Sekali-kali mau berteori Konspirasi, yg "katanya" ada "bukti empirik"....
Sekedar menduga-duga... sama spt yg lain, khan???

"Bukti-bukti empirik" (Katanya) tambahan :
1. 8 Sep 2004 baru di-lauch Detasemen 88 Anti Teror yang dibiayai
Pemerintah Australia
2. 9 sep 2004 jam 10 pagi Kapolri Dai Bachtiar dijadwal sidang dg anggota
DPR
3. Bom meledak pada tgl 9 Sep 2004, beberapa saat sebelum Da'i Bachtiar
menyatakan
   situasi Indonesia "aman terkendali" sehingga sempat membuat Da'i
Bachtiar seperti
   orang linglung.

Dengan demikian, bisakah diduga :
1. Dalang dan Pelaku Pemboman itu kelompok yang tidak suka Detasemen anti
teror dibentuk
2. Dalang pemboman benci pada Pemerintah Australia yg membiayai Detasemen
88
3. Dalang pemboman itu menginginkan Da'i Bachtiar segera lengser dari
Kapolri
4. Ada Anggota DPR yang terlibat dalam aksi tsb, minimal memberi informasi
kapan timing
   yg tepat dan lokasi peledakan....?


=====================

BOM KUNINGAN
Oleh Fauzan Al-Anshari
(Ketua Departemen Data dan Informasi Majelis
Mujahidin)

Musibah bom kembali menimpa Jakarta. Sekitar pukul
10.30 hari Kamis (9/9/04) bom berkekuatan high
explosif meledak di depan kedubes Australia. Korban
pun berjatuhan. Dari kejadian ini Majelis Mujahidin
telah menyampaikan keprihatinan yang mendalam terhadap
meledaknya bom tersebut dan mendoakan kepada mereka
yang meninggal semoga arwahnya diterima Allah swt dan
dibalas sesuai dengan amalnya masing-masing. Bagi
keluarga yang ditinggalkan semoga tetap sabar dan
diberikan pengganti yang lebih baik. Bagi korban
luka-luka semoga cepat sembuh.

Kami juga menolak dan mengecam pelaku peledakan itu,
siapa pun orangnya, baik individu, kelompok atau
negara, dan atas nama apa pun peledakan itu dilakukan.
Namun, kami lebih menyayangkan lagi terhadap sikap
aparat polri dan intelijen, mengapa kejadian semacam
itu terulang kembali (sebelumnya Bom Bali 12/10/02 dan
Bom Marriott 5/8/03). Bahkan, kami tidak habis pikir,
mengapa bom Kuningan itu terjadi justru ketika Kapolri
usai menyatakan dan meyakinkan anggota parlemen bahwa
situasi keamanan menjelang pilpres putaran kedua ini
dalam keadaan aman. Nampaknya bom itu meledek Kapolri.

Lebih aneh lagi, mengapa setiap kali ada ledakan
selalu dituduhkan kepada kelompok Jamaah Islamiyah
(JI). Kemudian pelakunya selalu dikaitkan dengan dua
orang warga Malaysia yang hingga kini masih buron itu.
Selanjutnya sebagai puncaknya, mengapa pula
pertanggungjawaban semua aksi pengeboman itu harus
dipikulkan ke pundak seorang ulama sepuh yang tawadhu
dan murah senyum, tetapi sangat vokal dalam
menyuarakan wajibnya umat Islam menerapkan syariat
Islam di lembaga pemerintahan itu, yakni Ustad
Abubakar Ba'asyir (66).

Bahkan, entah dari mana pemasok informasi tersebut,
Kepala BIN tiba-tiba menuding bahwa selama kelompok
Islam radikal tidak ditangkap dan organisasi mereka
tidak dibubarkan, maka Indonesia akan terus kacau.
Kami menduga, tudingan itu adalah logika orang kalap
dan putus asa akibat kegagalan terus menerus dalam
melindungi warga dan memberi rasa aman bagi seluruh
rakyat Indonesia. Seharusnya sebagai pejabat
profesional yang memiliki martabat dan harga diri,
jika gagal dalam menjalankan tugas maka akan segera
mengundurkan diri tanpa harus dituntut. Demikian pula
halnya dengan Kapolri. Tidak kemudian diserahkan
kepada presiden yang mengangkatnya, jelas ini alasan
halus untuk menolak mundur.

Terus terang, kita tidak pernah mendengar istilah JI
kecuali sejak bom Bali dan kita pun tidak pernah
mendengar adanya ancaman terorisme selain sejak
runtuhnya WTC. Setelah kedua peristiwa itu, isu
terorisme tidak pernah sepi dari telinga kita.
Seolah-olah tidak ada lagi masalah selain itu. KKN,
illegal logging, penjualan asset negara, pencemaran
lingkungan, narkoba, prostitusi, pornografi dan
berbagai kejahatan lain yang dampaknya jauh lebih
dahsyat walau suaranya tak sekeras ledakan bom, justru
tak tertangani dengan baik. Sehingga sampai detik ini
berbagai kejahatan tersebut semakin menggila dan
hampir pasti tidak bisa diatasi lagi.

Oleh sebab itu, kami menduga kuat bahwa bom Kuningan
tersebut adalah upaya false flag (meninggalkan bukti
palsu untuk menarget kelompok tertentu) sehingga
perburuan terhadap kelompok Dr. Azahari dan Nordin M
Top yang telah mengalami trial by the public opinion
(penjatuhan vonis oleh opini publik bahwa dialah
pelakunya sebelum persidangan digelar) akan terus
berlangsung. Karenanya otomatis, proyek Satgas Bom
pimpinan Brigjen Pol Gories Mere yang bertugas
menangkap pelaku bom Bali dan memberangus jaringannya
akan semakin meningkat. Apalagi Amerika telah
mengucurkan bantuan senilai 600 milyar rupiah lebih
guna membangun gedung Detasemen Khusus (Densus) 88
bertingkat 23 di areal Mabes Polri dalam waktu dekat.

Saya masih ingat, sekitar bulan Juni 2004 publik
sempat dikejutkan oleh ancaman bom yang akan dilakukan
anggota JI terhadap lima kedubes asing di Jakarta,
yakni Amerika, Inggris, Australia, Spanyol, dan
Belanda. Isu semacam itu jelas bagian dari black
propaganda dan sangat meresahkan masyarakat, karena
mengesankan Indonesia sebagai tempat yang tidak pernah
aman dan tidak serius memerangi teroris. Isu tersebut
mempengaruhi pilpres yang lalu, yakni munculnya rasa
antipati terhadap capres yang dianggap dekat dengan
kelompok aktivis muslim yang oleh Amerika disebut
radikal. Hal yang mirip juga telah terjadi di Amerika
menjelang pilpres Nopember mendatang, di mana kubu
Bush meneror masyarakat Amerika, bahwa jika John F
Kerry terpilih menjadi presiden, maka serangan teroris
akan meningkat lebih dahsyat.

Pola semacam itu kita dapati sejak sebelum bom Bali
yaitu penyampaian travel warning melalui beberapa
pejabat mereka, seperti Paul Wolfowitz, Donald
Rumself, Collin Powell, dan Bush sendiri. Juga melalui
agennya seperti Lee Kuan Yew, Howard, dan Alexander
Downer. Bahkan Kapolri juga pernah menyatakan bahwa
ancaman pilpres berasal dari kelompok JI. Setelah itu
mereka secara sistematis membangun opini masyarakat
bahwa calon pelakunya adalah JI karena adanya berbagai
kemiripan, baik bahan peledak maupun modus
operandinya. Yang jelas, ujung dari semua tuduhan itu
kembali mengkambinghitamkan umat Islam, khususnya
Ustad Abubakar Ba'asyir. Karenanya, ketika beliau
menerima tuduhan harus bertanggungjawab pada peledakan
bom Marriott, --ketika itu beliau sedang ditahan dan
mengikuti proses persidangan-- maka beliau
berkomentar: "Tuduhan polisi itu belum lengkap, karena
belum memasukkan kasus bom KPU." Barangkali sekarang
ini komentar itu ditambah dengan "bom Kuningan". Ini
benar-benar
anekdot.

Untuk penggalangan opini ke arah itu, mereka pun telah
menerbitkan buku yang memfitnah kelompok yang mereka
sebut Islam radikal dan Ustad Abubakar Ba'asyir. Buku
itu berjudul "Terorisme di Indonesia" karya Luqman
Hakim, penerbit Forum Studi Islam Surakarta. Namun
setelah penulis dan alamat penerbit tersebut dicek
ternyata palsu. Demikian juga telah beredar berbagai
selebaran gelap yang menyatakan bahwa Ustad Abubakar
Ba'asyir adalah pendiri JI. Terakhir adalah munculnya
situs yang mengklaim bertanggungjawab atas peledakan
bom Kuningan dan SMS yang dikirimkan kepada salah
seorang pejabat Satgas Bom yang isinya mengancam akan
meledakkan bom bila polisi tidak membebaskan Ustad
Abubakar Ba'asyir.

Menghadapi berbagai isu ancaman bom tersebut nampaknya
aparat intelijen (BIN-TNI-Polri-Kejaksaan-Imigrasi)
tidak melakukan konter terhadap operasi intelijen yang
dilakukan oleh intel asing dan agen-agennya yang
merugikan Indonesia atau segera mengambil tindakan
tegas terhadap mereka tanpa pandang bulu. Padahal
KASAD Jendral TNI Ryamizard Ryacudu telah menyatakan
bahwa keberadaan 60-an ribu agen asing itu sudah
memasuki taraf yang sangat membahayakan. Akan tetapi,
sekali lagi, nampaknya polisi selalu berpikir
stereotipe, bahwa pelaku peledakan bom itu "pasti"
anggota JI hanya karena berbagai kemiripan tadi.
Padahal ketika menilai bom Riau yang menurut Kapolri
juga dituduh dilakukan oleh JI lantaran kemiripan dari
bahan peledaknya (RDX), ternyata penilaian itu salah.
Bom Riau itu konon dilakukan pemiliknya untuk
mendapatkan klaim asuransi.

Oleh karena itu, kami menduga kuat bahwa operasi
intelijen asing Amerika (termasuk Israel) dan
Australia berada di balik peristiwa tersebut mengingat
merekalah yang sering mengeluarkan travel warning. Itu
artinya, mereka memperoleh informasi dini tentang
adanya peledakan bom tersebut. Sehingga warganya dapat
segera diselamatkan dari bencana tersebut dan
membiarkan warga negara lainnya menjadi korban. Kasus
pembatalan 20-an kamar yang pernah di-booking untuk
keperluan Kedubes AS di hotel Marriott beberapa jam
sebelum terjadi peledakan bom menjadi indikasi kuat
adanya informasi dini tersebut. Demikian pula
informasi dini yang disampaikan oleh jasa pengirim
berita Odigo (milik Israel) kepada karyawan Israel di
WTC 2 jam sebelum peristiwa, sehingga tak seorang pun
warganya menjadi korban sia-sia.

Ada lagi beberapa peristiwa yang cukup menarik untuk
dianalisa sebelum terjadinya bom Kuningan. Misalnya,
digelarnya latihan militer bersama AS di Singapura.
Sebelumnya, muncul ancaman oleh Menhan AS Donald
(bebek) Rumself di atas kapal induk USS Assex di Selat
Malaka, bahwa pemerintahnya akan melakukan pre-emptive
karena teroris banyak berseliweran di mandala.
Sementara itu, pemerintah Australia telah memasang
rudal balistik jarak jauh (400km), konon sebagai upaya
membangun sistem keamanan menghadapi ancaman Korea
Utara. Kemudian pertemuan Gories Mere dengan terpidana
20 tahun bom Bali (Ali Imron) di sebuah kafe dan
ditemukannya tersangka lainnya (Abu Fida) yang penuh
dengan bekas siksaan, membuat wajah polri kian bopeng.
Oleh karena itu, peledakan bom itu merupakan strategi
usang untuk mengalihkan perhatian publik.

Pada akhirnya harus saya katakan bahwa kami sangat
khawatir, kasus bom Kuningan ini nantinya akan
dikaitkan dengan Ustad Abubakar Ba'asyir dan
menjeratnya dengan tuduhan keji. Indikasi ke arah itu
sudah jelas ketika anggota hakim yang akan mengadili
beliau nanti telah mendapat briefing dan pengarahan
dari pemerintah Australia. (Republika, 10/9). Sebelum
semua itu terjadi (dan saya telah mendapatkan banyak
teror via SMS) menuntut pemerintah secara independen
mampu mengungkap motif dan aktor intelektual
pengeboman tersebut tanpa campur tangan asing. Karena
selama ini, kerjasama teknis antara Polri dan polisi
Australia (ASIO) tidak membuahkan hasil yang
memuaskan.

Kami juga menghimbau agar seluruh rakyat Indonesia
tetap tenang, beraktivitas seperti biasa dan terus
waspada terhadap berbagai manuver dan provokasi
pemerintah asing dan antek-anteknya yang ingin
mengobok-obok bangsa Indonesia dan mengadu-domba
antarwarga negaranya. Bila ada sesuatu yang
mencurigakan, maka segeralah memberitahu kami untuk
mengambil langkah yang tepat.





__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com




------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
$9.95 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppiindia.shyper.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke