Indonesia adalah negara dengan penduduk penutur Bahasa Melayu terbesar, setelah
Malaysia dan Brunei (Bahasa Melayu di Indonesia dikenal dengan Bahasa Indonesia,
sebagaimana di Malaysia dikenal dengan Bahasa Malaysia, dan di Brunei dikenal dengan
Bahasa Brunei).
Uniknya, sebagai penutur terbesar Bahasa Melayu, penduduk Indonesia sebagian besar
bukanlah Melayu asli, melainkan Melayu lisan, alias Melayu bahasa saja. Sebagaimana
penutur Bahasa Arab di negeri-negeri Syam, Mesir, Afrika Utara hingga tepi Lautan
Atlantik. Mereka kebanyakan bukanlah Arab asli, melainkan Arab lisan.
Tidaklah disangkal bahwasanya keberadaan negara Indonesia selama 59 tahun belakangan
telah memainkan peranan penting dalam meningkatkan dan memajukan Bahasa Melayu.
Indonesia telah menjadikan Bahasa Melayu semakin tersebar dan mendarah daging di
Kepulauan Nusantara, karena Bahasa Indonesia notabene adalah Bahasa Melayu.
Meskipun demikian sangatlah disayangkan bahwa ejaan dan standardisasi Bahasa Melayu di
negara-negara pemakai Bahasa Melayu tidaklah sama. Masing-masing negara mempunyai
kaidah tersendiri yang membuat para penutur Bahasa Melayu di setiap negara mempunyai
gap. Kesemuanya itu bukanlah tidak alasan. Kultur kolonialialisme dan imperialisme di
masing-masing negara hingga kini masih teramat kuat, meskipun era kolonialisme dan
imperialisme telah pergi lebih dari setengah abad yang lampau. Warisan kolonial masa
lalu untuk memecah belah bangsa-bangsa berkultur Melayu di Nusantara ini masih lekat
kuat dalam benak sebagian orang dan sulit untuk dihilangkan begitu saja, khususnya
dalam hal budaya dan bahasa.
Mengapa tidak terpikirkan kembali oleh kita, bangsa-bangsa penutur Bahasa Melayu,
untuk menyempurnakan ejaan yang telah ada. Karena kendala ketiadaan pembakuan kolektif
ejaan telah merugikan kita bersama, bangsa-bangsa penutur Bahasa Melayu, secara budaya
dan ilmu pengetahuan kita mengalami kesenjangan satu sama lain. Buku-buku, karya-karya
ilmiah, dll. yang ada di Malaysia sulit dibaca dan dinikmati oleh penduduk Indonesia.
Sebagaimana buku-buku yang terbit di Indonesia akan sulit dibaca oleh orang-orang
Malaysia dan Brunei. Kesemuanya karena perbedaan standarisasi bahasa. Bukankah Ejaan
Yang Disempurnakan (EYD) telah membuat gap yang teramat jauh bagi para pengguna dan
bagi perkembangan bahasa Melayu kontemporer. Sebagaimana Ejaan Van Ophuysen yang telah
mengikis habis pemakaian huruf Arab (Jawi/Pegon) dalam Bahasa Melayu di Hindia Belanda
pada era kolonial. Kebijakan Indonesia yang merujuk ke bahasa-bahasa suku jika susah
menjumpai padanan kata, dan Malaysia yang merujuk ke bahasa
Inggris telah menjauhkan para penutur Bahasa Melayu di kedua negara. Seolah-olah yang
satu berjalan ke arah barat, dan yang lain ke arah timur. Jika hal ini tidak segera
dipertemukan, akan semakin menjauhkan masing-masing kita, saudara serumpun, satu sama
lain. Di saat bangsa-bangsa lain memikirkan bersatu kembali, mengapa kita tidak
melakukannya. Padahal kita semua, sebelum datangnya kolonialis Barat ke Kepulauan
Nusantara, adalah bangsa-bangsa yang mempunyai masa lalu yang bermiripan dan
berhampiran. Islam disebarkan ke seluruh kepulauan Nusantara dengan pengantar Bahasa
Melayu (dengan huruf Jawi/Pegon), dikarenakan kultur Melayu yang berada di mulut Selat
Malaka, jalur perdagangan internasional dari dulu hingga kini. Mengapa kita masih
lebih suka menggunakan Bahasa Inggris dalam berinteraksi dengan sesama penutur Bahasa
Melayu.
Mengapa kita tidak belajar dari bangsa Arab. Arab telah menemukan jati dirinya kembali
secara budaya dan bahasa, juga nasionalisme, pasca kolonialisme meskipun para
kolonialis Barat telah mengkapling-kaplingnya secara budaya dari Samudera Atlantik
hingga Teluk Persia (minal muhith ila al khaleej). Kepergian kolonialisme adalah
baliknya budaya dan bahasa asli. Meskipun tidak sedikit kata-kata bahasa Arab
kontemporer berasal dari bahasa asing, khususnya Perancis, di Afrika Utara, namun
kaidah bahasa Arab dan tata kata (sintaksis) tetaplah satu. Buku-buku dan karya-karya
ilmiah yang terbit di tepi Laut Atlantik dapat dibaca dan dinikmati oleh orang-orang
Arab Teluk. Sebagaimana juga negara-negara Francophone (pengguna Bahasa Perancis) dari
Perancis, hingga Kepulauan Comoros, pedalaman Afrika, sampai Quebec memakai satu
kaidah bahasa Perancis. Begitu pula halnya dengan negara-negara Anglophone dan
negara-negara pemakai Bahasa Jerman, seperti Jerman, Austria, Swiss. Lalu mengapa kita
para
penutur Bahasa Melayu tidak melakukan demikian. Mengapa sekat-sekat kebanggaan lokal,
kepentingan dan nasionalisme sempit dalam berbahasa masih mendominasi masing-masing
kita.
Mengapa kita tidak sebaiknya memakai ejaan standar ganda. Misalnya, jika kata
"universiti" dipakai di Malaysia, di Indonesia memakainya juga, disamping memakai kata
"universitas", alias keduanya betul. Begitu juga halnya "televisyen" dan "televisi",
"tauladan" dan "teladan", "satai" dan "sate", "perbezaan" dan "perbedaan","Amerika
Syarikat" dan "Amerika Serikat", "bercadang" dan "berencana", "lemari es" dan "peti
sejuk", "cawangan" dan "cabang", "suruhanjaya" dan "komisi", "pilihan raya" dan
"pemilihan umum", "timbalan" dan "wakil", dll. dll.
Saya justru menemukan bahwa persaudaraan dan keserumpunan hakiki kita, bangsa-bangsa
penutur Melayu, lewat hubungan non-government saja, alias antar rakyat, bukan itikad
baik antarpemerintah. Misalnya, muhibah antar artis-artis Malaysia dan Indonesia,
semisal Raihan, Sheila on7, Siti Nurhalizah, dll., disamping persaudaran itu dapat
saya jumpai dari tradisi comot mencomot kata-kata yang banyak terjadi antar media
cetak Indonesia dan Malaysia (saya yakin media-media cetak tersebut saling comot
mencomot dengan tanpa sepengetahuan Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Bahasa di
Indonesia, ataupun Dewan Bahasa dan Pustaka di Malaysia). Seperti pada saat ini, kita
sering menjumpai kata-kata: akhbar, khabar yang asalnya Malaysia (dalam EYD, kabar),
berjaya, terkandung, dll. yang mungkin lima atau sepuluh tahun yang lalu masih terasa
asing bagi kita di Indonesia.
Sudah tiga dasawarsa EYD diberlakukan di Indonesia, hampir seusia Ejaan Soewandi
ketika digantikan dengan EYD. Karena itu sudah saatnya kita mengevaluasi dan
mengkritisi kembali ejaan ini sesuai dengan semangat jaman dan dinamika yang
berkembang di tengah masyarakat, serta dinamika internasional, pada saat ini.
Terima kasih.
Salam Hangat dari Kota Al Muizz Li Dinillah Al Fatimy,
---------------------------------
Do you Yahoo!?
New and Improved Yahoo! Mail - 100MB free storage!
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppiindia.shyper.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/