Membunuh Rakyat Atas Demokrasi
Oleh: Farid Wadjdi
Publikasi 09/9/2004

hayatulislam.net - Salah satu yang sering disebut-sebut merupakan nilai unggul 
demokrasi adalah sistem ini cerminan dari suara rakyat. Sebab dalam demokrasi, 
semuanya diukur berdasarkan kedaulatan rakyat. Siapa yang akan memerintah ditentukan 
oleh rakyat, lewat pemilu yang digelar secara priodik. Termasuk, kebijakan apa yang 
akan diterapkan, sering diklaim juga ditentukan oleh rakyat. Yakni, lewat 
wakil-wakilnya di parlemen. Karena itu pemerintahan yang dihasilkan lewat pemilu, 
dengan demikian adalah pemerintahan rakyat. Pendek kata, sistem ini merupakan yang 
terbaik, karena atas nama rakyat. 

Namun, kenyataan dalam prakteknya, tidaklah seperti yang diangankan dalam teorinya. 
Pemilu dan pemerintahan atas nama rakyat sering kali dicatut untuk kepentingan yang 
justru bertentangan dengan rakyat. Inilah yang sekarang jelas-jelas dipraktekkan 
Amerika Serikat, Negara kampiun Demokrasi di negeri-negeri Islam. Di Irak, AS 
membentuk pemerintahan Irak yang sering diklaim sebagai cerminan wakil rakyat. Sebab 
dipilih oleh Dewan Pemerintahan Irak. Ghazi al-Yawar menjadi presiden pertama Irak 
setelah berakhirnya era Saddam Hussein. Sementara roda pemerintahan dijalankan perdana 
menteri Irak Iyad Allawi. Pemerintahan baru Irak ini kemudian membuat kebijakan, 
dengan atas nama rakyat.

Pemerintahan �demokratis� ini menangkap, memenjara, membunuh, dan memerangi 
pejuang-pejuang Irak di Falluja, Najaf, dan daerah-daerah Irak lainnya. Dengan 
mengkantongi legitimasi atas nama pemerintah Irak, siapapun yang tidak sejalan dengan 
kepentingan penguasa Irak sejati �Amerika Serikat� dicap sebagai teroris, pengacau, 
atau pengganggu rekontruksi (pembangunan) Irak. 

Seakan-akan semua tindakan pemerintah Ghazi dan Allawi saat ini adalah legal, sebab 
atas nama rakyat. Satu pertanyaan yang mendasar yang perlu diajukan: benarkah 
pemerintahan baru ini mencerminkan rakyat Irak. Benar memang, Ghazi al Yawar dipilih 
oleh dewan pemerintahan Irak. Persoalannya, apakah dewan pemerintahan Irak ini dipilih 
oleh rakyat Irak? Kenyataannya, jelas tidak. Sebab yang membentuknya adalah AS. Belum 
lagi , sejauhmana pemilihan Ghazi dan Allawi ini lepas dari campur tangan AS? Jadi 
legitamasi atas nama rakyat untuk memerangi pihak yang menentang pendudukan AS jelas 
rapuh. Termasuk, kalau benar atas nama rakyat, kenapa yang membunuhi rakyat Irak 
tersebut adalah tentara AS dengan persenjataan canggihnya. Apakah logis, pemerintahan 
yang didukung oleh rakyat, membunuh dengan menggunakan pasukan asing? Seharusnya, 
kalau benar ingin menyelamatkan rakyat Irak, yang pertama harus diusir dari Irak 
adalah pemerintah AS sendiri. Sebab, negara Paman Sam inilah, menjadi penyebab
 pembunuhan dan berbagai kisruh di Irak saat ini. Tapi, apa berani? 

Hal yang sama bisa dilihat di Chechnya. Terpilihnya, Alu Alkhanov dengan kemenangan 
yang cukup besar 74%, menjadi legitimasi sendiri bagi Alkhanov. Tampak dari pernyataan 
pertama Alkhanov tentang pejuang Chechnya yang sering dituduh Rusia sebagai seperatis: 
�Para ekstrimis bisa saja membunuh dan membuat ledakan, namun tekad rakyat telah 
melemparkan mereka ke keranjang sampah sejarah� (Kompas, 31 Agustus 2004). Bisa kita 
pastikan, dengan atas nama rakyat, Alkhanov akan memerangi pihak-pihak yang menentang 
pendudukan dan perlakuan kejam Rusia di Chechnya. Semuanya, akan menjadi legal sebab, 
dia terpilih atas nama rakyat. Meskipun, tentu saja, yang memerangi pejuang Chechnya, 
bukanlah pasukan Alkhanov yang sedikit dan tidak perpengalaman. Tapi pasukan Rusia 
dengan persenjataan canggihnya. Kritikan bahwa pemilu ini curang pun pastilah 
diabaikan seiring dengan perjalanan waktu. Termasuk sedikit yang perduli, siapa 
sebenarnya Alkhanov, yang begitu setia kepada Rusia. 

Pemilu, yang diklaim menjadi yang paling demokratis, juga akan diadakan di 
Afghanistan. Juga untuk memilih wakil rakyat dan pemerintahan atas nama rakyat. 
Rencananya pemilu pertama pasca pemerintahan Taliban ini akan diadakan 9 Oktober 2004. 
Dan, seperti biasanya, Hamid Karzai yang didukung oleh AS, diduga kuat akan 
memenangkan pemilu ini. Melihat kasus Irak, Chechnya, pemilu Afghanistan juga bisa 
bernasib sama. Pemilu yang hanya digunakan untuk kepentingan penjajah dan elit politik 
yang berkerja sama dengan penjajah. Sehingga dengan atas nama rakyat segala tindakan 
pemerintah boneka asing ini menjadi legal, meskipun untuk memerangi rakyatnya sendiri. 
Demokrasi di tiga daerah tersebut Irak, Afghanistan, dan Chechnya, tidak lebih 
merupakan alat dari kepentingan negara-negara penjajah seperti Rusia dan AS.

Tentu tidak ada yang menginginkan, pemerintah yang dibentuk lewat pemilu 2004 di 
Indonesia, juga menjadi pembunuh rakyat atas nama demokrasi. Dengan mengantongi 
legitamasi yang besar dari rakyat, sebab dipilih langsung oleh rakyat, sangat mungkin 
pemerintah akan melegitimasi kebijakannya atas nama rakyat. Meskipun tindakan tersebut 
bertentangand dengan kepentingan rakyat. Membunuh rakyat bukan berarti harus 
menembakkan peluru dan menjatuhkan bom di tengah-tengah rakyat, seperti yang terjadi 
di Irak, Afghanistan dan Chechnya. Tapi bisa lewat kebijakan ekonomi yang 
menyengsarakan rakyat. Seperti menaikkan BBM dan tarif listrik. Membiarkan rakyat 
sakit, karena biaya perobatan dan rumah sakit yang mahal, juga adalah membunuh rakyat. 
Termasuk, membiarkan rakyat, kesulitan sekolah karena biaya pendidikan yang mahal juga 
membunuh rakyat. 

Namun, sangat disayangkan, para capres yang ada sekarang, tidak memberikan solusi yang 
detail tentang perkara-perkara diatas yang akan membunuh rakyat. Tidak ada pula kritis 
para capres terhadap praktek-praktek kapitalisme yang selama ini menjadi pangkal 
pembunuhan terhadap rakyat. Bukankah naiknya BBM, penjualan aset negara atas nama 
privatisasi, pendidikan yang menjadi industri, merupakan akibat praktek kapitalisme? 
Tidak ada pula ketegasan dari para capres yang ada untuk mengatakan tidak akan 
mengikuti saji skenario AS dalam perang globalnya melawan terorisme. Padahal, selama 
ini atas nama perang melawan terorisme, tidak sedikit rakyat yang belum tentu bersalah 
dilanggar hak-haknya. Ditangkap, disiksa, atau hilang tanpa jejak. Semua ini seakan 
benar, sebab mereka teroris. Kalau tidak ada perubahan, bisa jadi rakyat tinggal 
menunggu, pemerintahan yang terpilih kembali membunuh rakyat, atas nama demokrasi. 
Tentu saja itu tidak kita inginkan. 
Posted by: Redaksi on 09, Sep 04 | 11:30 am
Comment Archives
Return to : WEBLOG

http://hayatulislam.net/


Untuk mendapatkan artikel-artikel seputar Islam, silahkan kunjungi Hayatul Islam.Net - 
Menuju Islam Kaffah http://hayatulislam.net



---------------------------------
Find local movie times and trailers on Yahoo! Movies.


[Non-text portions of this message have been removed]




------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
$9.95 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppiindia.shyper.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke