Memahami Paradigma Baru Politik Polaritas LN AS
Oleh: Denny Kodrat
Publikasi 13/09/2004

hayatulislam.net - SAAT ini sikap arogan Amerika Serikat sangat terlihat dalam 
pengimplementasian kebijakan politik luar negerinya, utamanya negeri-negeri Islam. 
Kesombongan dan keangkuhan tersebut dapat kita baca dalam buku Henry Kissinger yang 
bertajuk �Does America need a Foreign Policy? Toward a Diplomacy for The twenty-First 
Century (2001)�. Kissinger mengekspresikannya dengan ungkapan yang tepat mengenai apa 
yang sedang mendominasi atmosfer politik AS. Ia menulis, �AS di ujung milenium baru 
ini tengah menikmati keadidayaan yang bahkan belum pernah dirasakan oleh imperium 
terbesar sekalipun pada permulaan sejarah; Amerika bisa menguasai dominasi yang tidak 
tertandingi di seluruh penjuru dunia.�

Berkaitan dengan kekuatan dan persebaran militernya, Kissinger menambahkan, �Angkatan 
bersenjata AS tersebar ke seluruh dunia dengan mudah dari Eropa Utara hingga Asia 
Tenggara, bahkan pangkalan-pangkalan ini akan berubah karena intervensi AS atas nama 
perdamaian menjadi kebutuhan militer yang permanen.� Ia pun tak lupa menulis, �AS 
adalah sumber dan penjaga institusi demokrasi di dunia. AS bisa menguasai sistem 
moneter internasional dengan kucuran akumulasi modal investasi yang jauh lebih besar, 
dengan kepuasan yang jauh menarik minat para investor, serta pasar ekspor asing yang 
sangat luas. Kebudayaan bangsa AS juga menjadi standar di seluruh pelosok dunia.�

Kasus September 2001 sebenarnya telah dimanfaatkan secara tepat oleh Presiden Bush 
untuk mengalihkan kelemahan-kelemahan pengaturan politik dan ekonomi dalam negeri AS. 
Bahkan, kasus peledakan menara kembar WTC tersebut kemudian dieksploitasi secara 
politis yang berikutnya disusunlah dasar-dasar kebijakan baru yang dibangun 
berdasarkan pondasi dan titik tolak baru. Dari sinilah muncul paradigma �kampanye 
untuk memerangi terorisme� (war againsts terrorism) disusul dengan berbagai aksi 
militer ke Afganistan dan Irak.

Sejatinya, rancangan kebijakan baru ini telah dari dulu ditawarkan oleh Josep Biden 
(senator untuk hubungan luar negeri), tepatnya 11 tahun yang lalu pasca-Perang Teluk 
II. Kala itu Biden menawarkan proposal strategi yang disebut Pax Americana. Dalam draf 
itu disebutkan beberapa hal pokok antara lain, pertama rancangan bagi sebuah tatanan 
internasional unipolar, dengan memberikan penghargaan (reward) atau hukuman 
(punishment) bagi negara-negara asing (di luar AS) berdasarkan loyalitas mereka kepada 
keinginan Washington.

Kedua, tujuan dasar dari strategi AS pada era baru adalah untuk mencegah munculnya 
kekuatan tandingan yang baru, baik dalam level global maupun wilayah-wilayah 
geostrategis yang penting. Tercakup dalam wilayah ini adalah Eropa Barat, Asia Timur 
�bekas negara jajahan Uni Soviet� dan Asia Barat Daya. Ketiga, Wilayah Timur Tengah 
dan Asia Barat Daya, tujuan strategi AS adalah menyisakan kekuatan luar yang dominan 
dan mengamankan akses AS terhadap minyak di daerah tersebut. Keempat, tatanan dunia 
baru itu pada akhirnya akan didukung oleh AS.

Tampaknya Bush banyak mengadopsi isi draf ini. Washington, misalnya, mendukung dan 
memberikan sejumlah dana kepada negara-negara yang membantu kampanye memerangi 
terorisme. Sebut saja, Pakistan, Uzbekistan, Turki, dalam meruntuhkan rezim Thaliban 
yang diklaimnya berkerja sama dengan Osama bin Laden. Hal yang sama juga terjadi pada 
negara-negara yang turut membantu memfasilitasi kekuatan AS dan Barat dalam 
menghancurkan rezim Saddam Husein. Sebaliknya, ancaman berupa pengembargoan 
produk-produk tertentu dan penghentian pinjaman utang, atau bahkan serangan militer, 
tampak diberikan kepada negara-negara yang tidak jelas menentukan sikap 
keberpihakannya. Sebut saja Indonesia, Iran, dan Sudan. Khusus untuk kasus Indonesia, 
psy-war berupa melintasnya sejumlah jet tempur AS secara ilegal di sekitar Bawean 
belum lama ini dapat ditafsirkan sebagai ancaman atas ketidaktegasan Indonesia dalam 
menentukan keberpihakannya.

Motif yang mendorong AS melakukan revisi terhadap sejumlah kebijakan politik LN-nya 
sebetulnya dapat dipahami dari tujuan politiknya itu sendiri. An-Nabhani (1953:54) 
menjelaskan bahwa penjajahan berupa sejumlah dominasi terhadap politik, ekonomi, 
sosial yang berpijak kepada standar ideologi kapitalisme. Berpijak dari asas inilah 
kemudian AS melakukan sejumlah eksploitasi, utamanya untuk kepentingan ekonomi. Serta 
tentu saja, dengan kekhawatiran munculnya ancaman yang dapat menggangu aktivitasnya, 
AS melakukan pre-emptive strike (serangan mendahului) di sejumlah negeri yang sudah 
dikenal menentang praktik-praktik imperialismenya.

Tindakan pre-emptive AS ini dilakukan semata-mata atas sinyalemen yang sejak dulu 
dibangun oleh para pendahulunya. Nixon di tahun 1985 sebagaimana dikutip oleh sebuah 
majalah urusan luar negeri dengan lantang berkata, �Rusia dan AS harus bekerja sama 
secara kukuh untuk memberangus Islam fundamentalis.� Pertengahan Juni 1990, siaran 
radio London menyiarkan, �Sesungguhnya semangat yang tinggi �ditujukan kepada 
intelijen yang ditugasi memata-matai Rusia� secara mendasar akan segera diarahkan 
untuk mengawasi gerakan fundamentalis di dunia Islam.�

Nyata sekali, kampanye memerangi terorisme merupakan langkah riil AS untuk 
menghilangkan berbagai hambatan dan gangguan dalam upayanya menjaga hegemoni dan 
dominasi, khususnya di negeri-negeri Islam.


Perseteruan Dengan Uni Eropa

Langkah untuk mengubah struktur kekuatan pascabipolar, dari balancing of power antara 
Uni Eropa dan AS ke kekuatan tunggal (AS), cukup nyata dilakukan. Bahkan, indikasi 
perubahan konstelasi kekuatan ini pun sudah diprediksi oleh George Robertson, pimpinan 
NATO dari Inggris. Ia menyatakan Eropa harus meningkatkan taraf kekuatan militernya 
agar mencapai taraf kekuatan militer AS. AS juga wajib membantu Eropa untuk 
meningkatkan kemampuan militernya. Dalam kesempatan lain, ia mengatakan Dukungan para 
sekutu terhadap Washington memiliki batas.

Mengomentari pernyataan ini, Thomas Fredman menulis di harian The New York Times 
dengan artikel berjudul, �The end of NATO� dengan menyatakan �sebenarnya tidak ada 
NATO di luar AS karena negara-negara sekutu yang lain hanya mengirim beberapa ratus 
personel militer ke medan perang yang paling belakang, kemudian tiba-tiba meminta 
hasil jarahan AS yang telah memberikan segala pengorbanannya.�
Dr. Ghassan al-Izzi mengutip laporan pers Amerka dalam harian Al-Quds yang menyatakan 
�sesungguhnya orang-orang Eropa tengah memainkan peranan sebagai pembantu rumah. 
Setelah serangan AS, mereka sibuk mengumpulkan bantahan. Sementara itu, ketika AS 
mengobarkan peperangan, orang-orang Eropa terus berupaya mewujudkan perdamaian. 
Sesungguhnya AS, di bawah pemerintahan Bush, ingin memimpin dunia sendiri. Ini 
merupakan pernyataan yang sangat jelas.�

AS telah mengubah pandangan relasinya dengan sekutu setelah membukukan kemenangan dan 
memperoleh keuntungan besar di Asia Tengah dalam waktu yang singkat. AS merasa tidak 
perlu lagi merujuk kepada PBB, bahkan tidak juga kepada NATO. Tegasnya, AS ingin 
merepresentasikan sebagai kekuatan tunggal di muka bumi ini.

Pemerintahan Bush yang telah mengikuti langkah pemerintahan Reagen mulai membangun 
kembali dasar-dasar politik luar negeri baru yang relevan dengan kehebatan kekuatan AS 
sehingga dapat dipastikan, sekarang ini AS akan memasuki fase monopoli dan 
meninggalkan keterlibatan pihak lain. Kebijakan inilah yang memicu kebencian Uni Eropa 
terhadap politik luar negeri baru AS.

Kontan saja, pandangan ini menuai kritikan dan serangan dari berbagai pihak. Hobert 
Fedryn, filosof politik Eropa dan sekaligus menjabat menteri luar negeri, menyerang 
secara terbuka kebijakan AS ini. Ia menuduh kebijakan tersebut sebagai politik bodoh, 
murahan, dan memihak Israel yang memang represif terhadap rakyat Palestina. Ia 
menyerukan agar Eropa mempertahankan pandangan dan eksistensi mereka yang independen 
secara politis dari AS.

Kecaman ini banyak diikuti oleh para politisi Eropa, di antaranya Yoshca Fisher, 
menteri luar negeri Jerman, yang menyatakan bahwa kekuatan terbesar di dunia saat ini 
tidak akan mungkin bisa memimpin dunia sendiri dengan jumlah penduduk 6 miliar jiwa 
menuju masa depan yang damai. Para sekutu AS juga bukanlah para pengekor. Criss Paten, 
salah satu penentu kebijakan hubungan luar negeri Eropa asal Inggris dan Jack Strow, 
Menteri Luar Negeri Inggris, yang secara intensif menggugat arah kebijakan LN AS 
sebagai politik murahan dan omong kosong. Tentu saja hal ini membangkitkan sentimen 
negatif AS terhadap Uni Eropa.

Eropa, sejatinya, menyadari bahaya tindakan AS ini. Kebijakan AS tersebut secara 
substantif akan memarginalkan peran Uni Eropa. Peran Blair pun tidak signifikan untuk 
mengimbangi langkah AS, terakhir Blair sendiri ditelikung oleh lawan politiknya di 
dalam negeri, dengan mencuatkan kasus bunuh diri David Kelly. Walhasil Eropa 
menggunakan politik pertahanan yang bertumpu pada kekuatan politiknya di Afrika dan 
melakukan perlawanan terhadap dominasi AS di sana. Kondisi serupa pun disadari oleh 
Eropa, Cina, dan Rusia bahwa kebijakan luar negeri yang bersifat mencengkeram dunia 
mulai dijalankan AS. Mereka mulai melawannya. Putin berkomentar, �Semua model hubungan 
internasional yang dibangun berdasarkan cengkeraman tidak akan berumur panjang.�

Inilah yang menjadi indikator AS telah memasuki dunia dengan gaya pendekatan baru. AS 
semakin serius mencengkeram dunia. Caranya adalah dengan menciptakan kondisi 
internasional yang penuh dengan ketegangan, memperumit permasalahan internasional, dan 
mengelola krisis regional. Ini dilakukan dengan cara-cara yang bisa menyebabkan krisis 
tersebut meledak serta memercikkan perasaan kolektif secara terus-menerus mengenai 
ketidakamanan dan instabilitas di dunia yang berikutnya mendasari munculnya opini 
publik dalam skala masif bahwa AS-lah sang dewa penyelamat dan pemimpin dunia. 
Akibatnya, negara-negara di dunia dan rakyatnya tidak memiliki pilihan selain patuh 
kepada AS. Dengan demikian, AS memprediksi bahwa situasi internasional bisa 
dikendalikannya sendiri dan dialah yang akan memimpin kendalinya.

Hanya, politik polaritas ini dalam skala jenuh nanti akan mengundang permusuhan 
terselubung dan akan mengorganisasikan permusuhan tersebut untuk melawannya. Di 
samping itu, ia akan mengubah mitra kerja samanya, yaitu para sekutu, menjadi musuh 
yang dendam padanya, yang menunggu kehancurannya dan yang kelak akan memukulnya dengan 
pukulan yang lebih dahsyat. Sebuah kebencian apabila tidak ada ruang untuk 
mengartikulasikannya maka akan berubah menjadi aksi yang destruktif. AS akan jatuh 
dari ketinggiannya.

Umat Islam yang merasakan kezaliman AS jika telah sadar dan menyadari secara penuh 
arogansi dan bahaya kebijakan AS tentu saja tidak akan tinggal diam untuk mengakhiri 
segala dominasi AS tersebut. Namun tentu saja, hal ini akan jauh efektif apabila 
solidaritas sesama umat Islam tumbuh secara ideologis dengan kekuatan politis yang 
didukung oleh suatu kekuatan negara. Wallahu'alam bishawwab. [Pikiran Rakyat Edisi 
Cetak] 
Posted by: Redaksi on 13, Sep 04 | 11:34 am
Comment Archives
Return to : WEBLOG

http://hayatulislam.net/


Untuk mendapatkan artikel-artikel seputar Islam, silahkan kunjungi Hayatul Islam.Net - 
Menuju Islam Kaffah http://hayatulislam.net



---------------------------------
Find local movie times and trailers on Yahoo! Movies.


[Non-text portions of this message have been removed]




------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
$9.95 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppiindia.shyper.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke