BILL LIDDLE TENTANG POLITIK PASKA PEMILU (5/6) 

Kalau tentang ekonomi Pak Bill percaya, "Pembangunan
ekonomi Indonesia sudah berhasil. Bukan hanya pada
pertumbuhan ekonomi rata-rata per tahun tapi juga 
dalam distribusi." Kalau soal demokrasinya, "Kalau
kita ambil kedua segi ini, yaitu tentara yang kuat dan
masyarakat yang lemah, ya sulit untuk melihat 
kemungkinan adanya demokratisasi dalam waktu pendek."
Tentang korupsi, "Sekarang pejabat-pejabat tinggi
tidak tahu malu dalam memupuk kekayaan pribadi. Mereka
mengotori nama baik dari kapitalisme itu sendiri." 

PEMBANGUNAN DAN DEMOKRASI 
T: Selama bulan Juli-Agustus ini ada beberapa tulisan
panjang dalam media luar negeri. The Economist (26
Juli) mengajukan analisa yang optimis. Sedangkan
makalah di Foreign Affairs (Juli/Ags) itu nadanya
pesimis. 
J: Saya tidak begitu sependapat dengan Anda. Dan saya
tidak mendapat kesan ada perbedaan tajam antara
keduanya, karena kedua-duanya pesimis. Saya sendiri
agak bosan membaca keduanya sebab saya tidak melihat
sesuatu yang baru. Saya merasa mereka terperangkap
oleh dua dorongan. Para penulis di Barat pada umumnya
berharap agar Indonesia lebih demokratis sebagaimana 
pendapat kebanyakan orang Indonesia pada umumnya. 
Saya bukannya mau mempertentangkan Indonesia dan
Barat. Pemerintah Indonesia tentunya tidak menghendaki
demokrasi tetapi banyak orang Indonesia yang 
mengharapkan demokrasi. Dan para pengamat Barat,
termasuk saya, juga mengharapkan demokrasi. Kalau kami
menulis, kami tidak bisa melihat suatu cara atau
proses dalam jangka pendek di mana ada kemungkinan
Indonesia bisa demokrasi. Itu juga bisa saya lihat
dalam tulisan Schwarz maupun The Economist. 
Mereka mencoba menganalisa masyarakat yang berpolitik
di Indonesia, mencari kekuatan-kekuatan politik yang
bisa menandingi pemerintah sekarang, khususnya 
tentara. Dan mereka tidak melihat itu ada. Mereka
mencari di kelas menengah, di buruh, di Islam, dan di
mana-mana. Namun mereka tidak menemukan adanya 
kekuatan yang cukup besar dan bersatu untuk melawan
pemerintah. Jadi pada akhirnya kedua-duanya pesimis.
Kalau kita mengharapkan demokrasi ya bakal 
tidak dilihat, mereka tidak melihat adanya kekuatan
dari masyarakat yang dapat diandalkan untuk menandingi
kekuatan pemerintah saat ini. Dalam hal ini harus juga
dibicarakan kekuatan pemerintah sendiri, dalam hal ini
tentunya tentara. 
Perangkap atau dorongan yang kedua, kedua penulis
tersebut melihat tentara itu cukup kuat, utuh bersatu,
dlsb. Sayapun setuju dengan pendapat itu. Jadi 
kalau kita ambil kedua segi ini, yaitu tentara yang
kuat dan masyarkat yang lemah, ya sulit untuk melihat
kemungkinan adanya demokratisasi dalam waktu pendek.
Saya kira itu seperti pendapat Goenawan Mohamad
umpamanya, kenapa dia sering di depresi, adalah itu. 
T: Sari pikiran The Econimist itu adalah, "Kebijakan
ekonomi sudah benar, landasannya sudah kokoh. Tetapi
bakal ada perubahan politik." Setuju? 
J: Dalam hal ini saya akan berbicara tentang dua hal.
Saya memang sudah lama sependapat dengan para ekonom
seperti Hall Hill umpamanya, yang mengatakan 
bahwa pembangunan ekonomi Indonesia sudah berhasil.
Bukan hanya pada pertumbuhan ekonomi rata-rata per
tahun tapi juga dalam distribusi. Kita semua bisa
lihat di Indonesia bahwa sejumlah orang terlihat
sangat kaya dan masih banyak yang miskin. Dan itu
dipakai oleh orang Indonesia sendiri dan banyak
pengamat ekonomi di Indonesia untuk mengatakan bahwa
ada kesenjangan ekonomi yang luar biasa dan kebijakan
ekonomi Orba tidak berhasil, dsb. 
Tetapi kalau dilihat pada tingkat internasional,
dibandingkan dengan Nigeria, umpamanya, atau negara
seperti India. Yang terjadi di Indonesia adalah 
penciptaan kekayaan baru atau pendapatan baru atau
pertumbuhan, di mana sebagian dari pertumbuhan itu
memang dibagikan kepada masyarakat. 
Jadi kalau dilihat dari angka Gini umpamanya,
Indonesia jauh lebih bagus dibandingkan dengan seluruh
dunia ketiga lainnya. Dibandingkan dengan keadaan 20
tahun yang lalu, pada suatu desa di Yogya yang saya
tinggali, keadaan sekarang jauh berbeda. Itu bukan
berarti tidak ada kemiskinan di desa itu, tetapi kelas
menengah di desa itu jauh lebih makmur dari dulu. Itu 
jelas. 
Jadi kalau kita berbicara tentang ekonomi makro ini,
saya setuju dengan orang kanan atau orang liberal,
ekonom seperti Hall Hill itu. Saya setuju dengan 
mereka, pada intinya. Itupun tidak berarti juga saya
setuju 100% dengan pendekatan pasar. Karena pasar
tidak selalu dapat diandalkan dan pemerintah 
harus memainkan peranan. Lihat di Amerika atau di
Eropa, kan pasar tidak selalu diandalkan? Itu jelas.
Saya bukan idiolog pasar. Tapi kebijakan 
ekonomi yang berdasarkan pasar memang ada hasilnya. 
Yang kedua, kekayaan pribadi segelintir pemimpin
negara atau penguasa yang belakang ini sangat
menonjol. Dan ini cenderung men-delegitimasi kebijakan

ekonomi pasar. Jadi seakan-akan pemerintah menjalankan
ekonomi pasar ini untuk memperkaya diri sendiri.
Seperti kita lihat dengan Mobnas, misalnya. 
Saya belum mempunyai kesimpulan yang pasti mengenai
ini, tapi saya melihat masalah ini dalam waktu
belakangan ini sudah melampaui batas. 
T: Bukankah bagian yang pertama tadi dapat digunakan
sebagai alat legitimasi untuk memupuk kekayaan. 
J: Iya, betul. Sebagian itu benar, seperti dikatakan
oleh Hall Hill itu memang benar kalau pemerintahan
Suharto itu berhasil kalau saya bandingkan dengan
pemerintahan Sukarno yang tidak ada pembangunan sama
sekali. Tetapi sekarang pejabat-pejabat tinggi tidak
tahu malu dalam memupuk kekayaan pribadi. Mereka
mengotori nama baik dari kapitalisme itu sendiri. Jadi

mempersulit pemerintah Indonesia di masa depan untuk
meneruskan kebijakan pro-pasar. 
T: Bagaimana implikasi korupsi untuk ekonomi
pro-pasar? 
J: Jadi lebih sulit untuk mempertahankan kebijakan
ekonomi pasar di masa depan. 
T: Tapi itu kan kemungkinan jangka panjang. Bagaimana
untuk jangka pendeknya? 
J: Tidak ada perubahan. 

ANGSA TERBANG 
T: Bagaimana kalau dibanding dengan negara-negara Asia
Tenggara dan Timur? 
J: Pada awalnya pemerintah Orba mengambil kebijakan
ekonomi yang baik. Oleh karena itu Indonesia sudah
menjadi bagian dari formasi "Angsa Terbang" di 
Asia Timur, dengan Jepang sebagai "Angsa" terdepan.
Saya lihat sejak tahun 70-an Indonesia masuk dalam
formasi ini. Justru Pilipina yang di luar formasi 
itu selama lebih dari satu dasa warsa terakhir di
bawah pemerintahan Marcos. 
Meskipun sebelumnya Pilipina sudah di depan dan
diramalkan akan maju dengan cepat. Tapi itu tidak
terjadi karena pimpinan politik yang tidak becus dan 
korupsi yang luar biasa. Korupsi di Pilipina itu
sangat menganggu ekonomi pro-pasar. 
Kalau dibandingkan dengan Indonesia sekarang memang
sudah ada tanda-tanda seperti itu. Misalnya dengan
adanya Mobnas. Tapi tidak seburuk di Pilipina, 
karena di Indonesia masih ada pertumbuhan tinggi,
masih dapat dukungan yang kuat dari Bank Dunia, dsb.
Pilipina pada tahun 70-an dan 80-an tidak didukung 
seperti itu. 
T: Dukungan dari lembaga-lembaga dunia itu kurang? 
J: Kurang sekali. Karena Marcos tidak mengindahkan
saran-saran dari penasehat-penasehat ekonominya pada
saat itu. Tapi Suharto tidak separah itu. 
Kembali ke perbandingan dengan Asia Timur.
Pejabat-pejabat di Malaysia, Singapura dan Indonesia
selalu mengatakan ada politik khas di Asia Timur, yang
mereka tidak bilang 'otoriter.' Biasanya mereka bilang
"Asian value", nilai-nilai Asia. Tapi yang lebih
penting diamati pada pola Asia Timur ini adalah bahwa
pembangunan ekonomi membuka kemungkinan untuk
demokratisasi. 
Jadi kalau kita lihat bukan ke Malaysia atau Singapura
tapi ke utara sedikit, yaitu ke Muangthai, atau lebih
tepatnya Taiwan dan Korea, di sana proses
demokratisasi lebih berjalan. Apalagi di Jepang yang
sudah lama demokrasi. 
Tentu saja demokrasi ala Timur dengan satu partai
saja. Tapi benar-benar demokrasi. Jadi kalau kita
bicara pola Asia Timur, di situ ada proses 
demokratisasi (bersambung-6/6). 

http://www.library.ohiou.edu/indopubs/1997/08/29/0039.html



        
                
__________________________________
Do you Yahoo!?
New and Improved Yahoo! Mail - 100MB free storage!
http://promotions.yahoo.com/new_mail 


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70
http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke