bismi-lLahi-rRahmani-rRahiem, alhamdu li- lLahi
Rabbi-l'alamien wa- shshalatu wa-ssalamu 'ala asyrafi-
lAnbiyai wa-lMursalien,wa man tabiahu ila yaumi-
ddien. NastaienuHu wa nastaghfiruHu min sayyiati
anfusina wa sayyiati amalina, ma- yyahdli-lLahu fala
mudlillalah wama- yyudlli-lLahu fala hadiyalah. 'amma
bad.
a-ssalamu 'alaikum wa rahmatu-lLahi wa barakatuH,
bagi2 kiriman niech.
BUKAN DUA KAKI
Shofa masih sibuk mengaduk-aduk masakan yang ada dalam
panci. Tiba-tiba ia teringat, ini sudah jam 1 lewat.
Segera ia menyalakan radio kecil yang berada di atas
lemari makan dekat kompor. Shofa hampir tak pernah
ketinggalan acara-acara yang diisi Ustadz Hanif.
Setiap jam 5 pagi, sehabis Subuh, adalah acara rutin
Shofa mendengarkan kuliah Subuh di Radio Al Quds.
Shofa bahkan hafal jam berapa dan acara apa saja yang
diisi oleh Ustadz Hanif. Hal ini sudah berlangsung
tiga tahun lebih.
Entah mengapa, Shofa merasa cocok sekali dengan ustadz
yang satu ini. Kalau bicara tak pernah bertele-tele
dan selalu mengena di hati. Apa saja yang dibahas
pasti aktual, sesuai dengan masalah yang terjadi di
sekitar. Kalau bicara tentang aqidah, Ustadz Hanif
selalu tegas, tidak bisa ditawar-tawar.
Tapi kalau membahas masalah ibadah, dengan sabar Ustad
Hanif menjelaskan satu persatu pemecahan dari berbagai
pendapat ulama. Biasanya ia merekomendasikan salah
satu pemecahan yang punya dasar paling kuat. Walau
begitu, ia tetap menyerahkan kepada pendengar,
pendapat mana yang akan dipakai. Suatu penyelesaian
yang cantik. Tidak fanatik terhadap satu pendapat
tertentu.
"Shofa belum pulang?" sapa Bu Arif, pengurus TPA
tempat Shofa mengajar.
Shofa menoleh, "Belum Bu. Masih memeriksa pekerjaan
anak-anak."
"Bisa mampir ke rumah? Bapak mau bicara. Katanya
penting tuh!"
"Sekarang Bu?"
"Ya, kalau Shofa sedang tidak repot."
Shofa membereskan kertas-kertas yang berserakan di
atas karpet masjid lalu berjalan mengikuti Bu Arif.
Rumah Bu Arif tidak jauh dari masjid tempat Shofa dan
beberapa orang temannya mengajar anak-anak TPA. Hanya
beberapa
puluh meter saja. Pak Arif dan Bu Arif adalah orang
yang peduli dengan masalah keagamaan di kompleks itu.
Mereka mempelopori dibukanya TPA. Pak Arif juga selalu
menghimbau bapak-bapak di kompleks untuk sholat
berjamaah.
"Assalamu'alaikum," ucap Shofa dan Bu Arif
berbarengan.
"Wa'alaikum salam," jawab Pak Arif dari dalam.
"Silahkan masuk nak Shofa.
Bagaimana nak Shofa, keadaan TPA sekarang?"
"Alhamdulillah Pak. Anak-anak semakin rajin. Jarang
ada yang bolos. Mereka cepat menyerap apa yang saya
ajarkan." jawab Shofa.
"Bagus! Bagus! Alhamdulillah." kata Pak Arif. "Begini
nak Shofa, Bapak ingin bicara dengan nak Shofa bukan
mau membahas TPA. Ada hal yang lain."
Pak Arif terdiam. "Begini nak Shofa....Apakah nak
Shofa sudah siap menikah?"
Shofa tersenyum. "Niat sudah ada. Usia saya sudah
cukup Pak. Tapi...belum ada jodohnya."
"Hmmmm.......begitu ya," Pak Arif berdehem sambil
mengelus-elus jenggotnya.
"Bapak punya teman baik. Dia sangat sholeh dan sedang
mencari pendamping hidup.Bapak dan Ibu berasa nak
Shofa cocok dengan dia."
"Ah Pak Arif bisa saja. Bagaimana Bapak tahu saya
cocok dengan dia?" tanya Shofa tersipu.
"Lho...Bapak dan Ibu kan sudah lama memperhatikan nak
Shofa. Nak Shofa ini gadis yang sholehah dan pandai
menjaga diri. Begitu pula dengan teman Bapak ini. Dia
sholeh dan berakhlak baik. Nah...kalau begini, apa
bukan cocok namanya? Iya tho Bu?" jelas Pak Arif.
"Iya...iya!" Bu Arif manggut-manggit menimpali
suaminya.
"Kalau nak Shofa setuju, Bapak bisa ajak teman Bapak
ke sin iuntuk dipertemukan dengan nak Shofa," Pak Arif
melanjutkan. "Bagaimana nak Shofa?"
"Bapak ini kok langsung main tanya. Bapak kan belum
cerita yang mau dikenalkan ini siapa, bagaimana,"
tukas Bu Arif.
"Wah...dari tadi Bapak belum cerita ya? Teman Bapak
ini masih muda. Lulusan S1 dan S2 dari Al Azhar Kairo.
Dia juga hafidz Quran."
"Hafidz Quran?" gumam Shofa dalam hati. Salah satu doa
yang ia panjatkan adalah mendapatkan pasangan hidup
yang hafal Quran, karena ia sendiri sedang berusaha
menjadi hafidzhoh.
"Sehari-harinya dia bekerja di Lembaga Pengembangan
Dakwah, mengajar di beberapa tempat, sering mengisi
ceramah. Dia mengisi acara di radio Al Quds," papar
Pak Arif.
"Radio Al Quds? Saya pendengar setia Radio Al Quds lho
Pak. Namanya siapa Pak, mungkin saja saya pernah
mendengar," kata Shofa.
"Namanya Hanif Ibrahim."
Deg! Jantung Shofa serasa berhenti berdetak selama
sepersekian detik. Nama itu demikian dikenalnya dalam
tiga tahun terakhir ini. Nama itu adalah salah satu
tempat dirinya menimba ilmu tentang ke-Islaman lewat
radio. Tausiyah yang diucapkan nama itu pula yang
membuat Shofa jadi banyak berpikir, lalu berhijrah dan
memutuskan untuk menjadi muslimah yang kaffah.
Bu Arif menangkap adanya perubahan pada rona wajah
Shofa. "Ada apa Shofa?"
"Saya sering mendengarkan beliau ceramah di radio."
"Nah...jadi sebetulnya sudah kenal tho, walau pun cuma
dari radio," Pak Arif
terkekeh. "Bagaimana, kapan nak Shofa siap bertemu
Hanif?"
"Kapan saja, terserah Bapak. Tapi saya harus cerita
dulu kepada Ibu tentang masalah ini," jawab Shofa.
"Oohh....ibumu sudah tahu. Kami sudah cerita. Malah
Ibumu bilang kami suruh langsung tanya saja ke nak
Shofa. Ibumu setuju kok," ujar Pak Arif.
Sepulangnya dari rumah kedua orang tua yang sudah
dianggapnya keluarga itu, Shofa bagai tak percaya apa
yang baru saja terjadi. "Benarkah Ustadz Hanif
jodohku?" tanyanya dalam hati. Walaupun belum pernah
bertemu, tapi Shofa merasa telah sangat mengenal
Hanif. Diam-diam sebentuk kekaguman telah bersemayam
dalam hatinya. Tidak ada cara lain bagi Shofa selain
mengadukan permasalahannya ini kepada Allah.
Dihabiskannya malam-malam panjang di atas sajadah
dengan bermunajat.
Dua bulan kemudian, tibalah saat pertemuan Shofa
dengan Hanif. Hari itu Shofa tampak manis. Tubuhnya
dibalut gamis biru dan jilbab lebar berwarna putih. Ia
berjalan menuju rumah Pak Arif dengan penuh kemantapan
hati, buah dari istikharahnya.
"Assalamu'alaikum," Shofa mengucap salam di depan
pintu.
"Wa'alaikum salam. Nak Shofa ayo masuk. Pak Arif belum
datang. Sedang menjemput Hanif," jawab Bu Arif. Sambil
menunggu, Bu Arif memberikan wejangan bagaimana
menjadi istri sholehah dengan mengutip beberapa ayat
dan hadits. Shofa mendengarkan dengan takzim. Sesekali
mengangguk.
Tiba-tiba, pintu ruang tamu terbuka lebar. Lalu muncul
sesuatu yang tak disangka-sangka. Sebuah kursi roda
yang berjalan tersendat karena membentur pintu,
sesosok tubuh dengan satu kaki yang duduk di atas
kursi roda, dan Pak Arif yang mendorong kursi roda
sambil tersenyum.
Shofa terhenyak, memandang tak percaya. "Inikah Ustadz
Hanif?" Berbagai gejolak rasa menyergap dengan cepat.
Shofa berusaha menenangkan perasaannya.
Suasana hening. Shofa bagai mampu mendengar suara
detak jantungnya sendiri.
"Nak Shofa, ini Hanif yang Bapak ceritakan dulu," kata
Pak Arif memecah kesunyian.
"Assalamu'alaikum dik Shofa," kata Hanif.
"Wa'alaikum salam," jawab Shofa. Ah, suaranya tidak
berberda dengan di radio. Tetap berkharisma.
"Alhamdulillah, Allah mengijinkan kita untuk bertemu
hari ini. Pak Arif mungkin sudah cerita, saya memang
punya niat untuk melaksanakan sunnah Rasulullah yaitu
menikah. Saya minta dicarikan calon oleh Pak Arif.
Cuma....memang keadaan saya seperti ini. Sebulan yang
lalu saya kecelakaan.
Mobil saya tabrakan dengan truk. Tangan kiri saya
lumpuh dan kaki kiri harus diamputasi. Apapun yang
terjadi sudah kehendak Allah. Kaki saya memang tidak
bisa kembali. Tapi tangan kiri saya sedang diterapi.
Kata dokter kemungkinan besar bisa pulih. Insya Allah,
saya pun ingin tidak terlalu lama bergantung pada
kursi roda. Kalau sudah membaik, saya akan menggunakan
kruk saja."
Kata-kata mengalir deras dari bibir Hanif.
Shofa mengangkat wajahnya sedikit dan melihat sekilas
ke arah Hanif.
"Subhanallah. Wajahnya tenang sekali. Bahkan
berseri-seri. Ada keikhlasan yang terpancar dari
wajahnya." bathin Shofa.
"Saya tidak heran jika dik Shofa tidak berkenan dengan
keadaan saya. Inilah saya. Mungkin saya yang terlalu
berani tetap berniat menikah dengan kekurangan fisik
saya. Tapi, justru dengan kondisi ini saya sangat
membutuhkan kehadiran seorang istri."
Shofa diam tak bergeming. Dihadapannya sekarang, duduk
seorang laki-laki yang memiliki kelebihan-kelebihan
yang didambakannya selama ini. Sosok seorang suami
yang sempurna. Ilmu agamanya bagus, sholeh, berakhlak
mulia,
dan seorang hafidzh. Cita-cita Shofa adalah memiliki
anak-anak yang menjadi generasi penghafal dan pengamal
Quran. Bukankah ustadz Hanif adalah sosok yang tepat?
Kekurangannya hanya satu, fisiknya cacat tak sempurna.
"Hanif, mungkin nak Shofa belum bisa mengambil
keputusan cepat-cepat. Dia tentunya perlu
menimbang-nimbang. Kita beri saja waktu, mudah-mudahan
nak Shofa bisa segera memberikan jawaban. Begitu ya
nak Shofa?" Pak Arif berusaha menengahi suasana senyap
di antara mereka.
Shofa masih saja diam tak menjawab. Sibuk berdialog
dengan bathinnya.
Tiba-tiba saja Shofa mengangkat wajahnya. "Saya sudah
sholat istikharah sejak pertama kali Pak Arif mau
mengenalkan saya dengan Ustadz Hanif. Saya punya satu
pertanyaan untuk Ustadz Hanif."
"Silahkan dik Shofa, saya akan coba menjawab," kata
Hanif.
"Untuk dapat membawa istri dan anak-anaknya ke dalam
surga, apakah seorang laki-laki harus mempunyai dua
kaki?" tanya Shofa.
Hanif tersenyum. "Tentu saja tidak. Bukan butuh dua
kaki. Yang dibutuhkan adalah landasan aqidah, ibadah
dan akhlak yang lurus dan kuat. Dan juga kemampuan
untuk mendidik."
Shofa memandang bergantian ke arah Pak Arif, Bu Arif
dan Hanif. Bibirnya membiaskan senyum yang lebar.
"Saya udah mantap. Saya tidak membutuhkan suami dengan
dua kaki."
"Alhamdulillah!" berbarengan Pak Arif, Bu Arif, dan
Hanif berseru.
Resepsi pernikahan baru saja usai. Shofa mendorong
kursi roda Hanif menuju kamar pengantin. Kedua
pengantin itu berwajah cerah ceria. Hanif begitu
tampan dan gagah dengan jas dan kopiah hitam. Shofa
tampak cantik, bergaun putih dan jilbab yang diberi
rangkaian melati. Hanif meletakkan tangannya di atas
kening istrinya, lalu membaca doa, "Dengan nama Allah,
jauhkanlah kami dari syetan dan jauhkanlah dari syetan
apa yang engkau rizkikan, anak-anak kepada kami."
Shofa menggamit dan mencium tangan suaminya dengan
takzim.
"Kak Hanif, boleh Shofa mengutarakan sesuatu?" tanya
Shofa.
"Boleh. Apa itu?" Hanif tersenyum lebar.
"Shofa cinta Kak Hanif karena Allah," Shofa bicara
sambil menunduk malu-malu.
"Kak Hanif juga cinta dik Shofa karena Allah." Hanif
menyentuh dagu Shofa, mengangkat wajahnya. Mereka
bertatapan. Lekat. Ada debur yang menggelora di jiwa
mereka berdua. "Lho kok nunduk. Kita sudah resmi suami
istri. Pandang kak Hanif dong!" Hanif menggoda Shofa.
Shofa memandang Hanif tersipu.
"Ayo kita sholat dulu," kata Hanif.
"Shofa bantu kak Hanif wudhu ya," Shofa langsung
beranjak dari duduknya dan mendorong kursi roda
kekasih jiwanya ke kamar mandi.
Bersama percikan air wudhu yang menetes, Allah
tebarkan rahmat dan cinta di antara kedua mahluk
kecintaan-Nya.
(terinspirasi dari Syekh Ahmad Yasin yang tetap
berjihad dari kursi roda hingga syahidnya.)
by radoek
hadana-lLahu wa iyyakum ajma`in, wa-lLahu 'alam
bi-shshawab, wa bi-lLahi-ttaufiq wa-lhidayah baraka-
lLahu fiekum wa shalla-lLahu wa-ssallamuH 'ala
Nabiyyina Muhammad, subhanaka-lLahumma wabihamdiKa
asyhadu alla Ilaha illa Anta,astaghfiruKa wa atubu
ilaiK.
wa ssalamu 'alaikum wa rahmatu-lLahi wa-barakatuH.
=====
Leo Imanov
Abdu-lLah
AllahsSlave
___________________________________________________________ALL-NEW Yahoo! Messenger -
all new features - even more fun! http://uk.messenger.yahoo.com
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppiindia.shyper.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/