Catatan Seorang Klayaban:

KBRI PARIS DAN JALAN DIPLOMASI KERAKYATAN? [2]


Acara Peringatan Resmi pada garis besarnya terbagi dalam tiga  bagian: [1].Upacara 
Resmi; [2] Jeda sejenak untuk minum kopi dilanjutkan dengan "Dialog Kemerdekaan"; 
[3].Makan Siang dan kemudian [4]. Acara Kesenian. Semua acara ini berlangsung di 
halaman terbuka kediaman resmi Dubes,di Wisma Duta,154 Boulevard Bineau, Neully Sur 
Seine, kartir elite di Paris. Kartir yang dipimpin oleh mantan menteri Dalam Negeri, 
Nicolas Sarkozy [sekarang menteri perekonomian dan calon kuat ketua partai UMP, partai 
berkuasa sekarang] sebagai walikota.

Gedung Wisma Duta yang cukup mewah, sudah dibeli oleh RI sebagai tempat kediaman resmi 
Dubes Indonesia  di Paris.Tapi  mengapa patung-patung Yunani Kuno yang mengisi halaman 
tidak diimbangi dengan patung-patung warna Indonesia? Duta Wisma adalah wilayah 
Indonesia di Paris. Kukira warna Indonesia patut ditampilkan sehingga begitu orang 
masuk ke halaman Wisma, orang sadar bahwa mereka sedang memasuki wilayah Indonesia.   

Pada masa Soeharto masih memimpin Indonesia Orde Baru [Orba], Kedubes yang terletak di 
Rue de Cortambert  dan Wisma Duta, merupakan tempat-tempat asing yang tak pernah 
kuinjak sekalipun. Gedung-gedung ini hanya kupandang dari luar di mana Sang Saka 
berkibar siang-malam di segala musim dan Garuda menempel di tembok depan. Jangankan 
aku, yang memang mempunyai masalah politik dengan Orba sehingga membuatku jadi orang 
klayaban, para warga negara RI yang berkunjung ke Paris pun, pada waktu itu  sangat 
enggan melaporkan diri atau berkunjung ke Kedubes. "Urusan apa harus melapor dan 
mengunjungi Kedutaan?" adalah kata-kata umum diucapkan oleh para warga RI pada zaman 
Orba. "Kedubes pun tidak mengurus dan mengindahkan warganya. Ulah mereka pun sudah 
membuat kita tak betah". Pada waktu itu Kedubes merupakan dunia asing dan lain dari 
dunia para warga Republik.Kedubes adalah "le monde apart", jika menggunakan istilah 
orang Perancis. Aku mengenal keadaan dan mendapatkan segala keterangan tentang  
Kedubes pada saat itu dengan menggunakan saluran-saluran tersendiri, sebagaimana aku 
mendapatkan keterangan dinas rahasia Perancis yang menertawai anggapan Kedubes bahwa 
"masyarakat Indonesia di Perancis adalah masyarakat yang tenang". Aku dan teman-teman, 
terutama dari Keluarga Besar Koperasi Restoran Indonesia, Paris, mulai menginjakkan 
kaki ke wilayah Indonesia di dua gedung tersebut di atas, sejak Dubes Adian Silalahi 
dan Timnya menjadi perwakilan resmi negara RI di Paris. Dubes Adian, setelah lapangan 
disiapkan oleh Mbak Mumpuni dan Andreas Sitepu, kemudian berkal-kali,datang sendiri 
mengunjungi kami. Kunjungan Dubes Adian dan segala usaha Mbak Mumpuni serta Bung 
Andreas Sitepu, oleh Keluarga Koperasi Restoran Indonesia, dipahami sebagai bahasa 
diplomatik sangat berarti.Isyarat diplomatik penuh makna yang tentu saja kami sambut 
semestinya. 

Dubes Adian dan timnya membuka periode baru dalam diplomasi dan dalam melaksanakan 
misi diplomatiknya di Paris. Sejak itu, kami dan anak-anak kami sudah tidak punya 
keengganan apapun mengunjungi Kedubes dan bahkan Kedubes merupakan salah satu tempat 
bermain-main putera-puteri kami dari Keluarga Besar Koperasi Restoran Indonesia, 
Paris. Sahabat-sahabat asing Koperasi Restoran Indonesia yang bekerja di berbagai 
lembaga internasional pun menyambut hangat jalan baru diplomasi yang ditempuh oleh 
Dubes Adian dan timnya. Dengan demikian, Dubes Adian dan timnya, langsung atau tidak 
langsung mendapatkan "solidaritas diam" [silence solidarity] dari dunia internasional, 
khususnya Eropa Barat, dalam menunaikan misi diplomasi. 

Aku tidak tahu, apakah para diplomat kita memerlukan solidaritas internasional ini 
dalam menunaikan misi mereka, hanya para diplomat kita sajalah yang bisa menjawabnya 
dengan persis. Apakah mereka juga memerlukan solidaritas para warganya dalam tugas 
diplomasi mereka, juga mereka sajalah yang bisa menjawabnya dengan baik tanpa 
kekeliruan. Jawaban mereka akan tercermin dalam sikap, bahasa dan tindakan diplomasi 
mereka. Sedangkan Adian Silalahi dan timnya sudah menjawab pertanyaan ini, sehingga 
kita pun bisa mengenal apa siapa Adian dan timnya sebagai diplomat yang akan selalu 
dihormati dan dikenang para warga Republik yang di Perancis. Kita sudah bisa 
mengucapkan kata kesimpulan dan tersenyum bahagia. Dubes Adian dan timnya menggantikan 
permusuhan dengan perdamaian, menggantikan pertikaian dengan kerukunan. Tapi untuk apa 
memang, negara memusuhi warganegaranya sendiri? Barangkali hanya politisi dan 
"negarawan" [antara tanda kutip] "gendeng" yang mungkin dan bisa berbuat begini! Kalau 
bukan "gendeng" mereka adalah memang "penindas" rakyat mereka sendiri.

Mengingat keadaan di atas, apalagi aku secara khusus diminta untuk menulis dan 
membacakan "sanjak" untuk mengisi acara Peringatan Resmi Hari Proklamasi kemerdekaan 
kita, sekalipun masih merasa letih oleh pekerjaan memburuh dan kerja badan di Restoran 
Indonesia, kuingatkan diriku untuk menghadiri Peringatan Resmi itu dari awal hingga 
akhir, sebagai isyarat diplomatik kepada para saudara/i sebangsa dan senegeri di KBRI 
yang juga secara khusus memperhatikan hubungan dengan komunitas kami dan juga 
komunitas-komunitas lain di Paris dan sekitarnya. Lebih-lebih,Vici Henry, salah 
seorang dari Panitya peringatan menyuratiku penuh kehangatan:"melalui berbagai sumbang 
saran bapak di mailing list dan juga puisi bapak yang dibacakan saat perpisahaan Bp. 
Dubes Silalahi, saya berpikir bahwa kehadiran bapak dan sanjak yang akan dibacakan 
akan memberi arti khusus dalam perayaan acara nanti". Kata-kata ini tidak kutafsirkan 
sebagai bahasa diplomasi [karena aku lebih suka berhati-hati], tapi ungkapan rasa 
seorang patriot yang penuh semangat. Kata-kata Vici ini kupahami agar aku jangan lalai 
mengkonsolidasi hasil yang sudah didapat demi memperoleh hasil-hasil lebih besar lagi 
bagi kepentingan negeri, bangsa dan Republik. Kata-kata Vici adalah garis bawah pada 
makna Republik, merdeka dan rekonsiliasi. 


Hari itu, 17 Agustus 2004. Paris yang kemarin panas melebihi 20 derajad, hari 17 
Agustus suhunya mendadak turun dan mendingin. Langit tanpa matahari terik. Sehingga 
orang-orang mengenakan kembali pull-over [sweater, baju hangat tipis].Seperti udara 
suhu politik pun naik turun dan kita perlu menyesuaikan diri dengan perobahan suhu 
agar tetap sehat.  


Menating tas kecil berisikan sanjak "Indonesia, Jutaan Janji" dan buku-buku untuk 
kubaca di perjalanan agar waktu tidak hilang percuma, akupun berangkat bersama 
Jelitheng menuju Wisma Duta. Jelitheng mengenakan pakaian khusus Indonesia, warna 
hijau dan baju cerah lembut.Pakaian terbaik yang ia punya. Sepanjang jalan, 
orang-orang melirik Jelitheng diam-diam. Dalam hati aku berkata: "Ya, kami memang 
Indonesia, dan aku seorang Dayak Indonesia maka kukenakan kopiah Dayak. Mengapa malu 
jadi Indonesia dan Dayak. Yang memalukan justru yang mengingkari diri sendiri.Kami 
adalah rakyat dan bangsa besar sangat potensial. Kalau kami bisa mengalahkan kemelut 
hari ini, kalian akan lihat kembali apa siapa Indonesia sesungguhnya.Kami perlu waktu. 
Kami bukan hanya bangsa berani kalah tapi tapi juga bangsa dan rakyat yang sanggup dan 
pandai menang", ujarku dalam hati kepada diri sendiri sambil mengingat bahwa hari ini 
adalah Hari 17 Agustus, hari proklamasi kemerdekaan yang dibayar dengan darah dan 
nyawa semua etnik. Kemerdekaan dan maknanya membuatku merenung di sepanjang jalan 
menuju Wisma Duta.


JJ.Kusni
--------
Paris, Agustus 2004


[Bersambung]



Catatan:
Foto terlampir melukiskan grup Paduan Suara KBRI sedang menyanyikan Indonesia dan 
makna Indonesia.[Dokumen Jelitheng].


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke