Terimakasih.
Semoga anggota milis yang baca pun tersentuh.
Iman memang amal nyatanya, bukan 'njeplak-koar2'nya.
Nama Tuhan tak cukup disebut, yang penting sadari hadirNya dimana-
mana dan apa respon kita bukan ?
Disclosure/'tinarbuka' imani mustahil didapat dengan
memecahbelah dan musuhi saudara dan sesama (Others/Liyan).
Ajaran leluhur kita begitu, entah kalau diimpor dari neraka.
Terimakasih lagi. Salam


--- In [EMAIL PROTECTED], "Listy" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> 
> 
> -----Original Message-----
> 
> 
> PELAJARAN BERHARGA
> 
> Siang itu tadi temanku tiba-tiba nelpon. Makan siang yuk, ajaknya. 
Oke, jawabku. So she picked me up at the lobby of Jakarta Stock 
Exchange building.
> 
> Selepas SCBD, kami masih belum ada ide mau makan dimana. Ide ke 
soto Pak Sadi segera terpatahkan begitu melihat bahwa yang parkir 
sudah sampai sebrang-sebrang.
> 
> Akhirnya kami memutuskan makan gado-gado di Kertanegara. Bisa makan 
di mobil soalnya. Sampai di sana masih sepi. Baru ada beberapa mobil. 
Kami masih bisa milih parkir yang enak. Mungkin karena masih pada 
jumatan. Begitu parkir, seperti biasa, joki gado-gado sudah 
menanyakan mau makan apa, minum apa.
> 
> Kami pesan dua porsi gado-gado + teh botol. Sambil menunggu 
pesanan, kami pun ngobrol. So, ketika tiba2 ada seorang pemuda lusuh 
nongol di jendela mobil kami, kami agak kaget. "Semir om?" tanyanya. 
Aku lirik sepatuku. Ugh, kapan ya terakhir aku nyemir sepatuku 
sendiri? Aku sendiri lupa. Saking lamanya. Maklum, aku kan karyawan 
sok sibuk...
> 
> Tanpa sadar tangan ku membuka sepatu dan memberikannya pada dia. 
Dia menerimanya lalu membawanya ke emperan sebuah rumah. Tempat yang 
terlihat dari tempat kami parkir. Tempat yang cukup teduh. Mungkin 
supaya nyemirnya nyaman.
> 
> Pesanan kami pun datang. Kami makan sambil ngobrol. Sambil 
memperhatikan pemuda tadi nyemir sepatu ku. Pembicaraan pun bergeser 
kepemuda itu. Umur sekitar 20-an. Terlalu tua untuk jadi penyemir 
sepatu. Biasanya pemuda umur segitu kalo tidak jadi tukang parkir or 
jadi kernet, ya jadipak ogah. Pandangan matanya kosong. Absent 
minded. Seperti orang sedih. Seperti ada yang dipikirkan. Tangannya 
seperti menyemir secara otomatis. Kadang2 matanya melayang ke arah 
mobil-mobil yang hendak parkir (sudah mulai ramai).
> 
> Lalu pandangannya kembali kosong. Perbincangan kami mulai ngelantur 
kemana-mana. Tentang kira2 umur dia berapa, pagi tadi dia mandi apa 
enggak, kenapa dia jadi penyemir dll. Kami masih makan saat dia 
selesai menyemir. Dia menyerahkan sepatunya padaku. Belum lagi dia 
kubayar, dia bergerak menjauh, menuju mobil-mobil yang parkir sesudah 
kami.
> 
> Mata kami lekat padanya. Kami melihatnya mendekati sebuah mobil. 
Menawarkan jasa. Ditolak. Nyengir. Kelihatannya dia memendam 
kesedihan. Pergi ke mobil satunya. Ditolak lagi. Melangkah lagi 
dengan gontai ke mobil lainnya. Menawarkan lagi. Ditolak lagi. Dan 
setiap kali dia ditolak, sepertinya kami juga merasakan penolakan 
itu. Sepertinya sekarang kami jadi ikut menyelami apa yang dia 
rasakan.
> 
> Tiba-tiba kami tersadar. Konyol ah. Who said life would be fair 
anyway. Kenapa jadi kita yang mengharapkan bahwa semua orang harus 
menyemir? Hihihi...
> 
> Perbincangan pun bergeser ke topik lain. Di kejauhan aku masih bisa 
melihat pemuda tadi, masih menenteng kotak semirnya di satu tangan, 
mendapatkan penolakan dari satu mobil ke mobil lainnya. Bahkan, 
selain penolakan, di beberapa mobil, dia juga mendapat pandangan 
curiga.
> 
> Akhirnya dia kembali ke bawah pohon. Duduk di atas kotak semirnya. 
Tertunduk lesu...
> 
> Kami pun selesai makan. Ah, iya. Penyemir tadi belum aku bayar. 
Kulambai dia. Kutarik 2 buah lembaran ribuan dari kantong kemejaku. 
Uang sisa parkir. Lalu kuberikan kepadanya. Soalnya setahu ku jasa 
nyemir biasanya 2 ribu rupiah
> 
> Dia berkata kalem "Kebanyakan om. Seribu aja".
> 
> BOOM. Jawaban itu tiba-tiba serasa petir di hatiku.
> It-just-does-not-compute-with-my-logic!
> 
> Bayangkan, orang seperti dia masih berani menolak uang yang bukan 
hak-nya.
> 
> Aku masih terbengong-bengong waktu nerima uang seribu rupiah yang 
dia kembalikan. Se-ri-bu Ru-pi-ah. Bisa buat apa sih sekarang? But, 
dia merasa cukup dibayar segitu.
> 
> Pikiranku tiba-tiba melayang. Tiba-tiba aku merasa ngeri. Betapa 
aku masih sedemikian kerdil. Betapa aku masih suka merasa kurang 
dengan gaji ku. Padahal keadaanku sudah -sangat jauh- lebih baik dari 
dia.
> 
> Tuhan sudah sedemikian baik bagiku, tapi perilaku-ku belum seberapa 
dibandingkan dengan pemuda itu, yang dalam kekurangannya, masih mau 
memberi, ke aku, yang sudah berkelebihan.
> 
> Siang ini aku merasa mendapat pelajaran berharga.
> Siang ini aku seperti diingatkan.
> Bahwa kejujuran itu langka.
> Bahwa kepuasan itu adanya di rasa syukur.



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke