bismi-lLahi-rRahmani-rRahiem, alhamdu li- lLahi
Rabbi-l'alamien wa- shshalatu wa-ssalamu 'ala asyrafi-
lAnbiyai wa-lMursalien,wa man tabiahu ila yaumi-
ddien. NastaienuHu wa nastaghfiruHu min sayyiati
anfusina wa sayyiati amalina, ma- yyahdli-lLahu fala
mudlillalah wama- yyudlli-lLahu fala hadiyalah. 'amma
bad.
a-ssalamu 'alaikum wa rahmatu-lLahi wa barakatuH,
cinta sejati.....
Ketika aku berjalan kaki pulang ke rumah di suatu hari
yang dingin, kakiku tersandung sebuah dompet yang
tampaknya terjatuh tanpa sepengetahuan pemiliknya. Aku
memungut dan melihat isi dompet itu kalau-kalau aku
bisa menghubungi pemiliknya. Tapi, dompet itu hanya
berisi uang sejumlah tiga dollar dan selembar surat
kusut yang sepertinya sudah bertahun-tahun tersimpan
di dalamnya. Satu-satunya yang tertera pada amplop
surat itu adalah alamat si pengirim. Aku membuka
isinya sambil berharap bisa menemukan petunjuk. Lalu
aku baca tahun "1924". Ternyata surat itu ditulis
lebih dari 60 tahun yang lalu. Surat itu ditulis
dengan tulisan tangan yang anggun di atas kertas biru
lembut yang berhiaskan bunga-bunga kecil di sudut
kirinya.
Tertulis di sana, "Sayangku Michael", yang menunjukkan
kepada siapa surat itu ditulis yang ternyata bernama
Michael. Penulis surat itu menyatakan bahwa ia tidak
bisa bertemu dengannya lagi karena ibu telah
melarangnya.
Tapi, meski begitu ia masih tetap mencintainya. Surat
itu ditandatangani oleh Hannah. Surat itu begitu
indah.
Tetapi tetap saja aku tidak bisa menemukan siapa nama
pemilik dompet itu.
Mungkin bila aku menelepon bagian penerangan mereka
bisa memberitahu nomor telepon alamat yang ada pada
amplop itu. "Operator," kataku pada bagian peneragan,
"Saya mempunyai permintaan yang agak tidak biasa. Saya
sedang berusaha mencari tahu pemilik dompet yang saya
temukan di jalan.
Barangkali anda bisa membantu saya memberikan nomor
telepon atas alamat yang ada pada surat yang saya
temukan dalam dompet tersebut?"
Operator itu menyarankan agar aku berbicara dengan
atasannya, yang tampaknya tidak begitu suka dengan
pekerjaan tambahan ini. Kemudian ia berkata,
"Kami mempunyai nomor telepon alamat tersebut, namun
kami tidak bisa memberitahukannya pada anda." Demi
kesopanan, katanya, ia akan menghubungi nomor
tersebut, menjelaskan apa yang saya temukan dan
menanyakan apakah
mereka berkenan untuk berbicara denganku. Aku menunggu
beberapa menit.
Tak berapa lama ia menghubungiku, katanya, "Ada orang
yang ingin berbicara dengan anda." Lalu aku tanyakan
pada wanita yang ada di ujung telepon sana,apakah ia
mengetahui seseorang bernama Hannah. Ia menarik nafas,
"Oh, kami membeli rumah ini dari keluarga yang
memiliki anak perempuan bernama Hannah.
Tapi, itu 30 tahun yang lalu!" "Apakah anda tahu
dimana keluarga itu berada sekarang?" tanyaku. "Yang
aku ingat, Hannah telah menitipkan ibunya di sebuah
panti jompo beberapa tahun lalu," kata wanita itu.
"Mungkin, bila anda menghubunginya mereka bisa mencari
tahu dimana anak mereka, Hannah, berada."
Lalu ia memberiku nama panti jompo tersebut. Ketika
aku menelepon ke sana, mereka mengatakan bahwa wanita,
ibu Hannah, yang aku maksud sudah lama meninggal
dunia. Tapi mereka masih menyimpan nomor telepon rumah
dimana
anak wanita itu tinggal. Aku mengucapkan terima kasih
dan menelepon nomor yang mereka berikan. Kemudian, di
ujung telepon sana, seorang wanita mengatakan bahwa
Hannah sekarang tinggal di sebuah panti jompo.
"Semua ini tampaknya konyol," kataku pada diriku
sendiri. Mengapa pula aku mau repot-repot menemukan
pemilik dompet yang hanya berisi tiga dollar dan
surat yang ditulis lebih dari 60 tahun yang lalu?
Tapi, bagaimana pun aku menelepon panti jompo tempat
Hannah sekarang berada. Seorang pria yang menerima
teleponku mengatakan, "Ya, Hannah memang tinggal
bersama kami." Meski waktu itu sudah menunjukkan pukul
10 malam, aku meminta agar bisa menemui Hannah. "Ok,"
kata pria itu agak bersungut-sungut, "Bila anda mau,
mungkin ia sekarang sedang menonton TV di ruang
tengah."
Aku mengucapkan terima kasih dan segera berkendara ke
panti jompo tersebut. Gedung panti jompo itu sangat
besar. Penjaga dan perawat yang berdinas malam
menyambutku di pintu. Lalu, kami naik ke lantai tiga.
Di ruang tengah, perawat itu memperkenalkan aku dengan
Hannah.
Ia tampak manis, rambut ubannya keperak-perakan,
senyumnya hangat dan matanya bersinar-sinar. Aku
menceritakan padanya mengenai dompet yang aku
temukan. Aku pun menunjukkan padanya surat yang
ditulisnya.
Ketika ia melihat amplop surat berwarna biru lembut
dengan bunga-bunga kecil di sudut kiri, ia menarik
nafas dalam-dalam dan berkata, "Anak muda, surat
ini adalah hubunganku yang terakhir dengan Michael."
Matanya memandang jauh, merenung dalam-dalam. Katanya
dengan lembut, "Aku amat-amat mencintainya.
Saat itu aku baru berusia 16 tahun, dan ibuku
menganggap aku masih terlalu kecil. Oh, Ia sangat
tampan. Ia seperti Sean Connery, si aktor itu." "Ya,"
lanjutnya. "Michael Goldstein adalah pria yang luar
biasa. Bila kau bertemu dengannya, katakan bahwa aku
selalu memikirkannya, dan..." Ia ragu untuk
melanjutkan, sambil menggigit bibir ia berkata,
"...katakan, aku masih mencintainya. Tahukah kau, anak
muda," katanya sambil tersenyum. Kini air matanya
mengalir, "Aku tidak pernah menikah selama ini. Aku
pikir, tak ada seorang pun yang bisa menyamai
Michael."
Aku berterima kasih pada Hannah dan mengucapkan
selamat tinggal. Aku menuruni tangga ke lantai bawah.
Ketika melangkah keluar pintu, penjaga di sana
menyapa, "Apakah wanita tua itu bisa membantu anda?"
Aku sampaikan bahwa Hannah hanya memberikan sebuah
petunjuk, "Aku hanya mendapatkan nama belakang pemilik
dompet ini. Aku pikir, aku biarkan sajalah dompet ini
untuk sejenak. Aku sudah menghabiskan hampir seluruh
hariku untuk menemukan pemilik dompet ini." Aku
keluarkan dompet itu, dompet kulit dengan benang merah
disisi-sisinya. Ketika penjaga itu melihatnya, ia
berseru, "Hei, tunggu dulu. Itu adalah dompet Pak
Goldstein! Aku tahu persis dompet dengan benang merah
terang itu. Ia selalu kehilangan dompet itu. Aku
sendiri pernah menemukannya dompat itu tiga kali di
dalam gedung ini."
"Siapakah pak Goldstein itu?" tanyaku. Tanganku mulai
gemetar. "Ia adalah penghuni lama gedung ini. Ia
tinggal di lantai delapan. Aku tahu pasti, itu adalah
dompet Mike Goldstein. Ia pasti menjatuhkannya ketika
sedang berjalan-jalan di luar."
Aku berterima kasih pada penjaga itu dan segera lari
ke kantor perawat. Aku ceritakan pada perawat di sana
apa yang telah dikatakan oleh si penjaga.
Lalu, kami kembali ke tangga dan bergegas ke lantai
delapan. Aku berharap pak Goldstein masih belum
tertidur. Ketika sampai di lantai delapan, perawat
berkata, "Aku pikir ia masih berada di ruang tengah.
Ia suka membaca di malam hari. Ia adalah pak tua yang
menyenangkan."
Kami menuju ke satu-satunya ruangan yang lampunya
masih menyala. Di sana duduklah seorang pria membaca
buku. Perawat mendekati pria itu dan menanyakan apakah
ia telah kehilangan dompet. Pak Goldstein memandang
dengan terkejut. Ia lalu meraba saku belakangnya dan
berkata, "Oh ya, dompetku hilang!"
Perawat itu berkata, "Tuan muda yang baik ini telah
menemukan sebuah dompet.Mungkin dompet anda?" Aku
menyerahkan dompet itu pada Pak Goldstein. Ia
tersenyum gembira. Katanya, "Ya, ini dompetku! Pasti
terjatuh tadi sore.
Aku akan memberimu hadiah."
"Ah tak usah," kataku. "Tapi aku harus menceritakan
sesuatu pada anda. Aku telah membaca surat yang ada di
dalam dompet itu dengan harap aku mengetahui siapakah
pemilik dompet ini."
Senyumnya langsung menghilang. "Kamu membaca surat
ini?" "Bukan hanya membaca, aku kira aku tahu di mana
Hannah sekarang." Wajahnya tiba-tiba pucat. "Hannah?
Kau tahu di mana ia sekarang?
Bagaimana kabarnya? Apakah ia masih secantik dulu?
Katakan, katakan padaku," ia memohon.
"Ia baik-baik saja, dan masih tetap secantik seperti
saat Anda mengenalnya," kataku lembut.
Lelaki tua itu tersenyum dan meminta, "Maukah anda
mengatakan padaku dimana ia sekarang? Aku akan
meneleponnya esok." Ia menggenggam tanganku,
"Tahukah kau anak muda, aku masih mencintainya. Dan
saat surat itu datang hidupku terasa berhenti. Aku
belum pernah menikah, aku selalu mencintainya."
"Michael," kataku, "Ayo ikuti aku." Lalu kami menuruni
tangga ke lantai tiga. Lorong-lorong gedung itu sudah
gelap. Hanya satu atau dua lampu kecil menyala
menerangi jalan kami menuju ruang tengah di mana
Hannah masih duduk sendiri menonton TV.
Perawat mendekatinya perlahan. "Hannah," kata perawat
itu lembut. Ia menunjuk ke arah Michael yang sedang
berdiri di sampingku di pintu masuk.
"Apakah anda tahu pria ini?" Hannah membetulkan
kacamatanya, melihat sejenak, dan terdiam tidak
mengucapkan sepatah katapun. Michael berkata pelan,
hampir-hampir berbisik, "Hannah, ini aku, Michael.
Apakah kau masih ingat padaku?"
Hannah gemetar, "Michael! Aku tak percaya. Michael!
Kau! Michaelku!"
Michael berjalan perlahan ke arah Hannah. Mereka lalu
berpelukan.
Perawat dan aku meninggalkan mereka dengan air mata
menitik di wajah kami.
"Lihatlah," kataku. "Lihatlah, bagaimana Tuhan
berkehendak.
Bila Ia berkehendak, maka jadilah."
Sekitar tiga minggu kemudian, di kantor aku mendapat
telepon dari rumah panti jompo itu. "Apakah anda
berkenan untuk hadir di sebuah pesta perkawinan di
hari Minggu mendatang? Michael dan Hannah akan
menikah!" Dan
pernikahan itu, pernikahan yang indah. Semua orang di
panti jompo itu mengenakan pakaian terbaik mereka
untuk ikut merayakan pesta. Hannah mengenakan pakaian
abu-abu terang dan tampak cantik. Sedangkan Michael
mengenakan jas hitam dan berdiri tegak.
Mereka menjadikan aku sebagai wali mereka. Rumah panti
jompo memberi hadiah kamar bagi mereka. Dan bila anda
ingin melihat bagaimana sepasang pengantin berusia 76
dan 79 tahun bertingkah seperti anak remaja, anda
harus melihat pernikahan pasangan ini. Akhir yang
sempurna dari sebuah hubungan cinta yang tak pernah
padam selama 69 tahu
hadana-lLahu wa iyyakum ajma`in, wa-lLahu 'alam
bi-shshawab, wa bi-lLahi-ttaufiq wa-lhidayah baraka-
lLahu fiekum wa shalla-lLahu wa-ssallamuH 'ala
Nabiyyina Muhammad, subhanaka-lLahumma wabihamdiKa
asyhadu alla Ilaha illa Anta,astaghfiruKa wa atubu
ilaiK.
wa ssalamu 'alaikum wa rahmatu-lLahi wa-barakatuH.
=====
Leo Imanov
Abdu-lLah
AllahsSlave
____________________________________________________________
Too much spam in your inbox? Yahoo! Mail gives you the best
spam protection for FREE! http://uk.mail.yahoo.com
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
$9.95 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppiindia.shyper.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/