Menguak Pelaku Bom Kuningan
Oleh: Hidayatullah Muttaqin
Publikasi 12/09/2004

hayatulislam.net - Sekitar pukul 10.30 sebuah ledakan dasyat (high explosive) 
menggetarkan gedung-gedung pencakar langit di Jl. HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta. 
Beberapa gedung di sekitar Kedutaan Besar Australia mengalami kerusakan terutama 
bagian kaca yang menyelimutinya. Sementara Kedutaan Besar Australia mengalami 
kerusakan parah di bagian pagar. Ledakan yang terjadi di tengah kesibukan di daerah 
perkantoran dan kedutaan negara-negara sahabat tersebut menciptakan cendawan tinggi 
berwarna putih, sedangkan di bagian bawah menyebabkan lubang sedalam tiga meter 
(Gatra.com, 9/9/2004). Seorang penduduk yang tempat tinggalnya tidak jauh dari lokasi 
ledakan menceritakan kepada SCTV, bahwa yang ia rasakan kekuatan ledakan di Kuningan 
tersebut jauh lebih dasyat dibandingkan Bom Marriot yang terjadi pada Agustus 2003 
lalu.


Korban Ledakan

Akibat ledakan di tengah hiruk pikuk kota Jakarta itu, sejumlah mayat dan korban 
luka-luka bergelimpangan. Ceceran darah dan serpihan daging manusia tersebar tidak 
teratur. Banyak warga yang berada di sekitar ledakan terlempar beberapa meter 
menunjukkan kuatnya tekanan ledakan. Hingga pukul 16.00 Wib (Kamis) jumlah korban 
tewas mencapai 8 jiwa, korban luka-luka yang dirawat di RS MMC, RSCM, RS Aini, RS 
Jakarta, RSAL Mintoharjo, dan RS Medistra berjumlah 116 orang (Gatra.com, 9/9/2004).


Tujuan Teror Kuningan

Bom kuningan merupakan peristiwa bom ke sekian kalinya terjadi di Indonesia dalam 3 
tahun terakhir. Berbeda dengan serangan bom di Palestina dan Irak yang pelaku dan 
tujuan politiknya jelas, pelaku peledakan bom di Indonesia tidak pernah menunjukkan 
secara terbuka siapa dirinya dan apa tuntutan politiknya kepada pemerintah dan 
masyarakat Indonesia. Pelaku peledakan bom di Indonesia, termasuk di Kuningan, 
seolah-olah ingin menunjukkan kepada kita, bahwa terserah masyarakat untuk menilainya. 
Hal ini menyebabkan public opinion memegang peranan penting dalam menjustifikasi siapa 
dan apa tujuan ledakan bom.

Permasalahannya, public opinion terbentuk secara tidak seimbang dan cenderung 
dipaksakan. Kekuatan politik, ekonomi dan media Barat �khususnya Amerika� memiliki 
peranan penting dalam membentuk opini dunia, apalah lagi mengarahkan opini di 
Indonesia. Setelah peristiwa 11 September 2001, Amerika di bawah Bush Yunior memaksa 
dunia, apakah berdiri di belakangnya memerangi terorisme ataukah berseberangan di 
pihak teroris. Sejak saat itu masyarakat internasional (baca: pemerintah negara-negara 
di dunia) digiring memerangi terorisme dengan menetapkan kelompok-kelompok Islam 
sebagai pelaku teror dan mencitrakan bahwa orang Islam yang berani berbeda pemikiran 
dan sikap dengan Barat (AS) adalah ekstrimis dan pembunuh yang harus dibasmi dan 
dipasung hak-hak dasar kemanusiaannya. 

Sebelum terjadinya peristiwa Kuningan, ada rentetan peristiwa yang terkesan ingin 
disambungkan dengan peristiwa ini. Seperti penyanderaan di Beslan, Ossetia Utara, 
Rusia yang menyebabkan lebih dari 300 anak-anak dan orang dewasa tewas mengenaskan. 
Oleh pemerintah Rusia �yang terkesan menutupi kasus ini dan menolak penyelidikan 
publik yang bersifat terbuka� pelaku penyanderaan diarahkan ke para pejuang Chechnya. 
Peristiwa bom Kuningan dikesankan oleh pelaku sebagai rangkaian dari kasus Beslan 
sebagai bentuk protes terhadap kebijakan negara-negara Barat terhadap umat Islam. 
Begitu pula, bom Kuningan seakan-akan sebagai jawaban atas rencana Australia memiliki 
peluru kendali jarak jauh yang dapat menjangkau Indonesia.

Dengan ketidakberanian pelaku menunjukkan secara terbuka siapa kelompoknya dan apa 
tujuannya, maka saya berpendapat aksi teror pelaku bertujuan untuk menjustifikasi 
tuduhan Barat bahwa terorisme identik dengan Islam.


Pelakunya Siapa?

Kapolri Dai� Bahtiar menyatakaan ada kemiripan peristiwa bom Kuningan dengan bom Bali 
dan bom Marriot. Dai� juga menduga cara peledakannya sama dengan bom bunuh diri 
menggunakan mobil (Hidayatullah.com & Gatra.com, 9/9/2004). Atas dasar ini, Kapolri 
mulai mengarahkan batang hidung pelaku ke Dr. Azhari dan Nurdin Top yang masih diburu 
polisi.

Kemungkinan pelakunya Dr. Azhari dan Nurdin Top mungkin saja terjadi. Permasalahannya, 
buronan tersebut sudah diidentikkan dengan Jama�ah Islamiyah yang �katanya� dipimpin 
oleh Ust. Abu Bakar Ba�asyir. Ust. Abu sendiri tidak bisa keluar bui setelah masa 
tahanannya habis akibat dilempari polisi dengan tuduhan baru yakni bertanggung jawab 
atas kasus bom Marriot. Tuduhan Ust. Abu terlibat bom Marriot memang sangat tidak 
logis, sebab saat peristiwa itu terjadi beliau sedang berada dalam tahanan polisi. 
Apakah polisi akan mengarahkan Ust. Abu terlibat bom Kuningan karena praperadilannya 
ditolak? Dan apakah ini merupakan upaya menjustifikasi Islam dan orang Islam yang 
berani berbeda pemikiran dan sikap terhadap Barat (AS) identik dengan terorisme?

Selayaknya pihak kepolisian RI tidak membatasi alibinya pada Dr. Azhari dan Nurdin Top 
dalam konteks Jema�ah Ismiyah, tetapi terbuka terhadap segala kemungkinan siapa saja 
pelakunya dan dalam konteks apa saja tujuannya. Pihak kepolisian seharusnya melihat 
kemungkinan siapa pelakunya dari berbagai sudut pandang.

Jika tuduhan diarahkan ke Jema�ah Islamiyah �organisasi yang konon �penampakkannya� 
hanya bisa dilihat polisi dan AS dan sekutunya�, apakah �dengan terminologi� Jema�ah 
Islamiyah itu menguntungkan keberadaan umat Islam khususnya di Indonesia? Jelas tidak, 
justru keberadan hantu �Jema�ah Islamiyah� yang diceritakan �paranormal� AS itu sangat 
menyesakkan �napas� umat Islam Indonesia dalam mobilisasi dakwah dan syiar Islam.

Jika sasaran teror ditujukan kepada negara-negara yang dianggap menindas umat Islam 
dan dilakukan oleh Jema�ah Islamiyah, kenapa justru yang paling menderita secara fisik 
dan mental akibat ledakan bom adalah orang-orang yang tidak ada kaitannya dengan 
tujuan yang diopinikan. Mengapa ledakan bom Bali justru korbannya sebagian besar warga 
Australia �saat itu Australia belum sepenuhnya terintegrasi dengan Amerika memerangi 
terorisme� bukan warga Amerika, padahal tujuan yang diopinikan adalah warga Amerika di 
Bali? Mengapa ledakan bom Marriot yang diopinikan ditujukan ke warga Amerika justru 
hasilnya warga Indonesia yang bergelimpangan? Mengapa pula ledakan bom Kuningan yang 
diopinikan menghajar Kedutaan Besar Australia hasilnya malah menghiasi Jl. Rasuna Said 
dengan darah dan daging rakyat jelata? Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa aksi 
teror di Indonesia tidak pernah mencapai sasaran yang diopinikan. Hal ini mengesankan 
pelaku ledakan bom di Indonesia tidak profesional dalam
 mencapai tujuan yang diopinikan meskipun di satu sisi mereka sangat profesional dalam 
menciptakan ledakan dasyat. Hal ini merupakan suatu keanehan karena seolah-olah pelaku 
teror tidak ingin menciptakan kerugian hebat bagi AS dan Australia selain hanya 
kerugian fisik yang tidak ada artinya bagi kedua negara maju tersebut. Sebaliknya aksi 
mereka sangat menguntungkan strategi politik internasional AS dan sekutunya. 

Apakah dengan fakta tersebut, polisi memiliki political will dan keberanian untuk 
mengungkap dalang di balik berbagai peristiwa ledakan bom? Karena sebagaimana yang 
dikatakan pengamat intelejen Juanda (Parliament Watch Metro TV, 9/9/2004) ada 
kemungkinan pelaku yang tertangkap saat ini dan yang tengah diburu hanyalah pemain 
piguran, sedangkan pelaku utamanya tidak tersentuh sama sekali.

Sebelum terjadi peristiwa ledakan di Indonesia, biasanya didahului oleh kasak-kusuk 
dan travel warning pemerintah AS terhadap Indonesia. Jika sebelum Bali, pemerintah 
sibuk membantah tuduhan luar negeri bahwa tidak ada terorisme di Indonesia, maka bom 
Bali adalah jawaban untuk membantah sikap pemerintah saat itu. Satu hari sebelum 
peristiwa Kuningan kemaren, AS dan Australia kasak-kusuk memberikan travel warning 
terhadap warganya di Indonesia. Bahkan ledakan Kuningan terjadi saat Republika edisi 
kamis 9/9/2004 menurunkan berita KBRI Washington Nilai AS tidak Adil Soal Travel 
Warning. Dalam berita tersebut, Kabid Penerangan KBRI, Iwan Freddy menganggap Travel 
Warning AS tidak tepat karena dikeluarkan saat kondisi politik di Indonesia stabil dan 
menilai tidak akan ada gangguan terorisme saat pemilu tahap II nanti.

Kebijakan kasak-kusuk dan travel warning AS dan Australia seharusnya melahirkan 
pertanyaan bagi pemerintah dan kepolisian RI. Mengapa mereka (AS dan Australia) sangat 
mengetahui akan terjadi serangan bom tetapi tidak memberikan informasi detail kapan, 
di mana, siapa sasaran dan pelakunya, tetapi justru bikin keributan di tengah kondisi 
bangsa Indonesia yang memerlukan ketenangan? Seharusnya pemerintah Indonesia 
mempertanyakan sikap kedua negara yang paling sering mencampuri urusan dalam negeri 
Indonesia.


Penutup

Siapapun pelaku teror bom Kuningan merupakan tindakan biadab yang bertentangan dengan 
hukum syara�. Para pelaku piguran dan aktor intelektualnya harus diseret ke pengadilan 
agar mendapatkan hukuman yang adil sesuai perbuatan dan dampaknya.

Aparat jangan membatasi alibi tersangka terorsime pada orang-orang yang selama ini 
dituduh terlibat. Pemerintah dan kepolisian hendaknya berani mengungkap dalang di 
balik semua peristiwa teror yang terjadi di Indonesia termasuk kemungkinan 
tersangkanya datang dari kalangan intelejen asing.

Akhir kata, semoga Allah SWT memberikan ketabahan dan kekuatan kepada seluruh korban 
luka dan keluarga yang ditinggalkan, menerima korban muslim sebagai syahid di 
sisi-Nya. Amin.

Wallahu a�lam. 
Posted by: Redaksi on 12, Sep 04 | 11:32 am
Comment Archives
Return to : WEBLOG

http://hayatulislam.net/



Untuk mendapatkan artikel-artikel seputar Islam, silahkan kunjungi Hayatul Islam.Net - 
Menuju Islam Kaffah http://hayatulislam.net



---------------------------------
Find local movie times and trailers on Yahoo! Movies.


[Non-text portions of this message have been removed]




------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppiindia.shyper.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke