Sabtu, 04 September 2004  
 
 
http://www.kompas.com/kompas%2Dcetak/0409/04/fokus/1247705.htm

Pendidikan Indonesia
Terpuruk di Tengah Kompetisi 


INDIA adalah negara dengan segudang masalah. Kemiskinan, kurang gizi, dan pendidikan 
yang rendah merupakan persoalan besar di negara berpenduduk lebih dari satu miliar 
itu. Sekitar 40 persen penduduk India buta huruf. Angka ini melambung tinggi bila 
masuk lebih khusus kepada kelompok masyarakat miskin, kasta rendah, dan perempuan. 
Indeks Pembangunan Manusia di situ berada di peringkat 127, jauh di bawah posisi 
Indonesia: peringkat 111. Namun, India memiliki visi dan arah pendidikan yang jelas.

Prestasi India dalam teknologi dan pendidikan sangat mencengangkan. Bila Indonesia 
masih dibayang-bayangi pengusiran dan pemerkosaan tenaga kerja tak terdidik yang 
dikirim ke luar negeri, banyak orang India mendapat posisi bergengsi di pasar kerja 
internasional. Bahkan, di Amerika Serikat (AS), kaum profesional asal India memberi 
warna tersendiri bagi negara adikuasa itu. Sekitar 30 persen dokter di AS merupakan 
warga keturunan India. Tidak kurang dari 250 warga India mengisi 10 sekolah bisnis 
paling top di AS. Sekitar 40 persen pekerja Microsoft berasal dari India.

Pakar pendidikan dari Jamia Millia Islamia, Prof Mohammad Miyan, mengemukakan semua 
itu terkait langsung dengan keberhasilan India mengelola pendidikan tingginya. Orang- 
orang pintar India yang bekerja di luar negeri, menurut Milyan, bukan suatu kerugian, 
sebab mereka menyumbang devisa negara. Apalagi sekarang banyak orang pintar dari India 
yang selama ini bekerja di luar negeri ikut membangun India.

PENDIDIKAN tinggi di India memang tidak seperti di Indonesia yang lebih mementingkan 
penampilan daripada isi. Di India, penampilan para profesornya sangat sederhana. Baju 
yang dikenakan tidak bermerek, kendaraannya hanya skuter produk dalam negeri. Tak 
sedikit yang naik sepeda. Kebanyakan gedung-gedung perguruan tinggi yang berkelas 
internasional justru tua dan kusam.

Namun, koleksi buku diutamakan di sini. Akses internet cukup berlimpah. Gelar doktor 
merupakan kelaziman bagi pengajar perguruan tinggi. Bahkan, di institut-institut 
terkemuka 100 persen pengajarnya berkualifikasi doktor. Doktor- doktor itu mencurahkan 
seluruh waktunya untuk universitas, tidak dipaksa mencari tambahan penghasilan atau 
jabatan di luar kampus.

Tidak seperti di Indonesia pula, lembaga-lembaga pendidikan tinggi yang paling top itu 
sepenuhnya disubsidi negara sehingga orang miskin sekalipun-asal punya otak-tentu 
punya akses belajar di sana. Uang kuliah di perguruan tinggi top itu tidak lebih dari 
10.000 rupee per tahun (sekitar Rp 2 juta), setara dengan gaji guru SD satu bulan. 
Beasiswa dan kredit belajar di perguruan tinggi papan atas tersedia melimpah.

Bukan hanya India yang pemerintahnya serius membenahi pendidikannya. Tiongkok yang 
sekarang menjadi kekuatan raksasa dalam ekonomi bangkit karena pendidikannya berarah 
jelas. Pendidikan Indonesia yang pada tahun 1970-an masih acuan di negara-negara Asia 
Tenggara sekarang melorot ke bawah. Malaysia yang semula berguru ke 
Indonesia-mendatangkan dosen-dosen dari ITB, UI, dan IPB-dalam dua dekade ini telah 
melampaui pencapaian Indonesia. Singapura dan Filipina tidak diragukan lagi. Bahkan, 
Thailand dan Vietnam mulai mengejar Indonesia.

Hampir semua negara di Asia yang cukup diperhitungkan dalam pergaulan dunia berbicara 
pentingnya pendidikan. Mahathir Mohamad menjadikan pendidikan sebagai program 
terpenting pada tahun terakhir pemerintahannya. Perdana Menteri Thailand Thaksin 
Shinawata melalui lima menterinya berjuang sungguh-sungguh membenahi mutu sekolah di 
Thailand. Singapura yang menjadi pusat perdagangan dan ekonomi di Asia Tenggara 
memiliki program menciptakan masyarakat ilmu pengetahuan dan pendidikan seumur hidup. 
Jumlah siswa yang mendaftar masuk ke SMA dan perguruan tinggi di Thailand, Filipina, 
Singapura, dan Malaysia, berada di atas pencapaian Indonesia.

Korea Selatan yang sudah tergolong negara maju dan ketat menempel kekuatan ekonomi 
Jepang sampai kini terus mementingkan pembangunan pendidikannya. Sejak dilanda krisis 
akibat imperialisme, disusul Perang Korea, Korea Selatan bangkit menjadi pesaing kuat 
dua negara yang mengapitnya, Jepang dan Tiongkok. Sumber daya alam yang amat terbatas 
mendorong negara itu meningkatkan kemampuan sumber daya manusianya melalui pendidikan. 
Di kalangan orang Korea, mereka bersedia mengorbankan apa saja untuk pendidikan 
anaknya. Sedangkan pemerintah membebaskan rakyatnya dari semua biaya pendidikan dari 
SD sampai SLTA. Untuk memacu kemajuan pendidikannya Pemerintah Korea Selatan membuat 
program Brain Korea 21 untuk membangun unit unggulan riset di institusi perguruan 
tingginya.

"Brain Korea 21 dimulai tahun 1999 dan direncanakan berlangsung selama tujuh tahun, 
hingga tahun 2006. Melalui program ini pemerintah mengucurkan dana sebesar 1,4 triliun 
won untuk mendanai perguruan tinggi dengan titik berat pada kegiatan riset. BK 21 
menjadi semacam unit riset unggulan dalam pendidikan tinggi Korea Selatan," kata 
Presiden Korean Education Development Institute (KEDI) Lee Chong-jae. Bila dirupiahkan 
dana itu lebih dari Rp 10 triliun.

Vietnam, negara yang sebelumnya tidak pernah kita perhitungkan, kini membayang- 
bayangi Indonesia. Negara yang baru terlepas dari perang pada tahun 1970-an itu kini 
bergerak menyaingi Indonesia dalam pendidikan maupun ekonominya. Hanya dalam 20 tahun, 
mereka bisa menandingi Indonesia, terutama dalam kemampuan sumber daya manusianya. 
Angka melek huruf di negara itu melampaui Indonesia. Pemerintah menginvestasikan 
sekitar tiga persen dari produk domestik kotor (GDP) untuk pendidikan. Di tingkat 
daerah sekitar 18 sampai 20 persen anggaran dialokasikan bagi pendidikan. Pendidikan 
SD gratis. Di tingkat SMP hanya sebagian kecil yang memungut biaya tambahan, itu pun 
dibatasi maksimum 20 sampai 25 dollar AS per tahun.

Mengacu laporan Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP) 2004, tingkat 
kesejahteraan masyarakat Indonesia diukur dari indikator kesehatan, pendidikan, dan 
ekonomi jauh tertinggal dibandingkan dengan negara-negara di Asia Tenggara. Indeks 
Pembangunan Manusia (HDI) Indonesia berada pada peringkat 111 dari 175 negara, jauh di 
bawah Singapura (25), Brunei Darussalam (33), Malaysia (58), Thailand (76), atau 
Filipina (85). Indikator pendidikan dalam komponen HDI memang tidak serta-merta 
mencerminkan posisi pendidikan suatu negara karena ukuran-ukurannya yang bersifat 
kuantitatif. Namun, justru karena itu melihat pendidikan Indonesia secara makro 
mengharuskan kita mengelus dada.

PENDIDIKAN tinggi di Indonesia memang jago kandang. Tidak berbunyi bila dihadapkan 
pada pergaulan dunia, bahkan di tingkat Asia sekalipun. Universitas Indonesia, 
Institut Teknologi Bandung, Universitas Gadjah Mada, Institut Pertanian Bogor, dan 
perguruan tinggi negeri di Jawa lainnya yang selama ini unggulan nasional terpuruk 
bila dibandingkan dengan perguruan tinggi di Asia. Berdasarkan peringkat universitas 
terbaik di Asia versi majalah Asiaweek 2000, tidak satu pun perguruan tinggi di 
Indonesia masuk dalam 20 terbaik.

UI berada di peringkat 61 untuk kategori universitas multidisiplin. UGM di peringkat 
68, Universitas Diponegoro di peringkat 77, Universitas Airlangga di peringkat 75. 
Sedangkan ITB di peringkat 21 untuk universitas sains dan teknologi, kalah 
dibandingkan dengan Universitas Nasional Sains dan Teknologi Pakistan. Itu pun karena 
didongkrak oleh tingginya nilai tingkat seleksi mahasiswa baru, karena banyaknya 
peminat masuk di perguruan tinggi negeri di Indonesia. Akhir-akhir ini, karena didesak 
menambah pemasukan keuangan, berbagai cara ditempuh untuk menambah mahasiswa baru 
tanpa penambahan yang berarti fasilitas pendidikannya.

"Perguruan tinggi Indonesia memang jeblok kalau kita bicara tentang India. Banyak 
perguruan tinggi di India menjalin kerja sama riset tidak hanya di dalam negeri, 
tetapi juga dengan luar negeri. Banyak yang bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan 
di Amerika Serikat, Jepang, dan Korea Selatan. India memang terkenal dalam bidang 
penguasaan riset dan teknologi," kata Ace Suryadi, anggota staf ahli Menteri 
Pendidikan Nasional.

Pendidikan merupakan harapan bagi suatu bangsa yang ambruk dari keterpurukannya. 
Namun, pendidikan di Indonesia tidak bisa memberi banyak harapan, bahkan menjadi 
bagian dari krisis itu sendiri. Target wajib belajar sembilan tahun tidak tercapai 
sesuai dengan waktu yang ditetapkan. Medali emas Avicenna yang diterima Soeharto dari 
lembaga pendidikan dan kebudayaan PBB, UNESCO, atas prestasinya mempercepat pemerataan 
pendidikan dasar tiba-tiba menjadi tidak ada artinya.

Angka partisipasi murni tingkat SD di Indonesia dalam kurun 20 tahun meningkat dari 40 
persen menjadi hampir 100 persen. Namun, kualitasnya sulit dibanggakan. Kini puluhan 
ribu anak SD harus belajar di sekolah bobrok. Ironinya, sampai hari ini pun belum 
terjawab bagaimana pemerintah menangani persoalan yang sangat kasat mata itu.

Sekalipun secara statistik angka partisipasi kasar di tingkat SD lebih dari 100 
persen, masih banyak anak usia SD yang putus sekolah atau malah belum terjangkau sama 
sekali oleh pelayanan pendidikan. Wajib belajar sembilan tahun secara kuantitatif pun 
sulit bisa dituntaskan pada tahun 2008. Sekolah dalam banyak hal tidak bisa menjawab 
kebutuhan hidup sehingga di sejumlah daerah gairah menyekolahkan anak justru mulai 
menurun. Korupsi merajalela, arus otonomisasi keuangan sekolah dan perguruan tinggi 
negeri pendidikan begitu deras sehingga akses pendidikan kalangan bawah makin 
tertutup. Pendidikan secara keseluruhan mau diperlakukan sebagai jasa, bukan hak 
setiap warga negara.

Subsidi untuk perguruan tinggi negeri dipeloroti sehingga mereka dipaksa mencari 
sumber uang sendiri. Keadaan itu mengakibatkan penyaringan mahasiswa tidak sepenuhnya 
adil, lagi-lagi akses masyarakat bawah terhadap pendidikan tinggi yang bagus makin 
tertutup. Akibatnya, pendidikan Indonesia yang semestinya memperkuat struktur 
masyarakat yang egaliter justru bergerak menjadi pemerkuat stratifikasi sosial dalam 
masyarakat. Tidak ada lagi perbedaan antara sekolah atau perguruan tinggi swasta atau 
negeri. Yang ada, sekolah untuk orang miskin, sekolah untuk kelas menengah, sekolah 
untuk orang kaya, dan sekolah untuk superkaya.

Pendidikan berkualitas tidak mungkin murah. Persoalannya, siapa yang harus 
membayarnya? Kewajiban pemerintah untuk menjamin setiap warga negara memperoleh 
pendidikan dasar dan menjamin akses masyarakat bawah untuk mendapatkan pendidikan 
bermutu. Namun, pemerintah justru ingin berkilah dari tanggung jawab itu.

Anggaran pendidikan akan dinaikkan sampai 20 persen dari Anggaran Pendapatan dan 
Belanja Nasional dan Daerah. Semua itu baru katanya. Menteri Pendidikan Nasional Abdul 
Malik Fadjar bersama sejumlah anggota kabinet pernah mengatakan bahwa alokasi 20 
persen APBN akan dilaksanakan secara bertahap sampai tahun 2009. Itu berarti 
diperlukan kenaikan anggaran sekitar Rp 14 triliun per tahun. Kenyataannya, kenaikan 
anggaran pendidikan untuk tahun 2005 hanya sekitar 2,4 triliun.

"Pendidikan memang tidak dianggap penting di Indonesia. Apa pentingnya pendidikan 
Indonesia kalau kita lihat persentase produk domestik bruto dan APBN untuk pendidikan, 
persentase anggaran keluarga, ataupun posisi sosial guru?" kata Toenggoel Siagian, 
pejabat Direktur Eksekutif Perkumpulan Sekolah Kristen Djakarta (PSKD). "Pendidikan di 
Indonesia hanya dianggap sebagai ritus pendewasaan. Tidak lebih dari itu."

Menurut mantan Rektor IKIP Muhammadiyah Jakarta, Dr Mochtar Buchori, pendidikan 
Indonesia penuh dengan anomali, tetapi juga banyak muncul fenomena baru yang 
menjanjikan. Mochtar menunjuk keberhasilan anak-anak muda Indonesia dalam olimpiade 
fisika, matematika, kimia, komputer di tingkat antarbangsa. Pemenang lomba ilmiah 
remaja berkelas dunia justru datang dari Papua. Karena itu, Mochtar mengatakan bahwa 
persoalan pendidikan di Indonesia tidak perlu ditanggapi dengan rasa gelisah yang 
berlebihan meski harus tetap waspada.

Dr Francis Wahono, aktivis organisasi nonpemerintah yang bergerak dalam pendidikan 
kritis di kalangan masyarakat bawah, mengemukakan perlunya revolusi pendidikan yang 
melibatkan murid, orangtua, dan guru untuk mencegah kemunduran pendidikan yang terus 
berlanjut.

"Revolusi pendidikan harus dilakukan. Itu hanya mungkin bila masyarakat pembayar pajak 
menuntut pelayanan pendidikan digalang dan terjadi," kata Wahono. (P BAMBANG WISUDO)
 



Mario Gagho

Political Science

Agra University, India

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
$9.95 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppiindia.shyper.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke