Pada jaman Habibie sebagai presiden, Liddle
meramalkan:
"Susilo boleh, asal tujuh tahun lagi..."
Read all below:
(Lanjutan wawancara dengan Jawa Pos)
Susilo Boleh, asal Tujuh Tahun Lagi...
Mitos kader militer lebih unggul daripada kader
sipil untuk menjadi pemimpin puncak Indonesia kini
harus dienyahkan. Itu jika bangsa Indonesia mau
konsisten dengan reformasi dan demokrasi. Ini juga
diakui guru besar ilmu politik asal Ohio State
University, Amerika Serikat, Prof William R.
Liddle. Tapi jika Wiranto dan Susilo Bambang
Yudhoyono mau bersabar, peluang mereka menjadi
presiden RI masih terbuka. Berikut lanjutan laporan
wartawan Jawa Pos di Washington DC Ramadhan Pohan.
Ketika rezim otoriter Soeharto masih berkuasa, ABRI
adalah segalanya.
Kalangan sepatu lars ini acap menjadi anak emas
selama rezim Orde Baru. Berbagai jabatan dan posisi
kunci pemerintahan seolah-olah harus dipegang kalangan
ABRI, entah mereka itu pensiunan atau masih aktif.
Semua jabatan mau diraup sendirian, dari jabatan
tingkat desa sampai presiden. Dari wali kota sampai
kepala perwakilan Indonesia di luar negeri. Semua
harus berbau ABRI.
Selama 32 tahun kekuasaan Soeharto, nyaris tidak
ada yang mempertanyakan keanehan tersebut.
Pasalnya, kala itu setiap pertanyaan nyaris sinonim
dengan tuduhan subversif. Penangkapan, pengadilan
politik, dan tahanan politik siap menghantam siapa
saja yang mencoba mempertanyakan kekuasaan mutlak
rezim itu. Di mana sipil? Selama kekuasaan Soeharto
32 tahun itu, kalangan sipil dimandulkan.
Seakan-akan ditanamkan doktrin kepada seluruh
rakyat bahwa hanya kader militer yang mampu
menjalankan semua jabatan yang ada di republik ini.
Perlahan-lahan mitos itu pun diyakini kebenarannya.
Benar-benar sebuah era pembodohan dan pendunguan yang
membuat seluruh elemen bangsa di luar ABRI terus
terlelap mitos dan dicengkeram rasa takut. Apakah
mitos bahwa kader militer adalah kader jadi yang
selalu siap menjadi pemimpin, sementara sipil
dipandang jelek dan brengsek itu masih perlu
dipelihara? Prof William R. Liddle justru mecemooh
mitos itu. ''Saya tidak percaya mitos itu. Satu faktor
saya kira adalah bahwa ABRI memang membuktikan selama
Orde Baru bahwa di antara mereka ada yang jujur,
tetapi juga ada yang tidak. Ada kan yang sangat korup,
ada yang tidak bisa menguasai departemennya atau
provinsinya (kalau gubernur),'' jelas Prof Liddle.
Sebenarnya ada juga segelintir kalangan sipil yang
turut merasakan manisnya buah kekuasaan dan kolaborasi
rezim-teknokrat. Mereka adalah para pakar kampus yang
kemudian populer dengan sebutan teknokrat.
''Orang sipil selama ini tidak diberi banyak
kesempatan. Tetapi yang diberi kesempatan, misalnya,
para teknokrat. Seperti, Widjojo cs, yang
berwawasan nasional dan tidak berwawasan sempit, tidak
berwawasan agama, suku, atau daerah,'' imbuh guru
besar kawakan yang biasa dipanggil muridnya dengan
sebutan Prof Bill ini.
Ideologi teknokrat dan militer memang bersanding
rapat: sama-sama mengklaim antiprimordial. Apalagi
tentara, seolah-olah mengklaim sebagai satu-satunya
institusi negeri yang paling bertanggung jawab atas
keselamatan, kesejahteraan, dan nasib bangsa
Indonesia.
Seakan-akan orang-orang di luar ABRI dianggap hanya
sebagai pelengkap penderita dalam perjalanan
perekonomian, sosial, dan politik negeri.
Setelah bubarnya kekuasaan Soeharto dan ambruknya
rezim Orde Baru, mau tidak mau, banyak hal yang harus
dikoreksi. Khususnya melebarkan sayap kesempatan
seadil-adilnya kepada seluruh rakyat Indonesia, tidak
peduli agama, suku, warna kulit, maupun warna-warna
subkultur yang ada. ''Jadi, kita akan lihat nanti,
sipil harus diberi kesempatan.
Tetapi, saya cenderung percaya sipil sekarang
banyak yang terdidik. Pendidikan mereka cukup baik
kalau kita bandingkan dengan waktu pertama saya datang
ke Indonesia pada awal 60-an. Pada waktu itu orang
Indonesia yang sudah sempat terdidik di S-3 atau yang
sempat mendapat gelar dari universitas sangat
sedikit. Tetapi, sekarang kan banyak.
Jadi, saya yakin bahwa kaum sipil bisa berkuasa dan
bisa memerintah,'' ungkap Prof Bill, optimistis.
Lantas, di era reformasi dan demokrasi sekarang,
masih adakah tempat dan kesempatan bagi kader-kader
pemimpin ABRI untuk menjadi presiden RI kelak?
Setidak-tidaknya, sekarang ini ada dua figur yang
selama ini kerap disebut-sebut sebagai unsur
terbaik ABRI yang bakal punya kans besar menjadi
presiden. Siapa lagi kalau bukan Jenderal Wiranto dan
Letjen Susilo Bambang Yudhoyono.
Pakar politik kenamaan asal Ohio, Prof Liddle,
tidak melihat urgensi ABRI buru-buru memikirkan kursi
presiden. Setidak-tidaknya untuk era sekarang. ''Masih
terlalu awal. Saya kira peran mereka sekarang adalah
membuat ideologi baru atau prinsip-prinsip baru
tentang dwifungsi atau peranan militer. Jadi, kalau
itu berhasil dan mereka sudah pensiun, barulah
waktunya untuk memikirkan apakah mereka wajar menjadi
presiden. Fenomena Orde Baru di mana pemimpin ABRI
langsung akan menjadi pemimpin bangsa jelas tidak
relevan dengan semangat zaman reformasi saat ini.
Lantas, jika ABRI tetap ngotot merasa paling berhak
menduduki kursi tertinggi pemerintahan? ''Kalau itu
terjadi sekarang, saya sangat hati-hati mengomentari
pertanyaan Anda. Yaitu, kalau itu yang terjadi
sekarang, umpamanya Wiranto diangkat dari Pangab
menjadi presiden, itu akan melanjutkan atau
meneruskan tradisi lama. Dan, itu berarti bahwa
Orba belum selesai,'' timpal Prof Liddle. Definisi
Orde Baru sendiri masih banyak yang belum sepakat.
Ada yang mengatakan rezim Orba adalah siapa saja
yang ikut dalam pemerintahan Soeharto selama 32 tahun
terakhir. Padahal, di era sekarang, tidak satu pun
orang yang mau mengklaim diri sebagai antek-antek
Orba. Belum lagi dengan adanya anggapan kalangan Orba
yang ''murtad", ''tobat", dan menyadari kekhilafannya
karena turut atau terpaksa ikut-ikutan dalam orkestra
politik Soeharto.
Karena itu, bukan tidak mungkin ''bawah sadar Orba"
masih terbawa-bawa sampai sekarang sehingga secara
tidak sadar, pola-pola pikir era Orba masih dipakai.
Yakni, antara lain, menggantungkan segala sesuatu
kepada ABRI sehingga kandidat presiden, utamanya,
harus berasal dari kalangan tentara. Dengan demikian,
apa yang bakal dikatakan lagi bila usai pemilu nanti,
misalnya, koalisi partai-partai memilih Wiranto
sebagai presiden ke-4 RI?
''Itulah. Tidak terbayangkan bagi saya, kecuali
Golkar. Kita lihat bagaimana perkembangannya nanti.
Tetapi kalau Golkar, mungkin. Tetapi, Wiranto akan
menjadi orang ketiga. Maksud saya, kalau bukan
Habibie, ya Akbar. Kalau bukan Akbar, barulah sampai
kepada Wiranto. Saya belum bisa membayangkan bagaimana
proses politik yang akan berakhir,'' papar Bill
Liddle.
Pakar kawakan ilmu politik yang sejak 1960-an sudah
bergumul dengan dinamika perpolitikan Indonesia ini
punya saran. Prof Liddle mengisyaratkan presiden
mendatang sebaiknya bukan berlatar belakang ABRI.
''Menurut saya -ini kalau cita-cita Indonesia ingin
menegakkan demokrasi-, sebaiknya untuk sementara
waktu jangan seorang tentara,'' sebut Bill Liddle.
Di Amerika sendiri nama Wiranto lumayan dikenal.
Tetapi, kalangan media massa di sini pernah mengutip
pernyataan Jenderal Wiranto yang komit melindungi
keluarga Soeharto, persis ketika Soeharto menyerahkan
tongkat politiknya kepada Habibie. Nada pemberitaan
pers Amerika agak sumbang. Dalam konteks ini, justru
Susilo Bambang Yudhoyono yang lebih beruntung.
Di AS, Susilo B.Y. disimbolkan sebagai perwira
militer yang intelek serta proreformasi dan demokrasi
Indonesia. Apalagi, Susilo B.Y. sendiri adalah menantu
Sarwo Edhie, sosok militer yang citranya bagus di
tanah air.
Namun, Prof Bill Liddle masih konsisten. Sembari
mengakui integritas Susilo dan Alm Sarwo Edhie, Bill
mencatat tidak seluruhnya citra Alm Sarwo bagus.
''Tetapi tidak semua orang PNI menyukai dia. Sarwo
yang membekukan PNI di Sumatera Utara, kira-kira tahun
1967. Jangan terlalu berharap kepada menantunya kalau
dia mewarisi tradisi itu. PNI dibekukan ketika Sarwo
menjadi Pangdam,'' kata Prof Liddle, sembari
senyum.
Tetapi, bagaimana halnya dengan kedekatan Susilo di
kalangan kampus Indonesia dan citranya yang bagus di
banyak kalangan? ''Kesan pribadi saya terhadap dia
juga sangat baik. Dia memang sedang sangat berusaha
meluruskan kembali peran sospol ABRI. Dia mengerti
bahwa peran itu harus dikurangi. Saya yakin. Saya
sempat berbicara cukup lama dengan dia dan saya yakin
bahwa dia mempunyai komitmen kepada demokratisasi.''
Prof Liddle -tanpa bermaksud meremehkan Susilo yang
arek Jatim ini- condong agar Susilo tidak dimajukan
dalam pemilihan presiden mendatang. ''Tetapi, saya
ulangi lagi, saya kira, bagi Susilo Beye (ketika Prof
Bill menyebut ''Beye", maksudnya adalah singkatan dari
Bambang Yudhoyono, Red) ini untuk menjadi
presiden.... (Liddle terdiam, Red). Dia kan seorang
pembantu Pangab, dia tidak mempunyai pengalaman sama
sekali.''
Prof Bill Liddle mencoba membuat perbandingan
Susilo dengan tokoh-tokoh sipil yang nama mereka
berkibar belakangan ini. ''Orang Indonesia sekarang
bisa menguji Megawati atau bisa menguji Amien Rais
-apakah mereka wajar atau tidak menjadi presiden.
Tetapi, dengan Susilo, dia kan cuma di ABRI, di
markas. Saya kira kembali kepada masalah demokrasi,
kalau dia nanti bukan tentara lagi, seperti Edi
Sudradjat atau Try Sutrisno yang di BN itu. Orang
Indonesia juga bisa menilai apakah mereka pantas
memimpin bangsa,'' timpal Prof Liddle lagi.
Ketika ditanya kapan persisnya saat yang paling
memungkinkan bagi Susilo atau Wiranto untuk tampil
sebagai kandidat presiden mendatang, Prof Liddle
menyebut tidak sekarang. ''Habibie kan presiden ke-3.
Jadi, sesudah presiden ke-4-lah,'' kata Prof Liddle
soal waktu paling bagus bagi Susilo dan Wiranto untuk
maju. Berarti tujuh tahun lagi? ''Tetapi sesudah itu,
mereka kan bukan tentara lagi. Jadi, kalau
masyarakat Indonesia melalui partai dan melalui pemilu
memang menginginkan orang seperti Wiranto, Wiranto
tanpa kedudukannya kan sangat berbeda dengan sekarang
ini. Dia orang penting sekarang, pertama karena
kedudukannya. Kalau tidak mempunyai kedudukan itu
lagi, dia akan menjadi seperti anggota BN sekarang.
Kecuali kalau dia bisa masuk salah satu partai dan
menjadi pemimpin partai itu. Berbeda dengan Prof
Liddle yang masih membuka kesempatan tokoh-tokoh asal
tentara untuk tampil, Prof Benedict Anderson lebih
tajam lagi. Prof Ben -panggilan karib pakar dari
Cornell University ini- meminta supaya ABRI lebih
melakukan pembenahan internal. Itu lebih baik
dibandingkan dengan ikut-ikutan memikirkan kursi
presiden.
`'Mereka belum membuktikan kemampuan mereka untuk
memimpin negara. Memimpin ABRI saja sudah susah.
Banyak hal yang harus dibereskan di ABRI,'' timpal
Prof Ben Anderson, singkat. (bersambung)
X-URL: http://www.jawapos.co.id/5nov/ut5n2.htm
__________________________________
Do you Yahoo!?
Yahoo! Mail Address AutoComplete - You start. We finish.
http://promotions.yahoo.com/new_mail
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/