Menanggapi tulisan Drs Yaya Suhendar, Minat Baca Vs Televisi di Radar Banten , 28 Agustus 2004 ---------------------------------------------------------------------- -----------------------------
MENJADIKAN PERPUSTAKAAN SEBAGAI RUMAH IBADAH KEDUA Oleh Ibnu Adam Aviciena Belum lama saya pergi ke Dinas Pendidikan Propinsi Banten untuk mengantarkan surat undangan. Saya bertanya pada orang yang biasa menerima surat di Bagian Umum. "Pak Didi ada?" Dia jawab, "lagi rapat." "Di mana rapatnya?". "Tidak tahu," jawab dia. Dan saya bukanlah orang yang terlalu gampang percaya. Selain karena jawaban itu yang selalu saya dapatkan jika menanyakan di mana bos dinas ini, dia juga tidak terlalu pandai menyembunyikan kebohongan di matanya. Tampak sekali dengan menunduk dia merasa bersalah karena mengatakan yang bukan sesungguhnya. Seandainya saja dia berbohong karena disuruh, artinya dia telah merelakan dirinya terjajah. Saya sebelumnya pernah diperlakukan seperti tadi. Makanya saat itu, pertanyaan diajukan hanya sekedar berbasa-basi saja. Dan terbukti untuk yang kesekian kalinya, bahwa orang yang saya cari, orang yang bertanggungjawab pada pendidikan di Banten ini, ada. Saya hanya ingin mengatakan padanya, bahwa kami meminta dia hadir menjadi pembicara pada diskusi yang akan dilaksanakan pada 11 September. Diskusi ini akan membicarakan proyek SMA Unggulan di Pandeglang yang menutut berita di koran, tidak jelas keadaannya. Perpusda Di ruangan lantai tiga itu, saya membaca tulisan saudara Yaya Suhendar tentang Minat Baca Vs Televisi. Saya tahu ia kepala bidang Akuisisi dan Program di Perpustakaan Daerah Banten. Membaca tulisan itu saya cukup senang. Ternyata masih ada orang yang mau memikirkan kebiasaan membaca orang lain, terlepas dia orang perpustakaan atau bukan. Saya sebetulnya berharap, yang menuliskan teman itu tidak dia saja. Yang terjadi, banyaknya mahasiswa dan dosen hanya onani: cukup dirinya saja yang merasakan bahwa membaca itu mengasyikan! Artikel panjang yang saya baca sekilas di Dinas Pendidikan itu menunjukan "kecemasan dan keheranan" penulisnya. Bagaimana jadinya ketika TV ada di hampir setiap rumah dan kamar. Benda ini diminta tidak diminta akan tetap memberikan informasi dan tontonan yang memang tidak bermutu. Menurut penelitian yang dibaca saudara Yaya, katanya, televisi tidak memunyai hubungan pasti dengan minat baca. Karena ada yang gila nonton juga gila buku. Tetapi sedikit banyak, dengan terlalu sering menonton, waktu untuk membaca menjadi berkurang. Saudara Yaya sadar bahwa orang kita tidak terlalu doyan dengan yang bernama buku. Pejabatnya saja, waktu perpusda akan diadakan, masih berpikiran kacau. Dia mengatakan perpustakaan di Banten belum dibutuhkan. Alasannya sangat sederhana: kita belum terbiasa membaca. Sebelum tulisan saudara Yaya tentang minat baca tersebut dimuat, saya sempat berdiskusi denganya. Dia bercerita banyak tentang perpustakaan yang ia urusi dengan teman-temannya. Dari pesan yang ada di buku tamu, kebanyakan pengunjung menginginkan ruangan yang luas dan buku yang lebih banyak. Tentang ruangan yang sempit, memang demikianlah adanya. Semua yang masuk pasti merasakan kesesakan itu. Seluruh bagian dinding dilapisi rak-rak. Dulu, ketika gedung ini belum dijadikan perpustakaan saja, yaitu ketika masih berupa basecamp mahasiswa, sudah terasa sempitnya. Maka, untuk sebuah perpustakaan tingkat propinsi, sepertinya masih jauh dari standar layak. Barangkali saudara Yaya dan teman-temannya di sana sengaja memasang plang di depan gedung itu dengan teks: Kantor Perpustakaan Daerah; bukan Perpustakaan Daerah. Selain masalah ruangan, bapak berusia empatpuluan ini juga mendapati data pengujung yang berkurang. Kenyataan ini berlangsung dalam dua bulan terakhir, katanya. Dari yang biasanya datang 500 orang per hari. Sekarang hanya sekitar 300. Ia sendiri mengaku belum tahu faktor apa yang menyebabkan penurunan ini. Apakah karena ruangan yang kurang nyaman, agak susah menemukan buku baru, atau memang masyarakat kita kembali tidak suka membaca�sebagaimana kata pejabat tadi. Saran Daripada membicarakan penerima surat di Dinas Pendidikan yang merasa bersalah karena harus mengatakan "bos lagi keluar", lebih baik rasanya jika membincangkan perpustakaan. Sederhananya saya ingin mengatakan, harus ada tindakan yang dilakukan oleh, minimal, orang perpustakaan untuk menumbuhkan dan menjaga kebiasaan membaca pada masyarakat. Dengan jumlah pengujung yang stagnan, tentu ini ada apa- apanya. Meski belum tahu, kenapa. Selama ini yang saya lihat, perpustakaan (daerah) tidak jauh berbeda dengan sebuah toko buku. Ia hanya menjadi ruang penyimpanan buku-buku saja. Bedanya, toko buku menyediakan buku untuk dijual, sementara perpustakaan untuk dipinjamkan. Konsep ini, tentu terlalu sempit. Seharunya perpustakaan tidak hanya seperti gambaran tadi, melainkan menjadi tempat berdenyutnya pengetahuan, selayaknya jantung bagi tubunya. Di sana ada sumber pengetahuan, kegiatan membaca, berdiskusi, referensi dan yang lainnya. Perpustakaan harus menjadi rumah ibadah kedua setelah mesjid, gereja, vihara atau yang lainnya. Ini yang belum saya lihat di perpustakaan Banten. Dari daftar pengungung saja, bisa dikatakan bahwa perpusda begitu eksklusif. Dia hanya didatangi oleh pelajar dan mahasiswa. Sedangkan ibu rumahtangga, pembantu, pedagang boleh dibilang tidak ada. Kita memang bisa mengatakan, yang "harus" membaca itu dua orang tersebut tadi. Tetapi di sana, justeru ada tugas kenabian untuk memberitahu bahwa pada buku ada kebahagiaan, ada jalan keluar dari kesulitan. Sebagai orang buku, pasti ini yang akan disampaikan. Orang bilang, dekat dengan pedagang minyak akan wangi; dekat dengan pandai besi akan terkena panas. Untuk mencapai tujuan itu, banyak hal yang bisa dilakukan oleh orang- orang perpusda sebagai pemilik otoritas. Beberapa contoh sederhana yang bisa disebutkan di sini antara lain: lomba menulis esai tentang buku, memaksimalkan area yang ada, mengundang penulis dan penerbit dan mengadakan diskusi-diskusi. Yang bisa dilaksanakan untuk contoh pertama, misalkan pihak perpusda bekerjasama dengan media massa mengadakan lomba menulis esai tentang buku. Sebagai sebuah lomba, tentu harus disediakan hadiah. Tulisan yang bagus, diusahakan bisa dimuat pada koran yang mendukung acara ini. Di sini minimal dua hal bisa dicapai. Pertama, membaca. Untuk menulis, tentu penulisnya harus membaca. Dengan tulisannya dipublikasikan, masyarakat akan membaca dan mudah-mudahan tergugah tercerahkan. Kedua, menanamkan kesadaran kepada halayak bahwa yang bagus buat kesehatan itu tidak hanya memakan makanan yang bergizi, tetapi juga membaca. Kalau punya modal, tulisan mereka bisa dibukukan. Ini tahapan yang lebih tinggi. Jika tadi membaca, sekarang sudah menulis. Yang tentu prosesnya lebih kompleks. Yang kedua, masih tentang ruangan yang sempit. Keadaan ini "memaksa" orang-orang perpusda untuk bekerja lebih keras. Dengan meminta (baca: menggedor!) pemerintah untuk menyediakan ruangan yang memadai. Jangan hanya rumah dan kantor pejabat saja yang diributkan. Karena justeru dari perpustakaanlah, masyarakat cerdas keluar. Yang terjadi malah memerihatinkan. Tidak jauh dari perpustakaan daerah berdiri perpustakaan kabupaten Serang. Dengan gampang orang bisa mengatakan, kalau pemerintah memang tidak berpikir. Masak membangun perpustakaan di pinggir jalan raya yang ramai? Apakah juga tidak tahu, tidak jauh dari perpustakaan itu ada perpusda? Orang tentu memilih yang lebih lengkap. Ini artinya, pembangunan perpus kabupaten Serang menjadi tidak efektif. Coba kalau didirikan di daerah yang belum ada perpustakaannya. Ketiga, pihak perpusda jangan terpenjara karena spes yang sempit. Di luar ruangan ada halaman. Halaman tersebut bisa digunakan menjadi tempat baca yang nyaman. Dengan mendirikan saung-saung beratap rumbia, misalkan. Sambil membaca dan berdiskusi kita minum teh dingin. Bukankan itu kondisi yang bisa dinikmati? Sebagai penggila buku, tentu tidak hanya ada satu jalan menju perpustakaan. Pemerintah kurang peduli, Rumah Dunia masih bisa memiliki banyak buku dan mengadakan kegiatan. Indonesia Tera, sebuah toko buku, mampu menyediakan buku bebas baca selain buku untuk dijual. Dengan mau memanfaatkan bacaan yang sudah masuk otak dan sedikit kerja, semuanya bisa dilakukan. Ibnu Adam Aviciena, mahasiswa STAIN Serang, aktif di Rumah Dunia dan Sanggar Sastra Serang. ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar. Now with Pop-Up Blocker. Get it for free! http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

