http://www.jurnalperempuan.com/yjp.jpo/?act=artikel%7C0%7CX

Rabu, 15 September 2004
Menjadi Sederhana, Menjadi Luar Biasa 


Oleh R. Valentina


Menurut sebagian orang, bicara lebih mudah daripada berbuat. Tak peduli bicara hal 
yang sederhana, atau sebaliknya yang tinggi dan mengawang-awang, bicara tetap saja 
jauh lebih mudah dibanding merealisasikan. Kita sering menyebut �pembual� bagi mereka 
yang senangnya bicara mengada-ada atau �gombal� bagi mereka yang senangnya merayu 
berlebihan, atau �penipu� bagi mereka yang mengobral janji manis yang tidak sesuai 
dengan kenyataan. Pada era pemerintahan Orde Baru, istilah NATO (No Action Talk Only) 
bahkan menjadi semacam sindiran merujuk pada mereka yang bicara saja dan tak pernah 
mengambil tindakan kongkret. 

Berbeda dengan mereka yang lebih suka bicara, sejumlah orang memilih berbuat dan 
mengerjakan. Mari kita ingat, para pejuang kemerdekaan yang angkat senjata melawan 
penjajah, rela mengorbankan nyawa bagi nusa dan bangsa. Bapak ibu guru yang hampir tak 
pernah mengeluh meski upah mereka seringkali jauh di bawah UMR. Para ibu di pelosok 
pedesaan yang membanting tulang sebagai buruh tani, berupah teramat murah, menjaga 
ketersediaan pangan orang-orang yang membeli sayur di plaza dan supermarket dengan 
harga mahal. Buruh migran (TKI/TKW) yang bekerja di negeri orang dengan sejumlah 
resiko dan tanpa perlindungan yang optimal dari negara. Wartawan yang bekerja di 
lapangan mencari berita akurat, meski harus berhadapan dengan risiko kekerasan dan 
kehilangan nyawa. Para pemulung, bidan di kampung-kampung, tukang sayur, buruh angkut, 
supir angkot, mbok jamu, dsb. Orang-orang ini hampir bisa dipastikan tak pernah 
berharap mendapat tanda jasa atas apa yang telah mereka perbuat. Orang-orang ini jauh 
dari �keren�, �cantik�, �pandai bernyanyi�, �bermassa untuk dimobilisasi�. Orang-orang 
ini kebanyakan tidak cakap bicara yang �tinggi-tinggi�. Mereka memulainya dengan 
mengerjakan hal yang �kecil� dan sederhana. Dan dari kesederhanaan tindakan semacam 
inilah, orang-orang ini hadir di hati kita. 

Tak heran aksi nyata atau tindakan kongkret selalu meninggalkan kesan dan pesan 
mendalam. Tindakan presiden Filipina Arroyo langsung menjemput tenaga kerjanya yang 
dipulangkan, tak bisa dipungkiri memberi kesan simpatik bagi sebagian besar orang. Di 
sisi lain, saling �lempar� antara eksekutif dan DPR menanggapi persoalan TKI/TKW kita 
di terminal III bandara Soekarno-Hatta meninggalkan kesan miris yang tak terlupakan. 
Tindakan Sonia Gandhi yang memilih mundur padahal dia bisa menjadi orang no-1 di 
India, menggoreskan memori bersahaja di hati sebagian orang, seolah mengajarkan makna 
kekuasaan, kepemimpinan, mengabdi untuk rakyat. 

*** 

Rasanya bukan hanya bicara yang merupakan hal biasa. Melahirkan gagasan atau ide 
hebat, juga adalah hal biasa. Apalagi jika ide tersebut lahir dalam suatu konteks dan 
kapasitas tertentu. Misalnya, bukanlah hal yang mengherankan jika seorang panglima 
militer mengatakan akan menjaga keamanan negeri. Atau jika seorang menteri negara 
Pemberdayaan Perempuan mengatakan ingin menghapuskan kekerasan dalam rumah tangga yang 
dialami puluhan ribu perempuan negeri ini. Atau ketika menteri Tenaga Kerja dan 
Transmigrasi mengatakan akan mengatasi persoalan TKI/TKW. 

Setelah sebulan ini dijejali begitu banyak hal dalam kampanye capres cawapres 2004, 
menurut saya, hal serupa diatas adalah hal yang biasa alias lumrah. Sama halnya jika 
seseorang mempunyai gagasan bagus yang berlaku hanya bagi dirinya, dan bukan bagi 
orang lain. 

Sejumlah peristiwa mengenaskan telah terjadi dan menimpa rakyat kita, terutama 
perempuan dan anak. Persoalan TKI/TKW yang selalu mengundang �reaksi� sesaat setelah 
mencuat, --setelahnya kembali tenggelam di antara kunjungan keluar negeri atau pesta 
wah ulang tahun presiden--. Miris rasanya mengingat besaran devisa yang disumbangkan 
TKI/TKW kita, sementara mereka seringkali kembali tinggal nama. Angka kematian ibu 
(AKI) yang baru menjadi topik diskusi di kalangan pejabat, beberapa saat setelah 
dinyatakan tertinggi di Asia, yaitu 350 per 100.000 angka kelahiran hidup. Jumlah gizi 
buruk anak-anak tidak pernah bergeser turun selama sepuluh tahun belakangan ini, 
berkisar 500 orang per tahun, dimana 130 diantaranya bergizi sangat buruk. Bayangkan 
kita �dibebankan� 1,3 juta anak yang mengalami kerusakan otak (brain damaged). 
Perdagangan (trafficking) perempuan dan anak, anak-anak yang bekerja di sektor 
pekerjaan terburuk, anak-anak yang dieksploitasi, perempuan dan anak korban kekerasan 
dalam rumah tangga. 

Meski persoalan perempuan dan anak terbentang nyata di depan mata para capres cawapres 
kita, tetap saja mereka bergeming. Jangankan mengerjakan sejumlah hal, hingga akhir 
kampanye, tak satu pun dari capres cawapres kita berhasil memunculkan alternatif 
kebijakan guna menjawab persoalan riil yang dihadapi perempuan dan anak. Yang terjadi 
adalah, mereka berbicara kata-kata yang umum, lebar, dan terkesan mengawang-ngawang; 
memperhatikan pendidikan, menyediakan lapangan pekerjaan bagi perempuan, kesehatan 
bagi perempuan, dsb. 

Lucunya lagi, dalam kampanye, tak sedikit isu perempuan menjadi bulan bulanan, mulai 
dari yang mendorong istrinya menghimpun kekuatan perempuan (women�s fans club), hingga 
yang menghubung-hubungkan identitasnya sebagai perempuan agar dipilih oleh pemilih 
perempuan. Diantara semua kampanye itu, tak sedikit pun tampak solusi kongkret untuk 
menyelesaikan persoalan perempuan dan anak. Jika jeli, tampak capres cawapres kita 
asyik berfokus pada diri sendiri. Yang belum pernah jadi presiden, sibuk meyakinkan 
bahwa jika ia terpilih, ia akan berbuat bla, bla, bla. Sementara bagi yang pernah atau 
sedang jadi Presiden sibuk memamerkan �prestasi� yang seolah telah diraihnya. Kata 
prestasi dipilih guna menghipnotis rakyat, seolah apa yang dilakukan presiden 
merupakan kebaikan hatinya (charity) ketimbang tanggung jawab (responsibility) nya 
sebagai presiden. 

Jawaban-jawaban capres cawapres terhadap pertanyaan menyangkut isu perempuan pun, 
terlihat seadanya dan basa basi. Bagaimana hendak melahirkan kebijakan kongkret, 
memahami substansi persoalan pun mereka kelihatan ogah-ogahan alias malas-malasan. 

*** 

Maka kembali ke soal biasa, yang paling luar biasa dengan demikian adalah bagaimana 
seseorang melahirkan dan mewujudkan gagasan atau idenya yang berdampak positif tidak 
hanya untuk dirinya, tetapi juga untuk orang lain di sekitarnya. Kita rasanya perlu 
mengatakan kepada para capres cawapres kita, 5 Juli ini semestinya jadi perhelatan 
penting bagi rakyat, khususnya perempuan yang angkanya konon menurut data terakhir 
mencapai 57% dari 155 juta pemilih. Kemungkinan besar, yang kita butuhkan sebagai 
presiden dan wakil presiden adalah orang-orang yang sederhana, bicara dengan 
sederhana, mengajukan hal yang sederhana, dan memahami dengan sederhana. Orang-orang 
sejenis ini menjadikan cinta sebagai nadinya, kejujuran sebagai jantungnya, pengabdian 
pada yang lemah sebagai nafasnya. Orang-orang sejenis yang kita butuhkan adalah orang 
yang sederhana, mungkin pas-pasan dalam soal bicara, tetapi mereka senantiasa 
mendengar, belajar, berbuat kebajikan. Mereka tidak hanya menghapal dan bernyanyi 
�Indonesia Raya� atau �Padamu Negeri�. Dalam kesederhanaan mereka, mereka menjadi luar 
biasa. 


R. Valentina Sagala,adalah Direktur Eksekutif Institut Perempuan. Tulisan ini pernah 
dimuat di kolom Forum, Harian Pikiran Rakyat, 3 Juli 2004. . 





------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
$9.95 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppiindia.shyper.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke