DEMOKRASI BUTUH JIWA BESAR
Oleh Tangkisan Letug
Indahnya demokrasi adalah cermin manusianya. Indahnya
cakrawala adalah cermin semesta. Begitulah kiranya
kita bisa ungkapkan seluruh pengharapan anak bangsa
ini menyongsong masa depannya.
Pertama-tama perlu diakui bahwa kemanusiaan Indonesia
masih terseok-seok ke dalam lumpur. Berbagai peristiwa
pelanggaran kemanusiaan belum juga ada titik terang
penyelesaian, bahkan masih meninggalkan luka yang amat
dalam. Itulah masa kelam kita yang tercatat dalam
sejarah. Tetapi menerimanya tidaklah berarti
melepaskan tanggungjawab kita untuk menyelesaikannya.
Melupakan dan menutupinya hanya akan menambah dalam
luka-luka yang telah tertanam.
Penulis terkesan oleh sikap Bambang Yudhoyono yang
langsung mengulurkan salam rekonsiliasi setelah
persaingan keras dalam pemilihan presiden dan wakil
presiden tanggal 20 September 2004 yang lalu, dengan
kemenangan yang hampir pasti di tangan Susilo Bambang
Yudhoyono dan Jusuf Kalla. Sebuah seruan rekonsiliasi
yang sangat simpatik. Nilainya tidak hanya sebagai
pembelajaran seluruh bangsa akan artinya kemenangan
sebuah pemilu, tetapi juga pembelajaran seluruh bangsa
akan pentingnya rekonsiliasi. Langkah simpatik itu
perlu disambut baik oleh kubu Megawati dan Hasyim
Muzadi.
Dalam konteks hidup kebangsaan kita, langkah
rekonsiliasi perlu menjadi tidak hanya lip-service
sebagai bunga-bunga kemenangan, tetapi perlu menjadi
keprihatinan yang luas. Rekonsiliasi perlu menjadi
keprihatinan tidak hanya mengenai perkara di sekitar
pemilu, tetapi jauh lebih penting adalah rekonsiliasi
terhadap masa silam kita.
Kemenangan yang segera diraihnya akan kehilangan daya
kreatif-rekonsiliatif bila hanya sekedar menjadi
pemanis bibir saja. Apakah yang sebenarnya paling
dasar diperlukan bagi sebuah rekonsiliasi? Menurut
penulis, pertama-tama adalah jiwa besar. Sebuah bangsa
yang tidak memiliki jiwa besar cenderung mengubur
kesalahan masa lalu dan membiarkan dendam membisul
hingga menuju pecah.
Harapan penulis, dengan figur Susilo Bambang Yudhoyono
yang dikenal reformis, upaya-upaya rekonsiliasi secara
nasional akan benar-benar diambil tindakan nyata.
Kebesaran jiwa tidak hanya dituntut dari para penguasa
masa silam yang terlibat, tetapi juga seluruh anak
bangsa untuk mengakuinya bersama tragedi-tragedi yang
telah menimpa bangsa. Kebesaran jiwa para penguasa
tentu bukanlah sebuah sikap selintutan untuk
menyelamatkan masa silam, tetapi ketegaran melihat
kenyataan di atas landasan kemanusiaan dan keadilan.
Di sinilah dinantikan oleh banyak pihak berhentinya
segala lingkaran �impunity� yang melibatkan
orang-orang kuat. Kebesaran jiwa dinantikan ada di
lapisan penegak hukum.
Itulah kiranya sebuah prasyarat mental dasar bagi
sebuah rekonsiliasi.
Kalau dipahami lebih lanjut lagi, kebesaran jiwa itu
pulalah yang mestinya melandasi demokrasi kita. Sudah
lama kita telah ada dalam kungkungan tirani yang tak
memberikan ruang tumbuhnya kebesaran jiwa para elit
kita. Dalam kuasa tirani, mental yang
ditumbuh-kembangkan adalah mental menyelamatkan muka
lebih daripada menyelamatkan manusia. Dengan satu
tahan pemilu langsung yang baru kita lalui ini, kita
bisa berharap banyak bahwa kebesaran jiwa itu makin
menjadi mekar dalam diri anak-anak bangsa ini.
Kebesaran jiwa bagi demokrasi itu membuat orang tidak
lagi takut untuk dibilang begitu dan begini. Kebesaran
jiwa itu pada dasarnya �kesemelehan jiwa pada
kasunyatan�. Sandarannya adalah kebenaran kehidupan,
bahwa manusia itu adalah bagi sesamanya; bahwa manusia
itu tak pernah berkembang dengan hanya mengingkari
kebersamaannya dengan orang lain. Kebesaran jiwa lalu
bisa membuat kita tertawa melihat kebodohan dan
kejelekan diri kita. Kebesaran jiwa itu bisa menangis
melihat sesamanya menderita. Kebesaran jiwa itu mampu
menanggung pedih-perih tanpa membawa benci. Kebesaran
jiwa itu tidak benci oleh kata-kata pedas yang diukir
seniman.
Bila demokrasi memiliki dasar kebesaran jiwa ini,
indah semesta ini kian menggemakan kemuliaan
manusianya. Kalah menang itu adalah jalan yang sama,
untuk membangun menjadi manusia merdeka, tak terkurung
kuasa, tak terkukung nafsu kekerasan dan
harta-kekayaan. Demokrasi menjadi indah karena kita
menjadi manusia bersama.
Lihatlah gara-gara telah menjadi saatnya Arjuna
bercengkerama. Arjuna masih bisa tertawa ketika Bagong
mengritiknya sebagai lelaki tak pernah puas pada
wanita. Bahkan Sang Pandhu Dewanata pun hanya
tersenyum mendengar ocehan pedas dari kawulanya karena
terlalu lemah menjaga tahtanya. Kekuatan dan kelemahan
selalu bersama manusia, tetapi tidak selamanya jiw
besar itu berkembang di dalam jiwa-jiwa pemimpin kita.
Biarlah canda tetap menjadi canda, jangan diadili
dengan fatwa agama. Biarlah rakyat membawa suara
dengan caranya, jangan sampai diadili hanya
ikut-ikutan belaka. Kebesaran jiwa itu juga membuka
indahnya tertawa di saat kita melihat kerapuhan dan
kebodohan diri kita.
Indahnya demokrasi adalah cermin manusia. Kebesaran
jiwa terpancar bagaimana orang mengakui kekalahannya
dan kelemahannya. Demokrasi menjadi indah karena
selalu saja kita dapat belajar daripadanya, untuk
menjadi lebih berbesar-jiwa.
25 September 2004
_______________________________
Do you Yahoo!?
Declare Yourself - Register online to vote today!
http://vote.yahoo.com
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
$9.95 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppiindia.shyper.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/