SURAT KEMBANG KEMUNING:

"BELAJAR SAMPAI KE NEGERI CINA" [4].
[Menyambut Rencana Pengajaran Bahasa Mandarin di SLTA Indonesia]


Dalam rangka mempelajari politik etnik pemerintah RRT, pada puncak musim dingin, saya 
mengunjungi propinsi-propinsi timur laut [dong bei] seperti Heilungkiang. Suhu di 
daerah berada di bawah 30 derajad C. Di dong bei, dalam jumlah cukup besar hidup etnik 
Korea. Karena itu saya di bawa ke mari. Kim Il Sung sendiri pernah berada di  dong bei 
sebelum menyeberang ke Korea Utara untuk melakukan perjuangan melawan pendudukan 
militerisme Jepang.

Kawan-kawan Tiongkok membawa saya memasuki rumah-rumah keluarga etnik Korea, 
sekolah-sekolah mereka, pabrik pakaian dan sepatu khusus untuk etnik Korea guna 
membantu saya menjawab masalah-masalah yang kutating.

+"Mengapa perlu mendirikan pabrik pakaian dan sepatu khusus untuk etnik Korea?" 
tanyaku. "Apakah perlakuan begini tidak akan menimbulkan kecemburuan etnik Han yang 
mayoritas?".

-"Etnik Korea beda dengan Han secara adat kebiasaan dan kebudayaan mereka. Perbedaan 
ini harus dihormati karena kami perlu menghormati adat kebiasaan serta kebudayaan 
mereka. Kalau kami tidak memperhatikan kekhususan mereka, mereka akan merasa orang 
asing di RRT. Karena mereka minoritas jika kebudayaan dan kekhususan mereka akan 
gampang tertelan oleh kebudayaan Han dan mereka akan merasa dijajah oleh etnik 
mayoritas. Memperhatikan kekhususan mereka tidak berarti etnik mayoritas tidak kami 
perhatikan. Melalui pendidikan politik, yang dalam istilah Paulo Freire disebut 
"pencerahan" atau "penyadaran" [conscientization], mayoritas akan menyadari politik 
etnik pemerintah" jelas kawan Tiongkok dari Korea yang menemaniku dalam bahasa 
Mandarin [Phutong Hwa]. 

+"Maaf, mungkin pertanyaan saya bodoh.Bagaimana Anda bisa berbahasa Mandarin?"

-"Masalahnya sama dengan Bung. Bung orang Indonesia asal etnik Dayak dan fasih 
berbahasa Indonesia", jawab kawan asal etnik Korea itu yang membuat kami tertawa. 
Semua pandangan mengarah kepada saya. Kemudian lanjutnya:

-"Saya adalah orang Tiongkok, warganegara RRT. RRT adalah negara saya dan Tiongkok 
adalah bangsa saya. Sebagai warganegara RRT dan bangsa Tionghoa adalah kewajiban dan 
kemestian bagi saya untuk belajar bahasa nasional yaitu Phutong Hwa. Tadi kita sudah 
mengunjungi sebuah sekolah. Di sekolah itu bahasa Mandarin dan Korea sama-sama 
diajarkan. Bahasa pengantar adalah bahasa Korea. Sastra berbahasa Korea pun kami 
tumbuhkembangkan. Mengapa tidak? Tiongkok hanya diuntungkan dengan pengembangan sastra 
etnik. Bung bayangkan dengan memelihara budaya dan sastra lokal Korea, jika kami 
menerima tamu dari Korea, kami tidak kesulitan mencari penterjemah. Ini dari segi 
keperluan praktis saja. Dari segi kemajemukan -- karena Tiongkok memang sebuah negeri 
sangat majemuk -- dan melawan dominasi suku besar,  dengan politik etnik begini kami 
menjaga kesetaraan semua etnik baik etnik besar ataupun kecil. Tidakkah politik etnik 
demikian menguntungkan kesatuan dan keutuhan Tiongkok? Adanya politik etnik begini 
juga berfungsi menangkal berkembangnya separatisme di kalangan etnik-etnik. 
Pertimbangan-pertimbangan di atas pula yang menjelaskan pertanyaan Bung tadi mengapa 
di rumah-rumah keluarga minoritas Korea terdapat pompa air sedangkan tidak semua 
keluarga etnik Han memilikinya. Dalam syarat kami yang terbatas seperti sekarang, kami 
mendahulukan etnik minoritas daripada etnik Han yang mayoritas. Tanpa diminta 
keluarga-keluarga etnik Korea yang memiliki pompa air mengatakan kepada 
keluarga-keluarga Han bahwa pompa air itu juga milik mereka yang bisa mereka gunakan 
kapan saja mereka perlu. Melalui pompa air ditumbuhkembangkan solidaritas sesaudara 
antar etnik. Keluarga-keluarga Han memahami politik etnik pemerintah. Apalagi mereka 
hidup sudah melalui berbagai cobaan dalam sejarah panjang sebagai orang sekampung. 
Tapi kalau Bung ada pendapat, silahkan diajukan", ujar kawan dari etnik Korea itu 
tulus. 

+"Bung tahu bahwa saya datang untuk belajar", jawabku.

Setelah meninggalkan Tiongkok selama puluhan tahun lebih, pada tahun-tahun 1991 dan 
2001, saya kembali menjenguk negeri "naga raksasa" yang pernah saya diami selama 
bertahun-tahun ini.Masalah etnik tetap menjadi perhatian saya di samping membawa 
beberapa pertanyaan bagaimana hubungan antara reformasi dan sosialisme, apa yang 
dimaksudkan dengan ekonomi pasar sosialisme, apa bedanya dengan kapitalisme, mengapa 
Komune Rakyat dibubarkan, dan sederet pertanyaan lain. Melalui  kunjungan ke berbagai 
daerah, termasuk ke darah-daerah pedesaan, kembali saya melihat bahwa dalam soal etnik 
minoritas pemerintah RRT tetap memegang teguh politik etnik mereka semula. Misalnya 
dalam soal kependudukan. Terhadap etnik Han diberlakukan politik "satu keluarga satu 
anak" [walau dalam kenyataan  berbeda]. Sekalipun "satu keluarga satu anak" merupakan 
politik umum negara guna mencegah ledakan kependudukan tak terkendalikan, tapi politik 
ini tidak diterapkan terhadap etnik-etnik minoritas. Pengecualian ini dimaksudkan agar 
etnik-etnik minoritas bisa berkembang secara jumlah. 

Yang baru juga dalam sistem kenegaraan bahwa RRT menterapkan politik desentralisasi, 
memberikan keleluasaan lebih besar kepada propinsi-propinsinya sehingga membebaskan 
daerah, etnik-etnik dan tenaga produksi untuk berkembang.

Mengambil Tiongkok sebagai pembanding, segera saja terlintas di benak saya pertanyaan: 
Apakah Indonesia mempunyai politik etnik yang jelas? Kalau ada bagaimana kongkretnya 
politik etnik itu?

[Bersambung....]






[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70
http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke