Catatan Seorang Klayaban:

KBRI PARIS DAN DIPLOMASI KERAKYATAN [6]


Begitu kesempatan dibuka oleh pembawa acara, maka Rofikoh Rokhim atas nama PPI 
Prancis, berdiri mengajukan pertanyaan dan usul agar jika ada petinggi-petinggi 
pemerintah datang ke Paris, bisa dicadangkan waktu untuk melakukan dialog dengan 
mereka. "Yang kami perlukan adalah dialog langsung dengan mereka sekalipun dalam 
syarat sangat sederhana", ujar Rofikoh yang sehari-hari dipanggil Opik. "Kami tidak  
memerlukan kemewahan untuk dialag", ujar Rofikoh. Tapi para petinggi agaknya memandang 
dialog langsung adalah suatu kemewahan lebih mewah dari miliaran uang negara yang 
dikorup.

Sesuai dengan kebijakan kerakyatan dan keterbukaan yang telah dipilih KBRI Paris, 
Kuasa Usaha menjelaskan bahwa benar tidak sedikit para petinggi negeri dan pemerintah 
yang datang ke Paris. Tapi jika sampai sekarang belum diadakan dialog langsung dengan 
mereka, hal demikian disebabkan terutama oleh sangat singkatnya waktu kedatangan 
mereka. Penjelasan demikian bisa dibaca juga bahwa ada tidaknya dialog langsung dengan 
para warga, bukan hanya dengan para anggota PPI, tidak hanya tergantung pada KBRI tapi 
juga ada kaitannya dengan kesediaan, waktu dan prioritas  para petinggi negara 
tersebut [Aku tidak memasuki contoh-contoh sebagai rincian]. Hanya yang hakiki dari 
usul Opik adalah perlunya petinggi negara mendengarkan dan memahami aspirasi para 
warga Republik melalui dialog langsung.Jika benar bahwa para petinggi negara memandang 
dialog langsung dengan para warga Republik di mana pun juga, sebagai suatu hal penting 
dan utama,  maka barangkali  masalah ini akan mereka jadikan sebagai salah satu mata 
acara dari daftar prioritas mereka. Apalah arti petinggi negara jika tidak memahami 
pikiran, perasaan dan aspirasi para warga yang diatasnaminya untuk berada di tampuk 
kekuasaan politik? 

Pertanyaan yang diajukan oleh Opik kukira sesungguhnya menyangkut masalah fungsi 
kekuasaan politik dan ke mana serta di mana para pemegang kekuasaan politik negara 
bersandar serta menyandarkan diri. Yang percaya dan bersandar kepada para warganya, 
pasti akan memprioritaskan masalah dialog langsung dengan para warganya.  Lain halnya 
jika mereka  menganggap kekuasaan dan jabatan sebagai standar kebenaran dan keadilan 
sehingga pemegangnya menjadi lapisan asing dari kehidupan masyarakat. Jadi pertanyaan 
dan usul Opik sesungguhnya menyangkut masalah hakiki tentang arti, fungsi negara dan 
orientasi pemegang kekuasaan.  Mengabaikan para warga sama dengan memperlihatkan 
keangkuhan kekuasaan yang berlawanan dengan orientasi penegakkan masyarakat sipil di 
Republik serta nilai-nilai republiken, berorientasi pada negara kuat dan sipil yang 
lemah, orientasi yang gampang kembali menjurus ke otoriatianisme atau barangkali 
sisa-sisa dari otoriatiarianisme Orba Soeharto itu sendiri.

Munculnya Opik dengan pertanyaan dan usulnya, memperlihatkan bahwa PPI Prancis tidak 
lagi berada di bawah pengendalian langsung KBRI [cq. Atase Militer seperti pada masa 
Orba Soeharto dulu].PPI yang disuarakan oleh Opik, kukira sebagai salah satu kelompok 
generasi muda yang beertanggungjawab atas timbul-tenggelamnya nasib negeri, bangsa dan 
negara di masa datang, perlu berpikiran bebas dan kritis. Apa artinya barisan 
cendekiawan , dengan gelar setinggi apapun, jika hanya menjadi alat jinak [docile 
tool] kekuasaan politik. Lebih-lebih jika menjadi docile tool 
otoritarianisme.Intelektual sebagai produsen ide hanya akan bisa berperan maksimal 
jika mereka menjaga kebebasan berpikir mereka. Indonesia memerlukan ketrampilan 
tekhnis tapi lebih-lebih memerlukan manusia yang manusiawi dan berwawasan manusiawi. 
Republik Indonesia justru lahir dan dilahirkan oleh anak-anak bangsa dan negeri yang 
manusiawi dan berwawasan manusiawi, bukan oleh para tekhnisi yang berketrampilan 
tekhnis. Rusaknya Indonesia sekarang justru karena manusia-manusia model docile tool 
otoritarianisme.Aku mengkhawatirkan tekhnisisme sekarang masih mendominasi pandangan 
perlunya Manusia Indonesia yang menyebabkan docile tool menjadi dominan di negeri 
kita. Kekhawatiran ini muncul pada diriku jika mengamati segala kosakata dan bahasa 
yang digunakan yang mencerminkan kecupetan pandangan sejarah, pola pikir dan 
mentalitas anak negeri dan bangsa kita dewasa ini sekalipun menyandang gelar 
kesarjanaan tinggi. Salah satu ujudnya barangkali "pembudakan" dan "pendewaan"pada 
mantan guru dan sarjana-sajana asing [baca:Indonesianis].Padahal gelar kesarjanaan 
bagiku tidak otomatis merupakan cerminan dari Manusia Indonesia yang dituntut oleh 
bangsa, negeri dan negara untuk "bersatu, maju dan demokratis" [jika meminjam motto 
Peringatan Hari Proklamasi KBRI Paris]. Semestinya, pendidikan ketrampilan berfungsi 
untuk meningkatkan taraf diri kita menjadi "Manusia Indonesia" yang diperlukan oleh 
Indonesia dan kemanusiaan. Barangkali di sini perlu kuulang kembali apa yang 
dikeluhkan oleh alm. Denys Lombard, betapa pada masa Orba Soeharto, 
mahasiswa-mahasiswa kandidat doktor Indonesia melakukan "otosensor" dalam menuliskan 
tesis-tesis mereka karena takut gencetan pemerintah Soeharto dan Golkar jika mereka 
kembali ke tanahair. Lombard mengungkapkan kemarahannya kepadaku yang kujawab:

"Mengapa mesti marah pada saya, Denys?"

"Saya perlu mengungkapkan diri agar saya tidak sakit. Kepada siapa saya mengungkapkan 
kemarahan saya tentang Indonesia jika bukan kepadamu?".

Kejengkelan Lombard kami akhiri dengan tertawa pahit berdua. Pahit, melihat dampak 
otorianisme menyusup hingga ke dunia ilmu pengetahuan dan memerosotkan ilmu 
pengetahuan. Betapa ketakutan telah memerosotkan manusia hingga tidak manusiawi lagi 
dan ketidakmanusiawian ini ditutup dengan kepongahan "docile tool" dan keangkuan 
kekuasaan yang disangga oleh bayonet mengkilap warna darah.

Barangkali Opik dan generasinya bisa diharapkan menyandang nama dan fungsi intelektual 
serta Manusia Indonesia sesungguhnya. Indonesia yang "bersatu, maju dan demokratis" 
kiranya tidak mungkin ada jadi kenyataan tanpa adanya "manusia Indonesia". "Docile 
tool" tidak lain dari sampah. 


Paris, Agustus 2004
-------------------
JJ.Kusni



Catatan:
Foto terlampir :wajah beberapa warga Keluarga Koperasi Restoran Indonesia yang selalu 
menyempatkan diri hadir dalam segala kegiatan KBRI Paris  [Dari:Dokumentasi 
Jelitheng]. 

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
$9.95 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke