bung,
mungkin diskusi itu juga bisa sebagai refkleksi kita
bersama. soalnya saya sendiri udeh belasna taon gak
baca tentang en pikirannbya koko. semua buku saya
tentangnya en koleksi seluruh darimakalah koko dari
taon 70-an saya berikan kepada teman-teman di akhir
taon 198-an.
saya kurang tahu, terakhir buku "polemik kebudayaan"
itu diterbitkan oleh pustaka jaya? jika pustaka jaya
anda bisa datang saja kepada kang ayip rosidi, yang
kebetulan banyak waktunya di muntilan, pesantren
pabelan.
alamat toko bumimanusia nanti saya kirim. sekarang
tidak saya bawa. salam hangat. tengkyu:
halim hd.

--- Budhisatwati KUSNI <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:

> Surat Kembang Kemuning:
> 
> DARI PRAMOEDYA HINGGA KE JOHN LE CARRE [1].
> 
> 
> Pada tanggal 9 Oktober 2004 yang akan datang,
> Lembaga Persahabatan Perancis-Indonesia "Pasar
> Malam" yang dipimpin oleh Johanna Lederer, penari 
> kelahiran Malang, Indonesia, akan melangsungkan
> "Hari Sastra Indonesia" [La Journ�e Litt�raire de
> l'Indon�sie"] bertempat di l'Institut N�erlandais",
> 121 rue de Lille, 75007 Paris. Kegiatan budaya
> tentang sastra Indonesia seperti ini merupakan hal
> langka dan sejauh pengetahuanku merupakan kegiatan
> pertama di Paris. Dari Indonesia bisa dipastikan
> akan hadir Joesoef Isak dari Hastra Mitra, penerbit
> karya-karya Pram terutama karya-karya Pulau Buru.
> Sebagai penerbit dan editor, Joesoef Isak seperti
> diketahui telah mendapat penghargaan internasional
> dari Amerika Serikat atas jasa-jasanya menerobos
> kekangan otoritarianisme Orba Soeharto.
> 
> Berkat lobbi istimewa dari Johanna Lederer, Lembaga
> Pesahabatan Perancis-Indonesia "Pasar Malam"
> berhasil merebut dukungan Kedubes Perancis di
> Jakarta, pemerintah Belanda, para Indonesianis
> Perancis, penulis-penulis terkemuka dalam dan luar
> negeri. Dari pengarang dalam negeri dukungan kuat
> datang dari Pramoedya A.Toer yang telah mengirimkan
> pesan melalui adiknya Kusalah S.Toer, sebagai
> berikut:
> 
> "Kepada Yth.
> Johanna Lederer
> Perancis
> Jakarta, 20 Mei 2004 
> 
> Dengan hormat,
> 
> Inilah apa yang diucapkan oleh Pramoedya Ananta Toer
> kepada saya pada 17 Mei 2004 jam 10.00 di rumahnya
> di Jalan Warung Ulan No. 9, Bojong Gede, Bogor,
> untuk pertemuan Asosiasi "Pasar Malam" tanggal 9
> Oktober 2004 di Paris. Karena respons ini bersifat
> spontan, barangkali ada hal-hal lain yang masih
> perlu disampaikannya. Tapi saya sudah berpesan
> kepadanya, supaya apabila ada tambahan, saya
> dipanggilnya:
> 
>  "Saya minta maaf tidak dapat ikut menghadiri acara
> yang diselenggarakan oleh Asosiasi "Pasar Malam" di
> Paris tanggal 9 Oktober 2004. Pada waktu ini
> kesehatan saya tidak lagi memungkinkan untuk
> melakukan perjalanan ke luar negeri.
> 
> Saya terbawa oleh ucapan Bung Karno tentang perlunya
> natioan and character building bagi bangsa
> Indonesia, tidak hanya lewat tulisan tapi juga dalam
> kehidupan sehari-hari. Agar bangsa Indonesia tidak
> lagi menjadi bangsa kuli. Sampai sekarang ini bangsa
> Indonesia masih menjadi bangsa kuli.
> 
> Sesudah Bung Karno, bangsa Indonesia tidak punya
> pemimpin. Pada waktu ini di Indonesia banyak calon
> presiden dan calon wakil presiden, tapi saya yakin
> mereka umumnya tidak mengenal geografi Indonesia.
> Indonesia negeri lautan, tetapi dikuasai oleh
> angkatan darat. Tiap hari kekayaan laut Indonesia
> dijarah orang dari seluruh dunia, tidak ada yang
> bicara apa-apa. Dua ribu pulau di Indonesia tanpa
> nama. Hutan Indonesia dibabat 3,8 juta hektar tiap
> tahun, atau 7,2 hektar per menit.
> 
> Sejarah Indonesia adalah sejarah pemuda Indonesia,
> dari sejak Perhimpunan Indonesia di Belanda, Sumpah
> Pemuda, Revolusi Agustus 1945, sampai penggulingan
> Suharto. Banyak mereka menjadi korban. Hanya sayang
> mereka tidak melahirkan pemimpin. Saya sudah lansir
> kepada para pemuda untuk mengadakan kongres pemuda
> lagi, tapi sampai sekarang tak ada gaungnya. Saya
> tak punya media.
> 
> Sehubungan dengan imperialisme, saya bangga,
> Indonesia bersama Vietnam menjadi bangsa pertama
> yang melepaskan diri dari imperialisme. Sayang
> bangsa Indonesia tidak berwatak produktif,
> sebaliknya konsumtif. Bagaimana mengubahnya, saya
> tidak tahu.
> 
> Sebagai bangsa baru, bangsa Indonesia harus
> membangun budaya baru dengan meninggalkan budaya
> lama yang merugikan. Dan saya sebagai pengarang dari
> bangsa baru tidak bisa disamakan dengan pengarang
> dari bangsa yang sudah ratusan tahun merdeka. Karena
> itu untuk saya sastra merupakan kewajiban pribadi
> dan nasional. Tidak ada di sini masalah hiburan.
> 
> Pada waktu ini saya sudah tidak menulis apa-apa
> lagi, karena semua yang ingin saya tulis sudah saya
> tuliskan. Saya tak punya hutang terhadap diri
> sendiri. Tulisan-tulisan saya sudah diterjemahkan
> dalam 38 bahasa dunia, kecuali dalam bahasa-bahasa
> Afrika. Tahun ini akan terbit terjemahan buku saya
> dalam bahasa Polandia, Yunani, dan Catalan. Di
> Amerika buku "Cerita dari Blora" langsung mendapat
> resensi, dan resensinya bagus-bagus.
> 
> Selamat kepada Asosiasi "Pasar Malam".
> 
> Koesalah S.Toer"
> 
> 
> 
> Dukungan kuat serupa juga datang dari sejarawan
> terkemuka Inggris Hobsbawn dan pengarang terkemuka
> bertaraf dunia dari  Inggris John Le Carr�, seperti
> yang dikemukakannya dalam suratnya berikut:
> 
>   
> "I send you my wholehearted support, both to the
> writers brave enough to tell the truth, and the
> publishers brave enough to print it. 
> "In the last year alone, the world has witnessed how
> free speech, even in democratic countries, has been
> eaten away. In the war of lies which was the war in
> Iraq, embedded Western journalists became
> instruments of their countries' propaganda machines.
> In both Britain and the United States the power of
> the corporate media to drown out the truth, suppress
> debate, and finally believe their own distortions,
> has become a clear and present threat to human
> liberty. 
> 
> "When the bully can present himself as victim, the
> invader as liberator, and the torturer as the
> misunderstood and overworked servant of his nation,
> we know that the libertarian ideal has been stolen
> from us by the very people to whom it was
> entrusted." 
> 
> John le Carr�, July 2004. 
> 
> 
> Dukungan kuat tidak kurang datang pula dari para
> penerbit terkemuka Perancis seperti Bertrand Py,
> pimpinan redaksi penerbit "Actes Sud" yang
> mengkhususkan diri dalam penerbitan karya-karya
> asing di Perancis. Beberapa karya yang sudah
> diterbitkan oleh Actes Sud sudah mendapat
> penghargaan Nobel Sastra. 
> 
> Lengkapnya surat dukungan  Bertrand Py berbunyi
> sebagai berikut: 
> 
> 
> Kawan-kawan,
> Di pertemuan sastra Perancis-Belanda-Indonesia ini
> memberikan kepada saya tiga konteks khusus. Yang
> paling dekat kepada hati saya adalah penyertaan
> terbitnya dalam bahasa Perancis "Rantai Kunci"
> [l'Aneau de la Clef], sebuah roman yang memukau
> karya  Hella Haasse, yang menuturkan kenangan
> penulis atas apa yang oleh imperialisme Barat dahulu
> sebagai ""Les Indes N�erlandaises" [Nederlands
> Indie].
> 
> Hal kedua, yaitu Pameran Buku Internasional di
> Frankfurt yang pernah menghalang para editor yang
> sekarang hadir di sisi Anda, karena Pameran tersebut
> merupakan sebuah titik jumpa [rendez-vous] saling
> tukar sastra internasional yang tidak tergegahkan. 
> 
> Sedangkan soal ketiga, yang juga Anda sekalian tidak
> lupa memberikan hormat yaitu pemberi Hadiah Penerbit
>  dari Jeri Laber International  Freedom kepada
> saudara kita dari Penerbit Hasta Mitra, Joesoef
> Isak. 
> 
> Tiga peristiwa ini memang berlangsung di saat-saat
> yang berbeda-beda, tetapi bagi saya sudah cukup
> untuk menempatkannya dalam suatu perspektif guna
> memahami makna pertemuan seperti yang Anda-anda
> laksanakan hari ini.
> 
> Tanpa kepekaan penulis-penulis roman seperti Hella
> Haase atau Adrian van Dis, yang berani membeberkan
> apa yang tidak dikatakan dalam sejarah koloniual,
> maka pertemuan dua budaya dan ketiba-ketibaan
> bahagia atau tragis dari suatu percampuran
> [m�ttisages] tidak bakal memperoleh tempat
> pengungkapan diri. Mereka akan tenggelam dalam
> penyederhanaan Sejarah     atau ide-ide
> nasionalistis. Dalam hubungan ini maka roman
> menegaskan diri sebagai tempat di mana suatu paradok
> dan kontradiksi memperoleh wadah diri, menyodorkan
> sebuah etika pengalaman ketika menghadapi
> teoritisasi ideologi. 
> 
> Perjuangan untuk kebebasan mengungkap diri dan
> kebebasan menerbitkan yang diperlihatkan oleh
> Saudara  Joesoef Isak menjadi saksi bahwa pekerjaan
> penerbit 
=== message truncated ===



                
__________________________________
Do you Yahoo!?
New and Improved Yahoo! Mail - Send 10MB messages!
http://promotions.yahoo.com/new_mail 


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppiindia.shyper.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke