Surya,5 Agustus 2004

Cermin buram elite politik dalam Republik Togog 

Oleh Benny Susetyo Pr 
 
Budayawan, Malang
Republik Togog, judul yang dimainkan oleh Teater Koma
arahan sutradara Nano Riantiarno adalah metafora zaman
ketika Indonesia dikendalikan oleh para togog. Sebuah
zaman di mana keserakahan dan kemunafikan bersatu padu
menghancurkan keadilan dan kejujuran. 
Pementasan Republik Togog telah mengingatkan kita
semua bahwa teramat banyak togog-togog berkeliaran di
sekitar kekuasaan. Para togog selalu berucapa
bijaksana, sok alim, sok berwibawa tetapi di balik itu
togog punya sifat yang buruk sekali, dan amat
mengerikan. Sifat itu ialah membasmi kebaikan dan
membalik orientasi kekuasaan bukan untuk rakyat
melainkan untuk diri kelompoknya sendiri. 
Itulah wajah togog sejati, wajah pengkhianat dan si
munafik nomor satu. Ia bisa menjelma menjadi agamawan
yang sok bermoral, pengusaha yang sok membantu,
penguasa dan birokrat yang sok peduli rakyat. Sekarang
berkata bisa besok berkata tidak bisa, sekarang
berkata (akan) menegakkan hukum, besok justru ia nomor
satu mencurangi dan memanipulasi hukum. 
Togog, dalam pementasan Teater Koma itu mengajak
bangsa ini merenungkan kembali janji penguasa dan
elite politik terhadap rakyatnya. Lewat prolog lagu
pembukaannya, amat menarik bagi kita untuk mencermati
kata-kata yang penuh makna ini. "Kuberi kau suara, kau
rampok jiwaku juga. Kuberi kau percaya tapi kau
berfoya-foya." Jelas sekali gambaran ketogogan para
elite politik kita, yang dicerminkan dari betapa
mudahnya mereka melupakan janji. Janji tinggal janji,
dan ketika kekuasaan diraih, mereka pura-pura lupa.
Dan ironisnya, para togog itu menganggap perilaku
seperti ini wajar dalam politik. 
Wajah kekuasaan seperti itulah yang terpotret dalam
diri togog di mana penguasa kerapkali tidak lagi
menggunakan kekuasaan untuk melayani rakyatnya, dan
sebaliknya mereka minta dilayani. Paradigma kekuasaan
yang seharusnya digunakan untuk memakmurkan rakyat,
sebaliknya digunakan oleh penguasa untuk menggusur,
menyakiti dan merampok rakyatnya. 
Agama pun tak lolos dari sentilan togog. Ketika agama
seharusnya menjadi alat bagi kritisisme terhadap
kekuasaan, tetapi kenyataannya agama justru dijadikan
kedok untuk melegalisasi kekuasaan. Itu terjadi ketika
agama diperankan oleh elite-elitenya yang nampak haus
kekuasaan seperti vampir haus darah. Pendek kata,
hampir tak ada perilaku kalangan elite yang tak sama
dengan perilaku togog. 
Togog bisa menjelma menjadi apa saja yang penting
tujuan kekuasaan bisa diraih. Togog memainkan dirinya
menjadi Resi Tejamantri yang pura-pura bijak bak
agamawan di tengah Kerajaan Amartapura yang tengah
gonjang-ganjing. Togog memasuki kekuasaan melalui
jalan rekayasa yang penuh manipulasi. Ia mempengaruhi
Raja Samiaji, padahal sejatinya ia adalah mata-mata
Kerajaan Gilingwesi yang menyamar sebagai ulama palsu
bernama Resi Tejamantri. 
Dengan cara yang curang, Togog ingin menguasai
Amartapura, ketika di sisi lain Kalika diutus Durga
untuk mempengaruhi Samiaji agar mau menjadikan Sadewa
tumbal. Konsesi politisnya kalau berhasil, Durga yang
buruk rupa bisa mendapatkan wajah lamanya yang molek,
agar ia bisa mewujudkan obsesinya merayu Arjuna. 
Togog dan para pemeran togog sesungguhnya di republik
ini kerap memanfaatkan agama sebagai alat untuk
melegitimasi kekuasaan. Ayat kitab suci adalah jalan
paling mudah dimanipulasi untuk memberikan legalitas
terhadap kebijakan penguasa. Dengan alasan 'demi dewa'
maka segala kebijakan politik diputuskan, padahal
ujung-ujungnya adalah untuk memperalat agama. 
Bias inilah yang kerap mewarnai kehidupan anak negeri
ketika lingkaran kekuasaan kerapkali diisi oleh para
togog, si pemain seribu wajah. Wajah itu akan berubah
tergantung dari kepentingan untuk menumpuk kekayaan
dan kekuasaan. Para togog juga bisa memanipulasi hukum
dan undang-undang untuk melindungi dirinya dari jerat
hukum. Lewat produk hukum yang dibuat (katanya) "demi
rakyat" dan "keyakinan agama", tapi ujung-ujungnya
justru membuat rakyat miskin menderita. Derita rakyat
kecil dijadikan alasan untuk membuat berbagai proyek
pengentasan kemiskinan, tapi semua itu fiktif belaka. 
Kenyataan itulah yang ingin digugat oleh Republik
Togog dengan kalimat, "Kukira kau mengabdi, nyata
malah menyakiti. Kau tega membuang nurani." 
Tugas seorang politikus yang seharusnya memberikan
pengabdian terhadap rakyat dengan membuat perlindungan
hukum yang berorientasi pada kaum kecil dan lemah,
nyatanya sering hanya isapan jempol. Realitasnya
hampir semua produk hukum dibuat berjiwa kapitalistik
yang lebih berorientasi pada modal daripada wong
cilik. Negara yang seharusnya bertanggung jawab untuk
mengelola kekayaan alam, menyediakan pendidikan yang
terakses, dan menciptakan kesejahteran bersama,
realitasnya semakin lama semakin terseret pada arus
global yang mengabaikan keberadaan nista rakyat. 
Tampak sekali, sering penguasa ingin lepas tangan
dengan membuat produk hukum yang melegalkan
kapitalisme dalam pendidikan, dan perusakan secara
sistematis lingkungan hidup. Undang-undang dibuat
bukan untuk menyelamatkan rakyat yang semakin
menderita, melainkan demi segelintir kepentingan
politik tertentu. 
Inilah yang terasa menyakitkan dan menyesakkan dada,
sebab elite politik telah menggadaikan hati nurani
mereka demi segepok rupiah dan dolar. Nurani yang
seharusnya dijadikan cermin suara hati tampak tak
kuasa menahan gempuran kekuasaan (dan) uang yang
bersinar menyilaukan. Rakyat yang melarat dipaksa
hidup dalam suasana materialisme, dipaksa bersaing
meskipun hasil akhirnya sudah ditentukan, yakni kalah
mutlak. Rakyat diperlukan dan dielu-elukan jika pemilu
akan berlangsung, dan diabaikan ketika kekuasaan sudah
direbut. 
Togog dalam pentas Teater Koma telah menunjukkan
kepada kawan-kawannya para togog di pentas sosial
politik sesungguhnya cara bersifat munafik dan cara
merebut kekuasaan dengan tipu muslihat. Pentas
Republik Togog telah memukul telak para agamawan yang
selalu menjadikan argumen iman dan takwa sebagai dalih
politik. Ternyata di balik nasihat yang arif dan bijak
para togog dalam realitasnya telah menipu nurani agama
dan kemanusiaan. Agama hanya dijadikan alat politisasi
dalam produk hukum untuk melegalisasi kekuasaan dan
kapitalisme dalam berbagai bentuk. 
Itulah yang hendak dipotret Republik Togog dalam
kata-kata yang cukup sarkastik, "Pencuri di mana-mana.
Itulah ungkapan bahwa di balik segala kesucian,
kemuliaan dan kemasyhuran, sebenarnya batin di
sekeliling penguasa adalah batin yang penuh dengan
kemunafikan. Politik yang kehilangan ketulusannya, dan
bercokolnya para togog di bumi pertiwi ini telah
memulai sebuah bencana. 
Maka usai pentas Republik Togog di panggung sandiwara
ini, akankah mereka teruskan di panggung yang
sebenarnya? Kita tunggu saja apa yang diperbuat para
togog republik ini, akankah mereka menyadari
kekeliruannya, dan memperbaiki dalam perilakunya
kemudian? Lihat saja! (*) 




        
                
__________________________________
Do you Yahoo!?
New and Improved Yahoo! Mail - 100MB free storage!
http://promotions.yahoo.com/new_mail 


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
$9.95 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke