Dari milist tetangga, semoga bermanfaat.....Daripada ngobrolin hal2 yang
gak ada ujung pangkalnya ...;o)


  > PELAJARAN BERHARGA
  >
  > Siang itu tadi temanku tiba-tiba nelpon. Makan siang yuk, ajaknya.
  > Oke, jawabku. So she picked me up at the lobby of Jakarta Stock
  > Exchange building.
  >
  > Selepas SCBD, kami masih belum ada ide mau makan dimana. Ide ke soto
  > Pak Sadi segera terpatahkan begitu melihat bahwa yang parkir sudah
  > sampai sebrang-sebrang.
  >
  > Akhirnya kami memutuskan makan gado-gado di Kertanegara. Bisa makan di
  > mobil soalnya. Sampai di sana masih sepi. Baru ada beberapa mobil.
  > Kami
  > masih bisa milih parkir yang enak. Mungkin karena masih pada jumatan.
  > Begitu parkir, seperti biasa, joki gado-gado sudah menanyakan mau
  > makan apa, minum apa.
  >
  > Kami pesan dua porsi gado-gado + teh botol.
  > Sambil menunggu pesanan, kami pun ngobrol. So, ketika tiba2 ada
  > seorang
  > pemuda lusuh nongol di jendela mobil kami, kami agak kaget.
  > "Semir om?" tanyanya. Aku lirik sepatuku. Ugh, kapan ya terakhir aku
  > nyemir sepatuku sendiri?
  > Aku sendiri lupa. Saking lamanya.
  > Maklum, aku kan karyawan sok sibuk...
  > Tanpa sadar tangan ku membuka sepatu dan memberikannya pada dia.
  > Dia menerimanya lalu membawanya ke emperan sebuah rumah.
  > Tempat yang terlihat dari tempat kami parkir. Tempat yang cukup teduh.
  > Mungkin supaya nyemirnya nyaman.
  >
  > Pesanan kami pun datang. Kami makan sambil ngobrol.
  > Sambil memperhatikan pemuda tadi nyemir sepatu ku.
  > Pembicaraan pun bergeser kepemuda itu.
  > Umur sekitar 20-an. Terlalu tua untuk jadi penyemir sepatu.
  > Biasanya pemuda umur segitu kalo tidak jadi tukang parkir or jadi
  > kernet,ya jadipak ogah.
  > Pandangan matanya kosong. Absent minded. Seperti orang sedih.
  > Seperti ada yang dipikirkan. Tangannya seperti menyemir secara
  > otomatis.
  > Kadang2 matanya melayang ke arah mobil-mobil yang hendak parkir (sudah
  > mulai ramai).
  >
  > Lalu pandangannya kembali kosong.
  > Perbincangan kami mulai ngelantur kemana-mana.
  > Tentang kira2 umur dia berapa, pagi tadi dia mandi apa enggak, kenapa
  > dia jadi penyemir dll.
  > Kami masih makan saat dia selesai menyemir. Dia menyerahkan sepatunya
  > padaku.
  > Belum lagi dia kubayar, dia bergerak menjauh, menuju mobil-mobil yang
  > parkir sesudah kami.
  > Mata kami lekat padanya. Kami melihatnya mendekati sebuah mobil.
  > Menawarkan jasa. Ditolak. Nyengir. Kelihatannya dia memendam
  > kesedihan.
  > Pergi ke mobil satunya. Ditolak lagi. Melangkah lagi dengan gontai ke
  > mobil lainnya.
  > Menawarkan lagi. Ditolak lagi.
  > Dan setiap kali dia ditolak, sepertinya kami juga merasakan penolakan
  > itu.
  > Sepertinya sekarang kami jadi ikut menyelami apa yang dia rasakan.
  > Tiba-tiba kami tersadar. Konyol ah. Who said life would be fair
  > anyway.
  > Kenapa jadi kita yang mengharapkan bahwa semua orang harus menyemir?
  > Hihihi...
  > Perbincangan pun bergeser ke topik lain. Di kejauhan aku masih bisa
  > melihat pemuda tadi, masih menenteng kotak semirnya di satu tangan,
  > mendapatkan penolakan dari satu mobil ke mobil lainnya. Bahkan, selain
  > penolakan,di beberapa mobil, dia juga mendapat pandangan curiga.
  >
  > Akhirnya dia kembali ke bawah pohon. Duduk di atas kotak semirnya.
  > Tertunduk lesu...
  > Kami pun selesai makan. Ah, iya. Penyemir tadi belum aku bayar.
  > Kulambai dia. Kutarik 2 buah lembaran ribuan dari kantong kemejaku.
  > Uang sisa parkir.
  > Lalu kuberikan kepadanya. Soalnya setahu ku jasa nyemir biasanya 2
  > ribu
  > rupiah
  >
  > Dia berkata kalem "Kebanyakan om. Seribu aja".
  >
  > BOOM. Jawaban itu tiba-tiba serasa petir di hatiku.
  > It-just-does-not-compute-with-my-logic!
  >
  > Bayangkan, orang seperti dia masih berani menolak uang yang bukan
  > hak-nya.
  >
  > Aku masih terbengong-bengong waktu nerima uang seribu rupiah yang dia
  > kembalikan. Se-ri-bu Ru-pi-ah.
  > Bisa buat apa sih sekarang? But, dia merasa cukup dibayar segitu.
  > Pikiranku tiba-tiba melayang. Tiba-tiba aku merasa ngeri.
  > Betapa aku masih sedemikian kerdil.
  > Betapa aku masih suka merasa kurang dengan gaji ku.
  > Padahal keadaanku sudah -sangat jauh- lebih baik dari dia.
  >
  > Tuhan sudah sedemikian baik bagiku, tapi perilaku-ku belum seberapa
  > dibandingkan dengan pemuda itu, yang dalam kekurangannya, masih mau
  > memberi, ke aku, yang sudah berkelebihan.
  >
  > Siang ini aku merasa mendapat pelajaran berharga.
  > Siang ini aku seperti diingatkan.
  > Bahwa kejujuran itu langka.
  > Bahwa kepuasan itu adanya di rasa syukur.
  >
  >




------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke