Luangkan waktu anda untuk menerakan  goresan nurani dan dengungkan
berbareng dalam jurnal Nyayian Duka Untuk Andini Lensun dan Warga Buyat jadi
mantra, kirimkan email anda ke [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED];
[EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED] serta
media massa lain.  dan
mohon ditembuskan ke [EMAIL PROTECTED]  atau [EMAIL PROTECTED]

(no kontak 021-79193363/7941672)

Terima kasih kepada 15 sahabat atas kontribusinya, dan masih ditunggu
kontribusi sahabat lainnya.

HiiiKAYAT BUYAT
Sajak Syam Asinar Radjam


HiiiKAYAT BUYAT I
: Andini

Pada setiap anak telah dibagikan masing-masing satu luka,
Hanya padanya terasa demikian runcing mengendap

Luka-luka yang menusuk mata
Mencari celah melukai kantung-kantung air mata
Kering! Kering!

Lukanya luka yang tak harus ada

* * *

HiiiKAYAT BUYAT II

Kulihat darah!
Menetes, belum mencurah
Mengalir masih, menuju gumpal

Hei Lihat bersama!
Ada yang diundang sengaja; BENCANA!

* * *

HiiiKAYAT BUYAT III

Kenapa aku tak menduka?
Meski ikan dan laut telah bernanah!

* * *

HiiiKAYAT BUYAT IV

Mari ambil penggaris,
Bentangkan pula peta.
Berapa jauh bencana dari depan rumah kita?
Penjahatnya tertawa di meja gambar!

* * *

Jakarta, 4 - 5 Agustus 2004 (1)
[EMAIL PROTECTED]

________________

Catatan Kecil buat Adik
: Andini dan kawan-kawan

Dik,
Kalau besok tiba-tiba mengganas gelombang, itu karena doa para ikan!
Airmata yang mengalir lebih asin dari lautan
" Mereka tak hanya  membunuh kita! Mereka juga membunuh sesamanya :
 manusia!"

Sebenarnya bukan salah racun, mereka juga sedih
"Ini sama sekali bukan tempat kami!"  Kata mereka
Tapi sebagian manusia itu memang tak perduli
Bahkan bila yang terbunuh adalah saudara mereka  sendiri
"Jadi tolong jangan salahkan kami!" Isak racun  malu hati

Para ikan berteriak! Racun berteriak!
Bila nanti kau dengar ada sesuatu yang besar dan meledak
Itu karena akhirnya seisi samudera berteriak!
"Terbakarlah engkau yang begitu tega membunuhi"

Ah,
Tutuplah telingamu, dik!

(BuRuLi, LeBul: 04.08.2004/ 1:43 am) (2)
[EMAIL PROTECTED]

___________

Apa yang dirasakan Andini Lensun sepanjang lima bulan masa hidupnya?
Apa makna tatap mata dan tangisannya Tak usah lima bulan bahkan 10 menit
dalam lintasan hidupnya, rasanya tak bisa  terbayangkan.

duka dalam, teramat dalam

semoga kebenaran akan menemukan jalannya, kemanusiaan akan menemukan
kemenangannya

Andini Lensun kembali Kepada Yang Maha Kuasa

oleh : andreas (3)
[EMAIL PROTECTED]

-----------------------

Kami tak pernah melukai orang dewasa
Tapi tangan-tangan mereka
Telah menghancurkan
Tangan-tangan kecil kami

setiap nafas kami
adalah kesakitan panjang
setiap tangis kami
adalah hapusan pengharapan
untuk melihat dunia ini
lebih lama lagi

air susu yang kami minum
menjadi racun
yang tak pernah ada penawarnya
bunda-bunda kamipun
tak berdaya
dengan sakit yang menyiksa
sepanjang hari-hari kami
semenjak kami bersemayam
dalam rahim bunda

kami ingin hidup panjang
menikmati indahnya Buyat
mengukir cita-cita
untuk tanah Buyat

tapi tangan-tangan orang dewasa
telah hancurkan tangan kecil kami
anak-anak Buyat

oleh : lilie (4)
----------------------------
"Langit Mendung Di Teluk Buyat"

Wajah-wajah tertutup jelaga
Tangan-tangan terbalut nestapa
Sebatang tubuh mungil mati ternoda
Ikan-ikan entah kemana
Ganggan hijau berubah warna
Burung-burung tak lagi bersuara
Andini Lenzun mati sia-sia

Segerombolan aura kematian menunggu titik penantian
Ruh malaikat maut semakin mendekati pucuk ubun-ubun
Laskar bencana datang dan nyaris membunuh satu dasawarsa
Awan gelap menyelimuti langit mendung di Teluk Buyat

Teluk Buyat menyaksikan Andini Lenzun mati sia-sia
Bayi kecil nenyerupa paras oma-opa
Dengan bilur keganasan limbah bahan kimia
Terbungkus landir minamata

Langit mendung di Teluk Buyat
Berpuluh manusia meregang nyawa
Bertahan dalam kepedihan benjolan kepala
Atau badan merana menjelang garis penutup usia

Sayap-sayap camar lelah merintihkan kepedihan
Menarikan dansa kesuraman diatas dahan-dahan bakau
Menukik tajam menyayat reruntuhan karang
Lalu patah terhempas gelombang kerakusan

Perak dan emas menyaksikan kepiluan Teluk Buyat
Matanya melelehkan kegelisahan
Yang mencengkeram pedas di tabir kekuasaan adi daya
Kilaunya mewarnai horizon benua kebanyakan
Meninggalkan bekas merkuri dan arsen di Teluk Buyat

oleh : Jpang, Juli 2004 (5)

--------------------
Aku Andini

(aku ketika didalam kandungan)
Disini gelap, tempatnya semakin sempit..
karena tubuhku semakin membesar
sementara kapasitas perut Ibuku terbatas sekali...

Aku ingin melihat cahaya diluar sana...
dan menikmati hangatnya pelukan Ibu.

(aku sesudah dilahirkan..)
Ibuku baiiikkk sekali..
Ayahku juga
Mereka keluargaku
kami keluarga yang sangat sederhana
kami memang tidak berlimpah harta
tapi kami berlimpah cinta...

Pada awal hidupku, semua terlihat baik adanya
Dulu, ketika aku masih di surga, Tuhan bilang,
"sebentar lagi Aku akan mengirimmu ke bumi."
Seketika itu juga tubuhku dipenuhi oleh sukacita
Sudah kubayangkan bagaimana indahnya dunia
penuh tantangan dan harapan....
Kemudian Tuhan berkata "Anak-Ku, bumi tidak seindah kelihatannya"
Dan aku terdiam....

Kini, kusadari Tuhan benar adanya..
Ragaku tidak senyaman dulu..
Pusing memenuhi kepalaku, sementara mual menyelimuti perutku..
Dan sekujur tubuhku penuh dengan benjolan
seperti gunung yg akan memuntahkan lahar panasnya..

Tuhan... apa salahku..???

Belum lama aku di bumi..
Aku bahkan belum mampu melakukan sesuatu untuk menolong diriku
Aku hanya bisa menangis
Mengharap sedikit bantuan dari keluarga dan manusia lain...

Lambat laun tubuhku semakin melemah...
aku pasrah...
aku merindukan kembali surga tempat aku dulu tinggal..

Lambat laun kumulai mengetahui masalahnya
karena setiap malam malaikat surga datang menjengukku
dan bercerita tentang yang sesungguhnya terjadi
kami berbincang dengan bahasa yang kami mengerti
Malaikat itu bilang, Tuhan sudah menyiapkan tempat istimewa untukku di
surga...
Dia menungguku... sampai aku siap untuk kembali padaNya

Kulihat Ibuku... Kulihat keluargaku...
Kulihat juga raksasa besar siap mencengkeram mereka
siap menghancurkan keluargaku.. dan saudara-saudaraku di buyat...

Raksasa itu tidak berbentuk manusia...
Tapi dia sangat besar dan mempunyai tangan besar yang tidak kelihatan..
Raksasa itu sudah membuang racun di air kami..

Ikan kami mati... Mata pencaharian kami mati...
dan lambat laun, saudara-saudaraku di Buyat pun akan mati

Dan kini.... aku pun mati...

Semoga kematianku menjadi pertanda awal kekalahan sang raksasa di bumi...

Aku, Andini...

oleh Marselina (6)
[EMAIL PROTECTED]

tiada lagi...

tangisan kesakitan itu kini tiada lagi...
berganti nisan batu yang sunyi dan harum bunga...

kami tak akan pernah melupakanmu..
kau mencoba bertahan hidup selama lima bulan..
namun sakit itu tak tertahankan lagi...
setiap gerak adalah keperihan yang sangat..

kami antarkan engkau berbaring selamanya...
senyuman terakhirmu akan menjadi kutukan
bagi raksasa penghisap emas itu...

selamat jalan Andini...
semua penderitaanmu tak akan sia-sia...

anonim (7)

--------------------

kalaulah mungkin,
kudekap nian tubuhmu yang rapuh andini,
dan nyanyikan perih tubuhmu,
agar si rakus itu, tahu bahwa tubuhmu memang perih

tahukah kamu andini? duka, tangis, dan jerit bundamu
adalah tangis pilu bagi mereka yang bernasib sama,
lihatlah, pongahnya newmont,
juga sedang menebar maut di tanah Tapanuli, Sumut
hanya sedikit yang tahu, atau yang peduli
bahwa 5 thn lagi,
teman kita di Madina juga bernasib sama

oleh : megianto sinaga, (medan) (8)
[EMAIL PROTECTED]

----------------------

Masihkah kita bisa nyenyak diatas rintihan kepedihan
masyarakat buyat?
Masihkan kita punya nurani atas tangisan ibu-ibu di
buyat?
dan yang paling penting ...
Masihkah kita punya nyali untuk teriak dengan lantang
...

oleh : Arifin Amril (9)

-----------------------
Andai

Andai aku bisa mengembalikan waktu
dan menata negeri ini sedari awal, Andini

Aku akan menatanya dengan kasih dan kejujuran,
sehingga kau bisa bermain dan bermanja
dialam yang mengucapkan terima kasih,
karena kita telah memeliharanya
dengan cinta.

Andini, aku percaya bahwa
kau telah kembali kerumah Sang Pencipa
dengan selamat dan sejahtera.

Palangka Raya, 2 Agustus 2004.

Mastuati  (10)
[EMAIL PROTECTED]

-----------------------

ANDINI
ANdai Daku Insaf  mulai hari iNI
Maka kisah ANDINI  dan ANDINI yang lain
BUYAT dan BUYAT yang lain
hanya sebuah catatan sejarah yang tak perlu terulang lagi.

Tak akan ada lagi derita ini.
Derita tentang...
Rintihan kesakitan..
Tangis kepiluan..
Air mata kedukaan..
Teriakan penderitaan..
Helaan nafas penuh tekanan..
Langkah tanpa harapan..
Sebuah perjalanan tanpa kepastian..
Dan janji kehidupan yang penuh kesia-siaan..

Dan Andinipun menulis
Ingin kusalahkan Tuhan
Kenapa aku dilahirkan hanya untuk berjumpa dengan semua derita ini.
Bukan bukan Tuhan yang salah..
Kamu..
Kamu.. semua yang salah
Yang tidak berbuat apapun juga.

Palangka Raya,3 Agustus 2004

Sepmiwawalma  (11)
[EMAIL PROTECTED]

-------------------------------

Untuk kita semua,
Adakah yang lebih berarti dalam hidup ini selain soal kemanusiaan ?
Kepergian seorang Andini dan derita kaum Buyat hanyalah sebuah potongan
episode panjang sejarah penistaan kemanusiaan...
Bila hidup ini hanya untuk soal siapa yang merasakan apa maka pernahkan
kita semua memikirkan suatu saat nanti kita juga akan mengalami tragedi
kemanusiaan itu,...
Kita dengan kemampuan nalar dan logika dapat berkelit dan berdebat, ......
Tapi penderitaan dan kematian itu bukan soal nalar dan logika rasional
serta bukan juga soal untuk diperdebatkan,...
Tapi dia adalah soal yang harus dirasakan,...
Bila kita belum memiliki kesempatan untuk merasakannya maka tunggulah
saatnya.
Kalaupun tidak di dunia yang hanya sepenggal waktu ini, dunia abadi akan
menanti kita dengan penderitaan dan kematian yang abadi pula.


Bogor, 3 Agustus 2004
Rasdi Wangsa  (12)
[EMAIL PROTECTED]


-------------------
...Andini...
Kemarin,...
Kala mentari hadir menyapamu kau sambut dengan sejuta senyum
Seraya berkata kau akan hidup seribu tahun lagi...
Hari ini, ...
saat mentari hadir mengajakmu bercengkrama,
Bercerita tentang hari esok yang penuh cinta
Kau sambut dengan tatapan kosong,
tak berdaya, tak mampu mengerakkan anggota badanmu dan...
bahkan kau tak mampu lagi mengeluarkan suara deritamu..
...Andini...
Kau telah telah beku dalam tidurmu yang damai
Tak ada lagi jerit sakitmu...
...Andini...
Kami akan selalu mengingatmu
Kami akan selalu melanjutkan perjuangan dan cita-citamu
Kami antar kau kepembaringan terkahirmu

Selamat jalan Andini...
Tidurlah dalam damai dan kasihNya.
...perngorbananmu tak akan pernah sia-sia...

Alam Cakke, Makassar Agustus 2004 (13)
[EMAIL PROTECTED]


---------------------------
Menunggu Kilat Merkuri

Di atas perahu meninggi bintang-bintang pengharapan
Menggantung berabad-abad hingga lapuk buritan kayu hitam
Layar yang berkobar mengantarkanku pada kaki langit
Berebut gelombang dan debur jantung samudra Teluk Buyat
Bertukar  ajal dan gelora napas
Membawa hidup pulang dalam belanga dan tawa anak istri
Menaburkan pasir ke angkasa
dalam riang percikan sinar bulan
dan angin malam
do'a do'a

Dan berlabuh
Dari jauh
Hingga abad berkarat kini
Dan kau datang tanpa mengetuk pintuku
Menebar kilau dari jaman yang sesak
Kilatan maut melesat dari roda-roda penggilingan
Mengubur dasar samudra
Bagi kemewahan tuan dan nyonya di lingkar jari-jari
Dan lingkar leher jenjang nyalang
Gaya terkini

Lalu
Diam-diam
Diam-diam
Kilau merkuri mengantarkan semua ini
Tajam mengiris, tajam yang tak kurasakan
Saraf demi saraf, sayat demi sayat
Dari kilauan lautan yang sama,
dari debur ombak Teluk Buyat yang itu juga
yang berabad-abad melapisi kulitku hingga legam
yang berabad-abad anginnya menjadi napasku
yang berabad-abad asinnya menggarami hidupku

Hingga kau datang diam-diam
dan aku-tanpa kutahu-menunggu kilat merkuri di ujung leherku
tajam siaga mengiris diam-diam hingga ajal
saraf demi saraf, sayat demi sayat
mayat demi mayat
Sebentar menanti seperti begitu lama mati

Dan kau sibuk mengeja saraf demi saraf
Ayat demi ayat kau taburkan untuk penyangkalan
Diantara mayat yang bergelimpangan
Dari kilauan merkuri
mata pisau pada ujung leherku

Dan kau ingin menghapus riwayat ini?


Dwi R. Muhtaman (14)
Bogor, 4 Agustus 2004
[EMAIL PROTECTED]

_________________

Ratatotok
Ratap Buyat

(Jakarta, 04.08.04)

junior  (15)








------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70
http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke