Humaniora Sabtu, 21 Agustus 2004
Pendidikan Tinggi di India
Bersahaja, Murah, Reputasi Mendunia
KETIKA media di Indonesia sibuk memberitakan protes terhadap pungutan di
sekolah-sekolah negeri yang melambung tinggi, penolakan komersialisasi Kampus Institut
Pertanian Bogor, dan protes mahasiswa Universitas Indonesia terhadap uang masuk yang
sampai belasan juta rupiah, koran-koran India mengangkat cerita anak penarik becak,
Vaishali Wankhede, di halaman satu seperti layaknya seorang pahlawan.
VAISHALI tinggal di kawasan kumuh di Kota Nagpur, India. Ayahnya dan seorang kakak
laki-lakinya penarik becak, kakak laki-laki lainnya tukang tambal ban, dan ibunya
tukang cuci. Di tengah kemiskinan itu, Vaishali dinyatakan lolos tes masuk sekolah
kedokteran dengan skor 84 persen. Keberhasilan itu merupakan sebuah keajaiban. Sebagai
anak orang miskin, Vaishali tidak mungkin mengikuti bimbingan tes yang biayanya
melangit, jauh lebih tinggi daripada biaya kuliah itu sendiri.
Persaingan yang ketat untuk masuk perguruan tinggi top di India menyebabkan ketatnya
akses golongan bawah ke perguruan tinggi di India. Sekalipun-dibandingkan di
Indonesia-biaya kuliah di India terhitung sangat murah dan tersedia beasiswa atau
kredit dari bank cukup melimpah.
Sekolah kedokteran memang merupakan perguruan tinggi papan atas di India. Materi dan
cara pengajarannya sesuai standar internasional, sehingga lulusannya tak hanya laku di
dalam negeri. Di Amerika Serikat, tidak kurang dari 30 persen dokter yang bekerja di
negara itu berasal dari India. Ada sederet perguruan tinggi top di India di bidang
teknik, teknologi informasi, dan manajemen, yang reputasinya telah mendunia. Dari
sekitar 300 universitas dan "kolesi" yang ada, 13 di antaranya diberi status pusat
unggulan nasional oleh parlemen dan dibiayai pemerintah pusat.
Saking ketatnya perebutan bangku kuliah di perguruan tinggi top itu, tamatan SMA yang
ingin lolos seleksi masuk harus sejak dini hari ikut pelajaran tambahan. Sulit bisa
masuk perguruan tinggi top tanpa ikut bimbingan tes.
Arnav Sinha, mahasiswa Indian Institute of Technology Delhi, mengaku dua tahun
mengikuti bimbingan tes sebelum masuk IIT. Perebutan ke IIT sangat ketat. Bangku
kuliah yang tersedia di IIT Delhi hanya sekitar 7.000 dan diperebutkan sekitar 170.000
orang. Selama dua tahun, Sinha menghabiskan biaya sekitar 70.000 rupee (atau sekitar
Rp 14 juta). Biaya sebesar itu sulit didapatkan oleh masyarakat bawah di India.
Padahal, biaya kuliah di perguruan tinggi India tergolong sangat murah. Untuk warga
India biaya kuliah setahun hanya berkisar Rp 2 juta sampai Rp 10 juta, sudah termasuk
biaya hidup di asrama.
Prof Umesh Chaube, dosen IIT Roorkee di Uttaranchal, mengakui bahwa persentase
masyarakat miskin yang bisa masuk IIT makin lama makin menurun. Pada umumnya yang
masuk adalah mereka dari golongan keluarga berpenghasilan menengah. Namun, kata
Chaube, pendidikan tinggi India tergolong murah. Selain itu tersedia banyak beasiswa.
Kalaupun tak berhasil mendapat beasiswa bisa pinjam dari bank.
"Asal punya otak, setiap orang bisa masuk perguruan tinggi," kata Chaube.
Chaube menuturkan pengalamannya sendiri. Ia masuk IIT Delhi tanpa mengikuti pelajaran
tambahan. Karena ia berasal dari desa, pada tahun-tahun pertama nilainya kurang bagus
sehingga tidak bisa memperoleh beasiswa. Ia terpaksa meminjam dana dari bank yang
dibayar kembali setelah ia lulus dan memperoleh pekerjaan.
Prof Mohammad Miyan, Dekan Fakultas Pendidikan Universitas Jamia Millia Islamia di New
Delhi, juga mengemukakan bahwa pendidikan tinggi di India relatif murah dan terbuka
akses untuk golongan bawah.
"Semua orang yang memiliki otak cemerlang, pekerja keras, akan dapat memperoleh
kesempatan memperoleh pendidikan tinggi yang baik di India," kata Miyan.
KEBIJAKAN jangka panjang yang konsisten untuk mengembangkan pusat-pusat unggulan
menjadikan reputasi sejumlah perguruan tinggi India berkibar-kibar. Di bidang teknik,
bila Indonesia hanya memiliki dua institut teknik negeri-Institut Teknologi Bandung
dan Institut Teknologi 10 November Surabaya-India memiliki tujuh institut teknik.
Hanya tiga tahun setelah kemerdekaannya, parlemen India menetapkan Indian Institute of
Technology di Karaghpur. Menyusul kemudian IIT Bombay, Kanpur, Madras, Delhi, dan
Ghuwati.
IIT terbaru terletak di kota kecil Roorkee. Lima dari tujuh IIT itu mendapat peringkat
tiga sampai delapan sebagai universitas terbaik di Asia versi Asiaweek 2000. Sewaktu
masih berbentuk universitas, Universitas Roorkee masih mendapat ranking 12 sebagai
universitas terbaik di tingkat Asia. Di tingkat nasional, IIT Roorkee menduduki
peringkat keempat sebagai pendidikan tinggi teknik terbaik di India.
IIT Roorkee memiliki sejarah panjang sebagai institusi pendidikan teknik. Menurut
Direktur IIT Roorkee Dr Prem Vrat, lembaga itu didirikan pada 1847 untuk mencetak
tenaga teknik kanal Sungai Gangga. Perguruan tinggi itu berubah statusnya menjadi
institut teknologi dan ditetapkan oleh parlemen sebagai salah satu dari 13 pusat
keunggulan nasional di India. Perubahan status itu, kata Prem Vrat, besar artinya
karena semula lembaga itu merupakan satu di antara 130 perguruan tinggi di India, kini
menjadi satu di antara pusat unggulan di India. Perubahan status itu sekaligus berarti
dukungan keuangan yang lebih baik karena keuangannya langsung disokong oleh pemerintah
pusat.
Tidak satu pun dari tujuh IIT itu yang tidak memiliki reputasi internasional. Pada
jurusan-jurusan tertentu, lulusan mereka tidak sulit mendapatkan pekerjaan di Amerika
Serikat. Bidang teknik sipil dan manajemen sumber daya air di IIT Roorkee juga telah
mendapat nama di tingkat internasional.
Bagaimana India bisa membangun institut teknologi berkelas dunia dan lulusannya laku
keras di pasar internasional? Menurut Prof Khusal Sen, salah satu dekan di IIT Delhi,
tidak ada hal istimewa yang mereka lakukan. Kuncinya adalah komitmen dari pemerintah.
Dengan dukungan dana yang baik, secara bertahap IIT dapat mengembangkan infrastruktur
dan tenaga pengajar yang dimilikinya. Di lain pihak, mahasiswa yang masuk adalah
anak-anak terbaik di India. Kombinasi keuangan yang baik dan input mahasiswa baik
dengan sendiri menjadikan sebuah universitas berkembang dengan baik.
Sebagian besar lulusan IIT, khususnya bidang-bidang yang terkait dengan teknologi
informasi, menyerbu pasar kerja di Amerika Serikat.
Sebagian ahli teknologi asal India yang bekerja di Amerika Serikat tersebut, kini
mulai kembali ke asalnya, membawa ilmu, kemampuan menciptakan produk, dan gaya
hidupnya. Mereka menciptakan kantong-kantong bisnis berteknologi di India, seperti di
Bangalore, daerah miskin di India bagian selatan yang sebelumnya tidak pernah
diperhitungkan dalam peta bisnis.
Karena itu, bagi para mahasiswa IIT seperti Delhi, Abishek, Kanika, dan Arnav Sinha
hampir-hampir tidak ada yang perlu dipikirkan selain belajar dan belajar. Pekerjaan
bukan sesuatu yang dirisaukan bagi mereka. Masa depan telah terbuka lebar bagi tiga
mahasiswa berumur 22 tahun itu. Hanya dengan predikat mereka sebagai lulusan IIT
Delhi, mau melanjutkan kuliah dengan beasiswa, merantau ke Amerika Serikat, atau
bekerja di negeri sendiri bukan lagi usaha yang sulit bagi mereka. Dengan bekerja di
negeri sendiri, mereka pun bisa langsung masuk ke golongan menengah atas.
Sejumlah profesor asal India yang bekerja di universitas-universitas top di Amerika
Serikat dan negara-negara maju di Eropa, mengalokasikan waktunya satu sampai dua bulan
dalam satu tahun untuk mengajar di lembaga-lembaga perguruan tinggi di India.
Nasionalisme yang tidak sebatas pada penghormatan bendera itu memberikan harapan baru
bagi India yang selama ini sering dipersepsikan dengan negara yang dipenuhi
orang-orang miskin, kumuh, dan banjir.
Institusi-institusi pendidikan tinggi India yang menghasilkan kaum profesional
berkelas dunia itu dari sudut penampilan fisiknya sungguh tidak menarik. Sejumlah
bangunan perguruan tinggi yang dijadikan pusat unggulan tidak lebih hebat dari
bangunan SD-SD Inpres di Indonesia.
Penampilan dosen dan mahasiswanya pun sangat bersahaja. Amat jarang bisa menemukan
dosen bermobil. Mereka memang tinggal di perumahan di dalam kampus. Ke mana-mana
mereka biasa naik sepeda atau paling banter naik skuter tua. Pakaian yang mereka
kenakan pun tidak bermerek. Akan tetapi, tidak satu pun dosen yang mengajar di kampus
itu tidak menyandang gelar PhD.
Menurut Prof Khusal Sen, pengajar pada Jurusan Tekstil IIT Delhi, gelar akademik PhD
merupakan syarat mutlak untuk mengajar. Tidak satu pun dosen yang tidak bergelar
doktor, bahkan mereka yang berasal dari kalangan profesional sekalipun. Tenaga
pengajar di IIT Delhi juga diwajibkan melakukan riset sehingga ilmu yang diberikan
kepada para mahasiswanya selalu baru. Gaji dosen-dosennya juga tidak terlalu istimewa.
Sekitar 25.000 rupee atau Rp 5 juta sebulan, meski itu merupakan gaji bersih karena
mereka tinggal di dalam kompleks kampus sehingga tidak perlu keluar uang untuk
perumahan dan ongkos transportasi.
Selain di bidang sains dan teknologi, sejumlah sekolah kedokteran dan bisnis di India
juga memiliki reputasi internasional. Perguruan-perguruan tinggi yang bagus itu
tersebar di berbagai daerah di India, tidak seperti di Indonesia yang cenderung
terpusat di Jawa.
Indian Institutes of Management yang tersebar di Ahmadebad, Kolkata, Bangalore,
Lucknow, Indore, dan Kozhikode juga dikembangkan sebagai pusat-pusat pendidikan bisnis
dan manajemen terbaik di India. Selain itu ada sejumlah universitas tua yang layak
diperhitungkan, seperti Universitas Delhi, Jawaharlal Nehru, Universitas Muslim
Aligarh, dan Jamia Millia Islamia.
Jawaharlal Nehru memiliki karakteristik yang unik karena di situ kekuatan kaum kiri
cukup kuat. Gambar-gambar Che Guevara, pelawanan terhadap WTO, tuntutan pendidikan
gratis dipasang di poster-poster atau bahkan dicat langsung di tembok. India juga
memiliki kolese-kolese khusus untuk perempuan, seperti Cummins College of Engineering
for Women.
Sejauh bicara pendidikan tinggi, prestasi India cukup gemilang. (P BAMBANG WISUDO)
Search : [input] [input]
--->
Berita Lainnya :
�
Bersahaja, Murah, Reputasi Mendunia
�
LSM Minta Tersangka
�
"Premium Call" Diinspeksi
�
Perbesar Dana untuk Turunkan AKI
�
Dorong ASI Eksklusif
�
Pengembangan Usia Dini
�
INSPIRASI
---------------------------------
Do you Yahoo!?
New and Improved Yahoo! Mail - 100MB free storage!
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
$9.95 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/