SURAT KEMBANG KEMUNING:
"AKU ANAK TIONGHOA" [1] "Aku Anak Tionghoa" adalah sebuah sanjak almarhum penyair S.W. Kuntjahjo, seorang pimpinan SOBSI [Serikat Organisasi Buruh Seluruh Indonesia] yang sampai ajal setia pada mimpinya akan Indonesia yang "cerah" bagi mayoritas penduduknya. Kisah penyair ini ketika lari dari penjara Orba tak obah kisah yang kita baca dalam novel dan roman revolusioner, kisah tipe Liu Hu Lan, Kakak Chiang atau Julius Fucik dan sejenisnya. Bagi angkatan sekarang barangkali dianggap omongkosong. Sungguh aku tak perduli. Siapa yang kosong dan berisi adalah suatu debat dan realita. Kisah Kuntjahjo lari dari penjara dan bagaimana selanjutnya ia hidup setelah lari dari penjara Orba, memperlihatkan bahwa anak-anak negeri kita sesungguhnya tidak kalah heroik dari negeri manapun di dunia. Sanjak "Aku Anak Tionghoa" yang paling sering dibawakan oleh Oei, deklamator 12 tahun kami, paling sering kami, Lekra Yogya, bawakan dan selalu mendapat sambutan, sehingga pembacaannya bisa berlangsung sampai setengah jam karena sering dipotong oleh tepuk tangan pendengar. Sambutan yang selalu hangat dari pendengar lapisan bawah ketika sanjak ini dibaca, selain menunjukkan peranan puisi dalam kehidupan, sambutan hangat ini juga sekaligus memperlihatkan bahwa umumnya mayoritas penduduk negeri kita tidak mempunyai perasaan rasis. Penduduk kita biasa dan punya tradisi hidup berdampingan dengan rupa-rupa etnik dan asal turunan. Yang sering terjadi bahwa rasialisme itu ditumbuhkembangkan oleh pihak tertentu demi kepentingan politik tertentu. Ini jugalah yang terjadi dalam Tragedi Sampit 2000 atau Kereng Pangi di Kalimantan Tengah. Sanjak "Aku Anak Tionghoa" ditulis oleh Kuntjahyo untuk melawan arus rasialisme anti Tionghoa yang ditopang oleh militerisme pada waktu itu hingga antara lain melahirkan PP-10 yang disertai oleh serangkaian kisah duka. Gara-gara PP-10 ini aku masih ingat betul bagaimana seorang Indonesia dari etnik Tionghoa menjadi gila dan berteriak-teriak di Alun-alun Utara Yogya. Masih banyak yang bisa kuceritakan tentang kisah duka menyusul Peraturan Pemerintah ini, ketika Soekarno berada di luar negeri, peraturan yang memaksa anak negeri dan bangsa meninggalkan tanahair dan kampung kelahiran untuk selamanya. Kebesaran dan kedunguan ada dalam sejarah kita. Bagaimana menghapus atau mengurangi taraf kedunguan barangkali merupakan salah satu pertanyaan mendesak untuk angkatan sekarang yang tentu saja tidak merasa dungu karena merasa diri lebih terdidik dan menyandang gelar akademi formal, diasuh dan besar di bawah rezim militer selama lebih dari tiga dasawarsa. Karena itu boleh jadi, hanya mereka yang jujur dan rendah hati saja yang akan merasa bahwa belajar dan memahami sejarah obyektif merupakan tuntutan mendesak jika tidak ingin menjadi angkatan dan bangsa dungu. Sekali lagi kukatakan bahwa gelar kesarjanaan formal bukan pertanda kita pintar dalam arti tanggap zaman dan aspiratif serta mampu memecahkan persoalan -- standar utama kepintaran. Dalam sanjak "Aku Anak Tionghoa" almarhum penyair heroik pantang tunduk di hadapan militerisme, alm.S.W Kuntjahjo melukiskan bahwa "anak-anak Tionghoa" tidak lain dari warga negara, anak bangsa dan negeri yang setara dengan dengan anak bangsa dan negeri lainnya. Semestinya putera-puteri almarhum bangga mempunyai ayah seperti S.W. Kuntjahjo dan bangga mengatakan: "Ya, aku anak Kuntjahjo!". Paling tidak, jika aku adalah anak Kuntjahjo aku akan berkata demikian. Dalam sanjak "Aku Anak Tionghoa", Kutjahjo menuturkan bahwa mereka, putera-puteri etnik Tionghoa Indonesia ikut mengucurkan darah dan mengorbankan nyawa demi menegakkan Republik Indonesia [RI]. Misalnya, dalam pertempuran 10 Nopember 1945, mereka mempunyai pasukan tersendiri di bawah pimpinan Siaw Giok Bie menyambut tantangan Bung Tomo. Pasukan ini betempur bahu-membahu dalam melawan Inggris. Kisah-kisah dari medan pertempuran di Kalimantan Barat ketika menggasak imperialisme Inggris menunjukan betapa anggota-anggota Ansambel Tari-Nyanyi "Angin Timur" telah menambah rangkaian bukti bahwa bahwa "Anak Tionghoa" tidak lain dari salah satu etnik di RI. Data sejarah ini masih bisa ditelusiri jauh ke belakang lagi, dan memberikan kesimpulan yang sama. Riwayat pertempuran demi pertempuran hidup-mati demi Republik, kiranya menunjukkan tidak satu kelompok pun yang bisa berkata bahwa ia memonopoli Republik. Bahwa ia memonopoli Indonesia! TNI pun tidak! Bahkan bisa dipastikan TNI tidak akan eksis tanpa rakyat karena itu pada suatu saat dalam sejarahnya TNI disebut Tentara Rakjat Indonesia [TRI]. Kalau kemudian TNI menjadi penindas dan pembunuh rakyat, seperti pada periode Orba dan penerus-penerusnya artinya TNI lupa akan sejarahnya sendiri. Untuk mengembalikan ingatan, diperlukan dari kalangan TNI, orang-orang dan kekuatan yang berpikiran cerah dan merakyat, anti militerisme dan bukan jadi budak asing! Kekuatan dan orang-orang begini yang kita harapkan dari kalangan TNI, lebih-lebih di hari ini. Kekuatan tipe inilah yang patut dikembangkan. Dan untuk mendorong tumbuhberkembangnya kekuatan begini dalam TNI diperlukan kekuatan dari bawah dan daerah dikembangtumbuhkan. Keadaan bahwa TNI merupakan negara dalam negara patut diakhiri! Demi Indonesia,Republik, keadilan, kemanusiaan dan kemajuan, dengan segala risiko, militerisme dan dominasi militer juga fanatisme dan sektarisme atas negeri dan bangsa harus dilawan. Dalam soal ini selayaknya tidak ada kompromi. Karena Indonesia itu sendiri bermakna kemajemukan. Kemajemukan berarti kebersamaan. Yang mengobah kemajemukan menjadi monolitisme sama dengan anti keindonesiaan, anti Indonsia, anti Republik dan realita. Aku harap kaum militeris sadar benar akan hal ini, walaupun dengan berkata begini aku menjadi sedikit utopis.Hanya jika kaum militeris menolak realita kemajemukan Indonesia dan meneruskan metode militeris, cepat atau lambat mereka hanya akan menghancurkan Republik dan Indonesia. Daerah-daerah sanggup menghancurkan militerisme dan tak terelakkan bakal memilih jalan kehidupan mereka sendiri jika militerisme dikembanglanjutkan. Dengan kalimat ini aku mengharapkan kaum militeris berpikir nalar demi Indonesia, Republik dan keindonesiaan kita. Apakah yang diungkapkan oleh Kuntjahjo dalam sanjaknya "Aku Anak Tionghjoa" itu benar? Apakah benar "Aku Anak Tionghoa" Indonesia adalah manusia Indonesia? Tidakkah mata sipit dan kulit kuning mereka menunjukkan bahwa mereka adalah orang asing di Indonesia dan "kolone kelima RRT" di Indonesia? Secara kebetulan aku pernah hidup di RRT selama beberapa tahun dan berikut ini adalah kesaksianku demi Indonesia, Republik dan kemanusiaan. [Bersambung...] Paris, Agustus 2004. ------------------- JJ. KUSNI [Selesai] [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar. Now with Pop-Up Blocker. Get it for free! http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

