memerlukan UU Ketenagakerjaan yang baru karena negeri
ini sudah jauh tertinggal dalam persaingan di Asia.
Resep tradisional untuk bersaing melalui strategi
ekspor produk murah ke pasar internasional kini
dipertanyakan dengan serius. Cina, negara berpenduduk
terbesar di dunia, saat ini bagaikan magnet yang
menarik investasi dari seluruh dunia dan sekaligus
membanjiri pasar dunia dengan produk murah dan
akibatnya mengancam kinerja ekspor negara-negara
tetangganya, termasuk Indonesia. 

Menperindag Hartarto di era Soeharto telah
memprediksikan hal itu jauh sebelumnya bahwa Cina
merupakan ancaman terbesar bagi ekspor Indonesia ke
pasar dunia. Prediksi itu menjadi kenyataan, bahkan
perkembangan selanjutnya lebih dramatis daripada yang
dibayangkan. Keluhan dari industri tekstil Indonesia
sudah banyak disuarakan dan situasinya memang serius. 

Tahun lalu saja, Cina berhasil menarik investasi asing
sebesar US$ 50 miliar dan ekspor US$ 322 miliar. AS
adalah negara tujuan ekspor utama, sementara pasar
Asia secara intensif terus digarap. Tidak hanya ekspor
produk tekstil, tetapi juga mainan, sepatu, komponen
komputer, telekomunikasi, produk elektronik dan
lain-lain. Majalah Fortune menulis: "The China syndrom
could bring much greater trauma. Workers in Southeast
Asia will be the clear victims of China?s success". 

Sekarang, Indonesia dan Cina menjalin banyak kerja
sama ekonomi, namun perkembangan di Cina dalam
beberapa tahun terakhir jauh lebih pesat dibandingkan
Indonesia. Cina tumbuh 6-7 persen per tahun sementara
Indonesia hanya 3-4 persen. Para pengusaha Cina secara
agresif merambah pasar Amerika dan Eropa. 

Di Asia mereka menjalankan strategi membanjiri pasar
dengan produk murah untuk mendepak pesaing dari negara
lain. Hal itu membuat produsen nasional di Indonesia
mengalami tekanan yang luar biasa, juga di Thailand,
Malaysia, Singapura, bahkan Jepang. Singapura
mengembangkan strategi baru dengan memfokuskan diri
pada industri lain. 

Singapura mampu melakukannya karena penduduknya
sedikit, sementara standar pendidikan sudah tinggi dan
dengan demikian memungkinkan untuk berkonsentrasi pada
industri padat pengetahuan seperti penelitian gen.
Untuk negara-negara seperti Indonesia tentunya
strategi seperti itu tidak mungkin. 

Dengan kondisi pendidikan yang masih jauh dari
memadai, kualitas tenaga kerja serta lulusan
pendidikan menengah dan tinggi yang masih rendah,
Indonesia tertinggal jauh. Kondisi itu takkan berubah
kecuali reformasi bidang pendidikan segera dilakukan
secara spektakuler 

Disiplin dan Produktivitas 

Yang juga menyedihkan adalah bila membandingkan
disiplin dan produktivitas kerja di Indonesia,
penegakan hukum dan korupsi yang sangat menghambat
kemampuan ekspor pengusaha Indonesia. Ditambah lagi
dengan ancaman Negeri Tirai Bambu di pasar domestik
dengan produk murahnya. Banyak orang menduga mayoritas
produk tersebut adalah barang selundupan yang dibantu
masuk ke Indonesia oleh orang-orang yang korup. 

Singapura dan Malaysia masih lebih baik menanganinya
karena jumlah penduduk jauh lebih sedikit dan tingkat
pendidikan secara kualitatif lebih baik. Sebab itu,
mereka memilki peluang yang lebih baik untuk ekspor ke
Cina di bidang-bidang yang berorientasi masa depan. 

Pemerintah Indonesia bertekad meningkatkan investasi
asing dan memperbaiki kinerja ekspor pengusaha lokal.
Hal itu patut dipuji. Tapi apakah berhasil, masih bisa
diperdebatkan. Yang jelas, melalui politik industri
dan ekonomi, Indonesia harus bereaksi terhadap serbuan
produk Cina di pasar sendiri. 

Hal itu bisa dilakukan dengan peningkatan bea impor
atau pembatasan lainnya. Dan secara lebih strategis,
Indonesia harus meningkatkan produktivitas, dan
menekan biaya produksi. Sayang, penentang globalisasi
dan persaingan bebas saat ini berada di atas angin,
antara lain terlihat pada nasionalisme ekonomi di DPR
maupun organisasi lainnya. 

Hampir selama 20 tahun Indonesia menikmati kejayaaan
sebagai eksportir produk murah di pasar dunia.
Sekarang Indonesia mengalami dampak buruk dari hal
yang sama. Konsekuensinya, "resep-resep" masa lalu
kembali berkuasa: politik proteksi, nasionalisme
ekonomi, dan tentu saja mimpi-mimpi politik yang lama.


Kecenderungan itu hanya dapat dihentikan apabila ada
tokoh yang energik dan bertangan dingin untuk membawa
politik ekonomi negara ini pada jalur baru dan sukses.
Siapakah dia? Jika Ibu Megawati Soekarnoputri keluar
sebagai pemenangnya, ia masih mempunyai utang
kunjungan balasan ke Jerman. Sedangkan, kalau SBY,
maka ia pasti memiliki lebih banyak agenda safari
perkenalan diri. 


Penulis juru bicara (Humas) Perkumpulan Ekonomi
Indonesia Jerman. 





                
__________________________________
Do you Yahoo!?
Yahoo! Mail Address AutoComplete - You start. We finish.
http://promotions.yahoo.com/new_mail 


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70
http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke