Dari Notes Belajar Seorang Awam: CERITA-CERITA KECIL UNTUK AGUK IRAWAN [14].
"Lembah Merapi" & Tante Hilda [1] Di tengah-tengah maraknya Gerakan Aksi Sepihak untuk melaksanakan UUPBA dan UUPBH di Klaten, Lekra Cabang Kabupaten Klaten meminta Lekra Kota Yogyakarta untuk menyelenggarakan pementasan tari-nyanyi, pembacaan puisi dan drama. Teman-teman Lekra Klaten datang langsung ke asrama Palangka Raya, Jalan Pakuningratan tempatku tinggal menyampaikan permintaan tersebut. Kebetulan aku kembali ke Yogya untuk menempuh tentamen kenaikan tingkat. -"Apa tujuan pementasan?", tanyaku. +"Terutama untuk membantu kami mengembangkan Lekra Klaten yang masih lemah. Kami harap melalui pertunjukan itu nanti, terbuka suatu syarat baru bagi pengembangan Lekra di Klaten", jelas teman Lekra Klaten yang hanya berjarak 30 km dari Yogya. -"Secara prinsip, saya pribadi setuju. Tapi saya harus berunding dengan semua teman dahulu dan jawaban kami sesegera mungkin kami sampaikan.Beri kami waktu satu hari dan besok salah seorang kami akan pergi ke Klaten menyampaikan jawaban kami", jawabku. +"Baik, kami tunggu". Kami pun berpisah. Apakah salahnya saling bantu, Guk? Dalam masyarakat kita di berbagai pulau apakah tradisi saling bantu ini asing? Yang disebut modernisasi dan "pembangunan" ala Orba justru menghancurkan tradisi baik ini. Yang disebut "modernisasi" dan "pembangunan" membuat kita, anak negeri ini jadi cupet dan menjadi budak uang yang diciptakan manusia. Diskusi Lekra Cabang Kota Yogyakarta menerima hangat permintaan Lekra Cabang Klaten ini dan memutuskan bahwa Lembaga Seni Musik bertugas sebagai kordinator pelaksana dipimpin oleh Daulat Mangonsong. Sedangkan rombongan yang akan dikirimkan terdiri dari 30 orang, merupakan campuran dari ansambel-ansambel tari-nyanyi yang ada. Daulat Mangonsong sebagai salah seorang penanggungjawab Lembaga Musik sesuai dengan keputusan rapat segera berangkat ke Klaten menyampaikan keputusan kami dan mengetahui waktu persis serta tema pertunjukan yang diharapkan. Pada petang hari yang sama Daulat Mangonsong, putera kelahiran Danau Toba, sudah kembali ke Yogya. Perlu kuberitahu bahwa Daulat berangkat ke dan kembali dari Klaten menggunakan beaya sendiri.Lekra Cabang Yogya tidak punya uang dan bahkan tidak punya seksi bendahara. Semuanya berangkat dari kesadaran dan kemauan serta sukarela. Ini adalah ujud kongret dari pengejawantahan ide: "bersandar dan percaya pada massa". Kau percaya atau tidak, itu adalah urusanmu. Kuterakan kalimat ini karena barangkali untuk angkatan sekarang apa yang kami lakukan seperti tidak masuk di otak. Sekarang, orang-orang, terutama Lembaga Swadaya Masyarakat, hidup dan bergerak dari dana, terutama dana luar negeri sebagai buah usulan proyek atas nama rakyat, dulu kami berangkat dari kekuatan diri sendiri dan kesadaran massa. Sekarang orang-orang rapat di hotel-hotel besar berbintang, dulu kami rapat di Taman Siswa, IAIN dan rumah teman-teman tanpa suguhan. Dulu kami berangkat dari mimpi, bukan mengejar nama dan pengakuan. Kau bandingkan saja mana yang lebih mendasar. Masih dua sekitar 20an usia kami pada waktu itu, kami tahu dan menghkhayati arti "satu dalam semua, dan semua dalam satu". Barangkali sikap ini menunjukkan bahwa angkatan kami yang dungu. Kalianlah sekarang yang menilainya jika kalian masih bisa jujur pada diri sendiri. Yang kami tahu, kami dulu berbuat sesuatu atas dasar suatu nilai dan kepentingan kolektif bukan kepentingan individual.Kukatakan hal ini untuk mengatakan bahwa pernah ada generasi dalam sejarah negeri kita yang berbuat demikian. Dan bisa walaupun kalah.Tapi sudah mencoba melakukannya. Kau bandingkan dengan usiamu dan angkatanmu sekarang serta apa yang kalian lakukan! Untuk mendapat nama dan mengangkat diri, juri lomba sastra pun memenangkan diri sendiri. Barangkali ini adalah bentuk keagungan angkatanmu, tapi yang jelas tidak bagi angkatanku dalam usia yang sama bahkan lebih muda dari kalian. Barangkali kami angkatan yang bodoh, tapi kami tidak malu dengan "kebodohan" kami. Pada waktu itu keindonesiaan tumbuh berkembang wajar, sekarang? Dari sini aku melihat ada dua pola pikir dan mentalitas berbeda,Guk! Daulat, demikian seharihari kami memanggil Daulat Mangonsong, segera mengatur jadwal latihan ulangan bagi rombongan yang akan berangkat. Aku katakan latihan ulangan, karena ada atau tidak pertunjukan, kami selalu melakukan latihan secara teratur sehingga kapanpun kami selalu siap naik pentas. Pada akhir pekan yang telah ditetapkan, dengan menggunakan sebuah truk terbuka yang dikirim oleh Lekra Cabang Klaten, dengan perlengkapan yang diperlukan, kami pun berangkat meninggalkan Yogya dan tinggal di Kota Klaten selama akhir pekan itu. Sopir menghentikan truk di jalan Pemuda,bertanya sambil tertawa lebar, mata bersinar: "Adik-adik tidak kedinginan, bukan?" Sambil berloncatan secara teratur,bergiliran dari truk, saling tolong, para anggota rombongan mengucapkan terimakasih kepada Bang Sopir yang menepuk punggung mereka dan berkata: "Jangan sampai sakit. Pekerjaan kalian belum selesai". Di depan pintu seorang perempuan berkulit putih, hidung mancung, rambut sedikit pirang menunggu menyambut kami dengan ramah. Perempuan ini memperkenalkan diri dengan nama Hilda dan kami memanggil perempuan keturunan Belanda ini dengan Tante Hilda. Kami mencintainya dan Tante Hilda merawat serta sangat memperhatikan kami tanpa kecuali. Tante tidak punya anak. Kedatangan kami agaknya memberikan kebahagiaan tersendiri bagi Tante Hilda. Ia nampak sangat gairah dan hidup. Tante Hilda segera mengatur di mana dan bagaimana kami tidur. Di mana anggota-anggota perempuan dan di mana yang lelaki. "Yang lelaki jangan ngiri kalau perempuan tinggal di kamar", ujar Tante Hilda. Sebagian anggota rombongan perempuan bahkan tidur sekamar dengan Tante dan yang lain di kamar-kamar yang tersisa. Sedangkan yang lelaki tidur di lantai beralaskan tikar. "Tante jelek", celetuk seorang anggota secara iseng. "Mosok perempuan diistimewakan". Tante Hilda tersenyum dan menjawab: "Salahmu jadi lelaki!". "Lho katanya lelaki dan perempuan setara.Emansipasi", goda teman itu lagi. "Bung mau ngganti saya dan sekamar dengan Warsiki", jawab seorang teman perempuan yang mendapat bagian tidur sekamar dengan Warsiki, salah seorang anggota paduan suara kami. Teman yang usil itu jadi tersipu-sipu dan menimbulkan gelak-bahak teman-teman lain. "Lima nol!" celetuk teman lain yang membuat gelak-bahak kian membahana. Tante Hilda Sejak kecil tinggal di Klaten. Pengetahuannya tentang Klaten dari waktu sangat kaya. Pada waktu senggang, aku mengumpulkan rombongan untuk mendengarkan uraian Tante Hilda tentang sejarah Klaten. Ini adalah salah satu cara kami yang berusia sekitar 20an pada waktu itu untuk belajar dan menimba pengalaman dari para pendahulu. Sejak itu saban ke Klaten atau dalam perjalanan ke Solo, semua kami turun ke Jalan Pemuda, hanya untuk menyapa Tante Hilda. Antara kami dan Tante Hilda terjalin perasaan akrab mendalam. Sambil singgah, tanpa disuruh siapapun, kami membawakan sesuatu tanda sayang untuk Tante Hilda. Juga tanpa disuruh, semua anggota rombongan berlomba-lomba membantu Tante Hilda dan seorang perempuan muda Jawa, pembantunya, menyiapkan makanan. Tante Hilda dan perempuan muda Jawa yang berkulit hitam manis ini nampak sangat bahagia. Usai membantu Tante Hilda, Daulat yang dibantu oleh Bung Saptoprio dari Akademi Seni Musik Indonesia [ASMI] Yogya mengumpulkan anggota rombongan untuk latihan. Sedangkan Arifin dari ASDRAFI [Akademi Senji Drama & Film Indonesia] Yogya, mengumpulkan tim dramanya juga untuk berlatih. Semua bagian serentak melakukan latihan ulangan. Untuk pertunjukkan kali ini, Arifin memilih cerita "Traktor" karya Ph. Muid. Didien dan Oei yang 12 tahun juga tidak ketinggalan berlatih ulang membawakan puisi-puisi pilihan mereka masing-masing. Didien dan Oei termasuk bilangan deklamatris dan deklamator terbaik kami. Usai latihan, Tante Hilda dan pembantunya kami mintai pendapat dan kritik. Tante Hilda dan pembantunya tersipu-sipu ketika Daulat meminta pendapat mereka.Dengan logat Bataknya yang kental, Daulat mendesak mereka. "Kami ingin memberikan yang terbaik Tante dan Mbak Esti", ujar Daulat dengan lidah Bataknya. "Ya, pendapat Tante dan Mbak Esti membantu kami", ujar anggota yang lain mendorong Tante Hilda dan Mbak Esti bicara. "Anak-anak sudah membahagiakan Tante. Terimakasih", ujar Tante Hilda dengan mata berlinang. "Kalian adalah anak-anak Tante", lanjutnya. Mbak Esti hanya mengatakan : "Kalian adik-adik saya" dengan tak kalah terharu dari Tante Hilda. Kritik-mengkritik merupakan kebiasaan kami sehingga tidak seorang pun yang naik pitam jika dikritik. Bahkan kebiasaan ini terbawa dalam kehidupan sehari-hari kami. Tapi kamipun tidak kikir akan pujian jika memang layak dipuji. Yang paling banyak dipuji adalah Oei dan Didien yang pada waktu itu masih berusia belasan tahun. Sedangkan Daulat dan Mas Sapto dengan gaya Batak dan Jawa mereka, sangat keras dalam latihan.Perbedaan gaya inipun sudah dikenal oleh para anggota. Perbedaan gaya Batak dan Jawa inilah yang sering dijadikan sendagurau yang membuat keduanya "mati kutu". Terutama Daulat yang hanya bisa berkata: "Kalian �dan". "E�daannn!" teman-teman mengulanginya yang kembali menimbulkan gelak-bahak. Sebelum pertunjukan, Arifin kuajak menemui Deddi Soetomo yang setelah meninggalkan Yogya berkegiatan di Klaten. Deddi adalah teman dekatku di Grup Rendra Yogya. Kebersamaan di satu grup begini, menimbulkan perasaan tersendiri di kalangan kami. Kami merasa sama-sama satu alumni. Arifin kuajak mendatangi Deddi untuk mengharapkannya hadir dalam pementasan "Traktor" yang disturadai oleh Arifin [bukan Arifin C.Noer! Karena itu ketika Arifin C. Noer mencariku di Paris, kepada Jajang kutanyakan: Arifin mana sih? Ketika itu Jajang menjawabku seakan gondok karena ia tak tahu bahwa aku punya teman Arifin yang lain: Noor!]. Guk, dengan ilustrasi ini aku ingin menunjukkan bahwa perbedaan pandangan, tidak menghalang kami untuk bersahabat dan melakukan sesuatu yang bisa dilakukan bersama. Kukira adalah salah besar, jika memandang perbedaan pendapat lalu menempatkan kita sebagai lawan atau musuh. Antara aku dan Arifin C.Noor misalnya sekalipun kami sama-sama tahu bahwa ada perbedaan pandangan di antara kami, tapi kami tetap bersahabat. Ketika ia meninggal aku merasa kehilangan. Dalam percakapan di Paris, ditunjang oleh pendapatnya di Harian Kompas, Jakarta, kulihat masih ada yang sama di antara kami yaitu bahwa sastra-seni itu diabadikan pada rakyat. Tidakkah ini suatu kesamaan yang bisa dikembangkan dan dijadikan dasar bekerjasama dan membuktikan Arifin C.Noer adalah sahabat. Arifin C.Noer dalam percakapannya di Paris ketika mencariku, menyatakan penyesalannya dengan filem G.30 S/PKI dan memintaku agar jangan mengkritiknya secara terbuka. "Aku sudah merasa tertekan oleh kritik teman-teman", jelas Arifin C.Noor. Hidup dalam masyarakat, kukira memerlukan kemampuan hidup beragam dan sadar bahwa siapa pun orang itu berkembang.Mencari musuh lebih gampang daripada mencari sahabat. Sedangkan pertikaian di kalangan sahabat, bukan pula hal yang aneh. Orang Batak mengatakan: "Kar�na d�kat maka bag�s�k". Untuk hidup bersama diperlukan kepandaian menterapkan berbagai metode pendekatan. Orang Tiongkok punya metode "angin sepoi-sepoi" dalam menghadapi yang jauh agar bisa bersatu. Bersatu lebih sulit daripada bertikai. Dari segi ini aku mempertanyakan dasar teori dan filosofis,orang yang mengkritik Joko Pekik dan Agam Wispi karena dekat dengan Goenawan Mohamad dan orang-orang Manfes lain,misalnya. Aku ingin agar pengkritik Joko Pekik dan Agam mengetengahkan dasar alasannya berpatokan bertolak dari sikap Socrates bahwa ketika menghadapi gunjingan: benar, baik dan dan berguna. Gunjingan tidak punya dasar kebaikan dan kegunaan bagi kehidupan bersama. Malangnya orang kita suka bergunjing yang hanya memperlihatkan taraf mereka sebagai anak manusia. Menyangkal perkembangan orang dan hanya mencari serta menonjolkan perbedaan akan mengucilkan diri sendiri dan merasa diri sebagai "manusia supra" atau "adikuasa". Bagiku "manusia supra" [supermen atau superwomen itu tidak ada, Guk. Sun Wu Kung perkasa bukan karena dia Sun Wu Kung tapi karena punya pasukan kera yang ribuan dan jutaan. Primus inter pares Sun Wu Kung kukira muncul dari praktek.Tokoh Sun Wu Kung adalah konsep tentang manusia yang dituangkan secara sastra. Supermen dan superwomen kukira mengandung benih ide fasistis. Usaha mulia manusiawi tidak pernah dilakukan oleh supermen dan superwomen. Konsep pelopor yang vulger barangkali sejalan dengan konsep supermen dan superwomen. Untuk memudahkan kau memahami apa yang kumaksud kuharapkan kau memperhatikan benar kata "vulger". Menyinggung masalah ini, aku sedang berbicara tentang hubungan individu dan massa. Atas dasar ini pula aku mengkritik aroganisme sastrawan yang sering merasa diri sebagai mahluk "supra" dan "Extra Terreste [ET], makhluk luar angkasa" yang secara kenyataan dan filosofis tidak bisa dipertanggungjawabkan. Paris, Agustus 2004. ------------------- JJ. Kusni [Bersambung....] [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar. Now with Pop-Up Blocker. Get it for free! http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

