Selasa, 31 Agustus 2004 http://www.kompas.com/kompas%2Dcetak/0408/31/humaniora/1231047.htm
Studi Islam di Jamia Millia Islamia INDIA merupakan negara yang tradisi keagamaannya masih sangat kuat dan sering dilanda konflik etnis dan agama. Konflik etno-religius yang besar terjadi di Gujarat pada Februari-Maret 2002, menyusul terbakarnya gerbong kereta api Sabarmati Express, menewaskan 58 orang. Insiden itu diikuti kerusuhan yang menyebabkan tidak kurang dari 800 orang tewas. Sepuluh tahun sebelumnya, konflik etnik religius yang dipicu peristiwa penghancuran Masjid Babri di Ayodya, menewaskan sekitar 2.000 orang. Meski agama sangat berpengaruh dalam kebudayaan dan politik India, tetapi negara itu memilih mengelola urusan pendidikannya secara sekuler. Tidak ada mata pelajaran agama di sekolah-sekolah. Demikian pula di tingkat perguruan tinggi. Pendidikan tidak dibebani dengan urusan iman dan takwa. Pendidikan sekuler itu diberlakukan pula di universitas-universitas yang didirikan oleh tokoh-tokoh Muslim yang menjadi pendiri bangsa itu. Jamia Millia Islamia dan Universitas Muslim Aligarh adalah dua universitas yang memakai atribut keagamaan tetapi pendidikannya sekuler. "Meski pendiri dan arsitek universitas ini tokoh-tokoh Muslim, akan tetapi Jamia sejak semula tetap mengabdikan diri pada cita-cita pendidikan yang sekuler dan terus membuka pintu bagi mahasiswa dan pengajar dari semua kelompok dan agama," kata Prof SM Sajid, pengajar departemen pekerjaan sosial yang sekaligus menjabat sebagai koordinator media pada Jamia Millia Islamia. Sekalipun demikian, India merupakan alternatif bagi mereka yang ingin belajar bahasa Arab maupun studi Islam. Jamia Millia Islamia dan Universitas Muslim Aligarh merupakan dua universitas tua di India yang cukup dikenal dalam bidang itu. Dua universitas itu menjadi tujuan utama mahasiswa Indonesia yang ingin mempelajari studi Islam di negara itu. JAMIA Millia lahir sebagai jawaban atas seruan Mahatma Gandhi untuk memboikot lembaga-lembaga pendidikan yang dibantu dan dikontrol oleh pemerintahan kolonial. Universitas ini didirikan oleh sejumlah tokoh Muslim yang menjadi pejuang kemerdekaan pada masa itu, seperti Maulana Mohammed Ali, Hakim Ajmal Khan, dan Mukhtar Ahmad Ansari. Mereka bergabung dengan tiga orang muda yang baru lulus dari sekolah di Jerman, di antaranya Dr Zakir Husain. Nama Dr Zakir Husain diabadikan tidak saja sebagai nama perpustakaan Jamia Millia, tetapi juga dipakai untuk pusat-pusat riset dalam pendidikan sampai nama sebuah jalan di New Delhi. "Sejak berdiri sampai sekarang tidak ada preferensi khusus, baik untuk Muslim ataupun agama lain dalam penerimaan mahasiswa dan dosen," kata Sajid. Berbeda dengan lembaga pendidikan India lainnya yang tidak mengajarkan agama, Jamia Millia memang mewajibkan mahasiswa program sarjana strata satu untuk mengikuti kuliah agama. Bagi mahasiswa Muslim diwajibkan mengambil mata kuliah agama Islam, bagi mahasiswa Hindu diwajibkan mengambil mata kuliah agama Hindu, sedangkan bagi yang lainnya diwajibkan mengambil mata kuliah Budaya Keagamaan India. Jamia Millia saat ini memiliki enam fakultas yang menawarkan berbagai bidang studi, dari pendidikan, bahasa, ilmu-ilmu humaniora, matematika, ilmu komputer, sampai komunikasi. Jumlah mahasiswanya mencapai 12.000 orang dengan 539 pengajar, 80 persen di antaranya berkualifikasi doktor. Universitas Muslim Aligarh memiliki sejarah lebih tua daripada Jamia Millia. Cikal bakal universitas ini dimulai pada 1875 dan resmi memiliki status universitas pada 1920. Saat ini, Universitas Aligarh memiliki 12 fakultas dengan jumlah mahasiswa hampir 28.000 orang dengan tenaga dosen sekitar 1.500 orang. Sama seperti Jamia Millia, Universitas Muslim Aligarh juga menawarkan begitu banyak studi sekuler dari bahasa, ilmu sosial dan politik, bisnis, sampai teknik komputer. Syaifullah Hayati (24), yang tengah menyelesaikan kuliahnya di Jamia Millia menyatakan bahwa belajar Islam di India memiliki banyak keuntungan, karena bisa berkenalan dengan pemikiran Islam yang lebih beragam. Ia mengaku mengenal studi Islam di Jamia Millia dari pengasuh pesantren tempat ia mondok di Lhok Seumawe. "Pendiri pondok saya juga lulusan Jamia Millia. Waktu saya belajar di pondok ia sering mempromosikan belajar Islam ke India," kata Syaifullah. (P BAMBANG WISUDO) Mario Gagho Political Science Agra University, India [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> $9.95 domain names from Yahoo!. Register anything. http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppiindia.shyper.com *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

