Yudhoyono vs Mega: Perubahan vs "Status Quo"?
 (Sinar Harapan, 9 September 2004)


Oleh Eka Darmaputera 

Bila di dunia peradilan ada semboyan nothing, but the
whole truth atau 
tiada yang lain, kecuali kebenaran yang utuh, di dunia
periklanan yang 
berlaku adalah anything, but the whole truth atau apa
saja, kecuali 
kebenaran yang menyeluruh. 
Hal yang sama juga terjadi menjelang Pemilu Presiden
II ini. Para kandidat 
akan berbicara mengenai apa saja, kecuali
mengungkapkan kebenaran yang 
seutuhnya, yang sepenuhnya, baik Yudhoyono maupun
Mega. 
Semula, menjelang Pilpres II ini, saya bermaksud akan
berdiam diri saja. 
Sebab, apa gunanya? Terus terang, saya tak terlalu
risau, apakah nanti 
orang memilih Yudhoyono atau Mega. Bila Yudhoyono yang
terpilih, angin 
sorga toh tak akan berembus se-ketika. Dan bila Mega
yang terpilih, api 
neraka juga tak akan membakar negeri kita serta-merta.
Indonesia pada 
dasarnya ya akan begini-begini juga adanya.
Jadi, mengapa saya bicara juga? Semata-mata karena
saya tak rela melihat 
masyarakat memilih Yudhoyono atau Mega, berdasarkan
misinformasi atau 
bahkan disinformasi. Diperdayakan oleh isu, slogan dan
jargon yang 
kedengarannya saja meyakinkan, tapi sebenarnya
menyesatkan.
Salah satunya adalah, jargon "perubahan" itu.
Seolah-olah memilih 
Yudhoyono adalah memilih perubahan, dan memilih Mega
berarti memilih 
status quo. Sekali lagi saya tegaskan, silakan pilih
siapa saja, bila itu 
memang tuntunan dan tuntutan nurani Anda! Namun jangan
atas dasar slogan 
itu! Slogan itu menyesatkan!
Pertama, adalah ilusi besar bila menyangka bahwa
memilih baik Yudhoyono 
atau Mega akan membawa perubahan yang segera dan
mendasar bagi Indonesia. 
Paling banter yang berubah adalah orangnya atau gaya
kepemimpinannya. Tapi 
nasib rakyat banyak? Anda dan saya? Ya tetap
ngos-ngosan. Percayalah! 
Kedua, tak satu pun dari mereka berhak mengklaim diri
sebagai "dewa" atau 
"dewi" perubahan. Kedua-duanya baik Yudhoyono maupun
Mega sama-sama 
menghendaki perubahan. Dan... sama-sama punya
kecenderungan status-quo! 
Lagipula, anjuran saya, jangan hendaknya kita terlalu
alergi terhadap 
status quo. Dalam situasi-situasi tertentu,
mempertahankan status quo itu 
perlu. Mampu mempertahankan status-quo bagi pasien
semacam Cak Nur, selama 
beliau belum melewati masa kritisnya, sudah merupakan
prestasi tersendiri. 
Justru fatal, bila dokter mau memaksakan perubahan
yang terlalu cepat dan 
terlalu drastis. 
Konservatifkah saya? Mungkin. Tapi saya berpendapat,
bahwa menjalankan 
negara harus berbeda dari pertunjukan akrobat.
Memutuskan sesuatu di 
sidang kabinet harus berbeda dari unjuk kebolehan di
forum diskusi. 
Dan akhirnya, yang ketiga, andaikata benar, Yudhoyono
by nature memang 
lebih inovatif ketimbang Mega, toh kita tidak boleh
terkecoh oleh semangat 
"pokoknya ada perubahan". Jauh lebih bijak, bila
terlebih dahulu kita 
bertanya, "Yang berubah itu apanya, Pak?". Jangan
pernah kita menitipkan 
"mandat blanko" kepada siapa pun! Di sinilah agaknya
"kontrak politik" itu 
menjadi relevan. 
Yang saya kemukakan ini sangatlah krusial. Mega telah
kita kenal 
"belang-belang"nya. Tapi Yudhoyono? Suatu ketika, saya
pernah mendengar 
Salim Said mengatakan, bahwa salah satu persoalan
dengan Yudhoyono adalah 
ketidakjelasan posisinya. Akibatnya, bagi sementara
kalangan Islam "garis 
keras", ia memberi kesan terlalu memberi hati kepada
orang-orang Kristen. 
Tapi kemudian - mungkin untuk mengubah citra tersebut
- giliran 
orang-orang Kristen yang dikecewakan, karena ia
dianggap terlalu "hijau". 

Siapa yang Gagal? 
Isu lain yang menurut saya mengecoh adalah,
seolah-olah pilihan di hadapan 
kita adalah memilih antara sukses dan kegagalan.
Megawati telah diberi 
kesempatan, dan gagal. Sebab itu, enough is enough. Ia
mesti diganti! 
Begitu kata beberapa orang. 
Jalan pikiran itu sendiri tidak salah. Demokrasi
berarti rakyat berhak 
memilih atau menolak pemimpinnya. Tapi mengangkat ini
sebagai "jargon", 
wah, tunggu dulu! 
Pertama, andaikata benar bahwa pemerintahan Mega
gagal, pertanyaannya 
adalah: siapa yang gagal? Bukankah Yudhoyono dan Jusuf
Kalla adalah 
menko-menko utama, pilar-pilar pemerintahan Mega, tiga
tahun lamanya? Lalu 
kini mereka mau mencuci tangan? Kualitas kepemimpinan
macam apa ini? 
Kedua, benarkah Mega gagal? Bahwa kinerjanya masih
jauh dari optimal, ya. 
Bahwa masa tiga tahun pemerintahannya bukanlah sebuah
kisah sukses, ya. 
Bahwa masih terdapat begitu banyak pekerjaan yang
dibiarkan terbengkalai, 
ya. 
Saya tak punya masalah bila Megawati harus diganti.
Tapi mesti ada 
jaminan, bahwa penggantinya lebih baik. Sebab kalau
tidak, ya untuk apa? 
Yudhoyono -kah pengganti yang lebih baik itu? Belum
tentu. Isu bahwa 
pilihan kita adalah antara kegagalan dan keberhasilan,
adalah isu semu. 
Sebab pilihan kita sebenarnya adalah, antara
kekurangan yang sudah 
kelihatan dan kekurangan yang belum kelihatan. 
Mengapa? Sebab yang acap kita sebut sebagai kegagalan
Mega, itu 'kan 
sebenarnya adalah interaksi dari tiga faktor: (a)
faktor kelemahan yang 
bersangkutan; (b) faktor harapan masyarakat yang
terlalu terlalu tinggi; 
dan (c) faktor kondisi objektif Indonesia yang parah.
Mungkin sekali dalam hal kemampuan pribadi, Yudhoyono
punya banyak 
keunggulan. Tapi bagaimana ia menghadapi faktor kedua
dan ketiga? Bukan 
tidak mungkin, harapan yang terlalu tinggi kepada
Yudhoyono sekarang ini, 
itu pula yang akan mencampakkannya lima tahun lagi,
sekiranya ia terpilih. 
Belum lagi bila kita berbicara tentang kondisi
objektif Indonesia yang 
carut-marut - siapa pun presidennya. 
Apakah tulisan ini tidak terlalu pro Mega? Anda berhak
punya anggapan 
demikian. Tapi perkenankan saya mengungkapkan isi hati
saya yang 
sebenarnya. 
Terlepas dari saya ini pro siapa, kelemahan saya
adalah saya tidak bisa 
berdiam diri ketika melihat kebenaran dibengkokkan,
masyarakat 
diperdayakan, dan ada orang-orang yang dibiarkan
teraniaya oleh praduga. 
Sebuah Tim Sukses barangkali memang wajib melakukan
itu. Tapi hati nurani 
saya juga berkewajiban untuk, seberapa mungkin,
meluruskannya. 
Keluhan dan kekecewaan saya terhadap kepemimpinan
Megawati, seperti 
berulang-ulang saya kemukakan, bisa lebih atau sama
panjangnya dengan 
siapa pun. Dan kali ini pun, dengan segala kerendahan
hati, saya ingin 
memperingatkan beliau. Saya sungguh merasa tidak
sejahtera, tatkala 
membaca bahwa seolah-olah Tim Sukses Mega menganut
prinsip, "pokoknya 
menang dulu". Astaga, bukan begini, Mbak, sikap
negarawan itu seharusnya! 
Bagi-bagi kekuasaan dalam dunia politik praktis, tak
mungkin terhindarkan. 
Yang mungkin hanyalah mau berterus terang mengakuinya,
atau bersikap 
munafik menyembunyikannya, yang bagi saya, jauh lebih
memuakkan. Kemudian, 
yang namanya Koalisi Kebangsaan atau "Koalisi
Kerakyatan" atau "Aliansi 
Anu", bagi saya, sama saja nilainya. Bukan pilihan
antara elitis dan 
populis. Semuanya - termasuk yang mencatut nama rakyat
- adalah elitis 
tulen seratus persen! 
Dan kepada siapa pun - Yudhoyono atau Mega - yang
berhasil menang nanti, 
saya ingin mengatakan, bahwa masa lima tahun itu tidak
lama. Tidak terlalu 
lama bagi rakyat untuk mengingat jelas janji-janji
Anda. Lima tahun yang 
akan datang, Anda akan menghadapi lagi "pengadilan
rakyat". Karena itu, 
anjuran saya, bukan cuma sekarang saja, Anda perlu
merebut hati mereka, 
dengan berjalan pagi atau bernyanyi bersama mereka.
Rebutlah hati mereka 
sepanjang lima tahun ini, dengan memenuhi harapan
mereka yang paling 
mendesak! Itu utang Anda!
Dan kepada mereka yang terus bertanya tanpa bosan,
siapa pilihan saya 20 
September mendatang ini, wah, bagaimana ya saya mesti
menjawab? Mungkin 
begini saja. Tanggal 20 September nanti, saya cuma mau
mengikuti pesan 
sebuah iklan minyak kayu putih, kalau tidak salah, cap
"Wang" (bukan nama 
sebenarnya). Iklan itu berbunyi, "Untuk anak, kok
coba-coba?!" Saya 
berkata, "Soal negara kok coba-coba?!"
Atau mencontoh Gus Dur. Saya ingin menitipkan anak
saya pada Mas Hasyim 
Muzadi - silakan bawa dia ikut berkampanye. Hanya
sayangnya, ia tak ada di 
tanah air! ***

Penulis adalah rohaniwan 



                
__________________________________
Do you Yahoo!?
Y! Messenger - Communicate in real time. Download now. 
http://messenger.yahoo.com


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
$9.95 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppiindia.shyper.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke