Di Balik �Bom Kuningan� Publikasi 15/09/2004 hayatulislam.net - Bom meledak lagi! Tanggal 9 September 2004 lalu bom meledak di kawasan Kuningan, Jakarta. Peledakan terjadi di depan Kedutaan Besar Australia.
Islam Menolak Terorisme Kita semua sepakat kalau aksi-aksi yang mengarah pada tindakan anarkis, menakut-nakuti masyarakat, dan berujung pada kesengsaraan rakyat adalah tindakan keliru dan harus sama-sama kita tentang dan cegah; termasuk di dalamnya adalah aksi terorisme. Jika aksi terorisme adalah tindakan yang berujung pada penderitaan, kenestapaan, dan kesengsaraan rakyat maka kita harus melakukan tindakan kolektif dan mengerahkan seluruh kemampuan yang ada untuk menumpasnya. Siapapun orangnya, darimana asal-muasal keturunannya, apapun latar belakang agamanya �apakah dia berkulit hitam, coklat ataupun putih, semua wajib dihukum dengan setimpal. Gangguan keamanan tidak boleh dipandang main-main. Sebab keamanan adalah kebutuhan darurat manusia. Dan manusia tidak bisa hidup wajar dalam suasana ketakutan. Oleh karena itu, Islam mensyariatkan hukum yang tegas yang akan mencegah orang yang hendak berpikir untuk menyerang orang lain. Islam memberikan sanksi hukum kepada pembegal jalanan dengan hukuman buang, dipotong tangan dan kaki, dibunuh dan disalib. Allah SWT berfirman: Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka di dunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar. (Qs. al-M�idah [5]: 32) Beberapa Keganjilan Jelaslah, secara i�tiq�di, Allah SWT melarang siapapun melakukan tindakan teror dan kekerasan seperti itu. Persoalannya, apakah tidak mungkin justru dalang semua itu adalah pihak asing. Ada beberapa keganjilan yang patut diperhatikan berkaitan dengan peristiwa �Bom Kuningan� tersebut. Pertama, pertemuan antara Kepala Satuan Tugas Antiteror Polri Gories Mere �mantan ketua Tim Penyidik Kasus �Bom Bali�� dengan terpidana �Bom Bali� Ali Imron di Caf� Starbuck�s pada tanggal 1 September 2004. Pertemuan Gories Mere �yang pernah menerima penghargaan �Honorary Award in Order of Australia (HAOA)� dari Pemerintah Australia pada 10 Oktober 2003� itu dengan Ali Imron mengagetkan banyak pihak, termasuk pihak kepolisian sendiri. Ada apa? Kedua, setiap sebelum terjadi peledakan baik di Bali, Marriot, maupun Kuningan selalu pihak asing mengeluarkan travel warning. Pada awal September 2004, Pemerintah AS kembali mengingatkan warganya di Indonesia agar lebih berhati-hati dalam soal keamanan serta siap menghadapi kemungkinan terjadinya lagi serangan teroris. Hotel berbau Barat, pusat perbelanjaan, rumah warga asing, dan semacamnya dikatakan menjadi sasaran teroris. Pada waktu yang hampir bersamaan, Australia juga mengingatkan warganya di Indonesia akan ancaman serangan terhadap hotel-hotel asing di Jakarta dan karenanya mengimbau warganya untuk tidak mengunjungi Indonesia jika tidak diperlukan. Pemerintah Howard, seperti dikutip kantor berita Antara, telah memperingatkan warga negara Australia untuk menghindari bepergian ke Indonesia karena �ancaman serangan oleh kelompok garis keras dan jaringan Al-Qaida.� Kok tahu-tahunya? Ketiga, sesaat setelah terjadi ledakan, penelitian pun belum dilakukan, pihak Australia melalui Menlu Alexander Downer langsung menuduh Jamaah Islamiyah yang dikatakan memiliki hubungan dengan Al-Qaida sebagai pelakunya. Kapolri Jenderal (Pol) Da�i Bachtiar mengatakan, karena modusnya sama dengan �Bom Bali� dan �Bom Marriott�, dugaan mengarah kepada kelompok Dr. Azahari. Nama terakhir tersebut selalu �nyaris tertangkap namun hingga kini tetap lolos.� Aneh! Keempat, dalam konferensi pers pada 10 September 2004, Menlu Australia, Alexander Downer menyebutkan bahwa 45 menit sebelum ledakan, polisi menerima SMS tentang akan adanya ledakan tersebut. Informasi tersebut diperolehnya dari pejabat Polri. Beberapa kalangan menyebut pejabat tersebut adalah Brigjen Gories Mere. Sebaliknya, Kapolri menyatakan belum mendapat laporan dari yang bersangkutan. Sungguh aneh! Dari beberapa keganjilan tersebut muncul pertanyaan, seperti dalam beberapa ledakan sebelumnya, mengapa pihak asing tampak dominan dalam opini? Tidak mungkinkah pelakunya adalah anasir asing atau, setidak-tidaknya, terkait dengan pihak asing? Semestinya upaya untuk menghentikan tindakan terorisme tersebut didudukkan secara adil. Artinya, bukan hanya warga negara Indonesia atau kalangan Islam yang langsung dituduh, melainkan pihak asing juga bisa dituduh sebagai pelakunya, atau bahkan sebagai dalangnya. Jika hal ini yang dilakukan maka akan tampak siapa sebenarnya yang ada di balik tindak kekerasan tersebut. Namun, apabila pengertian terorisme dipahami dengan apa yang dipersepsikan AS sebagai pihak-pihak �khususnya kalangan Islam� yang tidak mendukung AS maka �perang melawan terorisme� hanya merupakan alat politik penjajah asing. Yang rugi dan menjadi korban adalah umat Islam secara keseluruhan. Sebagaimana dalam kasus-kasus serupa, dalam kasus �Bom Kuningan�, cara pandang tersebut juga tetap dipakai. Salah satu indikasinya, 7 orang WNI ditangkap oleh kepolisian Victoria dengan tuduhan terlibat dalam peledakan 9/9 tersebut (Metro TV, 14/09/2004). Waspadai Stigmatisasi Satu hal yang perlu diwaspadai dari berbagai peristiwa peledakan tersebut adalah upaya stigmatisasi dari pihak asing seolah pelaku teror selalu kalangan Islam. Kalangan Islam seyogyanya tidak terjebak pada sikap seperti itu. Sebab hal itu menimbulkan persoalan-persoalan baru, antara lain: Pertama, menuding sikap yang berpegang pada nash (teks) al-Qur�an dan as-Sunnah sebagai dasar dari tindak kekerasan. Tudingan ini sangatlah berbahaya. Sebab, betapa banyak kaum Muslim yang benar-benar berpegang pada nash (teks) al-Qur�an dan as-Sunnah menolak kekerasan, termasuk dalam memperjuangkan Islam. Faktanya, Rasulullah Saw mencontohkan perjuangan untuk mengubah sistem kufur yang penuh dengan kezaliman dan ketidakadilan melalui jalan pemikiran (fikriyyah), politik (siy�siyyah), dan tanpa kekerasan (l� m�ddiyah). Hembusan opini ini hanya akan semakin menjauhkan umat dari Islam dan Islam dari umatnya. Jika ini terjadi, yang menang adalah kaum kafir penjajah; yang terpuruk adalah umat Islam secara keseluruhan. Kedua, ketika peledakan di Kuningan terjadi, pihak intelijen mengisyaratkan untuk menghentikan apa yang disebutnya sebagai �Islam radikal�. Padahal, �Islam radikal� itu apa, sangatlah fleksibel, tergantung keperluan. Sekarang, kalangan kaum Muslim yang hendak mengubah kezaliman dan kegelapan menjadi cahaya Islam, meskipun dengan cara tanpa kekerasan, disebut sebagai �Islam radikal�. Ketiga, dugaan pihak asing �yang sering seolah-olah dianggap sebagai sebuah kebenaran� bahwa Jamaah Islamiah (JI) adalah dalang di balik berbagai peristiwa peledakan di Indonesia (walaupun sering tanpa didasarkan pada bukti) �akan dijadikan legitimasi bagi pihak asing, khususnya AS, untuk melakukan intervensi langsung atas Indonesia, karena JI sudah dimasukkan oleh PBB sebagai organisasi teroris; meskipun keberadaan dan struktur JI seperti apa juga sampai sekarang tidak jelas. Keempat, beberapa peristiwa ledakan akan menciptakan opini tentang pentingnya pembentukan Detasemen 88 Antiteror dan pengesahan RUU Intelijen, setelah sebelumnya disahkan UU Antiterorisme. Ketika baru ada satu UU Antiterorisme, penangkapan dan penculikan aktivis Islam terjadi. Apalagi dengan sinyalemen berkaitan dengan �Islam radikal�. Karenanya, kekhawatiran pengesahan RUU Intelijen akan menyebabkan �teror psikologis� sangatlah beralasan. Kita tentu khawatir, apabila terorisme yang dimaksud seperti yang dipersepsikan AS, maka akan terjadi penangkapan besar-besaran. Jika hal ini terjadi, maka opini bahwa kelompok-kelompok Islam sebagai pihak yang harus �diwaspadai dan dicurigai� muncul kembali. Islam kembali dicap dan identik dengan terorisme. Mereka yang menuntut agar Piagam Jakarta dikembalikan ke UUD 1945 bisa dicap sebagai teroris. Bahkan nanti orang yang membaca al-Qur�an atau ber-KTP Islam pun akan dicap teroris! Tipudaya Musuh Islam Akan Hancur Dakwah selalu menghadapi rintangan. Setiap perjuangan menegakkan Islam selalu ada halangannya. Dulu, Rasulullah Saw dihadapkan pada berbagai makar kaum kafir yang membenci Islam. Siapapun yang menghayati sirah Rasul akan menemukan bahwa beliau menghadapi berbagai tantangan dalam memperjuangkan Islam. Bentuknya banyak. Pertama, berupa bujuk rayu. Rasulullah Saw pernah ditawari kekuasaan, harta, dan wanita, dengan syarat, menghentikan dakwah Islamnya. Namun, beliau menolaknya mentah-mentah. Beliau memilih meneruskan upaya menegakkan hukum Allah SWT. Kedua, berupa intimidasi. Beliau dituduh gila dan tukang syair yang ahli berkata-kata. Tujuannya agar orang-orang tidak menerima Islam sebagai sistem kehidupan. Allah SWT mengabadikan hal ini: Mereka berkata, �Wahai orang yang diturunkan kepadanya (Muhammad) adz-Dzikr (al-Qur�an), sungguh engkau benar-benar gila.� (Qs. al-Hijr [15]: 6). Menghadapi hal ini, Nabi Saw tidak gentar. Perjuangan terus dilanjutkan. Ketiga, ancaman fisik. Rasulullah Saw diancam untuk diculik, dipenjarakan, bahkan dibunuh. Al-Qur�an mengabadikan hal ini: (Ingatlah) ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya-upaya terhadapmu (Muhammad) untuk menangkap dan memenjarakanmu, membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipudaya dan Allah menggagalkan tipudaya itu. Allah sebaik-baik Pembalas tipudaya. (Qs. al-Anfal [8]: 30). Lagi-lagi, hal ini tidak menggoyahkan keyakinan beliau akan kemenangan. Beliau yakin bahwa tipudaya musuh Islam itu akan hancur dengan sendirinya. Jelas sekali, Rasulullah Saw dihadapkan pada berbagai tipu daya orang-orang kafir. Namun, kemenangan ada di tangan beliau. Itulah janji Allah SWT kepadanya. Janji itu juga pasti akan diberikan kepada umat Islam jika �dan hanya jika� mereka mengikuti sikap Nabi Saw. Khatimah Oleh sebab itu, menyerukan kepada seluruh komponen umat: pimpinan partai dan ormas Islam, para ulama, cendekiawan, wartawan, buruh dan karyawan, pemuda, pelajar dan mahasiswa, pimpinan pondok pesantren, pengurus DKM dan Majelis Ta�lim, juga para pejabat sipil maupun militer, mari kita tolak terorisme dan gembongnya teroris! Tetaplah menerapkan Islam dan berjuang menegakkan Islam melalui pemikiran, aktivitas politik, dan tanpa kekerasan. All�hu Akbar! [Buletin Al-Islam, Edisi 222] Posted by: Redaksi on 15, Sep 04 | 8:24 am Comment Archives Return to : WEBLOG http://hayatulislam.net/ Untuk mendapatkan artikel-artikel seputar Islam, silahkan kunjungi Hayatul Islam.Net - Menuju Islam Kaffah http://hayatulislam.net --------------------------------- Find local movie times and trailers on Yahoo! Movies. [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar. Now with Pop-Up Blocker. Get it for free! http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppiindia.shyper.com *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

