SBY for Better Indonesia?
 
J Geovanie, Pengamat Politik, Ketua Dewan Direktur The
Amien Rais Center

(Media Indonesia, 14 Sep 2004)


DUA capres yang lolos ke putaran kedua pilpres,
Megawati Soekarnoputri dan Susilo Bambang Yudhoyono
(SBY), dengan caranya masing-masing, tengah berusaha
menarik perhatian rakyat. Megawati, sebagai presiden
yang masih berkuasa (incumbent) getol mengampanyekan
kesuksesan-kesuksesan yang telah diraih bangsa
Indonesia selama tiga tahun di bawah kepemimpinannya.
Di mata Megawati dan tim suksesnya,
keberhasilan-keberhasilan yang telah diraih bangsa
Indonesia tiga tahun terakhir akan terhenti atau
mungkin mundur lagi ke belakang jika rakyat tidak
mempertahankan kepemimpinan nasional pada 20
September.

Sementara itu, SBY, sebagai sang penantang, senantiasa
berusaha mengembangkan wacana perubahan. Bagi SBY dan
tim suksesnya, pilpres 20 September merupakan momentum
bagi rakyat untuk melakukan perubahan. Dana miliaran
rupiah yang digunakan untuk membiayai pemilu akan
sia-sia jika pemilu gagal menciptakan pembaruan
politik. Pembaruan yang dimaksud adalah kondisi
sosial, ekonomi, dan politik Indonesia yang jauh lebih
baik dari sebelumnya.
***

Bagi rakyat, yang penting dari pilpres adalah
bagaimana menyongsong Indonesia yang lebih baik. Siapa
pun presidennya, pascapilpres nanti, harus ada
political will dari pemerintah untuk: Pertama,
terus-menerus berusaha menciptakan suasana kondusif
bagi pertumbuhan ekonomi agar recovery ekonomi bisa
secepatnya diatasi. Skala pengangguran yang kian hari
kian beranjak tinggi, demikian juga dengan angka
kemiskinan yang terus meningkat, persoalan buruknya
keamanan yang terus meneror setiap warga negara,
adalah persoalan-persoalan yang mendesak diselesaikan
presiden yang terpilih nanti.

Kedua, soal penegakan hukum. Bagi rakyat, penegakan
hukum yang berjalan sekarang ini hanya berlaku bagi
mereka yang tak berduit dan tak punya akses pada
kekuasaan. Hukuman berat hanya berlaku bagi rakyat. 

Bagi elite yang berduit, hukuman bisa diperingan atau
bahkan dibebaskan. Padahal, ketentuan
perundang-undangan dicantumkan dengan amat jelas bahwa
hukum diperuntukkan untuk segenap rakyat. Bahkan dalam
teks Pancasila yang pernah disakralkan pada era Orde
Baru itu, juga jelas disebutkan adanya keadilan sosial
bagi seluruh rakyat Indonesia.

Ketiga, soal pemberantasan korupsi. Selain secepatnya
melakukan recovery ekonomi, pekerjaan mendesak
presiden mendatang adalah pemberantasan korupsi.
Alasannya sederhana, karena korupsi merajalela, semua
sendi kehidupan berbangsa dan bernegara negeri ini
menjadi keropos. Karena keropos, ketika badai krisis
melanda, semuanya porak-poranda dan sulit diperbaiki.
Berbeda dengan negara-negara lain yang memiliki
landasan kehidupan yang kukuh, bersih dari korupsi,
badai krisis yang datang hanya menyebabkan demam atau
sedikit alergi yang mudah diobati
***

Sukses presiden dalam menangani tiga persoalan krusial
di atas, bisa dipastikan akan mampu membangun
Indonesia yang lebih baik. Pertanyaannya kemudian,
siapakah di antara kedua kandidat presiden yang punya
potensi relatif untuk membawa Indonesia lebih baik?
Setiap capres pasti mengampanyekan bahwa dirinya (dan
timnya) akan mampu mengatasi persoalan-persoalan
krusial yang dihadapi Indonesia. Tetapi, belajar dari
pengalaman, tampaknya rakyat tidak begitu saja percaya
dengan cuap-cuap kampanye setiap capres.

Bagaimana membuat rakyat yakin dan percaya dengan apa
yang dikampanyekan, inilah tugas kedua capres, baik
Megawati maupun SBY. Keyakinan dan kepercayaan rakyat
merupakan modal utama untuk meraup suara. Karena
pemberian suara dalam pemilu pada hakikatnya merupakan
bagian dari ekspresi keyakinan dan kepercayaan.
Dari sinilah kita memahami sepenuhnya, mengapa
Megawati dan timnya sekarang ini getol mengampanyekan
kesuksesan pemerintah. Gunanya agar rakyat kembali
memberikan kepercayaan pada dirinya dan menutup
alternatif lain. Ketika rakyat yakin dengan kesuksesan
Megawati, maka pada saat yang sama akan muncul
anggapan pentingnya mempertahankan Ketua Umum PDIP itu
sebagai presiden.

Sebagai sang penantang, kiranya mudah pula dipahami
jika SBY dan timnya terus-menerus mengampanyekan
perubahan. Kesuksesan-kesuksesan yang berhasil diraih
pemerintah sekarang dianggap sebagai prestasi biasa
yang bisa dialami siapa pun karena merupakan
konsekuensi logis dari pertumbuhan ekonomi
pascakrisis. Artinya, jika mau bekerja dengan cerdas
dan keras (gigih) skala kesuksesan bisa ditingkatkan
berlipat-lipat.

Dan, hingga lebih kurang tiga tahun diberi kesempatan,
pemerintahan yang ada sekarang dinilai tidak cukup
punya kemampuan untuk melakukan hal itu. Karenanya,
pada pemilu 20 September mendatang, suksesi
(pergantian) presiden merupakan keniscayaan. Suksesi
presiden akan menjadi starting point bagi perubahan.
Tapi, harus cepat-cepat diajukan pertanyaan, perubahan
apa yang ditawarkan SBY? Kalau sekadar perubahan fisik
tentu tak ada artinya. Perubahan yang dituntut segenap
rakyat bukanlah perubahan yang semu, melainkan
perubahan sistem pengelolaan negara yang lebih efisien
dan efektif.

Sebagaimana tawaran-tawaran program dari Megawati,
sejauh pengamatan penulis (yang mungkin subjektif)
hingga saat ini belum ada langkah-langkah signifikan
dari SBY yang benar-benar mengarah pada perubahan yang
substantif bagi pemerintahan mendatang. Padahal,
dibandingkan Megawati, SBY lebih berpeluang untuk
menawarkan perubahan. Tetapi, untuk meyakinkan rakyat
akan perubahan yang diusungnya, SBY dan timnya harus
mampu melepaskan diri dari jebakan-jebakan kompetisi
sesaat seperti pro-kontra atau aksi-reaksi.

Fokus perhatian seyogianya diarahkan pada apa dan
bagaimana pemerintahannya pasca-20 September, bukan
bagaimana caranya memenangkan 20 September. Misalnya,
siapa saja yang akan menduduki jajaran kabinetnya; apa
saja program mendesak yang akan dijalankannya; dan
adakah kesesuaian antara program-program itu dengan
kebutuhan mendesak yang dihadapi rakyat. Dengan
demikian rakyat akan melihat SBY merupakan sosok yang
pas bagi Indonesia yang lebih baik.

Menurut penulis, Pemilu 5 Juli merupakan pemilu rakyat
yang otentik dan lebih sesuai dengan hati nurani.
Sedangkan Pemilu 20 September, kalaupun ada perubahan,
lebih disebabkan karena koalisi dan mobilisasi elite
partai politik. Sedangkan fakta membuktikan,
masyarakat kita sudah tidak mudah dimobilisasi oleh
elite-elite partai politik. Tetapi, jika SBY dan
timnya gagal meyakinkan rakyat, bukan tidak mungkin
rakyat akan tetap mempertahankan jabatan Megawati
hingga lima tahun mendatang. ***



        
                
__________________________________
Do you Yahoo!?
New and Improved Yahoo! Mail - 100MB free storage!
http://promotions.yahoo.com/new_mail 


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppiindia.shyper.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke