--- Andy Gouw <[EMAIL PROTECTED]> wrote: 

> --- In [EMAIL PROTECTED], A Nizami 
> <[EMAIL PROTECTED]> 
> wrote: 
> 
> > Rekan2 sekalian, 
> > Sesungguhnya, privatisasi tidak berarti bahwa 
> tarif akan murah. 
> 
> Tarif harga ditentukan dengan supply and demand. 
> Effisiensi 
> perusahaan yang kita harapkan didalam privatisasi 
> itu. Untuk 
> mengkontrol supply, salah satu jalan open market 
> kepada semua 
> investor untuk bisa masuk kesektor tertentu yang 
> diperlukan. Dengan 
> cara ini supply akan dijamin dan hargapun 
> terkontrol. 

Pada monopoli/duopoli, supply bisa diatur oleh perusahaan penyedia air atau listrik. 
Mereka bisa menaikan harga sebisa mereka. Di Filipina, rakyat harus membayar 156% 
lebih mahal untuk air. Sementara di Indonesia, setelah PAM dibeli oleh Lyonnaise dan 
Thames, tarifnya terus meroket. Ini adalah fakta yang tidak terbantah.
 
Atau mungkin anda berpikir bahwa untuk air dan listrik akan ada 4 atau lebih 
perusahaan yang bersaing? Anda berpikir 4 jalur pipa air atau lebih berseliweran di 
negara kita? Atau 4 tiang listrik atau lebih menghiasi kota2 kita? Kemudian akan ada 
lebih banyak penggalian untuk pipa air atau kabel listrik?

> 
> Justru 
> > sebaliknya banyak yang naik. Hal ini disebabkan 
> swasta pasti ingin 
> untung. 
> > Tidak mungkin mereka mau kerja bakti untuk hal 
> yang tidak 
> menguntungkan. 
> 
> Swasta maupun BUMN pada prinsipnya harus untung, ini 
> namanya 
> berdagang. Tidak ada seorang didunia ini mau 
> kerjabakti, apalagi di 
> indonesia. Saya rada pekerja BUMN juga tidak kerja 
> bakti. 

Swasta pasti akan berusaha untung. Keuntungannya diambil dari pemerasan thd rakyat.
Pekerja BUMN telah digaji. Khusus untuk sektor yang meliputi hajat hidup orang banyak, 
sudah selayaknya pemerintah memberi subsidi jika kurang. Bukankah rakyat sudah bayar 
pajak untuk itu?
> Perusahaan asing atau lokal atau pemerintah, ini 
> tergantung siapa 
> yang punya uang. Indonesia masih memerlukan banyak 
> uang untuk 
> pembangunan, kita harus bersyukur bahwa perusahaan 
> asing masih mau 
> membantu. Tiodak perlu menjadikan mereka raja tapi 
> harus dihormati. 

Perusahaan asing jika mau investasi bikin pabrik mobil, kapal, komputer silahkan. Tapi 
jika mereka ingin masuk ke bidang yang meliputi hajat hidup orang banyak seperti air 
dan listrik, lihat dulu. Apakah justru merugikan kita. 
 
Kasus listrik swasta Paiton yang lebih mahal sehingga merugikan PLN, atau kasus 
privatisasi PAM yang bikin harga malah meroket terbukti merugikan rakyat.
 
Dgn makin mahalnya tarif listrik dan air di Indonesia, maka industri kita justru 
terancam colapse, serta investor asing di bidang lainnya justru enggan untuk masuk ke 
Indonesia.

> Contoh contoh privatisasi yang menghasilkan 
> kemakmuran untuk rakyat 
> juga banyak sekali. Amerika negara yang menjungjung 
> tinggi 
> privatisation and competition bisa menjadi contoh. 
> Sudah tentu setiap 
> ideologi berdagang gak akan bisa sempurna. 

AS makmur (meski kesenjangan) karena mereka mengelola bukan hanya kekayaan alam mereka 
sendiri, tapi juga mengeksploitasi kekayaan alam negara2 lain. Contohnya mereka 
mengeksploitasi minyak, gas, emas, tembaga di Indonesia, Iraq, Afghanistan, Nigeria, 
dll.
 
Jadi kalau ingin makmur seperti AS, kita harus belajar mengelola sendiri kekayaan alam 
kita. Bukan justru menyerahkan pengelolaannya ke asing...:)
 
> Setiap perusahaan yang go public bisa dibeli 
> sahamnya oleh seluruh 
> rakyat indonesia, ya sudah tentu harus punya uang 
> untuk membeli. 

Memang berapa banyak sih rakyat Indonesia yang punya uang dan mau berspekulasi saham? 
(pernah nonton film Wallstreet?). Tidak ada 1%.
 
Saya sudah cek BUMN yang sudah go public (seperti Indosat dan Telkom), ternyata 
sebagian besar sahamnya dimiliki oleh perusahaan asing besar. Bukan "rakyat Indonesia."
 
Dengan teknik guyuran (rekayasa menurunkan harga) dan gorengan (rekayasa menaikan 
harga) oleh spekulan saham besar,  spekulan saham kecil akan tersingkir...:)
 
Dan keuntungan BUMN itu, mis: Keuntungan Telkom yang sekitar Rp 7 trilyun per tahun, 
lari ke pemodal asing tsb. Bukan ke APBN yang bisa digunakan untuk memakmurkan rakyat.

Maaf agak lambat menjawab, soalnya saya sibuk bekerja sih...:)
Salam
 


Visit my daughter's homepage at:
http://www.geocities.com/hana_hanifah7
                
---------------------------------
Do you Yahoo!?
Win 1 of 4,000 free domain names from Yahoo! Enter now.

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke