Di barat masih sering dipertanyakan apakah Islam dan
demokrasi tidak saling bertentangan? Di negara-negara
seperti Turki dan Indonesia, gerakan Islam dapat
berjalan selaras dengan demokratisasi. Pada
kenyataannya di Indonesia sebagai negara Islam
terbesar di dunia dari segi luas wilayah dan jumlah
pemeluk Islamnya, iklim demokrasi sangat kondusif bagi
gerakan Islam itu sendiri dan mejadi pupuk organik
bagi tumbuh suburnya gerakan Islam. Berbeda keadaannya
di negara-negara di Timur Tengah di mana kebanyakan
negara Arab masih tetap dikuasai pemerintahan yang
otoriter. Entah manakah yang lebih Islami, apakah
sistem demokratisasi di Indonesia atau sistem otoriter
di Timur Tengah?  
=======================================================31.08.2004

Islam dan Demokrasi

Oleh: Peter Philipp 

Prof. Mas`ud menekankan istilah Dunia Islam dan
Masyarakat Modern mencerminkan dua dinamika yang tidak
saling bertentangan. Masyarakat modern merupakan
istilah zaman kini, yang berlaku untuk masa kini mau
pun juga untuk saat-saat di masa lampau. Dan apa yang
disebut modern hanya dapat dijabarkan pada saat itu
dan di dalam masing-masing kulturnya. Namun, tidak
bisa disamakan antara satu masyarakat dengan
masyarakat lainnnya. Modernitas merupakan pengalaman
yang secara kultural mungkin berbeda-beda. Mungkin
terdapat perbedaan pengalaman di Eropa dan Amerika,
tentu juga di dalam masyarakat Islam. Demikian tegas
Prof. Mas`ud, ketua Council for Islamic Ideology,
suatu badan negara untuk urusan keagamaan yang
didirikan di Pakistan pada tahun 1962. 

Kemudian mengenai demokrasi yang menurut Prof. Mas`ud,
demokrasi adalah yang diidam-idamkan oleh kebanyakan
masyarakat Islam dan para pemikir serta bukan sesuatu
yang dikutuk oleh masyarakat Muslim. Perdebatannya
hanyalah mengenai wujud atau bentuk demokrasi itu.
Karenanya Prof. Mas`ud tidak yakin, bahwa demokrasi
merupakan suatu fenomena yang ditentang oleh
masyarakat Muslim. Banyak kaum intelektual Muslim
menganggap demokratisasi dan Islam bukanlah dua aliran
yang tidak kompatibel, terutama yang menyangkut soal
persamaan hak dan partisipasi dalam proses pengambilan
keputusan maupun partisipasi politik. Juga dalam soal
pendidikan dan pembangunan negara kebanyakan pemikir
Islam sependapat. 

Tetapi mengapa di banyak negara Islam proses
demokratisasi ini tidak ada atau tidak terlihat dalam
realita? Prof. Mas`ud berusaha menjawab pertanyaan
itu, meski ia lebih berbicara tentang Pakistan namun
tesisnya mungkin juga berlaku untuk negara lain.
Masalahnya, Eropa mencapai demokrasi melalui proses
sosial dan masyarakat dimana proses tersebut pun
berjalan lama. Tetapi di Pakistan misalnya, sejak
negara itu merdeka terdapat banyak tuan tanah yang
kaya raya, kepentingan barat, kalangan yang memiliki
privilese yang berperan dominan. Kekuatan-kekuatan ini
berada di jajaran militer, birokrasi dan kehakiman.
Mereka inilah yang mendukung partai-partai politik
dalam pemilihan umum. Selama ini proses politik di
Pakistan tidak diberi kesempatan untuk berkembang
tanpa gangguan, antara lain karena pihak militer
selalu turut campur, menghambat atau menggagalkan
proses perkembangan yang telah dimulai. Prof. Mas`ud
mengharapkan agar pada akhirnya proses politik itu
dapat menyingkirkan pengaruh kelompok penguasa itu.
Namun selama ini proses itu belum selesai dan tidak
hanya satu pihak saja yang dapat disalahkan. Bukan
hanya korupsi dan militer di satu pihak namun juga
terutama lapisan elite yang punya privilese dan
tentunya partai-partai politik yang mewakili lapisan
elite ini bertanggung jawab terhadap perkembangan itu.


Umpamanya saja, kalau sebuah partai politik menjadi
terlalu kuat atau korup, maka pihak lainnya berusaha
memprotesnya. Kemudian militer turun tangan untuk
memulihkan keamanan, diberlakukan keadaan darurat yang
menghambat proses politik. Atas pertanyaan, apakah
mungkin kelompok Islamis di dunia Islam mengambil alih
peran kaum komunis di masa lalu di barat? 

Prof. Mas`ud menegaskan, kelompok Islamis memang
mengikutsertakan rakyat kecil dalam proses politik
tetapi ideologinya tidak demokratis. Menurut kaum
Islamis, kedaulatan adalah milik Allah karena itu
mereka menolak kedaulatan rakyat. Namun mereka juga
tidak menuntut sistem negara, di mana kekuasaan
dipegang oleh kaum agama. Kaum Islamis menentang hak
untuk menentukan nasib sendiri dan menolak kekuasaan
manusia. Karena itu revolusi yang diharapkan bagi
demokrasi, tidak mungkin datang dari kalangan Islamis,
demikian menurut Prof. Mas`ud. 

Menurut Mas`ud memang ada kesenjangan antara dunia
barat dan dunia Islam, namun kesenjangan itu tidak
terlalu besar seperti yang sering digambarkan. Di
negara-negara Islam, keinginan untuk menikmati gaya
hidup barat dan pendidikan barat di kalangan kaum
remaja, tidak banyak berbeda dengan ambisi kaum muda
di AS atau di Eropa. Masalahnya tetap, perkembangan
ekonomi yang lamban di kebanyakan negara Muslim dan
perkembangan sosial yang lebih lamban lagi. Selama
tidak ada kemajuan di bidang ekonomi dan sosial,
selama itu tetap ada kesenjangan, dan selama itu juga
ada sikap saling curiga-mencurigai.
 


__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke