http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail_c&id=130569

Sabtu, 18 Sept 2004,

Mengkaji Ulang Peristiwa Madiun 1948
Oleh Asvi Warman Adam *

Peristiwa Madiun yang meletus pada 18 September 1948 sangat penting dipelajari 
kembali. Sebab, hal itu menyisakan kenangan pahit bagi bangsa ini, yang semasa Orde 
Baru digunakan untuk kepentingan penguasa. Ketika muncul keinginan untuk 
merekonsiliasi nasional segenap komponen bangsa, kaji ulang terhadap kasus Madiun 
perlu dilakukan. Di dalam sejarah yang diajarkan di sekolah pada era Orde Baru, selalu 
dikatakan secara tendensius bahwa kejadian itu merupakan pemberontakan PKI seperti 
yang juga terjadi pada 1965. Benarkah demikian? Ada beberapa alasan lain pentingnya 
kejadian tragis tersebut diselidiki kembali, terutama bila dikaitkan dengan 
pembentukan KKR (Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi) dalam waktu dekat. 

Pertama, peristiwa itu mewariskan kebencian antara kelompok kanan (santri) dan 
kiri/komunis (abangan), seperti diungkapkan Anthony Reid (Revolusi Nasional Indonesia, 
1996). Dalam peristiwa tersebut, sebetulnya cukup banyak korban pada kedua belah 
pihak, mungkin ratusan orang. Pada wacana kalangan Islam, itu sering disebut tentang 
para kiai yang terbunuh dalam kasus. Abdurrachman Wahid mengatakan bahwa pamannya 
termasuk yang menjadi korban. 

Namun, jangan pula dilupakan bahwa tidak sedikit orang-orang yang dituduh komunis yang 
terbunuh. Bahkan, seorang mantan Perdana Menteri Amir Syarifudin ditembak mati tanpa 
melalui pengadilan yang sah.

Roeslan Abdulgani (dalam buku Casper Schuuring, 2002) memberikan kesaksian. "Di sebuah 
gedung sekolah, ditawan 43 orang komunis dan diputuskan siapa di antara mereka akan 
dihukum mati atau ditembak. Seorang letnan memohon kesediaan saya untuk hadir dalam 
pelaksanaan tembak mati tersebut. Di antara 43 orang itu, 15 orang dihukum mati dan 
lima di antaranya benar-benar ditembak di depan liang kubur yang sudah tersedia... 
Ketika saya pada malam harinya kembali ke Madiun, saya menangis. Saya tidak pernah 
menangis begitu keras."

Dendam itu dilanjutkan dengan fatwa Masyumi Desember 1954 yang menyatakan bahwa 
komunisme itu identik dengan ateisme. Sebelumnya, M. Isa Anshary telah membentuk Front 
Anti Komunisme di Jawa Barat. Namun, konsiderans atau pertimbangan fatwa itu 
seyogianya diteliti kembali. Demikian pula alasan-alasan tindakan yang diambil Isa 
Anshary. 

Saya sendiri sementara ini menganggap, keluarnya fatwa tersebut dalam konteks 
persaingan Masyumi v NU menghadapi Pemilu 1955. Jadi, seperti kondisi sekarang juga, 
tidak aneh bila ada upaya untuk melakukan kampanye negatif (black campaign) terhadap 
lawan politik. Di samping itu, kita mengetahui bahwa di dalam tubuh Masyumi sendiri, 
terdapat beberapa fraksi: Natsir, Sukiman, dan Anshary (yang dianggap paling "keras").

Jadi, saat ini, kalau masih ada resistensi kalangan Islam terhadap pencabutan TAP 
MPRS/XXV/1966 tentang pelarangan ajaran komunisme, penyebabnya bisa dicari agak jauh 
ke belakang, yaitu pada 1948 atau 1954. 

Kedua, pada awal Orde Baru disebutkan bahwa PKI itu berontak tiga kali, yaitu pada 
1926/1927, 1948, dan 1965. Barangkali karena salah tulis, pernyataan tersebut diralat. 
Untuk selanjutnya, disebutkan hanya dua kali. Walau bagi sebagian tentara, PKI 
berontak tiga kali itu tetap tertanam di dalam otak, seperti ditulis Jenderal (pur) 
Soejono dalam memoarnya Bukan Puntung Rokok. Kalau Benny Murdani (alm) lain lagi, dia 
mengatakan, terjadi tiga pemberontakan. Namun, yang berlangsung pada 1926/1927 
merupakan pemberontakan kaum nasionalis terhadap Belanda. 

Selalu dikatakan pada era Orde Baru bahwa PKI itu akan ambil kesempatan bila ada untuk 
memberontak. Namun, perlu ditandaskan di sini bahwa pemberontakan yang paling banyak 
di Indonesia berlabel Islam (DI/TII, AUI -Angkatan Umat Islam- di Kebumen 1950, dst). 
Bahkan, PRRI juga didukung Partai Islam Masyumi.

Bahkan, lebih dari itu, hampir semua pemberontakan tersebut melibatkan perwira 
militer. Meski demikian, bukankah kita tidak pernah menuntut agar TNI dibubarkan, 
meski pemberontakan paling banyak dimotori oleh perwira tentara ? 

Ketiga, peristiwa Madiun dapat dilihat dengan mempertimbangkan faktor internasional, 
dalam hal ini AS. Kalau Hatta dan Soekarno tidak bertindak tegas terhadap gerakan 
Madiun, korban yang jatuh mungkin akan berkurang. Tetapi, AS akan berpihak kepada 
Belanda yang ingin menguasai kembali Indonesia. 

Tokoh kiri, seperti D.N. Aidit, cenderung menyalahkan Hatta. Mereka menuduh Hatta 
telah memprovokasi. Itu dikaitkan dengan red drive proposal berupa konsep untuk 
membasmi komunisme yang disebutkan terjadi dalam pertemuan di Sarangan, Jatim. Namun, 
Pertemuan Sarangan itu sebetulnya masih diragukan, benar-benar terjadi dan apa isi 
pertemuan tersebut. Dalam hal itu, satu-satunya yang sering dirujuk adalah buku 
Barabudur yang ditulis Roger Vaillant.Setahu saya, penulis itu merupakan pengarang 
buku spionase bukan seorang ilmuwan. Jadi, kesahihan buku tersebut diragukan. 

Keempat, yang tak kalah penting, peristiwa itu sebaiknya diperiksa dengan 
memperhatikan keadaan dan perkembangan sosial-politik di tanah air pada 1945-1950. 
Dalam suasana pemerintahan yang masih belum berjalan baik, kevakuman terjadi di 
mana-mana sehingga menyebabkan banyak pihak melakukan tindakan sendiri-sendiri yang 
kadang mengarah kepada anarkisme. Itu terlihat dalam "peristiwa tiga daerah" dan 
berbagai kasus lain di Jawa. Bahkan, culik-menculik sudah terjadi sejak Indonesia 
merdeka. Bulan Desember 1945, Menteri Negara Otto Iskandardinata diculik dan dibunuh 
sekelompok pemuda dan jenazahnya dibuang ke Pantai Mauk, Banten. Kasus tersebut baru 
terungkap di pengadilan 1959. 

Nilai-nilai 45 yang begitu sering dikumandangkan oleh angkatan 45, termasuk Soeharto, 
sebetulnya akumulasi dari nilai yang positif (semangat juang dan solidaritas) berbaur 
dengan kekerasan dan anarkisme. 

Kelima, pelurusan sejarah termasuk penelitian kembali peristiwa Madiun, selain untuk 
kepentingan ilmu (sejarah), juga dalam rangka pencapaian rekonsiliasi antara kelompok 
kanan (santri) dan kiri (abangan serta dicap komunis). Dendam sejarah itu harus 
dihapus. Orang-orang seperti Taufiq Ismail sering mengatakan akan berdamai dengan 
sejarah. Namun, buku yang ditulisnya tentang katastrofe dunia, yaitu lima bahaya yang 
mengancam dunia Marxisma, Stalinisma, Leninisma, Maoisma, dan Narkoba, sangat ironis.

Apa hubungan antara Marxisme dan narkoba? Barangkali Taufiq Ismail terpaku dengan 
pernyataan Karl Marx bahwa agama itu candu bagi pemeluknya. Tetapi, hendaknya dipahami 
konteks dan waktu dikeluarkannya pernyataan Marx itu. Yakni, pada saat di Eropa banyak 
rohaniwan memanfaatkan para pengikut agama. 

Sangat ironis bila mengungkapkan korban praktik komunisme di luar Indonesia, tetapi 
tidak menyebut bahwa di tanah air kita minimal setengah juta orang yang dianggap 
komunis dibantai 1965/1966 dan yang paling banyak di Jawa Tengah serta Jawa Timur. 
Pelurusan sejarah tersebut perlu diketahui generasi muda dan anak-cucu kita. Sekali 
lagi, saya tekankan, pelurusan sejarah itu tidak merusak akidah.
* Dr Asvi Warman Adam, sejarawan di LIPI 





[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppiindia.shyper.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke