BILL LIDDLE TENTANG POLITIK PASKA PEMILU (6-Habis) Belajar dari perjuangan demokrasi di Korea, "Salah satu faktor terpenting adalah koalisi. Bukan buruh sendiri, bukan mahasiswa sendiri, dan bukan kelas menengah sendiri. Tapi koalisi." Mengapa orang-orang ABRI suka ingkar janji?
"Sebab mereka tidak percaya dengan janji mereka sendiri. Saya kira ini bukan penyakit tentara saja, tapi penyakit seluruh elite Indonesia." Tentang elite sekarang, "Kekuatiran para elite politik dan ekonomi di Indonesia, ya makin meningkat!" POLITIK BURUH T: Bagaimana peranan buruh dalam proses demokratisasi di Korean Taiwan dan Jepang? J: Saya belum punya gambaran yang jelas. Tapi saya percaya bahwa kaum buruh dan para mahasiswa mempunyai peranan yang penting dalam proses demokratisasi. Dan memang benar yang Anda katakan bahwa memang ada desakan yang besar dari kaum buruh dalam proses demokratisasi. Buruh yang didukung oleh mahasiswa dan kemudian didukung oleh masyarakat secara luas. Khususnya setelah kejadian di Kwang Yu. Masyarakat daerah itu sangat marah kepada tentara yang membunuh mahasiswa pada awal 80-an. Mulai saat itu ada aliansi antara masyarakat kelas menengah dan para mahasiswa serta kaum buruh. Aliansi itu yang mendorong proses demokratisasi. Itu di Korea. Kalau di Taiwan agak kurang. Di Taiwan lebih dikarenakan inisiatif dari atas dan kelas menengah para penguasaha, dan juga presiden yang kedua setelah Chiang Kai Shek yang lebih banyak pengalaman di Barat. Jadi seperti Kemal Ataturk di Turki yang jadi pemimpin dari atas. Kalau kita lihat perkembangan di Indonesia sejak akhir tahun 80-an yang menonjol adalah perkembangan kaum buruh. Perjuangan mereka semakin keras dan semakin tajam. Sebab kebijakan ekonominya masih mengandalkan eksport. Dan eksport memerlukan buruh murah. Jadi dinamika itu masih akan berjalan terus. T: Apakah kunci perjuangan demokrasi di Korea dan Taiwan adalah koalisi antara buruh, mahasiswa dan aktivis pro-demokrasi? J: Ya, koalisi itu penting sekali. Ada mahasiswa saya dari Korea yang baru menyelesaikan disertasinya, dan itulah kesimpulan dia mengenai Korea Selatan. Salah satu faktor terpenting adalah koalisi. Bukan buruh sendiri, bukan mahasiswa sendiri, dan bukan kelas menengah sendiri. Tapi koalisi. T: Dalam majalah Foreign Affairs Juli/Agustus ada makalahnya Adam Schwarz, penulis buku "A Nation In Waiting" yang terbit 1994. Ini salah satu data dia tentang masalah perburuhan, "Tahun 89 hanya ada 1 ribu buruh yang mogok. Tapi tahun 94 yang mogok sudah 150 ribu." Dia sebutkan juga usaha mengorganisir buruh itu dihadapi dengan kekerasan dan pemimpin buruh seperti Muchtar Pakpahan itu dipenjarakan. World Bank juga menasehati pemerintah Indonesia untuk menekan upah buruh. Bagaimana komentar Pak Bill? J: Kalau Bank Dunia mengingatkan Indonesia agar hati-hati dalam masalah ini ada benarnya, sebab tidak akan investasi baru dari luar negeri. Para ekonom umumnya setuju dengan itu, selama buruh surplus masih banyak di Indonesia, jadi tetap harus rendah kata mereka. Itu termsuk pendapat orang yang sangat simpatik kepada buruh, seperti Chris Manning. Chris Manning itu adalah orang yang berjiwa sosialis tapi berotak ekonom, jadi dia ingin melihat kemajuan bagi kaum buruh. Tapi selama ada surplus labor itu menjadi masalah yang penting bagi Indonesia. T: Bahwa upah buruh di Vietnam dan Cina lebih rendah, itu memang benar. Tapi pengeluaran pemerintah mereka untuk pelayanan umum seperti perumahan dan kesehatan masih cukup tinggi. Sedangkan di Indonesia pengeluaran semacam itu sudah berkurang banyak. J: Iya, itu menarik sekali. Memang perlu pemikiran yang mendalam untuk menjawab ini. Saya pun tahu bahwa upah minimum itu masih jauh dibawah standard kecukupan. Kita semua setuju bahwa upah minimum itu terlalu rendah bagi seorang manusia. Masalahnya bagaimana menolong mereka. Tapi para ekonom mengatakan jangan menolong mereka dengan memberi gaji lebih tinggi. Karena itu justru akan membunuh mereka. POLITIK ABRI T: Dalam mingguan Far Eastern Economic Review 14 Agustus ada artikel panjang tentang pergeseran dalam ABRI, judulnya "New waves, old ties. Suharto loyalists take top military posts." Salah satu analisanya tentang para jenderal yang baru naik, "While they remain wary of national political mobilization, they do accept the inevitability of political change." Sejauh mana Pak Bill sendiri melihat prospek jenderal-jenderal angkatan 70 dan 71 yang dipromosi baru-baru ini bakal menerima "perubahan politik yang tak terhindarkan itu." J: Saya kira penulis artikel itu terlalu dipengaruhi oleh orang Indonesia yang terlalu gampang menerima janji tentara. Seperti Jenderal Sumitro pada tahun 73 yang dianggap akan menyelamatkan Indonesia dari kediktatoran. Itu kan tidak terjadi? Kita lihat sesudah itu ternyata Sumitro itu bukan seorang demokrat. Begitu juga, ini maaf, A.H. Nasution juga bukan seorang demokrat. Ali Sadikin juga bukan seorang demokrat. Kalau sekarang mungkin, tapi sewaktu berkuasa mereka bukan demokrat. T: Apa yang membuat ABRI itu mudah mengingkari janji? J: Sebab mereka tidak percaya dengan janji mereka sendiri. Saya kira ini bukan penyakit tentara saja, tapi penyakit seluruh elit Indonesia. Mereka sangat konfiden dengan dirinya sendiri dalam arti merasa lebih tahu dari masyarakat. Jadi kalau ada kelompok yang datang kepada mereka dan meminta sesuatu, mereka merasa, ya bisa dimanfaatkan saja kelompok ini. Tetapi tidak dianggap sebagai pemain utama atau pemain penting. Lalu diberi janji, tapi ringan saja tanpa betul-betul dipercayai. Seperti masalah 'otonomi' Timor Timur yang saya sebutkan tadi. Kalau Jenderal Prabowo memperjuangkan otonomi, saya yakin dia berjanji juga kepada teman-teman di Timor bahwa ABRI akan memberi otonomi kepada mereka. Tapi itu janji yang mereka harus tagih atau mereka harus mengerti bahwa Pak Prabowo itu tidak bermaksud betul-betul memberi otonomi, dia hanya ingin membuat koalisi di mana ada juga beberapa orang Tim-Tim sebagai anggota. Begitu juga dengan demokratisasi, demokrasi adalah kata yang sangat gampang diucapkan tapi sulit dicapai. T: Dalam majalah Indonesia #63 April 97 ada analisa tentang elite militer. Antara lain dikatakan bahwa akan terjadi perubahan besar dalam ABRI karena lulusan Akabri tahun 64 s/d 75 itu kebanyakan, sekitar 300-400 orang. Jadi sekarang kebanyakan calon jenderal. Itu sebabnya bakal banyak pergeseran dan masa jabatan yang dipersingkat. Apa Pak Bill setuju? J: Sesudah artikel itu ditulis memang ada pergeseran besar, yang dinamakan 'validasi.' Saya sendiri tidak tahu apa yang dimaksud validasi. Itu kan kata Inggris, 'validation,' yang artinya pembenaran. Tapi apa yang dibenarkan dengan pergeseran besar- besaran itu saya tidak tahu. Maaf ya, saya belum sempat menilai pergeseran-pergeseran itu, jadi saya belum mempunyai pendapat tentang benar tidaknya tentang pendapat majalah Indonesia itu. SKENARIO "ATAS-BAWAH" T: Ada empat skenario yang pernah diajukan oleh Arief Budiman. Dia meminjam pikiran Samuel Huntington dari Harvard. Empat skenario itu kemudian dikutip oleh The Economist: "Intervensi" seperti Haiti, menurut Arief ini nggak mungkin; "Replacement" seperti People Power di Pilipina, nggak mungkin juga; "Transformasi" seperti di Taiwan, nggak mungkin juga. Kemungkinan terbesar adalah "Transplacement," yaitu kombinasi antara reformasi oleh elite dan tekanan dari bawah seperti yang sudah terjadi di Chili. Apa Pak Bill setuju dengan pikiran Arief? J: Saya juga setuju. Tapi mungkin saya lebih hati-hati dibanding Arief. Karena menurut saya proses itu masih cukup lama. Tapi saya setuju kalau yang bakal terjadi itu 'transplacement.' Artinya dorongan dari bawah dan reaksi dari atas. Proses itulah yang akan terjadi untuk demokratisasi di Indonesia. Tapi kalau pengambilan keputusan demokratisasi itu terlalu tinggi seperti proses transformasi di Taiwan, berarti tentara tetap memainkan peranan penting. Seperti di Chili, mekipun ada demokratisasi, si diktator -- yaitu tentara -- dari dulu masih berkuasa dan berpengaruh dalam sistim politik. Jadi belum ada transisi yang sebenarnya. Dan itu karena keputusan untuk menjadi demokrasi diambil oleh kaum elit saja, tanpa dorongan dari bawah. Teori Huntington itu bilang kalau ada dorongan dari bawah akan lengkap transformasinya. T: Menurut The Economist, ada dua kesukaran dalam skenario 'Transplacement,' atau skenario 'Atas-Bawah' itu. Pertama, oposisi yang ada itu terpecah belah. Kedua, ABRI. Demokrasi di Indonesia hanya mungkin kalau ABRI setuju, "If there is to be democracy in Indonesia, the army will have to accede it." Jadi "Atas"nya tidak mendukung, dan "Bawah"nya berantakan! J: Prosesnya masih lama. Logika saja, ABRI masih sangat kuat. Jadi kalau mereka tidak membantu, demokratisasi tidak akan terjadi. Tapi ini untuk masa jangka pendek saja. Untuk jangka panjang kita tidak tahu bagaimana keadaan ABRI setelah Suharto tidak ada. ABRI tanpa Suharto kan akan berbeda sama sekali. Nantinya belum tentu ABRI akan mempunyai satu garis politik. Bukan saya meramalkan sesuatu, hanya kita harus ingat bahwa Suharto ini sangat kuat, sangat berkuasa, dan sangat berpengaruh di ABRI. Kalau dia tidak ada akan banyak perubahan. Di situ letak kebenaran Goenawan ketika dia bilang bahwa pemerintahan di Indonesia harus di'invent' kembali. Walaupun saya tidak setuju 100%, karena banyak lembaga yang akan terus, tetapi intinya adalah memang Suharto begitu berkuasa. Kalau dia pergi, akan ada perubahan besar. Coba lihat yang menduduki posisi-posisi paling tinggi sekarang. Kan semuanya dipilih oleh Suharto sendiri? Bukan hasil seleksi panitia atau apa. Memang ada panitia yang memberi masukan, tetapi yang menentukan paling atas itu, ya Suharto sendiri. Tanpa Suharto, apa yang terjadi kita tidak akan tahu. T: Adam Schwarz mengamati banyak sekali faktor. Misalnya dampak industrialisasi seperti munculnya kaum buruh, penanaman modal, hutang luar negeri, korupsi, pergolakan daerah di Timor, Aceh, Irian, Kalimantan, pereasaan anti-Cina, ketegangan mayoritas-minoritas, politik Islamisasi versus demokratisasi, dsb. Nada tulisan Adam Schwarz itu kami rasa pesimis. Dugaannya, "In such climate the wealthy take their capital offshore, while the poor burn and loot." Apakah menurut Pak Bill pesimisme itu memang cukup beralasan? Apa sesuai dengan kejadian-kejadian yang Pak Bill amati paska pemilu ini? J: Saya kira dalam hal ini dia agak kelewat dramatis. Tapi yang dimaksudkan ada benih kebenaran di situ. Yang kita lihat di dalam kerusuhan-kerusuhan yang terjadi selama satu tahun ini memang 'the poor burn and loot' dan 'the wealthy takes the capital offshore.' Sudah lama kan ada gejala-gejala itu. Baru-baru ini ada heboh Indo-food. Saya agak bingung mengikuti kasus Indo-food itu. Sebab orang seperti Kwik Kian Gie, yang biasanya analisanya bisa diandalkan, mengatakan itu bukan capital flight dan tidak punya implikasi politik. Kalau saya yang membaca itu jelas ada implikasi politiknya. T: Tadi Pak Bill mengatakan apa yang dikatakan Schwarz itu mempunyai benih kebenaran. Kalau dilihat dengan tendensi yang sekarang bagaimana pak? J: Kalau melihat tendensi yang sekarang memang mengkuatirkan. Ini kan yang juga dimaksudkan dengan judul 'Suharto's End Game.' Saya kira kita harus melihat kejadian-kejadian belakangan ini dalam rangka itu. Sebab kekuatiran para elite politik dan ekonomi di Indonesia, ya makin meningkat! T: Waktu menutup makalahnya Adam Schwarz mengutip pendapat Goenawan Mohamad, "When Suharto goes, everything will have to be reinvented." J: Paska Suharto akan terjadi shock besar. Sebab otak sistim itu adalah Suharto. Kalau di Amerika misalnya, kalau Clinton meninggal besok, Gore akan jadi presiden. Semua orang akan menerima presiden Gore. Lembaga-lembaga Kongres yang punya fungsi sendiri, pengadilan dan birokrasi yang punya fungsi sendiri, semuanya akan berjalan seperti biasa. Termasuk angkatan bersenjata Amerika yang akan berjalan dengan sendirinya. Nah, kalau di Indonesia lembaga-lembaga seperti itu tidak berdiri sendiri. Semua dikuasai dari satu tempat, oleh satu otak. Tapi not everything has to be reinvented. Sebab saya percaya juga bahwa kita akan melihat ada yang akan tetap bertahan sesudah Suharto. Untuk sementara Golkar akan tetap terus. Sistim kepartaian yang terbatas juga terus. Parlemen yang tidak memainkan peranan penting bakal terus juga. Dwi Fungsi tidak akan dihapuskan dengan tidak adanya Suharto. Jadi tidak semua harus di 'reinvent.' T: Terima kasih banyak, pak ======= (Habis, wawancara 11 Juni dan 14 Agustus 1997). http://www.library.ohiou.edu/indopubs/1997/08/30/0000.html __________________________________ Do you Yahoo!? Yahoo! Mail Address AutoComplete - You start. We finish. http://promotions.yahoo.com/new_mail ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar. Now with Pop-Up Blocker. Get it for free! http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

