Kawan-kawan,
Dalam rangka ulang tahun ke-10 Aliansi Jurnalis
Independen (AJI), 7 Agustus 2004, saya diminta oleh
panitia HUT untuk membuat tulisan untuk Buku HUT AJI.
Terutama tentang latar belakang dan proses lahirnya
AJI, dari mana nama AJI muncul, dsb.
Tulisan itu sedikit saya pendekkan dan saya bagi untuk
Anda di milis ini. Mungkin saja ini ada gunanya, dalam
mempelajari salah satu episode perjalanan pers
Indonesia, khususnya perlawanan insan pers terhadap
rezim Soeharto pasca pembreidelan DeTik Tempo dan
Editor, 21 Juni 1994.
Tentu saja, sejarah ini baru dari satu sisi, dari
perspektif pengalaman saya sendiri. Saya berharap,
sejarah ini bisa lebih lengkap jika teman-teman yang
terlibat bisa melengkapinya, suatu saat nanti
(Andreas, Stanley, Santoso, Hasudungan, Yoedha, Roy,
Dadang, Didik, Lukas, dll...). Karena keterbatasan
ruang dan waktu, saya merasa baru sebagian cerita yang
bisa saya tuliskan.
Wasalam dan terimakasih. Maaf jika tulisan ini hanya
menganggu Anda.
Satrio
==================================================
AJI Bukan �Barisan Sakit Hati�
Oleh Satrio Arismunandar
AJI bukanlah sebuah organisasi yang berdiri karena
landasan �sakit hati� akibat pembreidelan 1994. Itulah
yang selalu saya tegaskan dalam berbagai forum diskusi
jurnalistik. Betul, bahwa AJI secara faktual berdiri
pada 7 Agustus 1994, sesudah terjadinya pembreidelan
terhadap tiga media �DeTik, Tempo dan Editor�pada 21
Juni 1994. Namun, cikal bakal AJI dan benih-benih
kelahiran AJI sudah disemaikan jauh sebelum terjadinya
pembreidelan tersebut.
Di era represif Orde Baru sendiri, sudah sering
terjadi pembreidelan. Pembreidelan 21 Juni 1994
hanyalah melengkapi daftar terakhir dari sekian kasus
pembreidelan dan pemberangusan kebebasan pers, yang
pernah ditimpakan pada pers Indonesia. Korporatisme
yang diterapkan rezim Soeharto, dengan menjadikan PWI
sebagai satu-satunya organisasi jurnalis yang diakui
(sekaligus dikooptasi) oleh penguasa, telah merusak
kehidupan pers untuk waktu yang lama.
Ada beberapa kondisi waktu itu yang dapat
menunjukkan, bahwa AJI bukanlah organisasi yang
berdiri semata-mata karena �sakit hati.� Sebaliknya,
AJI adalah sebuah organisasi jurnalis, yang landasan
pendiriannya lebih berakar pada idealisme dan prinsip
kebebasan pers.
Pertama, sekitar tahun 1991 (sebelum pembreidelan 21
Juni 1994), pernah ada pertemuan informal belasan
jurnalis di Taman Ismail Marzuki (TIM), Menteng,
Jakarta Pusat. Dalam pertemuan terebut, yang juga saya
hadiri, dibicarakan berbagai hal yang menyangkut
kondisi pers Indonesia. Dalam pertemuan itulah,
tercetus omongan tentang perlunya membentuk organisasi
jurnalis alternatif yang independen di luar PWI. Ada
juga keinginan untuk membikin media sendiri.
Sayangnya, pembicaraan itu tidak berlanjut menjadi
aksi konkret. Saya tak ingat persis nama-nama jurnalis
yang hadir di acara itu. Yang masih saya ingat,
jurnalis Saur Hutabarat, Herdi SRS, dan Dhia Prekasha
Yoedha, ikut hadir.
Kedua, di berbagai kota, sebelum berdirinya AJI,
sudah ada komunitas dan kelompok-kelompok diskusi
jurnalis. Seperti, SPC atau Surabaya Press Club
(Surabaya), FOWI atau Forum Wartawan Independen
(Bandung), Forum Diskusi Wartawan Yogya atau FDWY
(Yogyakarta), dan SJI (Solidaritas Jurnalis
Independen) di Jakarta sendiri. Pada kenyataannya,
para aktivis jurnalis dari sejumlah komunitas inilah
yang kemudian ikut bergabung membentuk AJI, lewat
Deklarasi Sirnagalih. Untuk menghormati dan mengakui
keberadaan komunitas-komunitas inilah, maka pada
diskusi di Sirnagalih waktu itu dipilih nama �aliansi�
untuk AJI, dan bukan �persatuan� seperti PWI.
Ketiga, sejak AJI berdiri hingga sekarang, sebagian
besar aktivis utamanya justru tidak berasal dari media
yang dibreidel, namun justru dari media-media lainnya.
Kecuali satu-dua orang, bisa dibilang tak ada satu pun
wartawan eks-Editor yang pernah terlibat dalam
aktivitas perlawanan AJI pada masa-masa awal
berdirinya. Sejauh yang saya tahu, Saur Hutabarat
(waktu itu menjabat salah satu pimpinan Editor)
meminta para jurnalis Editor untuk tak terlibat
aktivitas AJI, karena bisa merusak peluang Editor
untuk terbit lagi dan memperoleh SIUPP baru.
Kalau melihat dari persentase, mungkin yang agak
banyak terlibat dalam AJI adalah jurnalis eks Tabloid
DeTik, disusul kemudian dengan para jurnalis Majalah
Tempo. Meskipun jumlah wartawan Tempo lebih banyak,
para jurnalis Tempo terbelah dua. Separuh di antaranya
berseberangan dengan Goenawan Mohamad, dan memilih
bergabung mendirikan Gatra, yang dimodali oleh kroni
Soeharto, Bob Hassan. Hal ini menimbulkan friksi di
antara sesama eks-Tempo sendiri, sehingga sempat
memunculkan wacana �boikot Gatra.� AJI --waktu itu
saya menjadi Sekjennya-- memilih tidak mengeluarkan
sikap resmi soal Gatra ini, karena dipandang lebih
merupakan masalah internal Tempo.
Dari sekian jurnalis eks-Tempo yang tidak bergabung
ke Gatra, juga tidak semuanya aktif di AJI. Sebagian
mereka ikut mendirikan Tabloid Kontan, dan sejak itu
tak banyak aktif di AJI, meski pada awalnya sebagian
mereka ikut menandatangani Deklarasi Sirnagalih.
Di sisi lain, cukup banyak �jurnalis-aktivis,� yang
menggerakkan roda organisasi AJI pada masa awal
berdirinya, justru berasal dari grup media yang bukan
korban pembreidelan. Mereka antara lain: Stanley Adi
Prasetyo (Jakarta-Jakarta), Meirizal Zulkarnain
(Bisnis Indonesia), Hasudungan Sirait (Bisnis
Indonesia), Rin Hindryati (Bisnis Indonesia), Dhia
Prekasha Yoedha (Kompas), Santoso (Forum Keadilan),
Ayu Utami (Forum Keadilan), Lukas Luwarso (Forum
Keadilan), Imran Hasibuan (Forum Keadilan), Andreas
Harsono (The Jakarta Post), Ati Nurbaiti (The Jakarta
Post), dan Roy Pakpahan (Suara Pembaruan). Tentu, tak
bisa saya sebutkan semua di sini.
Dari uraian di atas, dapat saya katakan bahwa
pembreidelan 21 Juni 1994 telah membantu menciptakan
momentum, yang dibutuhkan bagi lahirnya sebuah
organisasi jurnalis alternatif. Pembreidelan 21 Juni
1994 adalah semacam shock theraphy, yang menjelma
menjadi bendera penggalangan solidaritas para jurnalis
muda, untuk mewujudkan mimpi yang sudah lama
terpendam: membentuk wadah jurnalis yang independen.
Namun, benih-benih lahirnya AJI sebenarnya sudah
tertanam jauh hari sebelum pembreidelan tersebut.
Pertemuan jurnalis di Sirnagalih
Setelah pembreidelan DeTik, Tempo dan Editor, para
jurnalis muda yang didukung elemen mahasiswa, LSM dan
seniman mengadakan sejumlah aksi menolak pembreidelan.
Meski merasa pesimistis, kami waktu itu �karena
pertimbangan prosedural-- menemui pimpinan PWI Pusat
�yang diketuai Sofjan Lubis dengan Sekjen Parni Hadi--
untuk meminta mereka memperjuangkan nasib para
karyawan dan wartawan korban pembreidelan. Pada
pertemuan pertama di Gedung Dewan Pers, Jl. Kebon
Sirih, Jakarta Pusat itu, kami meminta, agar mereka
berusaha bertemu langsung dengan Menteri Penerangan
Harmoko. PWI berjanji mengupayakannya.
Sebulan kemudian, kami menemui lagi PWI Pusat dalam
aksi tagih janji, dan mempertanyakan hasil pertemuan
itu. Namun, nyatanya PWI gagal bertemu Harmoko dan
gagal memperjuangkan nasib wartawan dan karyawan pers.
Dari situ, para jurnalis muda lalu menyatakan
ketidakpercayaannya lagi pada PWI. Saat itu, saya dan
sejumlah rekan jurnalis sudah mencanangkan, hal ini
akan berujung ke pembentukan organisasi jurnalis yang
baru, karena PWI terbukti sudah tak efektif lagi dan
sudah terlalu dikooptasi oleh penguasa.
Untuk menggalang dukungan sekaligus merancang langkah
aksi berikutnya, diadakanlah pertemuan para jurnalis
muda. Wisma Tempo di Sirnagalih, Jawa Barat, dipilih
sebagai lokasi pertemuan, karena pertimbangan praktis:
gratis, relatif dekat, dan bisa lebih dijamin keamanan
dan kerahasiaannya. Pada waktu itu, memang tak mudah
mencari pemilik gedung, yang mau meminjamkan gedungnya
untuk kegiatan yang �berseberangan� dengan pemerintah.
Untuk menghindari endusan aparat intel, undangan
disampaikan secara diam-diam. Kita sebarkan �umpan
pengecohan,� seolah-olah pertemuan akan berlangsung di
tempat lain di Bandung. Saking rahasianya, ada
sejumlah rekan jurnalis yang salah informasi, dan
datang ke tempat yang keliru!
Pertemuan jurnalis pun digelar, dengan elemen utama
jurnalis dari empat kota: Surabaya, Yogyakarta,
Bandung dan tentu saja Jakarta. Sebelum pertemuan,
sudah terdengar kabar bahwa ada kelompok atau figur
tertentu yang mengklaim �bisa mengatur� atau �men-set
up� para jurnalis ini. Oleh karena itu, untuk
menghindari politisasi, klaim-klaim sepihak, dan kabar
miring, sejak awal kami meminta para jurnalis senior
seperti Erros Djarot, Aristides Katoppo, Goenawan
Mohamad dan Fikri Djufri untuk tidak datang pada
tanggal 6 Agustus malam � ketika �penggodokan� konsep
dan wadah gerakan oleh para jurnalis muda sedang
berlangsung. Mereka baru diizinkan datang esok
harinya, 7 Agustus, jika penggodokan telah selesai.
Dengan demikian, diharapkan tidak ada yang bisa
menuduh AJI sebagai sekadar alat atau kepanjangan
kepentingan dari tokoh-tokoh pers tertentu.
Mengapa bernama AJI?
Meski sejak awal benak saya sudah merancang ke arah
pembentukan organisasi jurnalis alternatif, dalam
diskusi 6 Agustus malam di Sirnagalih itu, tampak
bahwa gagasan para peserta sangat beragam. Andreas,
misalnya, sebagai mantan aktivis Yayasan Geni
(Salatiga) berangkat dari pemikiran ala LSM. Ia bicara
tentang perlunya membentuk semacam paguyuban atau
forum komunikasi antar-jurnalis, dengan �simpul-simpul
massa� dan jaringan. Ada banyak usul dari
peserta-peserta lain, dan diskusi pun jadi
berlarut-larut untuk membahas wadah perjuangan
tersebut.
Dalam diskusi pleno itu, saya mengatakan, pembentukan
forum komunikasi, paguyuban, atau bentuk apapun di
luar organisasi profesi, tidak akan efektif dan tak
akan dianggap penting oleh PWI atau pemerintah. Karena
PWI yang dikooptasi penguasa adalah organisasi profesi
jurnalis, maka imbangan yang pas terhadap PWI juga
harus berbentuk organisasi profesi jurnalis, namun
dengan sifat yang independen terhadap pemerintah.
Forum akhirnya sepakat membentuk organisasi profesi
jurnalis. Persoalannya kemudian, apa nama organisasi
baru ini? Berbagai peserta mengusulkan nama. Ada
usulan yang lucu-lucu. Teman-teman dari Bandung,
misalnya, ada yang mengusulkan nama SAWI. Singkatannya
kalau tak salah �Serikat Wartawan Independen�. Usul
ini secara bercanda ditolak karena berkesan �sayur�.
Seingat saya, Andreas-lah yang pertama menyebut nama
AJI. Nama itu terkesan bagus, singkat, mudah disebut,
mudah diingat, dan punya makna positif. Aji dalam
mitologi Jawa berarti suatu ilmu atau kesaktian
tertentu. Namun, Andreas belum menjabarkan makna
singkatan yang pas untuk nama AJI.
Sebutan �Aliansi� seingat saya berasal dari usulan
Stanley. Dasar pemikirannya, adalah untuk menghormati
dan mengakui keberadaan komunitas-komunitas jurnalis,
yang sudah lebih dulu ada di berbagai kota. Pada
kenyataannya, memang merekalah yang mengirim delegasi
ke pertemuan Sirnagalih ini.
Saya lalu mencoba merangkum berbagai usulan tersebut,
dan saya jabarkan di depan forum. Forum pun setuju
menggunakan istilah �Aliansi� karena pertimbangan yang
disampaikan Stanley di atas. Istilah �Jurnalis� pun
disepakati digunakan, karena itulah istilah yang
dianggap lebih sesuai dengan kata asalnya dalam bahasa
Inggris (journalist), dan untuk membedakan dari PWI
yang sudah menggunakan �wartawan.� Terakhir, istilah
�Independen� digunakan untuk menggarisbawahi perbedaan
AJI dengan PWI. AJI itu independen, dan juga tidak mau
mengklaim mewakili �Indonesia.� Sedangkan, PWI tidak
independen, tapi mengklaim mewakili Indonesia.
Sesudah nama AJI disepakati, peserta diskusi dibagi
dalam sejumlah komisi, seperti Komisi Deklarasi,
Komisi Program, dan lain-lain. Saya dipercayai
memimpin Komisi Deklarasi, dengan sekretaris Jopie
Hidajat (Tempo) yang kini bekerja di Tabloid Kontan.
Sesudah serangkaian diskusi panjang, Komisi saya
berhasil merumuskan Deklarasi Sirnagalih, yang esok
paginya, tanggal 7 Agustus, dibahas lagi di Sidang
Pleno. Deklarasi itu disepakati dengan suara bulat dan
hanya dengan sedikit sekali perubahan redaksional.
Jika diamati, dalam deklarasi itu tercantum �Pancasila
dan UUD �45.� Selain karena pertimbangan ideologis,
pencantuman �Pancasila� di Deklarasi Sirnagalih
merupakan langkah taktis, untuk meniadakan peluang
bagi aparat rezim Soeharto untuk menghantam gerakan
dan organisasi AJI yang baru lahir ini. Waktu itu,
iklim represi sangat keras, dan ada kewajiban
mencantumkan �Pancasila� sebagai satu-satunya asas
bagi organisasi kemasyarakatan.
AJI adalah organisasi jurnalis alternatif. Kata
�alternatif� perlu ditekankan, untuk membedakan dari
sebutan �tandingan.� Istilah �tandingan� bermakna
reaktif. Jika AJI sekadar tandingan dari PWI, maka
eksistensi keberadaan AJI akan tergantung pada PWI.
Jika PWI bubar, AJI juga harus bubar, karena
kelahirannya hanyalah sebagai tandingan atau reaksi
dari keberadaan PWI. Itulah sebabnya, sejak awal AJI
tak pernah menyebut diri sebagai �tandingan PWI.�
Sedangkan, sebutan �alternatif� pada semangatnya
adalah menerima pluralisme dan perbedaan, tidak
memonopoli. �Alternatif� bagi AJI artinya bisa
menerima adanya organisasi-organisasi lain. Sejak
berdirinya AJI, kita tak pernah menuntut pembubaran
PWI atau organisasi jurnalis lainnya. AJI tidak ingin
melakukan kesalahan yang sama dengan PWI: memonopoli
kebenaran dan legalitas dari pemerintah untuk dirinya
sendiri, dengan menafikan organisasi jurnalis lain.
Dengan terus menggunakan gedung dan aset dari
pemerintah untuk kantor-kantornya sendiri, sampai saat
ini secara esensial sebetulnya tak ada yang berubah
dari PWI.
Pada 7 Agustus siang, mulailah acara penandatangan
Deklarasi. Tidak semua peserta yang hadir bersedia
menandatangani, dengan pertimbangan yang beragam. Pada
kenyataannya, para jurnalis senior �ditodong� untuk
ikut memberi tanda tangan dalam Deklarasi, yang --saya
tahu betul-- isinya dirancang sepenuhnya oleh para
jurnalis muda. Kami waktu itu sadar, bagaimanapun
juga, nama para jurnalis senior ini dibutuhkan untuk
memberi gaung yang lebih besar pada Deklarasi
Sirnagalih, yang menjadi dasar berdirinya AJI. Pada
waktu itu, istilah �jurnalis� juga diartikan secara
luas dan mencakup juga para kolumnis, sehingga Arief
Budiman, Christianto Wibisono, dan Jus Soema di Pradja
ikut tanda tangan.
Penghargaan �Free Media Pioneer �97� untuk AJI
Ketika menjabat Sekjen AJI (1995-97), saya pernah
mewakili AJI pada Kongres Dunia dan Sidang Umum IPI
(International Press Institute) di Grenada, Spanyol,
untuk menerima Penghargaan internasional Free Media
Pioneer �97. Penghargaan itu diberikan secara resmi
kepada AJI hari Senin, 24 Maret 1997, oleh Charles
Overby, Presiden dan CEO dari The Freedom Forum. Turut
mendampingi Overby dalam acara di Granada itu adalah
Direktur IPI Johan P. Fritz dan Ketua IPI Peter
Preston. Preston adalah juga Editorial Director dari
The Guardian Media Group, London.
Kongres Dunia ini rupanya cukup mendapat perhatian.
Terbukti Raja Spanyol Juan Carlos I dan Ratu Sophia
hadir dalam acara pembukaan di Auditorium Manuel de
Falla. Raja memberi sambutan secara resmi dalam
kongres tersebut. Acara pembukaan juga dihadiri Ketua
Komite Nasional IPI Spanyol Jose Maria Bergareche,
pemimpin pemerintah Andalucia (semacam propinsi)
Manuel Chaves.
Dari sekitar 350 peserta kongres itu, ada tiga
peserta dari Indonesia. Selain saya yang mewakili AJI,
dua partisipan lain adalah August Parengkuan (Wapemred
Kompas) dan Aristides Katoppo (Direktur PT Sinar
Kasih). Albert Hasibuan, Pemimpin Perusahaan Suara
Pembaruan, tertera namanya dalam dalam daftar peserta,
tetapi ternyata tidak datang sama sekali ke Granada.
Tiga nama terakhir ini diundang secara pribadi
(keanggotaan dalam IPI / the Global Network of Editors
and Media Executives ini memang dalam kapasitas
pribadi).
Free Media Pioneer adalah penghargaan tahunan yang
diberikan oleh IPI, The Global Networks of Editors and
Media Executives � bekerjasama dengan the Freedom
Forum -- kepada media yang dianggap konsisten
memperjuangkan kebebasan berekspresi dan kebebasan
pers.
Penghargaan Free Media Pioneer �96 (yang pertama)
diberikan kepada NTV Moscow, stasiun televisi swasta
terbesar di Rusia, yang berjuang bagi demokratisasi di
bekas Uni Soviet itu. Dalam memperjuangkan kebebasan
pers, NTV Moscow berani menerobos larangan pemerintah
Rusia yang membatasi pemberitaan soal Chechnya. NTV
Moscow mengirim jurnalisnya ke Chechnya, ketika
berlangsung invasi tentara Rusia ke negeri kecil
tersebut. Penghargaan untuk AJI adalah yang kedua.
Dalam sambutannya di acara pemberian penghargaan
untuk AJI, yang berlangsung di Granada Exhibition and
Conference Centre, Johan Fritz mengatakan, penghargaan
ini adalah untuk menunjukkan pada berbagai pemerintah
bahwa media dunia akan mendukung dan solider terhadap
setiap media yang berjuang dan mendapat
tekanan-tekanan bagi kebebasan pers.
Sedangkan dalam sambutan sesudah menerima Free Media
Award �97, saya mengatakan, AJI menganggap penghargaan
ini bukan hanya untuk AJI sebagai organisasi, tetapi
juga untuk seluruh jurnalis Indonesia, yang telah
berjuang secara konsisten dan berani mengambil risiko
bagi kebebasan pers dan demokratisasi di Indonesia.
Khususnya untuk dua anggota AJI Ahmad Taufik dan Eko
Maryadi, yang saat itu masih menjalani hukuman penjara
di LP Kuningan dan Cirebon; office boy Sekretariat AJI
Danang Kukuh Wardoyo dan Redaksi Kabar dari Pijar Tri
Agus Siswowihardjo, yang belum lama dibebaskan dari
penjara. Tak lupa pula, untuk Andi Syahputra, adik
dari salah satu pendiri AJI, Meirizal Zulkarnain,
jurnalis Bisnis Indonesia, yang saat itu masih
diadili. Andi ditangkap dalam kaitan percetakan
buletin Suara Independen, yang diterbitkan AJI.
Michael Kudlak, koordinator kongres mengatakan,
pemberian penghargaan untuk AJI ini diputuskan melalui
sidang IPI Executive Board yang beranggota 26 orang
dan diketuai Peter Preston. Executive Board itu
anggotanya jurnalis terkemuka dari berbagai negara,
seperti: Korea, India, Jepang, Turki, Taiwan, Belanda,
Perancis, AS, Swiss, Italia, Inggris, Rusia, Spanyol,
Swedia, Jerman, Nigeria, Colombia, Afrika Selatan,
Polandia, dan lain-lain.
�Penghargaan untuk AJI diberikan karena konsistensi
AJI berjuang untuk kebebasan pers, seperti terlihat
dari tekanan-tekanan terhadap AJI, dipenjarakannya
para anggota AJI, dan sebagainya,� kata Kudlak, yang
ditemui di Sekretariat IPI di Granada. Ditambahkannya,
IPI selalu memantau perkembangan AJI. ***
=====
Satrio Arismunandar
News Producer, Trans TV
News Department, Fl. 3
Jl. Kapten P. Tendean Kav. 12 - 14 A, Jakarta 12790
Phone: 7917-7000 ext. 4027, Fax: 791-84558,
Telp rumah: 771-2348 HP: 0813 1504 7103
"rajawali selalu terbang sendirian
takdirnya adalah ketinggian, keberanian dan keanggunan
dan juga kesepian..."
Rio, Juli 2004
__________________________________
Do you Yahoo!?
New and Improved Yahoo! Mail - Send 10MB messages!
http://promotions.yahoo.com/new_mail
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/