Nuwun Sewu... Maaf, kalau memperhatikan 2 ayat Yaasiin (37 dan 38) seperti ini: Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah malam; Kami tanggalkan siang dari malam itu, maka dengan serta merta mereka berada dalam kegelapan,
dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. -----> Justru pandangannya masih pra-Copernicus. Sebab di situ dijelaskan yang berjalan di garis peredarannya adalah MATAHARI, bukan BUMI, sehingga seolah-olah antara gelap dan terang bergantian, dengan klausul: "Kami tanggalkan siang dari malam itu". Boleh jadi memang demikian, karena pada waktu itu kan belum ada TELESKOP. Seedang kalau tak salah entah si Coper atau si Galileo memperhatikan bentuk-2 benda langit (matahari dan bulan?) dari bayangannya di air. Malah diceritakan mengapa mBah Galileo atau mBah Coper memutuskan bahwa bumi bulat, karena mem- perhatikan kedatangan sebuah kapal layar yang menuju pelabuhan, mengapa ketika masih jauh hanya kelihatan tiyang pancang layarnya, dan ketika mendekat menjadi semakin utuh....;p. Kuncinya, pada waktu era Yaasiin, kemungkinan sulit memberi pengertian kepada ummat bila langsung informatif ngilmiah. --nuwun sewu (ikutan Mas Singo...) --- In [EMAIL PROTECTED], man diri <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Seharusnya jangan dibalik dalam kita menanggapi Qur'an. > Maksudnya begini, Qur'an sebagai sumber ilmu seharusnya kita pelajari sejelas-jelasnya sehingga benar-benar menguasai baik dari segi bahasa sehingga mempunyai satu persepsi secara keilmuan baik secara kelimuan organis, biologis dan budaya. > Jangan menguasai Ilmu pengetahuan baru mengenal qur'an dengan demikian ada pernyataan oh ya qur'an ada. > Contoh yang riil 'Covernicus dengan mengaku penemuannya menyatakan "bahwa matahari, bumi berputar pada porosnya dan bumi berputar mengelilingin matahari'. > Dari mana Covernicus bisa menyatakan hal ini kalau tidak mencuri dari Qur'an coba lihat Qs Yasin ayat 38. > Perlu saya informasikan pada bapak Yahudi dan Israel telah menerima Ilmu dari Allah selama 4.000 sejak para Nabi dan Rasul Allah turun di kalangan mereka. > > > > > > > djunaedi sahrawi <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/1203/09/0802.htm > > Syariat Islam, Normatif Realistik (II/Habis) > Oleh SANUSI UWES > > PROBLEMATIKA perkembangan pemikiran Islam, idealnya > kaum Muslim mengembangkan pemikiran tentang Tuhan, > alam, dan manusia, beranjak dari keyakinan autentik > (mu'min haqqo -- imtak) terhadap Alquran dan Hadis. > Namun juga realitas sosial kaum ilmuwan menunjukkan > ada banyak ilmuwan yang mendalami Alquran sesudah > memahami realitas alam. Ini berarti dalam praktik > kehidupan kaum ilmuwan terjadi sinergi antara berpikir > tentang alam beranjak dari pemahamaan awal terhadap > Alquran dan Hadis, dengan mereka yang berpikir lebih > dahulu tentang alam baru kemudian menelaah Alquran dan > Hadis. Jadi semacam justifikasi. Dengan demikian, akan > selalu terjadi konsultasi antara imtak dan iptek. > Namun dalam kehidupan sehari-hari hal ideal tersebut > jarang ditemukan. > > Terdapat beberapa kemungkinan berkenaan dengan hal > tersebut. Pertama, kurang iman terhadap Alquran. > Kedua, kurang mengerti Alquran. Ketiga, kurang > memahami realitas alam sesungguhnya. Keempat > terkonstruksi oleh pikiran-pikiran mitologis terhadap > alam. Kelima, terhanyut oleh al-hawa. Keenam, kurang > kuat kemauan atau motivasi (dalam dataran esoteris > secara generik hal itu dapat dikatakan kurang > mengimani Allah dengan segala sifat kesempurnaannya). > > Dalam pada itu terdapat berbagai problema perkembangan > pikiran (yang islami), yang jadi hambatan bagi > pencapaian kebenaran universal. Beberapa di antaranya > dapat dikemukakan sebagai berikut. Pertama, ilmu > sebagai produk pemikiran dalam bentuk materinya > (artifisial) merupakan instrumen bagi penguasaan alam. > Oleh karena itu dengan ilmu yang kemudian melahirkan > teknologi (iptek) manusia berpeluang menguasai alam. > Walau Allah menegaskan bahwa setiap manusia ada > rezekinya masing-masing, alam ini tetap bersifat > terbatas. > > Problemnya adalah saat suatu kelompok manusia berilmu > dan kemudian berlomba menguasai alam, maka manusia > yang tidak berilmu tidak kebagian penguasaan alam. > Akibatnya, kelompok terakhir ini terpinggirkan dari > percaturan penguasaan alam. Sebaliknya, orang yang > menguasai ilmu pengetahuan akan bertindak > sewenang-wenang menguasai alam bagian orang lain. > Itulah sebabnya mengapa orang Eropa yang lebih dahulu > menguasai ilmu kemudian menjajah bangsa dan negara > lain untuk semata-mata kepentingan bangsa dan > kelompoknya sendiri, dengan menguras kekayaan negara > terjajah ke negerinya sendiri. > > Iptek ternyata mendorong keserakahan umat manusia. > Oleh karena itu harus diimbangi dengan iman dan takwa > (imtak). Melalaui imtak, idealnya motivasi tindakan > dapat lebih terkontrol dalam dimensi nilai-nilai > kemanusiaan universalnya. Oleh karena itu melalui > imtak mestinya kita membuat paradigma baru mengenai > berbagai hal, khususnya berkenaan dengan konsep dan > term-term ilmu-ilmu yang berkenaan dengan kemanusiaan, > baik sosial maupun humaniora. > > Contoh, konsep kebahagiaan. Dari sisi ekonomi, > kebahagiaan adalah terpenuhinya kebutuhan material, > dari sisi psikologi tersalurkannya potensi libido > (Sigmund Freud) atau kemampuan aktualisasi diri > (Maslow) atau penguasaan materi (Karl Marx) atau kerja > keras untuk akhirat (Protestan Ethic-Max Weber) dan > seterusnya. Tampak sekali bahwa tanpa landasan imtak > teori-teori keilmuan tersebut cenderung untuk memenuhi > kepentingan manusia secara fisik dan individual. > Berbeda dengan itu, melalui imtak dalam konsep Islam, > kebahagiaan adalah terpenuhinya nilai-nilai > kemanusiaan universal. > > Kedua, ilmu sebagai produk pemikiran merupakan suatu > maqom yang harus dilalui untuk mencapai kepribadian > lahut setelah kualitas kepribadian meningkat dari > tingkat nasut, malakut,, dan jabarut. Artinya seorang > ilmuwan tidak boleh diam menetap pada maqom tersebut > dan tidak beranjak lagi sebab maqom tersebut akan jadi > penjara bagi pemiliknya (lihat Khomeni, 1993:36) dan > hal ini tentu saja akan menurunkan derajat > kepribadiannya, mengalami istidraj, penurunan mutu > kepribadian. > > Bentuk perilaku ilmuwan tersebut adalah terbatas pada > kesibukan dunia keilmuan demi kepentingan dirinya > sendiri. Buku dibaca dimaksudkan untuk memperkuat > dalil-dalil dan alasan-alasan akibat negatif dari > perilaku yang ditimbulkannya, jadi bukan untuk > mempertegas capaian kebenaran bagi peningkatan mutu > perilakunya. Ilmunya dijadikan bumper bagi aksi yang > dilakukan, dengan memperbanyak argumen pada tiap > bagian kelakuannya. Setiap kali membaca buku dan > melihat fenomena alam, setiap itu pula cabang > pengetahuannya bertambah, serta setiap itu pula > bertambah peluang ketertutupan dari hakikat kebenaran > yang dikejarnya, termasuk ke dalam hal ini adalah > penguasaan orang terhadap ilmu agama. > > Idealnya penguasaan ilmu Islam paling tidak memakai > dua pendekatan, yakni pendekatan keilmuan, dan > pendekatan praktik keagamaan. Dalam (a) pendekatan > keilmuan, Islam dipahami sebagai objek material ilmu > yang distudi, dianalisis, diteliti sebagaimana > menstudi dan meneliti objek material ilmu yang > lainnya. Dalam kaitan ini kita perlu memerhatikan tiga > aspek, yaitu (a1) membebaskan diri dari hegemoni makna > yang telah ditulis sejarah masa lalu. > > Dalam mengembangkan pemikiran Islam, pikiran kita > jangan dipenjara oleh sejarah makna sedemikian rupa > sehingga hilang potensi kritis dalam memahami Alquran > dan Hadis. Hal ini tidak berarti pemikir Muslim > mengabaikan produk sejarah pemikiran. Justru kita > mengestafetkan pengembangan berpikir melalui pemahaman > atas perkembangan pemikiran masa lalu yang kontekstual > dengan suasana dan lingkungan yang dihidupinya. > > Butir (a2) menangkap pesan utama Alquran dan Hadis > melalui pemahaman terhadap makna yang syumuliah, > kumuliyah, dan kaffah, berkenaan dengan suasana > ekonomi, politik, sejarah, peradaban, dan kebudayaan > masyarakat saat ayat diturunkan. (a3) menangkap pesan > Alquran dan Hadis tidak hanya terbatas pada dimensi > legal formal, tetapi masuk ke dalam dimensi etis. > > Dengan demikian, kembali pada Alquran dan Hadis yang > dapat menyelesaikan masalah adalah kembali pada > dimensi etis tersebut. Tanpa itu, maka akan terjadi > benturan, bentrokan, dan malah saling bunuh hanya > gara-gara masing-masing merasa paling benar memegang > hukum Alquran sambil mengabaikan tuntutan etisnya > untuk menjaga persatuan, persaudaraan, dan kekuatan > bagi kemanfaatan manusia terbanyak (khairunnaas, > anfa'uhum linnas). > > Perkembangan pemikiran Islam juga perlu diarahkan > kepada (b) pendekatan praktik keagamaan. Pemikiran > Islam perlu fokus terhadap metodologi beragama yang > benar. Berdasarkan informasi hasil pemikiran ilmu > agama, kemudian dilakukan "transfer of skill" > keberagamaan ilmu agama. Dalam kaitan ini asumsi > tentang hasil pemikiran agama kira-kira sama dengan > hasil pemikiran ilmu silat. Buat apa menguasai ilmu > silat kalau tidak bisa silat. Pertanyaan yang sama > dapat dikemukakan buat apa bicara tentang teori > shiddiq, amanah, tabligh, fathanah sebagai sifat nabi > yang wajib kita teladani, manakala kita tidak dapat > melakukannya. Untuk keperluan itulah, informasi > keilmuan agama tersebut perlu ditindaklanjuti dengan > metodologinya. Saya kira inilah yang diamanatkan K.H. > Ahmad Dahlan dalam metodologi pengajaran agama. Beliau > menolak usulan murid-muridnya untuk pindah kajian > surat karena peserta kajian dianggap belum bisa > mengamalkan isi surat Al-Ma'uun tersebut. > > Ketiga, akibat ilmuwan yang melepaskan diri dari > pemikiran praktisnya adalah sifat sok benar sendiri, > untuk kemudian lahir sifat memaksakan pendapat pada > pihak lain. Bila pendapatnya tidak terpakai, hal itu > dianggap mengabaikan prinsip musyawarah. Sebab bagi > mereka, musyawarah berarti "mengikuti pendapat ilmuwan > terpenjara persepsinya sendiri" tersebut. Masih rada > mendingan manakala hanya sekadar tuduhan mengabaikan > prinsip musyawarah, yang lebih parah adalah dengan > tidak diikuti kehendaknya lantas merasa sesak napas, > sesak dada, dan kemudian meledak dalam bentuk perilaku > yang asosial, ademokratis, dan tidak etis dalam hidup > kebersamaan sesama masyarakat Islam sendiri, membuat > tandingan kekuatan dalam satu kesatuan masyarakat > Islam. > > Macam ragam jenis pemikiran > > Syariat Islam merupakan bentuk hasil pemikiran > mujtahidin Islam berhadapan dengan alam yang > didasarkan pada Alquran dan Hadis. Objek materianya > meliput seluruh objek pikir manusia yakni tentang > Tuhan, alam, dan manusia. Sementara itu, objek > formanya seluas dan sebanyak sudut pandang manusia > tentang kehidupan. Walau demikian, pemikiran umat > Islam sekarang lebih banyak membatasi diri pada > persoalan hukum berdasarkan rujukan bahwa "Alquran > sebagai kitab hukum" (Q.S. 13:37). > > Dalam kaitan ini, Fazlurrahman menyatakan bahwa setiap > ayat Alquran sesungguhnya berfungsi ganda, yakni > fungsi deskriptif dan fungsi preskriptif. Pada fungsi > preskriptifnya, hal itu berarti ada sisi-sisi hukum > yang dapat diangkat dari ayat khabariyah. Tidak > mengherankan manakala kita melihat ilmu hukum (kitab > fiqh) sangat dominan sekali dalam perkembangan > pemikiran Islam. Namun sebagaimana diyakini dan > terungkap di atas, sesungguhnya Alquran meliput > seluruh objek materia kepentingan hidup manusia. > Sementara objek formanya terkait kepada kemampuan > manusia sendiri memahami ayat Alquran. Terdapat ayat > yang berbicara tentang hukum umpamanya, selain > menegaskan tentang keadilan, juga menegaskan > pentingnya kearifan (ihsan), dan karena itu ihsan jadi > sangat ditonjolkan, sebagaimana terungkap tingginya > peringkat ihsan (memahami hakikat motif di belakang > suatu tindakan) dibandingkan tindakan menegakkan > keadilan, yang secara lugas menegakkan hukum tanpa > pandang bulu situasi dan suasana yang terjadi pada > pelaku objek hukum. > > Dalam pada itu, sebagaimana disebutkan di atas bahwa > isi Alquran lebih menunjuk kepada konsep dasar dan > bukan pada sistem, memberi peluang yang sangat besar > untuk adanya sistem lokal ('urf) yang pada gilirannya > memberi kontribusi yang sangat kaya terhadap bentuk > dan perkembangan pemikiran Islam. Contoh dalam hal ini > dapat ditunjuk tentang hal-hal yang berkaitan dengan > hubungan sosial antarmanusia, hubungan manusia dengan > Tuhan, serta tentu hubungan antara manusia dan alam. > > Keragaman sistem musyawarah pada berbagai etnis, > komunitas, atau bangsa yang beragama Islam semuanya > merujuk kepada ayat wajibnya musyawarah. Namun, karena > pola dan sistem kegiatannya merujuk kepada "antum > a'lamu bi umuri dun-yakum", bentuknya jadi sangat > beragam. Konon menurut Nurcholish Madjid di Saudi > Arabia, raja memberi kesempatan tiap hari Jumat untuk > didatangi rakyat dari berbagai macam lapisan sosial > dan mereka usul dan berdialog dengan raja sebagai > salah satu bentuk musyawarah, yang kadangkala dengan > melemparkan tulisan pada...bungkus rokok. > > Dalam kitab-kitab kita memang banyak dibicarakan > tentang wajibnya musyawarah, namun kurang dirumuskan > bagaimana sistem musyawarah yang bermutu. Demikian > juga halnya mengenai wajibnya bersih, sehat, dan > wajibnya mengayomi fakir miskin yatim piatu. Namun, > bagaimana cara melakukan dan menjaga kebersihan, > kesehatan, serta bagaimana mengatur forum-forum > musyawarah, hampir dapat dikatakan pada umumnya tidak > mengungkapkannya. Oleh karena itu, kita mendapat > peluang yang sangat besar untuk improvisasi sebagai > bagian dari keniscayaan dalam masyarakat Islam untuk > adanya keragaman pikiran dan keanekaan hasil > pemikiran. > > Keragaman pemikiran tentang keimanan pada Allah SWT, > yang representatif keilmuannya adalah ilmu tauhid, > umat Islam diwarisi keragaman pemikiran yang sangat > kaya seperti Khawarij, Murji'ah, Mu'tazilah, > Asy'ariyah, dan Maturidiyah. Dalam hal ilmu fikih, > kita diwarisi paradigma pemikiran model Hanafi, > Syafi'i, Maliki, dan Hambali. Dalam pada itu berkenaan > dengan upaya pendekatan diri yang terus-menerus pada > Tuhan yang representatif ilmunya adalah tasauf, kita > diwarisi dua model yakni Sunni dan Syi'i. Dalam bidang > pranata yang menyangkut bentuk pemerintahan kita > mengenal sistem Khawarij, Sunni, dan Syi'i. Dalam > bidang filsafat kita mengenal tradisional dan liberal. > Sementara dalam bidang pembaharuan menurut Harun > Nasution adalah Islam tradisional dan Islam progresif > (1986: 34-38). > > Atas dasar deskripsi keragaman pemikiran dalam > berbagai bidang tersebut, proporsional manakala umat > Islam pada level tertentu yang sangat kental dengan > budaya paternalistik dan komformitas akan cukup > pusing, bingung, dan malah bengong, karena mereka > menganggap agama adalah keseragaman dalam bentuk jenis > dan materi kebenaran. Dalam kaitan ini diperlukan > kearifan sosial yang mampu membentengi umat dari > perpecahan. Di antaranya dapat disebutkan perlunya > penegasan bahwa semua yang berpegang pada sumber yang > autentik adalah masih tetap dalam koridor keislaman > walau di antara mereka tidak saja berbeda, tetapi > malah bertentangan dan karena itu jangan cepat menuduh > pihak yang berbeda sebagai telah keluar dari Islam, > telah menjalankan bid'ah, masuk kategori kafir dan > pasti masuk neraka. > > Kita semua sudah mengetahui bahwa adanya keragaman > tersebut sesungguhnya difasilitasi oleh Alquran dan > Hadis sendiri dengan adanya ayat atau hadis yang > bersifat dzanniy. Menurut Quraish Shihab, "Banyak > orang boleh jadi tidak menyadari bahwa salah satu > penyebab perbedaan pendapat adalah Alquran dan Sunah. > Ini karena sebagian besar dari ayat-ayat Alquran dapat > menampung aneka interpretasi." > > Dari kacamata Tuhan semua yang berpegang teguh pada > Alquran adalah hamba-hamba pelaksana ajaran Allah, > demikian juga dari sisi subjek pelaksana keislaman, > yang menjadikan diri dan kehidupannya sebagai > artikulasi keislaman dalam hubungan dirinya dengan > Tuhan. Sementara dari kacamata manusia bisa jadi orang > berbeda dengan kita dianggap sebagai saingan atau > kompetitor yang siap menyudutkan kita. Dalam hubungan > antarmanusia yang menganggap hanya ada satu kebenaran > dan sebagai pencari kebenaran dia menganggap telah > mendapatkan kebenaran secara final, maka orang yang > berbeda dengan dia akan pasti dianggap salah sebab > tidak mungkin yang benar sama dengan yang salah. > > Persoalannya bagaimana kita bersikap pada sesama > manusia seperti Nabi bersikap pada makhluknya? > Bagaimana kita dapat bersikap positif pada manusia > lain sebagaimana Nabi dan malah Tuhan bersikap positif > pada makhluk? Bagaimana kita dapat berakhlak dengan > akhlak Tuhan (Q.S. 28:77). Bagaimana kita memahami > bahwa orang yang berbeda dengan kita tersebut mereka > pun berhak menyatakan pendapatnya benar dan berhak > juga masuk surga. Dengan demikian, jalan ke surga itu > banyak dan lebar. Kita harus menyatakan bahwa > "jembatan shiratalmustqiim" itu bukan kecil dan sempit > seperti rambut dibelah tujuh, tetapi lebar dan > leluasa, seperti jalan tol yang memuat seribu jalur > mobil, dengan catatan semuanya berpegang teguh kepada > autentisitas kebenaran Alquran dan Hadis Nabi. > > Khawarij berpikir bertindak autentik, di akhirat masuk > ke surga; Murjiah berpikir bertindak autentik, di > akhirat masuk ke surga; Mu'tazilah berpikir bertindak > autentik, di akhirat masuk ke surga; Asy'ariyah > berpikir bertindak autentik, di akhirat masuk ke > surga; Maturidiyah berpikir bertindak autentik, di > akhirat masuk ke surga; Maliki berpikir bertindak > autentik, di akhirat masuk ke surga; Hanafi berpikir > bertindak autentik, di akhirat masuk ke surga; Syafi'i > berpikir bertindak autentik, di akhirat masuk ke > surga; Hambali berpikir bertindak autentik, di akhirat > masuk ke surga; Khawarij berpikir bertindak autentik, > di akhirat masuk ke surga; Syiah berpikir bertindak > autentik, di akhirat masuk ke surga. > > > > > _______________________________ > Do you Yahoo!? > Declare Yourself - Register online to vote today! > http://vote.yahoo.com > > > ********************************************************************** ***** > Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppiindia.shyper.com > ********************************************************************** ***** > ______________________________________________________________________ ____ > Mohon Perhatian: > > 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) > 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. > 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; > 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] > 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] > 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] > 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] > > > > Yahoo! Groups SponsorADVERTISEMENT > > > --------------------------------- > Yahoo! Groups Links > > To visit your group on the web, go to: > http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ > > To unsubscribe from this group, send an email to: > [EMAIL PROTECTED] > > Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service. > > > __________________________________________________ > Do You Yahoo!? > Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around > http://mail.yahoo.com > > [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar. Now with Pop-Up Blocker. Get it for free! http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppiindia.shyper.com *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

