Jumat, 06 Agustus 2004 Laporan dari Teluk Buyat (3 - habis) Bertahan Segan, Pindah tak Punya Uang Pada suatu malam di akhir bulan lalu, warga Kampung Buyat Pantai tak ada lagi yang berkeliaran di luar rumah. Mungkin kebanyakan mereka sudah terlelap tidur. Tapi, Mansyur Lombonaung (50 tahun), masih menghisap rokok kretek filter dan menyeruput kopi, di ruang tamu rumahnya. Air mukanya menunjukkan kegusaran. ''Saya sebetulnya sudah ingin hijrah dari kampung ini. Tapi, saya punya beban enam anak dan tujuh cucu. Apa boleh buat, saya tetap bertahan, karena tidak punya uang untuk pindah bersama,'' katanya. Langkah Mansyur terasa semakin berat untuk pindah, karena memikirkan nasib warga Buyat Pantai lainnya. ''Saya tidak bisa meninggalkan mereka dalam penderitaan,'' ujarnya. Dan, Mansyur pun seperti terkena insomnia. Dia mengaku sudah lama tidak bisa tidur sebelum lewat tengah malam. Setiap pukul 01.00 WITA, salah seorang tokoh warga Buyat Pantai ini masih harus turun, ke luar dari rumah kayunya. Di tangannya tergenggam sebilah tongkat. ''Saya harus melakukan kontrol dulu untuk memastikan kampung kami aman,'' kata Mansyur. Warga Buyat Pantai yang tengah didera penyakit benjol-benjol, keram, kepala pusing, dan penyakit aneh lainnya, juga tidak aman dari aksi penyusupan. Sejumlah warga didoktrin agar tidak menyanyi sumbang tentang pencemaran di Teluk Buyat. Di antara mereka pun ada yang diberi proyek, misalnya, pembuatan bak sampah atau membersihkan pasir Pantai Lakban oleh PT Newmont Minahasa Raya (NMR). Kegiatan ini berlangsung setelah empat warga yang menderita sakit ''bernyanyi'' di Jakarta dan melaporkan PT NMR ke Mabes Polri. Tapi, kebusukan yang ditutup-tutupi tetap tercium baunya. Ketika pada Kamis (22/7), Komisi VIII DPR dan Gubernur Sulawesi Utara AJ Sondakh melakukan kunjungan ke Kampung Buyat Pantai, memang muncul suara yang menyatakan tidak ada masalah di Teluk Buyat. Ternyata yang berbicara manis bukan warga setempat. Kemudian warga asli Buyat Pantai melakukan interupsi. Mereka berkata tentang fakta yang mereka derita. Mengenai adanya suara yang berbeda dengan kenyataan yang dialami warga Buyat Pantai itu, Manajer Humas NMR, Kasan Mulyono, menjawabnya dengan enteng. ''Itu kan bagian dari kampanye kami,'' katanya. Menjelang kedatangan tim penyidik Mabes Polri, pada Jumat (23/7), Polsek Belang bertindak. Tiga anggotanya dengan dua Toyota Kijang datang ke Buyat Pantai. Mereka mengangkut 20 warga, dari bayi hingga orang tua. ''Kalau menolak, berarti kalian pembohong,'' gertak aparat yang dipimpin Kanitreskrim, Bripka Johny Rumate. Mereka dijanjikan akan diperiksa darah. Tapi sesampainya di polsek, justru mereka menjalani pemeriksaan verbal. ''Kami hanya ingin tahu yang mereka alami,'' kilah Johny. Pada malam harinya, muncul orang-orang berpakaian preman. Mereka menggertak warga Buyat Pantai dengan ancaman maut. ''Kalau kalian ternyata berbohong, akan kami cincang,'' kata para preman itu. Dr Rignolda Djamalaudin, peneliti dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Sam Ratulangi (Unsrat), Manado, memberikan kesaksiannya. ''Siapa pun yang menolong kehidupan mereka, disikat,'' kata direktur Kelompok Pengelola Sumberdaya Alam (Kelola) yang ikut aktif melakukan advokasi terhadap penderitaan warga Kampung Buyat Pantai itu. Maka, Mansyur pun berharap, jangan ada yang meneror dan membuat kelompok tandingan untuk memecah belah warganya. Yang penting adalah mencari jalan keluar yang baik. ''Tapi, rupanya ada yang tidak mau mengaku salah.'' Tapi, Kasan Mulyono membantah NMR telah menggunakan jalan premanisme untuk membungkam warga. ''Tidak mungkin kami melakukan cara-cara seperti itu,'' katanya. Mansyur sebenarnya selalu berusaha objektif. Kendati, dengan rangkaian fakta, biang pencemaran itu mudah dialamatkan ke PT NMR sebagai satu-satunya pembuang limbah tambang emas (tailing) ke Teluk Buyat. Mansyur tetap menahan diri untuk tidak menjatuhkan vonis, kendati memiliki dugaan kuat. ''Cepat lakukan langkah-langkah bijaksana. Adakan penelitian yang independen dan transparan. Kalau terbukti melakukan pencemaran lingkungan, Newmont harus bertanggung jawab dan memberikan kompensasi kepada kami,'' kata Mansyur. Sekretaris Yayasan Sahabat Perempuan, Yudiansyah, ikut meminta jangan ada lagi pihak yang menari-nari di atas penderitaan warga Buyat Pantai. Misalnya, aksi pesta makan ikan, yang juga dilakukan Menteri Lingkungan Hidup, Nabiel Makarim. ''Itu pembodohan, sebab ikan yang mereka makan bukan dari Teluk Buyat,'' kata Yudiansyah. Terbukti, Nabiel sendiri menolak menyantap ikan bentol-bentol hasil tangkapan dari Teluk Buyat. Anggota Komisi VIII, Zulkifli Halim, yang sudah berkunjung ke Teluk Buyat, berpendapat sama. Di mata dia, meskipun ikan yang disantap pada pesta itu adalah ikan bentolan dari Teluk Buyat, tidak akan berpengaruh bagi yang tidak terbiasa. ''Mereka itu adalah warga luar yang tidak secara rutin memakan ikan yang tercemar. Mereka juga biasa makan dengan menu beragam. Sedangkan warga Buyat Pantai telah memakan ikan itu dalam waktu lama sebagai menu tunggal, sehingga terjadi akumulasi kandungan logam berat pada tubuh mereka,'' kata Zulkifli. Toh, di tengah pesta makan ikan yang umumnya diikuti warga luar itu, dua warga Buyat Pantai jatuh sakit. Mereka adalah Alan Makalalag (45 tahun) dan anaknya Lasmi Makalalag (22 tahun). Mereka muntah-muntah darah, kejang, dan dada terasa panas. Dr Jane Pangemanan, dari Fakultas Kedokteran Jurusan Kesehatan Masyarakat Unsrat, segera melarikan kedua orang itu ke Rumah Sakit Noongan, Minahasa Selatan. Baginya, ini bukan penyakit biasa, kendati dokter puskesmas yang dibangun NMR menyatakannya sebagai penyakit paru-paru. Alan kemudian memilih pulang karena khawatir meninggalkan keluarganya di kampung. Sedangkan Lasmi kemudian dipindahkan perawatannya ke Rumah Sakit Pancaran Kasih, Manado. Lasmi kini berada di Jakarta dalam rombongan gelombang II warga Buyat Pantai yang berjumlah 11 orang. ''Sejak Rabu (4/8) tengah malam, dia dirawat di RS Cikini karena sakit dadanya kambuh,'' kata Iskandar Sitorus, dari LBH Kesehatan, yang tengah melakukan advokasi terhadap penderitaan warga Buyat Pantai. Selain benjolan, gejala panas di dalam dada yang diderita Alan dan Lasmi juga banyak menimpa warga Buyat Pantai. Tiga orang malah sudah dibuatnya meregang nyawa. Mereka adalah Aton Pateda (35 tahun) yang meninggal pada 5 April 2001, disusul Rusman Paparo (45 tahun) pada 27 Agustus 2002, dan Dado Pateda (60 tahun) pada November 2002. Dalam kesaksian Mansyur, menjelang ajal menjemput, mereka terlihat sangat gundah dan tersiksa. ''Mereka minta dadanya dikipasi dan disiram air, karena merasa terbakar,'' ungkapnya. Dr Rignolda Djamaludin sempat menyelidiki kasus tewasnya tiga orang itu. Ia pernah berasumsi bahwa korban tewas mungkin akibat kebiasaan menenggak minuman keras sebagaimana banyak dilakukan warga pesisir. ''Tetapi, warga Buyat Pantai tidak memiliki kebiasaan mabuk-mabukan,'' katanya. Dalam pergaulannya dengan warga Buyat Pantai, Rignolda pernah menganjurkan untuk tidak sekadar makan ikan dari Teluk Buyat, tapi juga minum air dari Sungai Buyat. Hulu sungai ini terdapat di Bukit Mesel, yang menjadi lokasi tambang NMR. ''Tapi saya tidak punya uang untuk membelikannya air bersih,'' katanya. Kemudian Rignolda menyuruh warga untuk meninggalkan Buyat Pantai. Mereka juga hampir terusir, antara lain, melalui provokasi sengketa tanah yang mereka tempati. ''Tetapi, mereka tidak punya uang untuk angkat kaki,'' katanya. Rignolda sudah membuat surat ke Dinas Kesehatan Sulut. Namun, tidak ada satu orang pun percaya pada pengaduannya. Begitu pun Dirjen Pertambangan Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), tidak pernah membalas suratnya. Dia juga mengirim surat ke Menteri LH Nabiel Makarim, dan tiga kali mengundangnya datang. Sama, tidak ada respons. ''Makanya saya sepakat dengan teman-teman aktivis lingkungan untuk memberikan mosi tidak percaya pada Nabiel,'' katanya. Rignolda yakin, sebenarnya banyak orang tahu bahwa ada bahan berbahaya di Teluk Buyat yang mengancam kehidupan manusia dan biota laut. ''Saya sudah pelajari semua, namun orang melawan (temuan) saya. Saya sudah mendialogkannya dengan Pemprov Sulut, tapi malah 'dikeroyok'. Saya betul-betul tidak mengerti.'' Bagi dia, semakin banyak pihak yang terlibat untuk mengusut pencemaran di Teluk Buyat, akan kian sulit mencarikan solusi. Karena semua orang, malah sejak awal kasus ini, tidak saling percaya. Ia merasakan, pihak berwenang selalu menyalahkan LSM, tapi tidak mau melihat apa yang disampaikannya. Rignolda, pada pertengahan Juli, sempat mengantar empat warga Buyat Pantai ke Bandara Sam Ratulangi, Manado, untuk berangkat ke Jakarta. Dia merasa kasihan, sebab di Jakarta mereka harus diambil-ambil lagi darahnya. Ini karena pemerintah tidak percaya terhadap hasil analisis yang dibuat sebelumnya, termasuk oleh LSM. ''Menurut saya, lebih baik mereka dipulangkan dari Jakarta. Tak perlu lima sampai enam laboratorium memeriksanya lagi. Tak perlu! Tak Perlu! Kasihan mereka, cuma orang dari kampung. Mestinya mereka ada di kampung dan petugas pemerintah datang memeriksa mereka. Mengapa harus mereka yang pergi?'' ujarnya. Di tengah wawancaranya dengan Republika di Kantor Kelola, Manado, Rignolda tidak bisa menahan tangis. ''Saya tidak mau membuka kasus ini terlalu jauh, karena tahu perikanan kita akan hancur. Saya hanya berharap, korban warga jangan bertambah lagi,'' tuturnya. Di malam itu, rasa frustrasi --malah rendah diri-- diungkapkan pula oleh Ili Carlos (34 tahun), warga Buyat Pantai. Penyakit dan kemiskinan telah menempatkannya dalam keadaan hidup segan mati tak mau. ''Mau pindah dari sini, sudah berpenyakit. Tapi kalau bertahan, makin sakit,'' kata Ili. Makin putus harapan pada perhatian serius pemerintah, warga Buyat Pantai pun hanya bisa pasrah dan berdoa--sebagai orang-orang tertindas--kepada Sang Pencipta.
===== Visit my daughter's homepage at: http://www.geocities.com/hana_hanifah7 __________________________________ Do you Yahoo!? Read only the mail you want - Yahoo! Mail SpamGuard. http://promotions.yahoo.com/new_mail ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar. Now with Pop-Up Blocker. Get it for free! http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

