Gus Wahid,

Sumber informasi dalam kutipan saya itu jelas: KH Agoes Ali Masyhuri. 
Jika anda menyempatkan diri membaca tuntas, tentu anda akan memahami 
siapa penuturnya. Maaf, saya terlambat merespons karena baru saja 
bergabung di milis ini. 

Matur nuwun penilaiannya.
yuli ahmada/surabaya

--- In [EMAIL PROTECTED], Abdul Wahid <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> ">>>>
> Kritiknya masih berlanjut. Katanya, "Kenapa Pak Hasyim gandeng 
dengan 
> presiden wanita, haram! Tapi uang yang dikasih Pak Hasyim, halal!. 
> Ini payah, bagaimana rujukannya itu?" kecamnya.
> >>>>
> 
> 
> Ini sumber informasi yang tidak bisa dipertanggung jawabkan.
> Karena tidak disertai dengan siapa yang mengungkapkan. Akan tetapi
> hanyalah ungkapan kecaman dari seseorang, akan tetapi malah seakan-
akan
> menjadi tema dari informasi dibawah.
> 
> Dari informasi tersebut, tidak tampak nilai yang significant yang 
bisa
> didapat
> oleh pembaca. Melainkan informasi yang lebih condong untuk 
mempertentangkan
> sebagian dengan sekumpulan yang lain.
> 
> Inilah yang tercermin dari pekerja pers, yang mengedepankan 
kepentingan
> praktis dan "kehebohan" daripada pembelajaran masyarakat.
> 
> Terlebih judul yang digunakan, sangat tendensius sedangkan isi 
beritanya
> kosong.
> 
> Bagaimana rakyat bisa dewasa kalau pelaku pers tidak ada sense untuk
> mendidik moral bangsa.
> 
> 
> 
> 
> -----Original Message-----
> From: rm_danardono [mailto:[EMAIL PROTECTED]
> Sent: Friday, September 03, 2004 1:31 PM
> To: [EMAIL PROTECTED]
> Subject: [ppiindia] Re: Pecel Xenia....kisah dari Jawa Timur
> 
> 
> "Presiden wanita, haram! Uangnya, halal!"
> 
> KH Agoes Ali Masyhuri sama masyhurnya dengan nama Bumi Shalawat. 
Kiai 
> berlatar Nahdlatul Ulama (NU) tapi bukan pengurus NU itu mendukung 
> Ketua Umum (non-aktiv) PB NU, KH Hasyim Muzadi, sebagai cawapres. 
> Bagaimana sosoknya?
> 
> Setengah lusin manusia duduk khidmat menghadap lelaki berjubah 
hitam 
> di Desa Kenongo, Tulangan, Sidoarjo, usai shalat Ashar, Minggu 
(29/8) 
> lalu. Sebagian dari mereka menunggu sejak Dzuhur agar tak bisa 
> bertemu si jubah hitam yang tak tak lain KH Agoes Ali Masyhuri atau 
> Gus Ali, pengasuh Pondok Pesantren dan Klinik Moral Bumi Shalawat. 
> 
> Prosesi kecil pun dimulai. Sambil tetap duduk di meja kayu usang, 
Gus 
> Ali melayani satu per satu. "Yo wis, pasa telung dina (ya sudah, 
> puasalah selama tiga hari, Red)," saran Gus Ali kepada tamu 
perempuan 
> yang baru saja minta didoakan supaya cepat diberi jodoh. 
> 
> Tamu lain ada yang ingin perniagaannya lancar, ada pula yang 
sekadar 
> silaturahmi. Semua berusaha menyodorkan amplop setelah didoakan 
atau 
> diberi saran. Tapi hari itu, Gus Ali menolak semuanya. 
> 
> "Gowoen (bawa pulang saja, Red)," sergahnya. Begitulah antara lain 
> kesibukan kiai yang kini mengoleksi Mercedes Benz bikinan 1988 dan 
> Opel Blazer ini. 
> 
> Kesibukan Gus Ali tidak cukup di situ. Selepas Isya, hampir bisa 
> dipastikan dia tak ada di rumah karena menghadiri berbagai undangan 
> ceramah. "Sudah biasa, sejak dulu tiap malam juga tidak di rumah," 
> kata istrinya, Nyai Nur Qomariyah, 42, kepada saya. 
> 
> Gus Ali memang cakap berdakwah secara lisan maupun tulisan. "Saya 
> berpendapat, pemerintahan Megawati belum berhasil dalam upaya 
> memberantas korupsi di republik ini," kritik Gus Ali, 16 November 
> 2003. Setahun kemudian, 31 Juli 2004, Megawati sebagai presiden 
> mampir ke pondoknya. Mega dalam pidatonya meminta para pemimpin 
> pesantren menyosialisasikan program kredit tanpa agunan dari 
> pemerintah.
> 
> Perlu dicatat, Megawati saat itu sudah lolos untuk pilpres putaran 
> kedua bersama KH Hasyim Muzadi. Dan, Gus Ali mendukung pasangan itu 
> sejak pilpres putaran pertama. Ia mengakui, tidak ada dukungan 
> politik yang gratis.
> 
> "Insya Allah kalau yang jadi Mega-Hasyim, bukan hanya Menteri Agama 
> tapi tentu saja jabatan-jabatan yang strategis (untuk orang NU, 
Red)" 
> kata Gus Ali kepada saya, usai melayani tetamunya, Minggu sore itu. 
> 
> Disinggung ihwal pendapat sebagian ulama yang menentang presiden 
> wanita, Gus Ali dengan suara keras selama wawancara, mengritik 
pedas. 
> Ia mempersilakan siapapun mendukung Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)-
> Jusuf Kalla asal tidak memakai justifikasi agama. "Yang riil-riil 
> sajalah, politik itu kan washilah (jalan atau cara) bukan ghoyah 
> (tujuan)," tandasnya. 
> 
> Kritiknya masih berlanjut. Katanya, "Kenapa Pak Hasyim gandeng 
dengan 
> presiden wanita, haram! Tapi uang yang dikasih Pak Hasyim, halal!. 
> Ini payah, bagaimana rujukannya itu?" kecamnya. Gus 
> 
> Ali menolak menyebutkan arah kritiknya. Yang jelas, katanya, warga 
NU 
> nanti akan bertemu pada satu muara meski saat ini berbeda 
> pilihan. "Jangan dibenturkan orang NU dengan PKB, antara satu kiai 
> dengan yang lain. Ukhuwah antarkiai, antarnahdliyin dan ukhuwah 
> Islamiyah itu lebih mahal daripada jabatan apapun," katanya. 
> 
> Pandangan Gus Ali soal sahnya presiden wanita juga dipegang teguh 
> santrinya bernama Muhibullah, 24. Muhib sebetulnya santri Pondok 
> Lirboyo, Kediri asuhan KH Idris Marzuqi tapi ditugaskan mengajar di 
> Bumi Shalawat, setahun terakhir.
> 
> Pemuda dari Semarang itu lantas menjabarkan sebab-sebab turunnya 
ayat 
> dan hadits yang kemudian dijadikan justifikasi untuk menghadang 
> perempuan jadi pemimpin di ranah publik. "Sebelum di sini, saya 
sudah 
> berpendapat bahwa perempuan boleh jadi pemimpin," ungkapnya. 
> 
> Lalu, bagaimana kiat Gus Ali memenangkan Mega-Hasyim? Gus Ali tak 
> merinci tapi menyimpan geram kepada hasil penelitian lembaga yang 
> menurutnya dibiayai asing dan senantiasa mengunggulkan SBY-
> Kalla. "Kami akan menjungkirbalikkan mereka, analisis dan hipotesa 
> mereka. Aku ora ndisiki kerso (mendahului kehendak Tuhan, Red)," 
> ujarnya, mirip saat orang berorasi. 
> 
> Guna mewujudkan obsesinya itu, Gus Ali mengaku punya jaringan massa 
> dan santri di Jatim dan Indonesia, bahkan di luar negeri seperti 
para 
> TKI di Arab Saudi dan Malaysia. "Saya orang di luar struktur NU 
tapi 
> saya punya jaringan massa yang tidak kalah dengan parpol atau 
lembaga 
> macem-macem, saya berani taruhan kok," sumbarnya.
> 
> Meski santrinya yang mukim di Bumi Shalawat hanya 50-an orang, Gus 
> Ali mengaku bisa mengerahkan 100.000 orang dalam hitungan jam. 
Minggu 
> sore itu, masih berjubah hitam dan kopiah putih, Gus Ali lantas 
pamit 
> untuk makan di luar. "Mega-Hasyim!," serunya seraya masuk Mercedes 
> Benz. (yuli ahmada) 
> 
> http://yuli-ahmada.blogspot.com/2004/09/presiden-wanita-haram-
uangnya-
> halal.html





------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppiindia.shyper.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke