NGLURUG TANPA BALA
Oleh Tangkisan Letug
(tletugartikel.blogspot.com)
�Nglurug tanpa bala� itu omongan orang Jawa jaman
kuna. Namun, waktu Suharto masih mbegenggeng di kursi
kuasa, ungkapan orang Jawa itu sering terdengar.
Ungkapan �nglurug tanpa bala� (maju perang tanpa bala
tentara) masih ditambah �menang tanpa ngasorake�
(menang tanpa membuat yang kalah direndahkan) dan
�mikul dhuwur, mendhem jero� (mengangkat tinggi-tinggi
harga diri orang, dan memendam dalam-dalam apa yang
merendahkan harga diri orang yang dihormati).
Katanya, lewat ungkapan itu Suharto telah melencengkan
artinya. Misalnya, �mikul dhuwur, mendhem jero� telah
dipahami sebagai kewajiban untuk melupakan kesalahan
dan aib orang. Makanya, Sukarno telah dibuat mati
mengenaskan di tahanan rumah tanpa pengadilan terbuka.
Makanya, banyak orang dipenjara atau dibunuh setelah
peristiwa tragedi September 1965 tanpa diproses
semestinya. Banyak orang kehilangan hak politik dan
sosial-ekonominya dengan mendapatkan stigma anggota
parpol terlarang. Bahkan anak cucu mereka masih harus
mengalami terlunta-lunta di negerinya yang dicinta.
Itu namanya �mikul dhuwur, mendhem jero� ala rejim
Suharto. Bisa jadi, aksi tumpes kelor terhadap lawan
politik itulah yang dimaksudkan dengan �mendhem
jero�-nya.
Bagaimana dengan taktik perang �nglurug tanpa bala�?
Taktik itu kalau ditafsirkan begini, untuk menyerang
lawan kita tak perlu secara terang-terangan
mengirimkan pasukan. Cukup dengan mengkili-kili
bawahan untuk berbuat makar agar sang penguasa dibuat
lemah sendiri dari dalam. Ini taktik intelijen. Semua
negara yang sedang punya mau itu bisa mempraktekkan
taktik ini. Bahkan Amerika Serikat pun demikian ketika
menjungkalkan Sukarno. Tak perlu mengirim pasukan ke
Indonesia, cukup menyemangati orang-orang yang sakit
hati dan bermasalah dengan pemerintah yang sah untuk
membuat aksinya.
Ini memang cara jitu untuk melumpuhkan lawan dari
dalam. Jalannya bisa bermacam-macam. Dari kelompok
radikal yang dididik secara militan hingga kelompok
ilmuwan yang dididik cerdik mempraktekkan metode
ilmiahnya, dari infiltrasi seni dan kebudayaan hingga
infiltrasi kapital lewat investasi; semuanya akhirnya
bermuara pada pelumpuhan lawan. Dari krisis yang
berkepanjangan diciptakanlah mimpi-mimpi keadilan dan
kesejahteraan, dari boneka tiran yang akhirnya
digulingkan hingga munculnya pemimpin santun yang
negarawan, dari sekejap mengenyam enaknya limpahan
kapital lalu dibuatnya kembali masuk ke jurang krisis
berkepanjangan lagi. Begitu terus berputar sikluas
pembudakan dengan halus itu diabadikan.
Nah, sekarang ini, anak-anak murid sang ahli perang
tentu tidak tinggal diam. Praktek �nglurug tanpa bala�
itu tak mustahil sedang dijalankan. Untuk menangkis
segala dugaan itu, mereka akan dengan gampang
menghadapinya dengan kata-kata klasik pertempuran:
�Coba buktikan!�. Dan, lawan pun kelimpungan tak
mampu menemukan.
Namanya saja seorang yang dididik ahli mengatur
strategi perang. Yang penting itu sasaran. Soal korban
penggusuran dan kekerasan itu nomor belakang. Atau,
sudah ada yang akan mengurusi. Atau, gampang saja
diciptakan tim komnasham. Memang seorang yang ahli dan
pernah dididik mengatur strategi perang itu tak
kelihatan gugup menghadapi serangan. Juga ketika
disodori darah-darah korban. Juga ketika disodori
jeritan orang-orang tergusur dan kehilangan tanah dan
rumahnya. Cool man! Begitu mungkin katanya.
Soal-soal begitu apakah mudeng seorang ibu rumah
tangga? Soal-soal begitu apa mudeng orang-orang sipil
yang tak mengerti tata perang dunia.
Makanya, cukup dengan senyum menghadapi salah tingkah
mereka. Semakin lawan-lawannya kehilangan muka dan
kebingungan jalannya, semakin girang dalam hati sang
pecundang. Sebab, hari kejatuhan lawan telah bisa
diramalkan. Cukup dengan menampilkan para ilmuwan di
garda depan. Cukup dengan membahasakan kemenangan
sebelum waktunya. Cukup mengolok-olok kegagalan. Cukup
membakar emosi rakyat korban.
Sang pecundang akan kelihatan tetap bersih sebersih
salju. Lawan akan kelihatan semakin salah melulu bila
tidak lekas mengerti bahasa perang yang sedang dipakai
dalam berpacu.
Aku hanya bisa mengelus dadaku. Kata guruku, �Nglurug
tanpa bala, korbane ora beda. Kawula.� (Memenangkan
tanpa pasukan, korbannya tetap sama. Rakyat).
9 Agustus 2004
__________________________________
Do you Yahoo!?
New and Improved Yahoo! Mail - 100MB free storage!
http://promotions.yahoo.com/new_mail
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/