Acara Sarasehan mengenai �Indonesia Pasca Pemilu 2004: Prospek Situasi Politik, Ekonomi, Sosial dan Budaya� telah diselenggarakan oleh KBRI - Belgia pada hari Jumat, 6 Agustus 2004 Pukul 18.30 � selesai Di Aula Kedutaan Besar RI di Brussel, Avenue de Tervuren 294 1150 Brussel (tel. 02 777 20 14)
Bapak Sulaiman Abdulmanan Duta Besar RI bertindak sebagai pembahas dan pemandu acara. Acara Sarasehan dianggap sekaligus oleh beliau sebagai salah satu program acara untuk menyambut HUT kemerdekaan Indonesia 2004, Dalam acara Sarasehan tersebut hadir sebagai Pembicara antara lain: 1. Mulyadi (staf magang pada KBRI Brussel) yang memberikan tinjauan mengenai prospek demokrasi dan tantangan presiden terpilih. Pembahasan pokok mengenai pertanyaan: "Kenapa SBY menang dan Bagaimana nasib proses demokratisasi di Indonesia pasca Pemilu 2004?" Kemenangan SBY pada pemilihan capres putaran pertama berpengaruh pada 3 faktor Momentum, yaitu pertama didasari oleh keresahan dan kekecewaan rakyat terhadap kebijakan pemerintahan Megawati. Ke dua, SBY menggunakan momentum melalui media massa, cetak maupun dunia cyber, sebagai figur yang 'Teraniaya' oleh pemerintahan Megawati. ke tiga, penampilan sebagai figur yang mampu berkomunikatif secara langsung kepada rakyat dan bagi golongan yang merindukan keamanan atas bahaya desintegrasi di NKRI. Sebagai tantangan proses Demokratisasi yang mana menganggap kalangan di tingkat elite yang berhaluan Nasional maupun Agama secara "ideologi" masih belum selesai. Disisi lain juga dinilai bahwa sistim demokrasi sampai sa�t ini berfungsi masih di level prosedural, yang mana dipahami sebagai keberhasilan hanya untuk mengadakan pemilu legislatif dan pilpres. Sementara itu peranan politik elite di Indonesia masih didominasi oleh sistim 'politik dagang sapi'. Bahkan Golongan LSM dan pressure groups yang diharapkan mampu sebagai motor penggerak proses demokratisasi pun cenderung berperan sebagai pendukung/-pembantu kepentingan politik elite... 2. Boebs Hudiyana (konsultan ekonomi) yang meninjau masalah dari aspek ekonomi. Pembahasan pokok mengenai tantangan ekonomi Indonesia menghadapi globalisasi ekonomi, yang mana di dominasi oleh sistim hak pemilikan dan hukum pasar rejim Kapitalisme Liberal. Peranan masyarakat Industri yang berlaku sejak tahun 1945 sampai 2045 dianggap sebagai figur yang mempunyai hak pemilikan JASA dan technology. Hak pemilikan tersebut sifatnya menunjang kepentingan perusahaan multinasional yang bergerak dibidang Informasi Technology, Bio-Technology dan Technology Industry Complex lainnya. Sementara itu sarat-sarat dari kepentingannya di Indonesia sebenarnya dianggap sudah memenuhi kriteria seperti sumber kekayaan alam dan sumber daya manusia yang memadai. Namun tantangan yang masih dihadapinya adalah keberadaan sistim oligarki yang mengandalkan pada kekuatan komplot dari segelintir manusia dari militer, pengusaha nasional dan politisi. Sistim ini yang memaksakan praktek KKN, yang mana dianggap merugikan kepentingan kaum Perusahaan Multinasional. Sedangkan disisi lain, Sektor Ekonomi Rakyat yang mengandalkan kegiatan ekonomi sektor informal telah berhasil secara mandiri menangani persoalan krisis ekonomi yang dihadapi Indonesia sejak 1997. Dengan jumlah penduduk Indonesia yang banyak itu diharapkan daya kreatifitas Rakyatnya akan mendapat perhatian khusus, misalnya dalam peningkatan sarana training pendidikan ekonomi kerakyatan. Pendidikan bagi kaum pekerja pabrik dimaksudkan untuk mampu bersaing dengan kaum buruh negara dunia ketiga lainnya serta negara Europa timur. 3. Heriansyah Latief (penyair, tinggal di Belanda) memberikan pandangannya mengenai warna ekspresi budaya Indonesia, dan membacakan puisi-puisinya. Sehubungan dengan ini saya kirimkan makalah yang ditulis berupa esei oleh Heri Latief. La Luta Continua! --------------------------------------------------------------------------------- Warna Ekspresi Budaya Kita Era Pasca Pemilu 2004 Sodara-sodara sebangsa dan setanah air yang terhormat, asalamualaikum wr wb. Dalam kesempatan ini saya coba mengulas, mengupas dan nyari-kata-kata yang pas untuk mengerti perkara �warna ekspresi kebudayan kita era pasca pemilu 2004�. Saya mulai dengan pertanyaan pertama, apakah kita punya yang namanya kebudayaan? Jika ada, apa warnanya? Lalu apa ciri khas kebudayaan kita ini? Banyak yang bilang bahwa warna hijau mendominasi warna kebudayaan kita. Mulai dari hijaunya Dollar, sampai hijaunya warna simbolik dari agama, dan jangan lupa juga sang pemilik warna hijau yang punya senjata� Tanpa kita sadari, ciri khas kebudayaan kita adalah �Sex , Drugs en Dangdut�. Sexnya kita sudah maklum, panas, model postmo yang g�lo, drugsnya sudah mencapai taraf kecanduan yang gawat. Dangdutnya adalah Inulisme yang bergoyang menggoda nafsu imajinasimu. Kenapa rupanya? apakah kita ini mau jujurdan mau melihat kenyataan di depan mata kita? atau kita hanya sanggup memanjakan ilusi yang terlalu sering bermimpi tentang negeri yang alamnya telah dirusak oleh racunnya Merkuri, sehingga matahati kita seringkali kelilipan, membiarkan kecurangan terjadi di depan mata, dan silau hatinuraninya akibat dirayu oleh gemerlapnya sinarnya emas dan sexynya berlian. Seperti istilah yang sering kita dengar, �mencari sesuap nasi dan segenggam berlian�, maka kebudayaan �bergaya-kaya� hidupnya itu diongkosi oleh kemiskinan ra�yat, kita terbiasa melupakan kejadian yang salah, dan memuja-muji kebudayaan �l�ng-bet alias mel�ng-sabet�, Korupsi telah menjadi karakter jahat bangsa kita, yang telah menjalar kian-kemari, sehingga ada yang berteriak: kita perlu orang yang bernama Zhu! Supaya para perampok yang telah merajah kas negara, mendapatkan hukuman yang bakalan mengagetkan kenekatan para wong maling yang sudah terlalu rakus nyolong uangnya ra�yat Indonesia. Kita rasakan refleksinya kekecewaan ra�yat pada kekuasaan dalam sebuah puisi dari Wiji Thukul yang berjudul: SAJAK UNTUK BUNG DADI Ini tanahmu juga Rumah-rumah yang berdesakan Manusia dan nestapa Kampung halaman gadis-gadis muda Buruh-buruh berangkat pagi pulang sore Dengan gaji tak pantas Kampung orang-orang kecil Yang dibikin bingung Oleh surat-surat izin dan kebijaksanaan Dibikin tunduk mengangguk Bungkuk Ini tanah airmu Di sini kita bukan turis Wiji Thukul Malam pemilu �87 Sorogenen, Solo (dari buku kumpulan puisi Wiji Thukul, "Het Lied Van De Grasspollen" atau "Nyanyian Akar Rumput, penerbit Wertheim Stichting en Rozenberg Publisher) Bayangkanlah, puisi Wiji Thukul itu dibikin tahun 1987, dimana pemerintahan Orba lagi ganas merajalela, lalu ada tukang vernis mebel yang bicara atas nama tanah airnya, bicara soal kepincangan sosial, lalu ra'yat dipaksa untuk "nrimo" sesuai dengan kastanya, klasnya, dan turis asing pun nyatanya memang di-istimewakan kerna mereka membawa segepok Dollar, yang bisa membeli harga dirimu! Ini kenyataan sampai sekarang, modal yang dari Barat jadi pujaan berat, biarpun modal itu dengan rakusnya merajah hasil alam negeri kita, tapi masih banyak orang yang percaya bahwasanya modal itu datang untuk membantu kita, padahal sudah kita lihat, puluhan tahun modal asing bermain-main di tanah air kita, tapi gaji buruh tak pernah beringsut dari standard upah minimum, yang sangat minim, sehingga tak mungkin buruh Indonesia bisa hidup secara layak. Gajinya buruh kita sangat kecil dibandingkan keuntungan yang berlipatganda dari para pemodal yang gila hijaunya dollar, sehingga tega membunuh seorang aktivis buruh yang bernama: MARSINAH Pada Marsinah kita lihat sejarah Penindasan, yang sengaja dilupakan Sengaja dilupakan nama Marsinah demi hijaunya Dollar, inilah salah satu warna kebudayaan kita juga, iaitu �kebudayaan doyan lupa�. Sejenis Amnesia sejarah. Mungkin kerna kita takut pada realitas yang ganas! Yang telah menciptakan perang sodara, pembataian liar yang terorganisir, dan ketakutan yang dihalalkan oleh para pengikut dari golongan sesat, yang ingin terus-terusan menyesatkan jalan pikiran kita, kerna kekuasaan yang disalahgunakan hanya akan menuai panen destabilisasi kehidupan masyarakat, yang berakibatkan frustrasi, depresi dan agresi. Munculah kebudayaan kekerasan. Kita terbiasa membaca berita tentang seorang maling kecil yang dibakar di jalanan, sedangkan kasus korupsi bermilyar-milyar rupiah itu bisa diatur secara �Cosa Nostra� alias Urusan Kita�, jadi jelaslah ceritanya, korupsi adalah cikal bakalnya proses kehancuran bangsa kita. Korupsi telah menjadi idolanya bangsa yang pernah dijajah, dan ini memang tidak terlalu mengejutkan, lalu sepertinya kita lupa juga bahwa kita pernah dipaksa untuk memerankan peranan sebagai budak, dan sekarang malahan bergaya seperti para bekas penjajahnya, iaitu bersikap yang sama, MENINDAS, demi hijaunya Dollar hasil korupsi yang nampaknya memang telah direstui YANG DIATAS� Penindasan pun berwarna merah berdarah. Kebudayaan kekerasan telah dijadikan kebiasaan jelek. Siapa yang punya senjata dan Dollar bisa memaksakan kehendaknya. Contohnya: pembunuhan dan penyiksaan lahir batin terhadap jutaan ra�yat, diantaranya Tragedi 65, yang sampai sekarang tak pernah tuntas menjawap pertanyaan dari para korban-korban dan keluarganya. Apalagi jika kita bicara soal Tragedi 98, kita akan menabrak kerasnya tembok kekuasaan yang beku, kaku dan berkepala batu. Lengkaplah sudah, hijaunya warna ekspresi kebudayaan kita yang punya ciri khas: Sex, Drugs, en Dangdut. Mari kita kupas sedikit soal Sex bangsa kita sekarang, yang terbiasa dengan semboyan �tiban duluan-urusan belakangan�, dan bila ada tuntutan kerna perut sang dara membengkak akibat cinta, maka solusinya adalah pembunuhan, contohnya: kasus mahasiswi Trisakti yang dijerat lehernya oleh sang pacar. Ini kah yang namanya �moral budaya� kita sekarang dan yang akan datang? Setelah mengalami masa 32 tahun dijajah oleh bangsa sendiri, sekarang kita masih suka bangga bermental budak dan mengagung-agungkan warisan tradisi KKN. Sodara-sodara yth, apakah kita lupa dengan cita-cita para orang tua kita, para pejuang kemerdekaan yang ingin bebas dari cengkraman dan jeratan sang penjajah Belanda yang kejam itu, dimana mereka telah berjuang mempertaruhkan nyawanya demi kemerdekaan bangsanya, bangsa Indonesia. Kita memang sudah merdeka dari penjajahan asing, semua orang juga tau bahwa masalah korupsi adalah salah satu warisan bobrok dari kelakuan jorok sang penjajah yang telah menularkan virus korupsinya VOC. Bayangkanlah, apa betul budaya korupsi kita itu di dapat juga dari hasil warisan sang penjajah? Pertanyaan yang mustinya kita bisa menjawapnya secara rasionil. Begitulah, sejak rempah-rempah kita dicari-cari dan diketemukan oleh orang dari Barat, sejak itu kita punya yang namanya �koktil kebudayaan�. KOKTIL KEBUDAYAAN KITA? jawabnya adalah sex, drugs en dangdut! ini kenyataan, ini realitas! kehidupan gesek-gesekan bebas ganas aktif terjadi melilit rayuan frustrasi sirnanya cinta terbelit kemiskinan jual diri, jual nama, jual tampang hanya untuk selembar kertas bernama uang! oya?! puisi cerita tentang uang, sex dan cinta manusia punya alasan alamiah, nafsu yang suka melampaui batas-batas hayalan ujung-ujungnya pasti menuai kekecewaan keraguan dan putus asa salah siapa jika semua itu jadi bencana? penyakit menyandu hayalan semu tipikal makhluk berkaki dua berotak beku kurang piknik namanya? atau overdosis rasa ketidakpercayaan? ketika kebudayaan kita diseruduk politik globalisasi maka rakusnya korupsi tingkat tinggi makin sakti! di bawah sana orang ikut-ikutan pesta orgienya gongli liuer, liar, wild, ganas dan nafunya bertanduk! lengkaplah sudah jamannya "anarki-korupsi" siapa yang tak ikut main, ditendang! mental! kebudayaan kita sekarang adalah koktil keganasan akibat tindakan jahat yang tak pernah dibuktikan padahal bukti di depan mata batin kita lengkap dengan laporan ilmiah berjudul "empiris" apalagi yang kurang j�k? uang! doku, dokat, duit bisa membeli semua yang terjepit itulah semboyannya sex, drugs en dangdut adalah koktil kebudayaan kita Salam, Heri Latief Amsterdam, 5 Juli 2004 ===== heri latief http://www.herilatief.tk/ [EMAIL PROTECTED] --------------------------------- Do you Yahoo!? New and Improved Yahoo! Mail - 100MB free storage! [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar. Now with Pop-Up Blocker. Get it for free! http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

