www.suarakarya.com
7 Agustus 2004
Lakon Wayang Dan Lakon Kita
Catatan N. Riantiarno
Menafsir kembali salah satu segmen dari lakon wayang,
sudah dilakukan Teater Koma sejak 1978 (lakon
Maaf.Maaf.Maaf). Dan sama seperti yang sering disebut
oleh banyak dalang wayang, saya juga menyebut
'penafsiran kembali' itu sebagai carangan atau versi.
Sumber utama lakon adalah Ramayana karya Walmiki dan
epos Mahabharata karya Vyasa.
Pada masa Kerajaan Mataram Hindu, Ramayana dan
Mahabharata yang mulanya ditulis dalam Bahasa
Sanskerta diterjemankan ke dalam Bahasa Jawa Kuno.
Peristiwa itu terjadi sekitar tahun 856. Gambar adegan
lakon serta para tokohnya kemudian ditatahkan di
dinding-dinding candi. Di zaman Kerajaan Kediri,
cerita dan bentuk wayang disesuaikan lagi dengan
budaya lokal. Tercatat dalam sejarah, raja-raja Kediri
sejak Mpu Sendok (928-947) hingga Gusti Jayabaya
(1130-1160), sangat memperhatikan perkembangan
kesenian wayang. Banyak buku tentang wayang ditulis
oleh para pujangga masa itu.
Pada zaman Kerajaan Majapahit, 1293-1528, wayang
mengalami penyesuaian. Bentuk tokoh-tokoh wayang
digambar di atas kertas atau kain dan diberi warna.
Bentuk itu disebut Wayang Beber Purwa. Pementasannya
diiringi gamelan slendro. Lakon yang ditulis kembali
oleh para pujangga dan berbagai carangan lahir pula.
Maka, pakem lakon yang berasal dari India itu, seakan
makin memperoleh pengkayaan lewat tafsir kisah dan
perubahan bentuk tokoh.
Majapahit runtuh dan Kerajaan Demak berdiri. Cerita
dan bentuk wayang kembali mengalami penyesuaian, Raden
Patah yang bergelar Sultan Sah Alam Akbar (1478-1518)
dan Wali Songo (Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ngampel,
Sunan Bonang, Sunan Drajat, Sunan Giri, Sunan
Kalijaga, Sunan Kudus, Sunan Muria dan Sunan
Gunungjati) mengubah sasaran lakon wayang menjadi
salah satu medium penyebaran agama.
Bentuk wayang tidak lagi menyerupai manusia, tapi
miring (pipih) dengan dua tangan yang bisa
digerak-gerakan. Gambar-gambar tokoh dalam Wayang
Beber Purwa Majapahit, dipilah satu-satu sehingga
menjadi karakter yang mandiri. Bahan utama karakter
wayang terbuat dari kulit kerbau yang ditatah halus,
diwarnai (hitam-putih) dan diberi pegangan (gapit)
yang bisa ditancapkan ke batang pisang (debog) atau
kayu yang dilubangi. Tontonan wayang sangat digemari.
Lakon yang dibawakan bersumber dari Wayang Purwa.
Pada masa Kerajaan Pajang, 1546-1586, bentuk wayang
memiliki warna yang lebih bervariasi. Selain hitam dan
putih, warna emas (prada) juga mulai dikenal. Banyak
pula dalang kreatif yang melahirkan berbagai lakon
carangan. Pakem lakon dari India 'hanya' dimanfaatkan
sebagai narasumber imajinasi.
Tak bisa dipungkiri, Para Wali memang memiliki andil
yang besar dalam upaya mengembangkan kesenian wayang.
Sunan Giri mencipta Wayang Gedog tanpa raksasa dan
kera untuk lakon Wayang Panji, 1563. Pada tahun yang
sama, Sunan Bonang mencipta Wayang Beber Gedog. Dia
juga menulis Serat Damarwulan dan Ratu Kenconowungu.
Sunan Kalijaga mencipta topeng yang bentuknya mirip
dengan karakter Wayang Purwa, 1586. Dan Sunan Kudus,
1584,mencipta wayang kayu berbentuk pipih dengan
tangan terbuat dari kulit. Bentuk itu kemudian disebut
Wayang Krucil atau Wayang Golek Purwa.
Pada Kerajaan Mataram Islam, pangeran Seda Krapyah
(1601-1613) melakukan upaya penyesuaian lagi. Bentuk
wayang memiliki dua tangan yang bisa digerakkan dengan
lebih bebas karena diberi tulang bambu. Dia juga
menciptakan Wayang Dagelan atau lawakan Semar, Bagong,
Cengguris dan Cantrik. Konon, pada masa itulah
karakter Bagong dilarang muncul oleh Pemerintah
Kolonial Hindia Belanda. Lewat lawakannya, Bagong
dianggap terlalu 'lancang' mengritik kebijakan
pemerintah jajahan. Bagong masuk kotak, tapi para
dalang yang kreatif melahirkan karakter Cengguris
sebagai gantinya.
Kisah perkembangan wayang di Indonesia, sudah ditulis
hingga berjilid-jilid buku. Banyak yang dilakukan para
pujangga, perupa wayang dan dalang sehingga kita
mengenal wayang dalam bentuknya yang sekarang. Lakon
digali dan digali terus-menerus, seakan tak
habis-habis. Bentuk karakter wayang disesuaikan dan
disesuaikan lagi berdasarkan tuntutan zaman. Lakon
wayang dan karakter wayang, menjadi harta intelektual
yang amat besar nilainya. Menjadi sumber ilham yang
sangat inspiratif, ajaran moral yang bermutu tinggi.
Kyai Yosodipuro, Raden Ngabehi Ronggowarsito,
Mangkunegoro IV, VI dan VII, adalah tokoh-tokoh yang
tercatat sangat berjasa dalam upaya pengembangan
kesenian wayang. Patokan lakon yang kemudian disebut
pakem, berasal dari hasil kreatifitas mereka. Pakem
yang, sesungguhnya, jauh berbeda dengan pakem aslinya
dari India. Satu contoh, tokoh para panakawan
misalnya, tak ada di dalam Ramayana dan Mahabharata.
Sebagian besar tokoh satria, juga mengalami
penyesuaian dengan adat, filosofi dan perilaku bangsa
Jawa.
Dalam perjalanan kreatif penulisan lakon, saya
bersyukur memiliki babon atau narasumber lakon yang
tak pernah habis digali. Mitologi Yunani (Iliad karya
Homerus) adalah babon yang pertama. Dongeng-dongeng
dari Negeri Cina, menjadi narasumber kedua.
Karya-karya William Shakespreare dan Moliere (yang
saya anggap sebagai lakon Wayang Inggris' dan 'Wayang
Prancis'), adalah submer inspirasi yang ketiga. Tapi
setiap kali menulis lakon, jika ilham datang dari
ketiga narasumber itu, saya sering memandangnya dari
sisi karakter lakon wayang. Lalu saya berupaya
mengawinkan berbagai energinya sehingga menjadi
sinergis.
Jika sumber ilham datang dari lakon wayang
(Mahabharata atau Ramayana), saya juga berupaya
menyadurnya sehingga kisah menjadi masa kini. Menjadi
lakon yang dekat di sekitar kita, milik kita, masalah
kita. Bahkan lakon karya Bertolt Brecht pun saya coba
sadur lewat jalan pikiran wayang.
Hampir seluruh karakter manusia, plus detilnya,
tersirat di dalam lakon-lakon empat babon atau
narasumber itu. Intisari lakon sama. Penyesuaian yang
dilakukan hanya karena zaman, keadaan, lingkungan dan
asesori yang berbeda. Justru yang paling penting
adalah tafsir lakon, yang biasanya, malah menjadi roh
penggerak energi kreatif ke arah tujuan yang hendak
diungkapkan.
Bagi saya, kesenian adalah 'seni menafsir alam dan
kehidupan'. Tujuannya hanya satu 'berterimakasih
kepada alam dan kehidupan'. Apa pun anugerah alam dan
kehidupan kepada kita, buruk atau baik, tetap harus
disebut sebagai anugerah. Alam dan kehidupan yang
dijaga, semoga sudi memberikan anugerah yang
bermanfaat. ALam dan kehidupan yang ditelantarkan,
bahkan dilupakan, sudah barang tentu akan menuai
ganjaran lewat bentuk hukuman yang bervariasi. Nikmat
dan azab terjadi akibat perilaku manusia sendiri.
Sebuah hukum sebab-akibat. Tapi kita sering lupa diri.
Saya percaya, alam dan kehidupan senantiasa berjaga.
Sepanjang masa.
Sesungguhnya kita adalah wayang yang digerakkan oleh
'dalang'. Kita tak berdaya karena alur cerita bukan
milik kita. Sebagai wayang, garis nasib ada di tangan
'dalang'.
Tapi, kadang kita tinggi hati. Sering 'kerasukan'
Kalika dan ratu setan Durga. Merasa lebih dari
'dalang' menganggap diri berkuasa. padahal kita hanya
muncul kalau dibutuhkan. Jika tidak, kita tetap
tergeletak di dalam kotak. Iklas adalah sikap bijak
dalam menjalani lakon hingga ke ujungnya. Pemahaman
iklas, bukan berarti menyerah lalu tak berbuat
apa-apa. Iklas itu cahaya dari akal budi manusia.
Karena lakon manusia sebaiknya terdiri dari rangkaian
upaya-upaya kreatif tanpa sikap yang tinggi hati.
Upaya memburu 'keseimbangan batin', tersirat dalam
lakon-lakon wayang carangan yang saya tulis. Sebagian
besar lakon dipentaskan oleh Teater Koma. Maaf. Maaf.
Maaf, Wanita-Wanita Parlemen, Konglomerat, Burisrawa,
Suksesi, Opera Ular Putih, Kala, Semar Gugat, Republik
Bagong, Presiden Burung-Burung, Opera Rama-Shinta,
Opera Mahabharata, Opera Anoman dan kini Republik
Togog, adalah rangkaian yang tak putus dari
upaya-upaya itu. Mungkin sulit diserap dan nampak
bagai menaruh setitik debu di gurun pasir luas,
menuang segelas air di lautan. Sia-sia.
Tapi apa yang bisa dilakukan selain terus berupaya?
Harapannya, semoga ada yang masih memiliki kepeka
andalam menimbang, kesadaran dalam bertindak, dan
punya akal budi. Keserakahan lahir dari kemunafikan.
Dan kehancuran bersumber dari keserakahan. Kitab Zaman
sudah mencatat berbagai bukti tentang itu.
Di dalam lakon wayang, Sri Kresna dan Semar menjadi
tumpuan segenap harapan. Kedua tokoh itu akan muncul
jika Lima Pandawa mengalami kesulitan. Sri Kresna
adalah titisan Dewa Wisnu yang piawai dalam mengatur
berbagai urusan kenegaraan dan penafsir handal garis
nasib yang dipatok oleh para dewa. Sedangkan Semar,
meski hanya seorang panakawan (pana=cerdik,
kawan=sahabat yang cerdik), diakui punya kemampuan
membimbing rohani Lima Pandawa. Jika keduanya tak ada,
negara akan gonjang-ganjing.
Pada episode Republik Togog, kedua tokoh panutan Lima
Pandawa itu menghilang. Tak heran, jika berbagai
kekuatan jahat dengan mudah berhasil merasukijiwa para
satria.
Dan kalau lakon ini merupakan metafora zaman, mungkin
akan timbul dua pertanyaan; 'Apakah kita kehilangan
Sri Kresna dan Semar?' Lalu, 'Mengapa?' Sebab,
meskipun kedua tokoh akhirnya muncul di akhir lakon,
peristiwa itu tetap bagaikan sebuah mimpi di siang
bolong. Pemunculan mereka seakan hanya sebuah bonus
maya dalam suasana keputus-asaan. Hanya setitik
harapan, sat gonjang-ganjing berlangsung terlalu lama.
Di dalam kenyataan kini, sesungguhnya, di manakah Sri
Kresna dan Semar? Dan apakah kita sungguh-sungguh
memiliki keinginan untuk mencarinya? Wahai, Kalika dan
Durga masih 'merasuki' jiwa. Togog Tejamantri ada di
mana-mana.
Lakon wayang, adalah juga lakon tentang manusia.
Kepadanya kita bisa berkaca. Tapi, masih adakah niat
untuk berkaca? Sudikah kita berkaca?
Terlalu banyak pertanyaan. Terlalu lama menunggu
jawaban. 'Menunggu cahaya Semar dan Sri Kresna, bagai
menunggu garuda beranak singa'.
Jakarta, Juni 2004
__________________________________
Do you Yahoo!?
Yahoo! Mail - 50x more storage than other providers!
http://promotions.yahoo.com/new_mail
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
$9.95 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/