SURAT KEMBANG KEMUNING: AUS ATAUKAH PENGKHIANATAN?
Berdirinya Forum United In Diversity (UID) yang diprakarsai oleh tokoh berwatak dan berpinsip seperti Aristides Katoppo, aku kira merupakan suatu kejadian yang perlu dicatat dengan harapan terbaik. Bukan hanya harapan terbaik tetapi juga dengan kesadaran akan tidak gampangnya jalan yang akan ditempuh, tapi karena mengenal Tides sebagai orang berpengalaman, ulet, berprinsip dan tegas, barangkali tidak terlalu berkelebihan jika aku menaruh kepercayaan bahwa UID akan melangkah sampai ujung -- jika memang ada ujung dari mimpi. Berdirinya UID melalui prakarsa Tides, juga memperlihatkan ketokohan berwatak dan berprinsip Tides -- sebagaimana biasa beliau dipanggil -- yang tidak kuasa dilekangkan serta dilapukkan oleh waktu dan usia. Tides masih tetap Tides yang seorang pemimpi dengan mimpi-mimpi agung. Barangkali kalimat ini memperoleh pembuktian baru dari Forum UID Rabu (15/9) pukul 16.00 di toko buku Kinokuniya, Plaza Senayan Jakarta, di mana diluncurkan buku "The Indonesian Dream: Unity, Diversity and Democracy in Times of Distrust", dengan editor Thang D. Nguyen, dan "Seluruh hasil penjualan buku itu akan disalurkan untuk kegiatan pendidikan Forum UID guna memfasilitasi para pemimpin Indonesia masa mendatang"[lihat:Sinar Harapan, Jakarta, 15 September 2004]. Dari tujuan ini nampak bahwa UID [cq. Tides] memandang jauh ke depan dan menggantungkan harapan selanjutnya dan mimpinya pada angkatan baru sehingga sesuai ungkapan tetua kita: "hilang satu tumbuh seribu, patah tumbuh hilang berganti". Aku menggaris bawahi arti mimpi, karena kukira di dunia ini kita tidak kelebihan mimpi. Hak-hak sipil di Amerika Serikat mulai dari mimpi Martin Lether King yang membayarnya dengan nyawa, tapi gaung suaranya yang berkata: "I have a dream" masih saja menggema tak kunjung lenyap. "I have a dream" berdiri hadap-hadapan dengan "the end of history" Fran�is Fukyuyama.Republik Indonesia pun berangkat dari mimpi. Tentu saja mimpi yang kumaksud bukanlah mimpi yang anti kemanusiaan, anti keadilan dan anti nilai-nilai republiken, bukan pula ulah dari fanatisme yang merabunkan pandang. Kehadiran UID menjadi sangat tepat waktu dan sangat diperlukan ketika Indonesia seperti yang dikatakan oleh Martani Huseini berada dalam keadaan "tidak punya duit, tidak punya nurani dan lain-lain. Hancur-hancuran. Maka ini harus cepat dibenahi" dan mengalami "gejala disintegrasi bangsa" jika menggunakan istilah Rudy Pesik,Rudy Pesik, Chairman & CEO PT Birotika Semesta/DHL.Rudy Pesik, Chairman & CEO PT Birotika Semesta/DHL. Apakah gerangan wajah mimpi UID dan Tides? Wajah mimpi ini jelas-jelas diukirkan melalui judul buku "The Indonesian Dream" yang diluncurkan pada 15 September lalu. Dan "The Indonesian Dream" itu tidak lain dari Indonesia yang bhinneka dan demokratis. Yang sangat menarik bahwa "The Indonesian Dream" ini justru digaungkan oleh UID dan Tides pada saat "sebagian warga Aceh, Ambon dan Papua ingin merdeka" ketika bom demi bom menggelegar meledakkan Indonesia sampai di Kuningan. Gelegar bom maut yang oleh Martani Huseini, Wakil Rektor IV Universitas Indonesia (UI), dinilai sebagai petunjuk bahwa "fondasi bangsa sudah goyah, sehingga harus segera dicarikan perekat untuk memperkuat kembali fondasi tersebut". Masalah "perekat" bangsa inilah yang juga pernah dijadikan salah satu mata diskusi diketengahkan oleh mantan Dubes RI untuk Negeri Belanda ketika secara khusus berkunjung ke Koperasi Restoran Indonesia, Paris, yang pernah dimusuhi oleh Orba selama beberapa dasawarsa, sebelum beliau meninggalkan Eropa dan diulangi oleh sementara diplomat RI dalam dialog kami ketika merayakan 17 Agustus 2004 di Wisma Duta Paris. Apakah perekat bangsa kita benar-benar "sudah goyah", "sudah aus" sehingga perlu di renovasi"? Apakah gerangan perekat bangsa itu? Kukira, "perekat bangsa" itu tidak lain dari serangkaian nilai. Apakah nilai-nilai itu? Ketika kita menamakan negara kita sebagai Republik Indonesia, maka nilai itu sebenarnya sudah kita tetapkan pada kata-kata Republik dan Indonesia. Republik dan Indonesia, bagiku tidak lain dari kata-kata yang mengandung serangkaian nilai untuk mewujudkan kehidupan manusiawi di wilayah bernama negara Repulik Indonesia sebagai sumbangan bagi kemanusiaan secara umum berangkat dari suatu geografis tertentu. Republik mengandung nilai-nilai kemerdekaan, kesetaraan dan persaudaraan dan Indonesia selain menunjuk kepada wilayah geografis tertentu, ia juga menunjukkan kepada keragaman penduduk dan warganya. Beragam dalam budaya tapi satu dalam nilai-nilai republiken. Nilai-nilai republiken tidak lain dari nilai-nilai manusiawi. Keragaman adalah ciri dari kehidupan manusiawi anak manusia. Di sinilah kukira keuniversalan semboyan bhinneka tunggal ika. Kita bisa bertanya kembali saat berbicara tentang "perekat bangsa": Apakah nilai-nilai republiken dan keindonesiaan sudah "aus" dan perlu "direnovasi?". Apabila nilai republiken dan keindonesiaan dianggap "aus" kukira sama dengan mengatakan nilai-nilai manusiawi sudah "aus". Benarkah nilai-nilai manusiawi itu "aus"? "Aus" di sini kupahami sebagai tidak tanggap zaman dan tidak lagi aspiratif lagi.Di mana ausnya? Jika demikian pertanyaannya, maka aku kira cara pandang sudah melenceng.Tidak lagi kena sasaran. Karena aku menganggap nilai-nilai republiken dan keindonesiaan belum dan tidak aus sehingga perlu "direnovasi".Yang terjadi bahwa nilai-nilai itu tidak dilaksanakan atau diingikari bahkan dikhianati. Barangkali pernyataan bahwa nilai-nilai itu "goyah" akan lebih menjelaskan keadaan dari pada mengatakannya sebagai nilai-nilai yang "aus". Lebih mengena karena dari penilaian "goyah" kita bisa bertanya mengapa "goyah", siapa yang menggoyahkannya? Menjawab pertanyaan ini maka praktek Orba Soeharto yang dilukiskan oleh Martani Huseini bahwa "pada zaman Presiden Soeharto memakai "Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4)", bisa membantu kita. Lebih-lebih jika kita ingat bahwa untuk menindak lanjut P4, Orba Soeharto mentrapkan "asas tunggal" yang pada hakekat dan prakteknya bertentangan dengan dengan nilai-nilai republiken dan keindonesiaan serta "bhinneka tunggal ika". Keadaan menjadi menggawat ketika asas tunggal ini dikawal oleh bayonet "pendekatan keamanan dan kestabilan nasional" demi "agama pembangunan". Dengan nilai-nilai dan usahanya menciptakan "manusia pancasila Orba" [Pancasila Soekarno dan Soeharto adalah berbeda!], Soeharto telah membangun suatu imperium keluarga dengan dirinya sebagai kaisar atau sang raja. Kekaisaran dan kerajaan bertolak belakang dengan Republik serta Indonesia. Apabila IGGI sejak awal membantu tegaknya imperium dan kerajaan Orba, tidak adakah tanggungjawab mereka terhadap keadaan Indonesia dewasa ini? Bisakah imperium dan kerajaan Orba Soeharto tegak tanpa IGGI? Kalau jawaban pertanyaan ini "ya" maka jalan keluar bagi Indonesia yang republiken kukira terletak pada menjadi Indonesia Kekinian bukan menjadi Indonesia yang negeri dan negara budak-budak. Kalau sekarang di berbagai daerah muncul isu "kemerdekaan" maka kesalahan pertama-tama kukira tidak ditimpakan pada daerah-daerah, tetapi pada akarnya. Dan akar itu kukira ada di Jakarta yang telah mengkhianati Republik dan Indonesia. Apabila parlemen dan presiden baru kelak meneruskan pilihan politik imperium dan kerajaan Orba Soeharto, maka bisa dibayangkan kericuhan bukannya akan makin mereda. Dan aku tidak percaya bahwa bayonet yang berlumuran darah putera-puteri daerah akan mampu menyelesaikan masalah kecuali hanya menumbuhkan dendam tujuh turunan. Untuk menjawab keadaan barangkali kita perlu melihat keadaan sebagaimana adanya. Singkatnya aku tidak melihat "keausan" nilai-nilai republiken dan keindonesiaan. Yang ada yalah pengkhianatan terhadapnya. Paris, September 2004. --------------------- JJ.Kusni [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar. Now with Pop-Up Blocker. Get it for free! http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppiindia.shyper.com *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

