Surat Kembang Kemuning:

"SUATU HARI DI SINGAPURA [3]

Di hadapan gelas bir dan teh di meja caf� yang berulang-ulang kami pesan menemani 
percakapan, Yenny kutanyai tentang keadaan TKI sekarang. Tak ada niat kami untuk 
segera memasuki mobil hadiah ulangtahun putera Yenny yang seorang ahli komputer dan 
sekarang bekerja di Hong Kong,  untuk segera ke apartemennya. Ini adalah kebiasaan 
lama kami. Begitu bertemu, kami langsung saja  terlibat dalam perbincangan tentang 
berbagai soal dan kami pun tenggelam dalam perbincangan tak berlubuk, lupa waktu dan 
kiri-kanan. Terkadang dalam perdebatan ini kami "berkelahi". Saat tiba di titik 
"perkelahian" masing-masing mencoba menenangkan diri mencari titik temu dan melihat 
masalahnya dengan tenang. "Perkelahian" menyadarkan kami sebagai sesuatu yang sia-sia. 
Tak ada keseganan diri kami  untuk meminta maaf dan kami tidak pun tidak pernah saling 
ngotot, merasa diri serba benar. Masing-masing merasa adalah pintu terbuka bagi 
kekeliruan dan menyediakan tempat bagi kebenaran bagi yang lain. Kalau masing-masing 
masih juga bertahan pada pendapat karena alasan-alasan yang dikemukakan tidak bisa 
meyakinkan, kami menyisihkan ke samping soal yang menimbulkan "perkelahian" itu untuk 
dijadikan bahan renungan dan studi lebih lanjut. Yenny adalah seorang perempuan yang 
berjiwa besar. Ia sanggup memaafkan tindakan yang paling melukai dirinya. Dalam soal 
ini, ia bahkan menilaiku sebagai "pendendam" karena tidak mau memaafkan diri sendiri 
dan keras pada diri sendiri. 

"Ini adalah ujud lain dari dendam, Kus", ujarnya mengkritikku langsung.

Tanpa mencari pembenaran atas sikap demikian, aku melihat kepada latar belakang budaya 
Dayakku, yang mirip-mirip dengan budaya "harakiri Jepang" atau semangat orang-orang 
Amerindian. Karena itu aku selalu merasa dekat dengan orang-orang Amerindian.Manusia 
Dayak adalah manusia panarung [warrior atau guerrier]. Kepada anak-anakku pun semangat 
ini kuterapkan. Barangkali sikap begini pun kuperoleh dari lamanya aku dalam dunia 
militer.Barangkali!? Tapi ini sama sekali bukan maksudku mencari permaafan diri.Aku 
hanya mencoba memahami diri sendiri, menanyai diri, siapa gerangan diriku seperti yang 
selalu diingatkan oleh strateg Tiongkok Kuno, Sun Tzu. Tiongkok lagi! Ya memang, 
sebagian diriku adalah budaya Tionghoa, bahkan lebih Tionghoa dari Yenny.Yenny 
mengetahuinya.

- "Kau tentu sudah membaca, Yen, bahwa sementara organisasi buruh migran Indonesia 
yang memprotes  diadilinya dan ancaman penghukuman mati terhadap sejumlah TKI di 
Singapura. Dari protes-protes ini terkesan bahwa pemerintah Singapura dan orang-orang 
Singapura seakan-akan bertindak sewenang-wenang. Bagaimana sih duduk soal sebenarnya?"

+ "Pertama-tama perlu kutandaskan bahwa walaupun tidak kau perlukan, bahwa aku tidak 
lain dari seorang Indonesia juga adanya. Kertas Singapuraku tidak menghapuskan 
keindonesian dari jiwaku. Au adalah anak Indonesia dan aku bangga dengan 
keindonesiaanku. Dengan sumbangan sekecil apapun, keluargaku, ayah kandungku ikut 
menyabung nyawa demi lahirnya Republik Indonesia. Aku dibesarkan dalam lingkungan 
republiken. Kertas tidak menunjukkan identitas budaya, Kus, seperti halnya kau 
sekarang yang kehilangan kewarganegaraan oleh tindak Soeharto.   Kugarisbawahi hal ini 
agar kau jelas di mana aku berdiri. Tentu saja seperti kau, akupun selalu sepakat 
bahwa kemanusiaan dan usaha memanusiawikan manusia tidak mengenal perbatasan etnik dan 
bangsa, yang terkadang sangat cupet dan menjadi bencana bagi kemanusiaan. Kemudian, 
kau tentu sudah baca novelku "Kotak Biru" yang antara lain mengangkat soal TKI. Dari 
novel ini, kau akan bisa menemukan jawaban atas pertanyaanmu. Lalu jika kau 
menggunakan istilah "diadili" maka dalam pikiranmu tergambar bahwa Singapura adalah 
negara hukum. Artinya Singapura tidak menghukum orang seenaknya tanpa proses hukum 
seperti halnya pemerintah Indonesia. Aku nggak tahu apakah ini warisan positif Inggris 
tanpa usah membenarkan kolonialisme. Sebagai pakar hukum, sejarah dan sosiolog kau 
lebih  berwenang menjawabnya. Terhadap semua kasus, kalau pihak tertuduh tidak mampu 
menyediakan pembela, pemerintah Singapura akan menyediakan pembela.Barangkali LSM-LSM 
Indonesia dan pemerintah Indonesia, perlu memeriksa diri sejauh mana mereka 
menyediakan pembela bagi tertuduh,  sejauh mana Pemerintah RI membela para 
warganegaranya. Bagi Singapura sepanjang pengetahuan dan pengenalanku, berusaha keras 
untuk tidak menjatuhkan hukuman tanpa proses hukum. Dalam kasus TKI dan majikannya pun 
demikian. Kalau yang TKI ternyata melakukan kesalahan, apakah salah pengadilan 
Singapura menjatuhkan hukuman sesuai hukum Singapura? Apakah karena TKI lalu mereka 
dibebaskan dari ketentuan hukum Singapura di mana mereka bekerja? Jadi aku kira, 
protes dan protes selayaknya jangan dilakukan di luar nalar dan nilai 
keadilan.Pemberitaan pers pun perlu adil dan obyektif".

- "Maksudmu?"

+ "Jelas, dong! Bukan karena mereka TKI lalu memberikan hak kepada mereka untuk bebas 
hukum. Jangankan TKI, para menteri negeri kecil ini pun tidak bebas hukum, khoq. 
Tentang hal ini aku sudah pernah membeberkan kepadamu serangkaian contoh dan betapa 
para pejabat negeri ini selain diadili juga dibelejedi di depan umum oleh koran-koran 
Singapura. Dan kau sudah tahu aku pribadi pernah mengalami langsung masalah hukum 
Singapura ini ketika membuka usaha restoran dengan menggunakan sanak-keluarga sendiri 
dari Indonesia. Apa yang terjadi dengan sebuah negeri jika hukum tidak dihormati? 
Benar seperti kata inspektur Derrick, tokoh filem detektif Jerman bahwa legalitas dan 
keadilan sering tidak sejalan, tapi diberlakukannya hukum kukira merupakan hal yang 
sangat esensil. Sebagai putri Indonesia, turunan dari pejuang kemerdekaan, aku merasa 
sungguh malu oleh kekacauan hukum di negeri kita sambil mengatakan diri sebagai negara 
hukum dan sebuah republik.Sebagai anak pejuang kemerdekaan aku merasa sangat dihina 
oleh pengabaian hukum di tanahair kita". 


-"Awas, kau sudah mulai emosional, Yen. Kita tidak bisa menangkap obyektivitas dengan 
menggunakan emosilitas", ujarku memperingati Yenny. Yenny nampak tersentak oleh 
peringatanku. Ia menghela nafas sejenak kemudian tersenyum, senyum yang juga sangat 
kukenal.

+ "Kau mau aku siramkan teh ke mukamu?"

- "Jika demikian keindonesiaanmu membuat kau buta". Kami berdua tertawa.

+"Eh, apa kau bilang?"

-"Aku bertanya apakah keindonesiaan itu harga mati? Kalau konsep Indonesia 
terus-menerus dikhianati apakah kita tidak perlu menghadapi kenyataan sebagaimana 
adanya? Indonesia sedang dikhianti oleh elitenya bukan oleh orang kecil seperti kita. 
Jadi untuk apa kau siram kopi panas ke mukaku?".

+"Kalau kakimu kuinjak?"

-"Boleh saja. Tapi juga harus beralasan, dong! Kembali ke soal TKI. Bagaimana sih 
ceritanya tentang berita TKI yang meninggal karena  jatuh dari apartemen dan sering 
dijadikan berita bernada menjatuhkan Singapura bersama dengan kematian TKI itu?"

[Bersambung....]



Lampiran:

----- Original Message ----- 
From: Migrant Care 
To: [EMAIL PROTECTED] 
Cc:[EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] 
Sent: Monday, August 30, 2004 8:46 AM
Subject: [buruh-migran] S'pore wants 'better schooled' foreign maids; to raise age 
limit


S'pore wants 'better schooled' foreign maids; to raise age 
limit

SINGAPORE (AP): Singapore will raise the minimum age of 
foreign domestic workers because it wants maids in the 
city-state to be "better schooled," local media reported 
on Monday.

About 140,000 maids - mostly from poorer Asian neighbors such as Indonesia and the 
Philippines - work in the wealthy Southeast Asian nation of 4 million people.

The Straits Times newspaper, which has close government ties, said the minimum age 
would likely be raised from 18 to 25.

"With slightly older maids coming in, better schooled ... the standards will rise," 
manpower minister Ng Eng Hen was 
quoted as saying.

The government is expecting more citizens to employ foreign domestic helpers after 
Prime Minister Lee Hsien 
Loong announced a reduction in a maid levy for parents with young children to help 
boost the country's falling birth rate.

The report did not specifically address maid abuse by local employers.

But Ng noted that many problems faced by maids and their employers stemmed from the 
fact that domestic workers were too young and unaccustomed to city life.

"Obviously, this won't solve all problems but it will go some way, a significant way, 
to preventing problems," he was quoted as saying.

Singapore's courts frequently hear cases of maid abuse.

Since 1999, at least 117 maids have died after falling from high-rise apartments, 
based on figures provided by police and the Manpower Ministry.

Many were killed while cleaning windows or hanging laundry, but a large number are 
also believed to have committed suicide - prompting civic groups to highlight the fact 
that many maids are ill-treated and underpaid by their employers. (**)

Migrant CARE,Perhimpunan Indonesia untuk Buruh Migran Berdaulat
Jl. Cipinang Pulo Maja No. 41 F
Kel. Cipinang Besar Utara Jatinegara
Jakarta Timur, Telp/Fax: 62-21-85903950
E-mail: [EMAIL PROTECTED]


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
$9.95 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke