SURAT KEMBANG KEMUNING:
"BELAJAR SAMPAI KE NEGERI CINA" [3].
[Menyambut Rencana Pengajaran Bahasa Mandarin di SLTA Indonesia]
Barangkali dalam usaha menjawab tuntutan untuk bisa hidup secara majemuk dan kemampuan
mengelola kemajemukan ini, akan berguna untuk sejenak melihat politik etnik pemerintah
RRT, sebuah negeri dan bangsa besar dan luas yang juga sangat majemuk.
Guna keperluan ini saya tidak menggunakan bahan-bahan perpustakaan sebagai penopang
tapi berangkat dari apa yang saya lihat sejak pertama kali menginjakkan kaki ke negeri
besar seluas benua ini,pernah kujelajahi dari ujung ke ujung, kemudian bekerja dan
tinggal selama beberapa tahun sebagai pekerja di Kantor Berita Hsinhua, lalu menjadi
petani, peternak kambing & babi dan sopir truk yang naik turun gunung saban hari.
Begitu mendarat di bandara Beijing akhir tahun 1965, udara malam larut terasa dingin
menyusup belulang,lebih-lebih bagi seorang anak khatulistiwa yang selalu dipanggang
oleh terik matahari pulau, selalu membangkitkan rindu. Pertama-tama yang saya ingat
adalah ayah angkat ketika melepaskan saya meninggalkan Yogya. Di ambang gerbang besar
berwarna hijau, ayah berkata: "Kau akan sampai di Tiongkok ketika udara sedang
nyaman-nyamannya. Udara musim gugur adalah udara ternyaman di sana". Ayah-ibu dan juga
tacie tentu menduga bahwa saya tidak selalu menghirup udara yang nyaman.Sosok ayah
yang berkulit kuning bermata sipit, terbayang jelas di mataku ketika kendaraan
membelok ke kanan memasuki halaman hotel besar bertingkat beratap hijau, tidak berapa
jauh dari Tian An Men. Inilah Hotel Minzu Fantien [Hotel Etnik-etnik Minoritas].Dari
nama hotel ini saya membaca sesuatu yang tersirat bahwa RRT menaruh perhatian khusus
pada soal minzu. Kalau tidak mengapa mesti mesti secara khusus menggunakan kata minzu.
Segera saja kata minzu ini memikat perhatianku dan sejak itu saya mengusut hal-hal
yang bersangkutan dengan masalah minzu [etnik atau bangsa minoritas]. Perhatian dan
pengusutan saya lakukan karena di rantau dan tanjung orang mana pun berada,
Indonesia dan masalahnya selalu menjadi poros berangkat dan kembali bagi perhatianku.
Menjadi dermaga kokoh dari mana pinisi pencarianku bertolak dan pulang bersauh.
Seperti diketahui etnik terbesar [dalam hal ini saya tidak menggunakan istilah bangsa,
karena memandang Tiongkok yang beragam adalah satu bangsa dan satu negeri],di RRT
adalah etnik Han. Mayoritas warganegara yang berjumlah lebih dari satu miliard itu
adalah etnik Han dan tinggal tersebar di seluruh negeri hidup berdampingan dengan
etnik-etnik lain yang mendiami wilayah luas tapi secara relatif terpusat. Meo di
Tiongkok Selatan, Uighur di Sinkiang, Tibet di pegunungan yang disebut "atap dunia",
Mongol di padang-padang Mongolia, Korea di Timur Laut. Di tahun-tahun pertama di
Beijing, mula-mula sebagai tamu Himpunan Pengarang Seluruh Tiongkok, kawan yang paling
banyak membantuku dan saban hari bertemu adalah Chen Sa-ju -- kepada siapa karya
"Hoakiau di Indonesia" didedikasikan oleh Pramoedya A. Toer. Chen Sa-ju adalah seorang
penterjemah bahasa Indonesia tataran atas di Kementerian Luar Negeri RRT. Suaminya
seorang dosen bahasa Russia di Beida [Universitas Beijing].Setelah Revolusi Besar
Kebudayaan Proletar,kudengar sahabat dekatku ini berangkat ke Amerika Serikat untuk
melanjutkan studinya. Chen Sa-ju lah yang menceritakan hal-hal ekslusif tentang
Tiongkok kepadaku. Dia jugalah yang berkisah banyak kepada saya tentang politik etnik
Tiongkok dan lain-lain soal yang tak terdapat di buku serta suratkabar. Tahu perhatian
saya demikian besar akan masalah minzu ini, ia secara khusus membawaku mengunjungi
Minzu Daxue [Universitas Etnik-etnik Minoritas] di Beijing.
- "Mengapa mesti ada universitas khusus untuk etnik-etnik minoritas?" tanyaku.
+ "Tentu kau paham bahwa adanya universitas khusus begini sekali lagi memperlihatkan
perhatian khusus pemerintah terhadap masalah minzu. Minzu punya kekhususan mereka,
sejarah dan budaya serta psikhologi mereka sendiri yang tidak sama dengan etnik
mayoritas Han. Kalau kita tidak memperhatikan secara khusus hal-hal demikian melalui
politik etnik yang khusus dan tanggap, akan gampang membangkitkan
keresahan-keresahanan sosial berdampak besar pada kehidupan berbangsa dan bernegara.
Masalah minzu adalah masalah peka", ujar Chen Sa-ju menterjemahkan keterangan Rektor
Universitas yang menyambut kami berdua.
-"Dan Minzu Daxue merupakan pengejawantahan dari politik etnik Tiongkok?" tanyaku.
+"Benar" jawab Rektor. "Melalui adanya Minzu Daxue, kami ingin memberikan jaminan
peluang pendidikan kepada etnik-etnik mintoritas agar setara dengan etnik Han yang
mayoritas, menangkal lahirnya kecemburuan oleh kesenjangan dan monopoli mayoritas".
-"Barangkali juga mengarah ke tujuan agar semua etnik, lebih-lebih yang minoritas
untuk merasa berada "di rumah sendiri" di dalam RRT, merasa menjadi tuan atas nasib
diri mereka sendiri dan tidak merasa dijajah oleh mayoritas?" tanyaku seperti bergumam.
+"Memang tepat demikian. Kau tahu, kawan, merebut kekuasaan politik jauh lebih gampang
daripada mengkonsolidasinya sesuai tujuan semula", ujar sang Rektor. Pernyataan ini
kemudian kudengar kembali dari mulut seorang jenderal Tentara Pembebasan Vi�t Nam
Selatan yang baru keluar dari kancah pertemuan begitu agresor Amerika Serikat dihalau
dan lari terbirit-birit sehingga menimbulkan "sindrom Vi�t Nam" pada agresor.
"Membangun negara adalah pertempuran tersendiri dan lebih rumit dari pertempuran fisik
di medan perang. Saya bisa memimpin perang tapi saya merasa tidak berkemampuan
memimpin pembangunan negara", ujar sang jenderal dengan santai. "Untuk itu semenjak
masa perang yang berlangsung selama bergenerasi-generasi kami sudah menyiapkan tenaga
untuk pembangunan negeri" tambah sang jenderal sambil menepuk bahuku."Saya merasa
sekalipun seorang jenderal, tidak punya kelayakan untuk mampu memikul tantangan
berikut", tambahnya jujur dan rendah hati.
+ "Bisa dipastikan bahwa tidak akan ada RRT jika ia hanya diperjuangkan oleh etnik
mayoritas Han. RRT adalah rumah bersama semua etnik di wilayah Republik Rakyat ini.
RRT adalah salah satu ujud dari mimpi dan harapan semua etnik", tambah sang Rektor.
"Bersama kau sesungguhnya akupun belajar tentang masalah minzu yang menjadi
perhatianmu", tambah Chen Sa-ju sambil tersenyum dalam bahasa Indonesia seakan-akan
kalimatnya merupakan bagian dari rangkaian penjelasan sang Rektor. Mendengar kalimat
selipannya saya hanya tersenyum.
+ "Agar semua etnik merasa dan nyata melihat bahwa darah mereka yang tumpah untuk RRT
dihargai, mimpi dan harapan mereka tidak dicampakkan maka diperlukan adanya politik
etnik yang tepat", tambah sang Rektor yang mengajak kami berjalan mengelilingi halaman
kampus dipenuhi oleh reruntuhan daun musim gugur. Chen Sa-ju menjelaskan kepada sang
Rektor keadaan etnik-etnik di Indonesia, termasuk keadaan etnik Tionghoa Indonesia
yang menjadikan percakapan kian hangat dan tidak formal. Tapi seperti yang berlangsung
antar sahabat-sahabat lama. Sang Rektor mengajak kami duduk sejenak di bangku taman
kampus di bawah hembusan sejuk angin musim sambil meneruskan pembicaraan terkadang
diselingi oleh canda. Siapa bilang orang Tiongkok tidak bisa bercanda? Mereka
mempunyai cara bercanda sendiri dan munculnya canda merupakan tanda lahirnya
keakraban. Apalagi saya datang ke Minzu Daxue bukan sebagai diplomat tapi sebagai
seorang murid kecil yang ingin belajar.
+ "Dalam menerima para mahasiswa, kami mengutamakan dan mendahulukan putera-puteri
buruh, buruh tani dan kaum tani miskin! Lapisan bawah masyarakat minzu", ujar Rektor
menjawab pertanyaanku. Barangkali perlu dijelaskan bahwa kaum buruh, buruhtani dan
kaum tani miskin merupakan landasan strata sosial kekuatan berdiri dan
pengkonsolidasian RRT. Strata sosial ini tadinya merupakan mayoritas di Tiongkok.
Partai Komunis Tiongkok memandang lapisan-lapisan ini merupakan strata sosial yang
paling setia dan bisa dipercayai dibandingkan dengan tani sedang lapisan atas atau
kelas menengah serta para cendekiawan yang belum tergembleng. Perekrutan Tentara
Pembebasan Rakyat Tiongkok dilakukan dengan mempertimbangkan asal strata sosial ini.
Dari sini nampak pada waktu itu bahwa secara politik umum, baik secara nasional atau
dilihat dari segi etnik, RRT dalam bidang pendidikan menggunakan politik
penjungkirbalikan, yaitu mengembangkan potensi mayoritas penduduk negeri dari lapisan
bawah yang selama berabad-abad ditindas. Dalam artian ini Mao Zedong melihat segi
positif dan menguntungkan "kemiskinan" rakyat Tiongkok. Oleh kemiskinan tak bertara
sebelum "pembebasan" [istilah yang digunakan di Tiongkok], Mao Zedong melihat rakyat
Tiongkok sebagai lembaran kertas putih yang patut ditulis. Saya kembali membayangkan
raja Kera Putih atau Sun Wu Kung yang sanggup mengobrak-abrik kerajaan langit. Tokoh
kesukaanku setelah Semar tidak lagi jadi tokoh idola.
-"Setelah menyelesaikan studi di Minzu Daxue lalu ke mana para lulusan universitas ini
pergi?Menetap di ibukota atau pulang ke etnik mereka masing-masing". Sebelum
menterjemahkan pertanyaanku, Chen Sa-ju menjelaskan latarbelakang pertanyaan saya.
"Xiao Wang, [namaku di kalangan teman-teman Tiongkok] berasal dari etnik minoritas
Dayak. Tidak sedikit dari mahasiswa Dayak yang belajar di Jawa, setelah selesai
belajar, menjadi tidak lagi ingin pulang kampung.Menetap dan kerja di Jawa". Mendengar
penjesalan Chen Sa-ju, sang Rektor tersenyum kecut memandang mataku. Saya mengangguk
dan berkata lirih: "Twi te" [Benar].
+"Saya senang bahwa kau datang ke mari dengan membawa "soal-soal hidup" [juga ungkapan
Tiongkok] negerimu.
-"Xiao Wang memang demikian,Lao Chen", ujar Chen Sa-ju.
+ "Kalaupun mereka tak pulang kampung tapi jika dilihat dari segi positif -- kalau
kita melihat masalah dari sudut pandang "satu pecah jadi dua" -- [istilah sekarang
barangkali "positive thinking"], mereka tetap merupakan satu kekayaan, sebagai
kekuatan cadangan jika dilihat dari kacamata disposisi militer. Mana ada pembidasan di
dunia ini dilakukan oleh barisan massal.Pembidasan adalah kesendirian dan kesunyian.
Tidakkah ini inti dari kata-kata Mao Zedong "percikan api membakar padang ilalang?".
Mengutip kata-kata Mao Zedong [yang di RRT disebut Mao Zuxi,Ketua Mao], sudah
merupakan keumuman. Fikiran Ketua Mao dijadikan dasar teori dalam bertutur dan
berbuat. Apakah ini tanda bahwa Fikiran Mao sudah berobah menjadi kekuatan material?
Jawablah sendiri.
+ Mahasiswa-mahasiswa yang sudah selesai dengan studi mereka di universitas diwajibkan
pulang kampung untuk memberdayakan dan membangun kampung serta etnik mereka. Di negeri
ini masalah pekerjaan diatur dan berada di bawah perancangan.
Mendengar keterangan sang Rektor, sekilas aku teringat akan rencana saya untuk kembali
ke Kalimantan Tengah bersama 40 sarjana-sarjana Dayak dan non Dayak yang sudah selesai
dengan S1 mereka di Yogya. Rencana ini kemudian menjadi sekeping cermin jatuh di batu
ketika Tragedi September 1965 meletus. Banyak di antara mereka yang terbunuh,
dipenjara dan ketika keluar KTP mereka diberi tanda ET, Eks Tapol [sedangkan di
Perancis singkatan dari Extra Terreste, makhluk dari planet lain] atau hilang tak
tentu rimba. Terakhir saya mendengar bahwa Enos Asong, salah seorang dari 40 orang
yang ingin kembali untuk membangun Kalimantan Tengah, diketahui termasuk salah seorang
yang dibunuh secara massal di Jateng. Ketika akan dimakamkan kembali,
tulang-belulangnya diobrak-abrik oleh sementara pihak yang ketakutan pada
tulang-tulang tersebut. Bagi ET, untuk dikuburkan secara layak di negeri sendiripun
mengalami rintangan. ET dan mereka yang dipandang "tidak bersih lingkungan" memang
"makhluk dari planet lain" di kampunghalaman sendiri.
Mendengar kebijakan RRT terhadap lulusan Minzu Daxue, saya melihat di dalamnya sebuah
prinsip yang tersirat bahwa pemberdayaan dan pembangunan daerah pertama-tama bersandar
pada putera-puteri daerah itu sendiri. Sedangkan pembunuhan atas diri Enos Asong dan
gagalnya penguburan kembali wajar tulang-belulangnya, termasuk adanya anak bangsa dan
negeri yang klayaban dan terhalang pulang [yang oleh sebagian dari anak muda sekarang,
termasuk yang menyebut diri sebagai aktivis politik dipandang sebagai "suka ngendon di
luar negeri], saya lihat sebagai lambang dari nasib etnik dan politik etnik di negeri
dan bangsa kita yang majemuk. Hancurnya alam Kalimantan, peperangan di Aceh yang belum
berkesudahan dan keresahan di Papua hanyalah ungkapan nyata dari lambang ini. Padahal
Republik dan negeri ini adalah milik bersama. Tapi jika menggunakan kata-kata Charles
Peguy [1873-1914], penyair Perancis, Republik dan harapan yang dikandung oleh kata
Republik, masih saja tak obah seperti:
"anak yang membangkitkan dahaga tanpa tara
untuk kembali disua"
[Bersambung....]
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/