Surat Kembang Kemuning: 

SUATU HARI DI SINGAPURA [4]


Bagaimana sih ceritanya tentang berita TKI yang meninggal karena  jatuh dari apartemen 
dan sering dijadikan berita bernada menjatuhkan Singapura bersama dengan kematian TKI 
itu?"

-"Baik, Sayangku, aku akan menjawabmu. Tapi tadi dari rumah, aku sudah menyiapkan 
sesuatu untuk kau. Aku yakin kau akan tertarik". Yenny mengambil tas tangannya dan 
mengeluarkan lembaran-lembaran kertas. Kami masih saja belum berkeinginan meninggalkan 
caf�.

+"Lagi-lagi kertas", ujarku mengganggunya.

-"Hush, diam kau!"

+ "Sekalipun kertas, tapi aku pasti kau akan menerimanya sebagai hadiah terbaik dari 
aku", jawabnya tak acuh dan menyodorkan helai-helai kertas itu kepadaku. 
Lembaran-lembaran kertas itu segera kubaca di bawah amatan pandangan Yenny.

-"Oo terimakasih, Cantikku". 

+"Hemat-hematlah kau dengan rayuan gombalmu.Nenek-nenek pun kau rayu. Sungguh tak tahu 
malu". Kata-kata yang tak kugubris. Kami bicara selepas bebas kami.

+"Gimana?"

-"Dokumen yang sangat menarik, Sayang. Sebagai tanda terimakasih rasanya aku ingin 
mengecupmu".

+"Di depan umum begini? Nanti kau akan ditangkap sebagai pelaku zinah dan aku pasti 
tak akan membelamu juga tak akan memanggil Patrick si pengacara  untuk membela seorang 
bandit macam kau". Yenny mengoceh seenak hatinya.

-"Kau sudah terkena pengaruh aliran pikiran modern agaknya sekarang".

+"Sekian tahun tak bertemu, kau masih saja yang dulu. Kekurangajaranmu tak juga 
berkurang agaknya. Kau masih saja bandit yang mengerikan". Aku tak mengacuhkan 
kata-kata Yenny karena perhatianku tercurah pada dokumen yang diberikannya. Inilah 
dokumen yang Yenny berikan itu.Dokumen  tentang "Babu Anak-anak Hindia".Dokumen langka 
dan sangat berharga dilihat dari segi sejarah dan sosiologi serta antropologi 
mentalitas.



BABU ANAK-ANAK HINDIA 

Anak-anak Hindia tidak terpisahkan dari babu. Pengasuh pribumi itu pelindung jiwa-raga 
si anak,seakan-akan malaikat pelindung saja. Sepanjang hari  babu menggendong anak 
asuhannya dengan selendang, yaitu sehelai kain lebar yang diikat ke pundak dan  
membentuk semacam tempat tidur ayun bagi si anak.
 
 Babu bahkan tidak mengizinkan ibu si anak mengambil anak itu daripadanya. Dialah yang 
menyuapi,memandikan, mendandani, mengajak berjalan-jalan, dan selalu siap mendekap si 
anak supaya merasa aman.


Ia mengajak anak asuhannya bermain bukan karena  kewajiban, tetapi karena ia memang 
menikmatinya. Di  dalam hatinya ia masih seorang anak. Kadang-kadang  mereka 
bertengkar. Si anak membanting-banting kaki  dan si babu memarahi, "Terlalu!"
 
Malam hari ia mengeloni si kecil sambil  meninabobokannya dengan melodi berkunci minor 
yang  monoton. Setelah anak asuhannya terlelap, ia  meng gelar tikar di depan ranjang 
dan rebah menjaga  majikan kecilnya dengan setia.
 
 Diundang ke istana  Gaji orang Belanda di Jawa lebih tinggi daripada di  negerinya. 
Soalnya, siapa yang mau dikirim jauh-jauh  dan bekerja dalam udara panas yang 
melelahkan kalau  gajinya sama saja? 
 
Orang yang gajinya sedang-sedang saja di Jawa bisa  memiliki rumah yang besar, punya 
kereta, makan
dengan leluasa, dan pembantu enam tujuh orang.  Bahkan tidak jarang sampai l0 orang.  
Tak lama setelah kedatangan saya ke Batavia, saya  diundang ke pesta dansa di istana. 
Saat itu saya  tinggal di rumah teman saya di Salemba. Kami pergi  dengan kereta yang 
lewat di kegelapan malam, di  bawah naungan pohon-pohon beringin. Di bawah pohon  
kadang-kadang terlihat kelap-kelip cahaya pelita  tukang buah. Sekali-sekali sebagian 
wajahnya yang  kena cahaya lampu terlihat, begitu pula keranjang  buah-buahannya.
 
Sekali kami melewati beberapa penduduk pribumi yang  sedang berjaga malam sambil 
mengelilingi api unggun.  "Siapa itu?" tanya salah seorang di antara mereka  dengan 
suara parau. 


Selama sejam kami serasa berkendaraan dalam hutan  yang sunyi dan jauh dari mana-mana. 
Namun,  sekonyong-konyong saja tampak cahaya terang  benderang di suatu belokan. 
Istana Gubernur  Jenderal. Di sekitar sumber cahaya itu berserak  lentera-lentera, 
lampu-lampu minyak, dan lampu-lampu  kereta.
 
Saya pun mendaki tangga putih menuju ke serambi yang  berpilar-pilar putih dan 
bermandikan cahaya. Tiba-tiba saya merasa bahwa istana-istana dalam  dongeng mestinya 
seperti ini.
 
Kemudian musik dimainkan dan polonaise dimulai. Intan dan emas gemerlapan, bersaingan 
dengan kilatan  bahu yang terbuka dan lambaian rok yang menyapu  lantai pualam 
berwarna terang .... "Rasanya, kita  mesti pindah ke tempat ini," kata pasangan saya.
 
Sejak itu saya sering diundang ke pesta dan  perjamuan. Ada yang menyenangkan, ada 
pula yang  membosankan.
  
Naik pangkat lewat KKN  Walaupun membosankan, seorang pegawai pemerintah  tidak berani 
tidak hadir di pesta atasannya. Absen  ke perjamuan bisa mengalangi ia naik pangkat. 
Istri  atasannya bisa mempengaruhi nasibnya. Kalau istri  bos tidak berkenan pada 
istri anak buah suaminya,  jangan harap anak buah itu bisa meniti jenjang  karier.
 
Pegawai pemerintah yang ingin naik pangkat memang  tidak bisa cuma mengandalkan 
kepandaian dan  prestasinya, tapi juga latar belakang keluarganya  dan "keterampilan 
khusus". Umpamanya saja, kalau  bosnya doyan makan enak, mungkin dia perlu 
mengantarkan pate-de-foie-gras (makanan mahal dari  Prancis yang dibuat dari hati 
unggas) dan anggur  burgundy. Kalau bosnya bangga betul pada putrinya,  maka 
berbahagialah dia yang pandai berdansa dan  rajin meminta anak bos berdansa dengannya 
di  pesta-pesta. Kalau bos keranjingan main kartu,  beruntunglah dia yang pandai dan 
tahan meladeni bos  main kartu dalam pertemuan-pertemuan di rumah bos.
 
Semua hari besar yang berkenaan dengan bos sebaiknya  diingat baik-baik. Kalau perlu, 
catatannya ditempel  di kaca rias supaya jangan luput dari ingatan. Pada  hari itu, 
begitu lonceng berbunyi tujuh kali di sore  hari, buru-buru sajalah berangkat ke rumah 
bos.
 
Bagi pendatang baru, birokrasi seperti itu tentu  saja sangat menyebalkan, tapi 
lama-kelamaan mereka  jadi terbiasa. Namun, setinggi apa pun pangkat  pejabat 
pemerintah di Jawa, ia mesti pandai menahan  diri, sebab kalau ia kembali ke den Haag, 
ia cuma  akan menjadi sekadar Meneer Jansen atau Meneer Smit, bukan residen lagi. Lagi 
pula teman sepergaulannya  di Jawa bukan cuma pejabat.
 
Belanda yang sudah lama di Jawa, sikapnya lebih  luwes daripada Belanda "baru". 
Bungalow di Batavia  yang terbuka, yang dinaungi pohon-pohon tinggi,  rupanya 
mencairkan kekakuan yang terbentuk dalam rumah-rumah keluarga yang seperti benteng 
abad XVII  di sepanjang Heerengracht di Amsterdam. 
 
Hidup di luar rumah  Di Jawa, orang Barat dan orang Timur sudah hidup  berdampingan 
selama tiga abad. Yang satu bisa  berbicara dalam bahasa yang lain. Mereka saling  
tergantung dan tidak saling membenci. Namun, orang  Belanda tidak memahami orang Jawa 
dan begitu pula  sebaliknya.
 
Saya mengaku bahwa saya tidak mengenal jiwa orang  Jawa, walaupun saya memperhatikan 
mereka. Yang saya  tahu cuma keadaan lahiriahnya saja.
 
Kebanyakan mereka hidup di luar rumah: mandi di  kali, makan di tepi jalan, bahkan 
tidur di bawah pohon atau emper rumah, di bawah cahaya bulan. Hal  ini tentu ganjil 
sekali bagi orang-orang dari Utara  yang terbiasa memenjarakan dirinya di balik  
kungkungan dinding dan atap. Namun, kalau melihat  mereka, kita mesti mengakui bahwa 
cara hidup mereka  itu baik dan cocok buat mereka.
 
Di Tanahabang, saya sering melihat mereka mandi di  kali pagi-pagi sekali. Kaum pria 
membuka pakaian  lalu mencebur dan menyelam di kali. Ketika mereka  naik, tubuhnya 
yang coklat tampak seperti  patung-patung perunggu. Kaum wanita turun ke kali  dengan 
cara lebih tenang. Mereka memakai kain  basahan. Ibu-ibu muda membimbing anak-anak 
mereka ke  tempat yang dangkal.

Anak laki-laki dan perempuan berenang sambil main  ciprat-cipratan dengan berisik. 
Sementara itu gadis-gadis remaja bercanda di tempat yang teraling  tanaman air sambil 
saling mengguyur dengan gayung  dari daun kelapa. Rambutnya yang hitam panjang itu  
berkilat-kilat dan kain basahannya rapat menempel ke  tubuh.
 
Kadang-kadang lewat rakit. Penumpangnya sedang  sarapan di bawah atap. Penumpang rakit 
saling  menyapa dengan orang-orang yang mandi. Kadang-kadang  mereka ikut bercanda 
juga.
 
Selesai mandi para wanita beriring-iringan naik dan  pergi ke tukang bunga. 
Orang-orang di Jawa senang  bunga: melati putih, mawar merah, cempaka kuning, pacar 
air.
 
Walaupun tanaman bunga mudah tumbuh di sini, tapi di  Batavia saya belum pernah 
melihat mereka bertanam  bunga dekat gubuknya. Paling-paling kembang sepatu di pagar. 
Mereka juga tidak terbiasa menaruh bunga  dalam jembangan. Bunga adalah untuk dipakai 
di  rambut mereka yang panjang, yang dikeramas dengan  abu jerami padi dan dibilas 
dengan air bunga sebelum  diberi minyak akar wangi.

Bunga juga ditaburkan di antara pakaian mereka. Motif bunga-bungaan menghiasi pakaian 
mereka dan  ragam hias mereka. Anak-anak meronce bunga tanjung  untuk dipakai sebagai 
kalung. Bunga juga dipakai untuk sesajen.
 
Makannya sepersepuluh orang Belanda  Di Tanahabang dan Koningsplein, di bagian yang  
dihuni oleh pribumi, ada warung-warung penjual  makanan. Tapi lebih banyak lagi 
warung-warung yang  lebih kecil dan portable. Ada yang mangkal di  pinggir kali, 
sepanjang kanal, di pojok-pojok jalan,  di stasiun, di pangkalan sado.
 
Mereka datang memikul warung berjalannya itu  pagi-pagi sekali. Lalu dagangannya yang 
aneka warna dan piring-gelas-botolnya diatur supaya menarik.  Mereka menurunkan 
anglonya dan mulai beroperasi.
 
Ada yang menjual nasi dengan ikan asin dan sambel, kue hijau yang diberi parutan 
kelapa berwarna utih, pelbagai macam kue manis berwana-warni mencolok yang disajikan 
di daun pisang segar yang hijau.
 
Penduduk Jawa sedikit sekali makannya dan tidak  mewah. Sebungkus nasi dengan ikan 
asin dan sambal
cukup untuk sehari. Orang Eropa akan menginsafi  betapa rakusnya mereka kalau melihat 
orang Jawa makan. Bayangkan, cuma sepersepuluh dari yang kita  lahap. Padahal mereka 
mesti berjalan kaki sepanjang  hari dan memikul beban yang berat.
 
Tampaknya, mereka penggemar makanan manis. Sambil  duduk di dingklik, mereka makan 
dengan nikmat kue-kue berwarna kuning, putih, merah jambu, dan  minum sirup. Anak-anak 
juga boleh makan.
 
Anak-anak tidak dipercaya untuk makan sendiri, tapi  disuapi. Anak yang masih kecil 
sekali direbahkan di  paha, lalu mulutnya dijejali dengan nasi yang  dihaluskan 
bersama pisang. Mau tidak mau, menangis  atau tidak, makanan itu mesti ditelan. Kalau 
si ibu  merasa anaknya sudah cukup makan, barulah penjejalan  dihentikan.

Lalu si anak boleh bangkit. Ibunya menyeka air  matanya dan mendekapnya. Si anak pun 
digoyang-goyang  sampai tertidur.
 
Ayam aduan harus dipijat  Sesudah sarapan, penduduk pribumi mulai bekerja. Di  
kota-kota mereka tidak bisa bertani. Sementara itu  pertukangan dan perdagangan 
kebanyakan berada di  tangan orang-orang Tionghoa. Jadi, selain bekerja  seperti yang 
tadi diceritakan, banyak juga di antara  mereka yang menjadi pembantu rumah tangga di  
rumah-rumah orang Eropa.
  
Menjelang pukul empat, mereka kembali mandi di kali. Lalu mereka merokok atau 
mengunyah sirih  sambil mengobrol. Saat musim kemarau mereka bermain  layang-layang di 
lapangan-lapangan dan taman-taman  di Batavia. Layangan mereka ada yang bersayap  
seperti burung, ada yang seperti naga, ada juga yang  bisa berbunyi. Ada yang disebut 
"sawangan",  "palembang", "kuncir", dsb.
 
Ada juga layangan aduan. Layangan berbentuk  trapesium dari bambu dan kertas tipis itu 
digambari
tokoh-tokoh wayang. Benangnya diberi gelasan, yaitu  tumbukan beling yang dicampur 
dengan perekat.
 
Mereka juga mengadu ayam atau jangkrik, tapi secara  diam-diam karena dilarang oleh 
pemerintah. Dalam  semua permainan itu, betapa pun juga serunya, mereka  tidak 
berteriak-teriak seperti orang Barat yang  "barbar". Mereka menjaga perasaannya dan 
menekan  rasa irinya terhadap lawan.
 
Ayam aduan dipelihara dengan seksama. Hewan itu  diberi nasi, air, daging cincang, dan 
jamu!
Takarannya sangat cermat. Secara berkala binatang  itu dimandikan, dikeramasi, 
dijemur, dipijat leher,  sayap, dan pahanya supaya kuat dan luwes.
  
Penduduk pribumi juga senang menonton wayang: wayang  orang, wayang kulit. Musik 
pengiringnya gamelan dan  ceritanya diambil dari Mahabharata dan Ramayana.
 
Masih banyak buaya  Saya mendengar pelbagai dongeng: dongeng Nyai Loro  Kidul, dongeng 
Kyai Belorong, dan macam-macam lagi.  Namun, rasanya buaya-buaya yang hidup di 
rawa-rawa  muara Kali Betawi lebih ditakuti daripada Kyai  Belorong. Kadang-kadang 
reptil itu kelihatan  berjemur dengan mulut mengangga. Mereka menunggu  bangkai 
binatang yang dihanyutkan air. Ada kalanya  mereka juga menyambar manusia yang sedang 
mandi.  Karena dianggap berbahaya, beberapa tahun sebelumnya pemerintah menjanjikan 
hadiah bagi orang yang bisa  menangkap buaya. Lalu berdatanganlah penduduk yang  
memikul bangkai-bangkai anak buaya dengan bambu.  Walaupun bukan buaya dewasa, 
pembawanya mendapat  hadiah juga.

Kemudian baru ketahuan bahwa penduduk bukan  menangkap buaya, melainkan mengambil 
telurnya untuk ditetaskan. Setelah dipelihara beberapa lama, anak  buaya ini dibawa 
kepada sekaut (polisi). Sejak itu  hadiah dihentikan dan buaya-buaya dibiarkan  
berkembang biak di pantai utara Pulau Jawa. 
 
Sesekali ada juga pemburu yang sok mau berburu buaya. Mereka mengintai berlama-lama di 
rawa-rawa.Yang mereka peroleh bukan binatang buruan, melainkan demam. Demamnya 
berbahaya lagi!Jawa bagi saya, seperti bagi banyak orang, memang harus selalu 
merupakan negeri dalam mimpi, Negeri Dongeng, dan rumah yang bahagia bagi penduduknya. 
 (HI)


[Bersambung....]



[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke