Seharusnya jangan dibalik dalam kita menanggapi Qur'an. Maksudnya begini, Qur'an sebagai sumber ilmu seharusnya kita pelajari sejelas-jelasnya sehingga benar-benar menguasai baik dari segi bahasa sehingga mempunyai satu persepsi secara keilmuan baik secara kelimuan organis, biologis dan budaya. Jangan menguasai Ilmu pengetahuan baru mengenal qur'an dengan demikian ada pernyataan oh ya qur'an ada. Contoh yang riil 'Covernicus dengan mengaku penemuannya menyatakan "bahwa matahari, bumi berputar pada porosnya dan bumi berputar mengelilingin matahari'. Dari mana Covernicus bisa menyatakan hal ini kalau tidak mencuri dari Qur'an coba lihat Qs Yasin ayat 38. Perlu saya informasikan pada bapak Yahudi dan Israel telah menerima Ilmu dari Allah selama 4.000 sejak para Nabi dan Rasul Allah turun di kalangan mereka.
djunaedi sahrawi <[EMAIL PROTECTED]> wrote: http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/1203/09/0802.htm Syariat Islam, Normatif Realistik (II/Habis) Oleh SANUSI UWES PROBLEMATIKA perkembangan pemikiran Islam, idealnya kaum Muslim mengembangkan pemikiran tentang Tuhan, alam, dan manusia, beranjak dari keyakinan autentik (mu'min haqqo -- imtak) terhadap Alquran dan Hadis. Namun juga realitas sosial kaum ilmuwan menunjukkan ada banyak ilmuwan yang mendalami Alquran sesudah memahami realitas alam. Ini berarti dalam praktik kehidupan kaum ilmuwan terjadi sinergi antara berpikir tentang alam beranjak dari pemahamaan awal terhadap Alquran dan Hadis, dengan mereka yang berpikir lebih dahulu tentang alam baru kemudian menelaah Alquran dan Hadis. Jadi semacam justifikasi. Dengan demikian, akan selalu terjadi konsultasi antara imtak dan iptek. Namun dalam kehidupan sehari-hari hal ideal tersebut jarang ditemukan. Terdapat beberapa kemungkinan berkenaan dengan hal tersebut. Pertama, kurang iman terhadap Alquran. Kedua, kurang mengerti Alquran. Ketiga, kurang memahami realitas alam sesungguhnya. Keempat terkonstruksi oleh pikiran-pikiran mitologis terhadap alam. Kelima, terhanyut oleh al-hawa. Keenam, kurang kuat kemauan atau motivasi (dalam dataran esoteris secara generik hal itu dapat dikatakan kurang mengimani Allah dengan segala sifat kesempurnaannya). Dalam pada itu terdapat berbagai problema perkembangan pikiran (yang islami), yang jadi hambatan bagi pencapaian kebenaran universal. Beberapa di antaranya dapat dikemukakan sebagai berikut. Pertama, ilmu sebagai produk pemikiran dalam bentuk materinya (artifisial) merupakan instrumen bagi penguasaan alam. Oleh karena itu dengan ilmu yang kemudian melahirkan teknologi (iptek) manusia berpeluang menguasai alam. Walau Allah menegaskan bahwa setiap manusia ada rezekinya masing-masing, alam ini tetap bersifat terbatas. Problemnya adalah saat suatu kelompok manusia berilmu dan kemudian berlomba menguasai alam, maka manusia yang tidak berilmu tidak kebagian penguasaan alam. Akibatnya, kelompok terakhir ini terpinggirkan dari percaturan penguasaan alam. Sebaliknya, orang yang menguasai ilmu pengetahuan akan bertindak sewenang-wenang menguasai alam bagian orang lain. Itulah sebabnya mengapa orang Eropa yang lebih dahulu menguasai ilmu kemudian menjajah bangsa dan negara lain untuk semata-mata kepentingan bangsa dan kelompoknya sendiri, dengan menguras kekayaan negara terjajah ke negerinya sendiri. Iptek ternyata mendorong keserakahan umat manusia. Oleh karena itu harus diimbangi dengan iman dan takwa (imtak). Melalaui imtak, idealnya motivasi tindakan dapat lebih terkontrol dalam dimensi nilai-nilai kemanusiaan universalnya. Oleh karena itu melalui imtak mestinya kita membuat paradigma baru mengenai berbagai hal, khususnya berkenaan dengan konsep dan term-term ilmu-ilmu yang berkenaan dengan kemanusiaan, baik sosial maupun humaniora. Contoh, konsep kebahagiaan. Dari sisi ekonomi, kebahagiaan adalah terpenuhinya kebutuhan material, dari sisi psikologi tersalurkannya potensi libido (Sigmund Freud) atau kemampuan aktualisasi diri (Maslow) atau penguasaan materi (Karl Marx) atau kerja keras untuk akhirat (Protestan Ethic-Max Weber) dan seterusnya. Tampak sekali bahwa tanpa landasan imtak teori-teori keilmuan tersebut cenderung untuk memenuhi kepentingan manusia secara fisik dan individual. Berbeda dengan itu, melalui imtak dalam konsep Islam, kebahagiaan adalah terpenuhinya nilai-nilai kemanusiaan universal. Kedua, ilmu sebagai produk pemikiran merupakan suatu maqom yang harus dilalui untuk mencapai kepribadian lahut setelah kualitas kepribadian meningkat dari tingkat nasut, malakut,, dan jabarut. Artinya seorang ilmuwan tidak boleh diam menetap pada maqom tersebut dan tidak beranjak lagi sebab maqom tersebut akan jadi penjara bagi pemiliknya (lihat Khomeni, 1993:36) dan hal ini tentu saja akan menurunkan derajat kepribadiannya, mengalami istidraj, penurunan mutu kepribadian. Bentuk perilaku ilmuwan tersebut adalah terbatas pada kesibukan dunia keilmuan demi kepentingan dirinya sendiri. Buku dibaca dimaksudkan untuk memperkuat dalil-dalil dan alasan-alasan akibat negatif dari perilaku yang ditimbulkannya, jadi bukan untuk mempertegas capaian kebenaran bagi peningkatan mutu perilakunya. Ilmunya dijadikan bumper bagi aksi yang dilakukan, dengan memperbanyak argumen pada tiap bagian kelakuannya. Setiap kali membaca buku dan melihat fenomena alam, setiap itu pula cabang pengetahuannya bertambah, serta setiap itu pula bertambah peluang ketertutupan dari hakikat kebenaran yang dikejarnya, termasuk ke dalam hal ini adalah penguasaan orang terhadap ilmu agama. Idealnya penguasaan ilmu Islam paling tidak memakai dua pendekatan, yakni pendekatan keilmuan, dan pendekatan praktik keagamaan. Dalam (a) pendekatan keilmuan, Islam dipahami sebagai objek material ilmu yang distudi, dianalisis, diteliti sebagaimana menstudi dan meneliti objek material ilmu yang lainnya. Dalam kaitan ini kita perlu memerhatikan tiga aspek, yaitu (a1) membebaskan diri dari hegemoni makna yang telah ditulis sejarah masa lalu. Dalam mengembangkan pemikiran Islam, pikiran kita jangan dipenjara oleh sejarah makna sedemikian rupa sehingga hilang potensi kritis dalam memahami Alquran dan Hadis. Hal ini tidak berarti pemikir Muslim mengabaikan produk sejarah pemikiran. Justru kita mengestafetkan pengembangan berpikir melalui pemahaman atas perkembangan pemikiran masa lalu yang kontekstual dengan suasana dan lingkungan yang dihidupinya. Butir (a2) menangkap pesan utama Alquran dan Hadis melalui pemahaman terhadap makna yang syumuliah, kumuliyah, dan kaffah, berkenaan dengan suasana ekonomi, politik, sejarah, peradaban, dan kebudayaan masyarakat saat ayat diturunkan. (a3) menangkap pesan Alquran dan Hadis tidak hanya terbatas pada dimensi legal formal, tetapi masuk ke dalam dimensi etis. Dengan demikian, kembali pada Alquran dan Hadis yang dapat menyelesaikan masalah adalah kembali pada dimensi etis tersebut. Tanpa itu, maka akan terjadi benturan, bentrokan, dan malah saling bunuh hanya gara-gara masing-masing merasa paling benar memegang hukum Alquran sambil mengabaikan tuntutan etisnya untuk menjaga persatuan, persaudaraan, dan kekuatan bagi kemanfaatan manusia terbanyak (khairunnaas, anfa'uhum linnas). Perkembangan pemikiran Islam juga perlu diarahkan kepada (b) pendekatan praktik keagamaan. Pemikiran Islam perlu fokus terhadap metodologi beragama yang benar. Berdasarkan informasi hasil pemikiran ilmu agama, kemudian dilakukan "transfer of skill" keberagamaan ilmu agama. Dalam kaitan ini asumsi tentang hasil pemikiran agama kira-kira sama dengan hasil pemikiran ilmu silat. Buat apa menguasai ilmu silat kalau tidak bisa silat. Pertanyaan yang sama dapat dikemukakan buat apa bicara tentang teori shiddiq, amanah, tabligh, fathanah sebagai sifat nabi yang wajib kita teladani, manakala kita tidak dapat melakukannya. Untuk keperluan itulah, informasi keilmuan agama tersebut perlu ditindaklanjuti dengan metodologinya. Saya kira inilah yang diamanatkan K.H. Ahmad Dahlan dalam metodologi pengajaran agama. Beliau menolak usulan murid-muridnya untuk pindah kajian surat karena peserta kajian dianggap belum bisa mengamalkan isi surat Al-Ma'uun tersebut. Ketiga, akibat ilmuwan yang melepaskan diri dari pemikiran praktisnya adalah sifat sok benar sendiri, untuk kemudian lahir sifat memaksakan pendapat pada pihak lain. Bila pendapatnya tidak terpakai, hal itu dianggap mengabaikan prinsip musyawarah. Sebab bagi mereka, musyawarah berarti "mengikuti pendapat ilmuwan terpenjara persepsinya sendiri" tersebut. Masih rada mendingan manakala hanya sekadar tuduhan mengabaikan prinsip musyawarah, yang lebih parah adalah dengan tidak diikuti kehendaknya lantas merasa sesak napas, sesak dada, dan kemudian meledak dalam bentuk perilaku yang asosial, ademokratis, dan tidak etis dalam hidup kebersamaan sesama masyarakat Islam sendiri, membuat tandingan kekuatan dalam satu kesatuan masyarakat Islam. Macam ragam jenis pemikiran Syariat Islam merupakan bentuk hasil pemikiran mujtahidin Islam berhadapan dengan alam yang didasarkan pada Alquran dan Hadis. Objek materianya meliput seluruh objek pikir manusia yakni tentang Tuhan, alam, dan manusia. Sementara itu, objek formanya seluas dan sebanyak sudut pandang manusia tentang kehidupan. Walau demikian, pemikiran umat Islam sekarang lebih banyak membatasi diri pada persoalan hukum berdasarkan rujukan bahwa "Alquran sebagai kitab hukum" (Q.S. 13:37). Dalam kaitan ini, Fazlurrahman menyatakan bahwa setiap ayat Alquran sesungguhnya berfungsi ganda, yakni fungsi deskriptif dan fungsi preskriptif. Pada fungsi preskriptifnya, hal itu berarti ada sisi-sisi hukum yang dapat diangkat dari ayat khabariyah. Tidak mengherankan manakala kita melihat ilmu hukum (kitab fiqh) sangat dominan sekali dalam perkembangan pemikiran Islam. Namun sebagaimana diyakini dan terungkap di atas, sesungguhnya Alquran meliput seluruh objek materia kepentingan hidup manusia. Sementara objek formanya terkait kepada kemampuan manusia sendiri memahami ayat Alquran. Terdapat ayat yang berbicara tentang hukum umpamanya, selain menegaskan tentang keadilan, juga menegaskan pentingnya kearifan (ihsan), dan karena itu ihsan jadi sangat ditonjolkan, sebagaimana terungkap tingginya peringkat ihsan (memahami hakikat motif di belakang suatu tindakan) dibandingkan tindakan menegakkan keadilan, yang secara lugas menegakkan hukum tanpa pandang bulu situasi dan suasana yang terjadi pada pelaku objek hukum. Dalam pada itu, sebagaimana disebutkan di atas bahwa isi Alquran lebih menunjuk kepada konsep dasar dan bukan pada sistem, memberi peluang yang sangat besar untuk adanya sistem lokal ('urf) yang pada gilirannya memberi kontribusi yang sangat kaya terhadap bentuk dan perkembangan pemikiran Islam. Contoh dalam hal ini dapat ditunjuk tentang hal-hal yang berkaitan dengan hubungan sosial antarmanusia, hubungan manusia dengan Tuhan, serta tentu hubungan antara manusia dan alam. Keragaman sistem musyawarah pada berbagai etnis, komunitas, atau bangsa yang beragama Islam semuanya merujuk kepada ayat wajibnya musyawarah. Namun, karena pola dan sistem kegiatannya merujuk kepada "antum a'lamu bi umuri dun-yakum", bentuknya jadi sangat beragam. Konon menurut Nurcholish Madjid di Saudi Arabia, raja memberi kesempatan tiap hari Jumat untuk didatangi rakyat dari berbagai macam lapisan sosial dan mereka usul dan berdialog dengan raja sebagai salah satu bentuk musyawarah, yang kadangkala dengan melemparkan tulisan pada...bungkus rokok. Dalam kitab-kitab kita memang banyak dibicarakan tentang wajibnya musyawarah, namun kurang dirumuskan bagaimana sistem musyawarah yang bermutu. Demikian juga halnya mengenai wajibnya bersih, sehat, dan wajibnya mengayomi fakir miskin yatim piatu. Namun, bagaimana cara melakukan dan menjaga kebersihan, kesehatan, serta bagaimana mengatur forum-forum musyawarah, hampir dapat dikatakan pada umumnya tidak mengungkapkannya. Oleh karena itu, kita mendapat peluang yang sangat besar untuk improvisasi sebagai bagian dari keniscayaan dalam masyarakat Islam untuk adanya keragaman pikiran dan keanekaan hasil pemikiran. Keragaman pemikiran tentang keimanan pada Allah SWT, yang representatif keilmuannya adalah ilmu tauhid, umat Islam diwarisi keragaman pemikiran yang sangat kaya seperti Khawarij, Murji'ah, Mu'tazilah, Asy'ariyah, dan Maturidiyah. Dalam hal ilmu fikih, kita diwarisi paradigma pemikiran model Hanafi, Syafi'i, Maliki, dan Hambali. Dalam pada itu berkenaan dengan upaya pendekatan diri yang terus-menerus pada Tuhan yang representatif ilmunya adalah tasauf, kita diwarisi dua model yakni Sunni dan Syi'i. Dalam bidang pranata yang menyangkut bentuk pemerintahan kita mengenal sistem Khawarij, Sunni, dan Syi'i. Dalam bidang filsafat kita mengenal tradisional dan liberal. Sementara dalam bidang pembaharuan menurut Harun Nasution adalah Islam tradisional dan Islam progresif (1986: 34-38). Atas dasar deskripsi keragaman pemikiran dalam berbagai bidang tersebut, proporsional manakala umat Islam pada level tertentu yang sangat kental dengan budaya paternalistik dan komformitas akan cukup pusing, bingung, dan malah bengong, karena mereka menganggap agama adalah keseragaman dalam bentuk jenis dan materi kebenaran. Dalam kaitan ini diperlukan kearifan sosial yang mampu membentengi umat dari perpecahan. Di antaranya dapat disebutkan perlunya penegasan bahwa semua yang berpegang pada sumber yang autentik adalah masih tetap dalam koridor keislaman walau di antara mereka tidak saja berbeda, tetapi malah bertentangan dan karena itu jangan cepat menuduh pihak yang berbeda sebagai telah keluar dari Islam, telah menjalankan bid'ah, masuk kategori kafir dan pasti masuk neraka. Kita semua sudah mengetahui bahwa adanya keragaman tersebut sesungguhnya difasilitasi oleh Alquran dan Hadis sendiri dengan adanya ayat atau hadis yang bersifat dzanniy. Menurut Quraish Shihab, "Banyak orang boleh jadi tidak menyadari bahwa salah satu penyebab perbedaan pendapat adalah Alquran dan Sunah. Ini karena sebagian besar dari ayat-ayat Alquran dapat menampung aneka interpretasi." Dari kacamata Tuhan semua yang berpegang teguh pada Alquran adalah hamba-hamba pelaksana ajaran Allah, demikian juga dari sisi subjek pelaksana keislaman, yang menjadikan diri dan kehidupannya sebagai artikulasi keislaman dalam hubungan dirinya dengan Tuhan. Sementara dari kacamata manusia bisa jadi orang berbeda dengan kita dianggap sebagai saingan atau kompetitor yang siap menyudutkan kita. Dalam hubungan antarmanusia yang menganggap hanya ada satu kebenaran dan sebagai pencari kebenaran dia menganggap telah mendapatkan kebenaran secara final, maka orang yang berbeda dengan dia akan pasti dianggap salah sebab tidak mungkin yang benar sama dengan yang salah. Persoalannya bagaimana kita bersikap pada sesama manusia seperti Nabi bersikap pada makhluknya? Bagaimana kita dapat bersikap positif pada manusia lain sebagaimana Nabi dan malah Tuhan bersikap positif pada makhluk? Bagaimana kita dapat berakhlak dengan akhlak Tuhan (Q.S. 28:77). Bagaimana kita memahami bahwa orang yang berbeda dengan kita tersebut mereka pun berhak menyatakan pendapatnya benar dan berhak juga masuk surga. Dengan demikian, jalan ke surga itu banyak dan lebar. Kita harus menyatakan bahwa "jembatan shiratalmustqiim" itu bukan kecil dan sempit seperti rambut dibelah tujuh, tetapi lebar dan leluasa, seperti jalan tol yang memuat seribu jalur mobil, dengan catatan semuanya berpegang teguh kepada autentisitas kebenaran Alquran dan Hadis Nabi. Khawarij berpikir bertindak autentik, di akhirat masuk ke surga; Murjiah berpikir bertindak autentik, di akhirat masuk ke surga; Mu'tazilah berpikir bertindak autentik, di akhirat masuk ke surga; Asy'ariyah berpikir bertindak autentik, di akhirat masuk ke surga; Maturidiyah berpikir bertindak autentik, di akhirat masuk ke surga; Maliki berpikir bertindak autentik, di akhirat masuk ke surga; Hanafi berpikir bertindak autentik, di akhirat masuk ke surga; Syafi'i berpikir bertindak autentik, di akhirat masuk ke surga; Hambali berpikir bertindak autentik, di akhirat masuk ke surga; Khawarij berpikir bertindak autentik, di akhirat masuk ke surga; Syiah berpikir bertindak autentik, di akhirat masuk ke surga. _______________________________ Do you Yahoo!? Declare Yourself - Register online to vote today! http://vote.yahoo.com *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppiindia.shyper.com *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups SponsorADVERTISEMENT --------------------------------- Yahoo! Groups Links To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service. __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> $9.95 domain names from Yahoo!. Register anything. http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppiindia.shyper.com *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

