--- In [EMAIL PROTECTED], "H. M. Nur Abdurrahman" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
djunaedi sahrawi dan Ziauddin Sardar wrote: Syariat adalah produk buatan manusia yang merupakan usaha memahami kehendak suci dalam konteks tertentu. ------------------------ HMNA: Itu pendapat yang sesat, bertentangan dengan ayat: -- TSM J'ALNK 'ALY SYRY'AT MN ALAMR FATB'AHA WLA TTB'A AHWA^ ALDZYN LA Y'ALMWN (S. ALJATSYT, 18), dibaca: tsumma ja'alna-ka 'ala- syari-'atim minal amri fattabi'ha- wala- tattabi' ahwa-al ladzi-na la- ya'lamu-n (s. alja-tsiyah), artinya: kemudian Kami jadikan engkau (hai Muhammad) atas syari'at di antara urusan, maka ikutilah syari'at itu dan janganlah engkau turut hawa-nafsu orang-orang yang tidak berilmu (45:18). Menurut ayat [45:18] syari'at bukanlah buatan manusia. Selanjutnya baca yang di bawah, yang dicuplik dari Serial WAHYU DAN AKAL - IMAN DAN ILMU, Seri no.438, berjudul Syari'at dan Fiqh, bertanggal 27 Agustus 2000. Syari'at berbeda dengan fiqh. Kedua kata itu adalah bahasa AL Quran. Syari'at dalam arti luas adalah aqidah, jalannya hukum dan akhlaq, sedangkan fiqh bermakna kecerdasan dalam memikirkan, mempelajari, atau menyadari jalannya hukum. Mengenai pengertian syari'at, demikianlah Firman Allah SWT: -- TSM J'ALNK 'ALY SYRY'AT MN ALAMR FATB'AHA WLA TTB'A AHWA^ ALDZYN LA Y'ALMWN (S. ALJATSYT, 18), dibaca: tsumma ja'alna-ka 'ala- syari-'atim minal amri fattabi'ha- wala- tattabi' ahwa-al ladzi-na la- ya'lamu-n (s. alja-tsiyah), artinya: kemudian Kami jadikan engkau (hai Muhammad) atas syari'at di antara urusan, maka ikutilah syari'at itu dan janganlah engkau turut hawa-nafsu orang-orang yang tidak berilmu (45:18). Sedangkan mengenai pengertian fiqh, Allah SWT berfirman: -- WMA KAN ALMW^MNWN LYNFRWA KAFT FLWLA NFR MN KL FRQT MNHM THA^FT LYTFQHWA FY ALDYN WLYNDZRWA QWMHM ADZA RJ'AWA ALYHM L'ALHM YHDZRWN (S ALTWBT, 122), dibaca: wama- ka-nal mu'minu-na liyanfiru- ka-ffatan falawla- nafara ming kulli firqatim minhum tha-ifatal liyatafaqqahu- fid di-ni waliyundziru- idza- rajau- ilayhim la'allahum yahdzuru-n (s. attaubah), artinya: tidaklah patut orang-orang beriman keluar semuanya (ke medan perang), mengapakah tidak sebagian di antara mereka yang tinggal berfiqh (memahami) tentang addin (syari'at) dan memberi peringatan kepada kaumnya, supaya mereka itu waspada (9:22). (S. Attaubah ini ayat-ayatnya banyak mengemukakan tentang situasi perang). Dari kedua ayat di atas itu jelas bahwa syari'at antara lain ialah ketentuan hukum menurut Al Quran, para penegak syari'at tidak diperbolehkan mengikuti hawa-nafsu/pendapat orang-orang yang tidak berilmu. Sedangkan fiqh berhubungan dengan pemikiran tentang syari'at itu bagaimana diaplikasikan sesuai dengan kondisi masyarakat. Itulah sebabnya dalam menentukan hukum Imam Syafi'i berbeda waktu di Baghdad, yang dikenal dengan qawlulqadim (kata-kata terdahulu), dengan pada waktu di Qahirah (Cairo), yang dikenal dengan qawluljadid (kata-kata terkemudian). Sebuah contoh populer yang sering dikemukakan: si Fulan meminjam sebuah barang dari si Fulanah, lalu dihilangkan oleh si Fulan. Menurut syari'at, si Fulan wajib menebus barang si Fulanah yang dihilangkannya itu, sebab Firman Allah: -- FAN AMN B'ADHKM B'ADHA FLYW^D ALDZY AW^TMN AMANTH WLYTQ ALLH RBH (S. ALBQRT, 283), dibaca: fain amina ba'dhukum ba'dhan falyuaddil ladzi' tumina ama-natahu- walyattaqiLla-ha rabbahu- (s. albaqarah), artinya: jika seorang dari kamu mempercayai orang lain (dengan meminjamkan sesuatu barang), maka hendaklah orang yang diserahi amanat itu menunaikan amanat (barang yang dipinjamkan) padanya dan hendaklah ia takut kepada Allah, Maha Pengaturnya (2:283). Begitulah menurut hukum syari'at, namun timbul pertanyaan, bagaimana caranya menebus barang yang dihilangkan si Fulan itu. Pemikiran tentang bagaimana cara menebus barang itu, itulah fiqh. Mazhab Hanafi berpendapat, tebuslah barang itu dengan harga tatkala barang itu dipinjam. Mazhab Hambali berpendapat, tebuslah barang itu menurut harga tatkala barang itu ditebus. Menurut Mazhab Syafi'i, tebuslah barang itu dengan harga yang paling menguntungkan bagi yang empunya barang. Jadi dari contoh yang sederhana tersebut jelaslah, bahwa kewajiban menebus barang yang dihilangkan adalah urusan hukum syari'at, sedangkan bagaimana cara menebusnya adalah urusan fiqh. Ketentuan syari'at tidak boleh dimusyawarakan, namun dalam wawasan fiqh dapat dimusyawarakan. Wassalam, HMNA ----- Original Message ----- From: djunaedi sahrawi To: [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] Sent: Saturday, September 25, 2004 06:46 Subject: <Islam_liberal> Berperan aktif dalam mencari sebuah kebenaran Mayoritas islam menganggap syariat yang diterjemahkan sebagai hukum islam sebagai sesuatu yang sakral. Padahal dalam Islam tak ada sesuatu hal pun yang sakral, selain Alquran. Syariat adalah produk buatan manusia yang merupakan usaha memahami kehendak suci dalam konteks tertentu. Itulah sebabnya sebagian besar isi dari syariat adalah fiqh yang tidak lain adalah pendapat para fuqaha. Dan pengkultusan syariat ini juga memiliki arti hilangnya kemandirian kaum beriman. Karena semua ketentuan hukum sudah ditetapkan dan umat Islam tak memiliki pilihan lain kecuali mentaatinya. Ia memiliki peran yang pasif. Semestinya umat Islam berperan aktif dalam mencari sebuah kebenaran. Minggu, 01 Agustus 2004 Ziauddin Sardar Demokrasi Indonesia Bisa Jadi Contoh Ia salah satu penulis Islam progresif. Ada juga yang menyebut dia seorang utopis, generalis. Dia, Profesor Ziauddin Sardar. Sardar adalah seorang penulis pemikiran Islam kontemporer, sains, dan juga seorang kritikus budaya. Lelaki kelahiran Pakistan ini juga penyiar radio, bekerja, antara lain, untuk jurnal ilmiah Nature dan New Scientiest. Ia juga editor Futures, sebuah jurnal bulanan mengenai kebijakan, perencanaan, dan studi masa depan. Selain itu, ayah tiga anak ini juga mengajar di City University, London. Banyak sudah artikel yang keluar dari tangannya. Sardar telah menerbitkan sekitar 40 buku. Di antaranya adalah The A to Z of Postmodern Life (2002), Aliens R Us (2002), Orientalism (1999). Selama seminggu sejak Ahad (25/7) Sardar berkunjung ke Indonesia. Ia bertemu dengan masyarakat Islam dari dua ormas besar Indonesia, Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah, di Jakarta, Surabaya, dan Medan. Di sela-sela kunjungannya itu ia meladeni berbagai pertanyaan wartawan, termasuk wartawan Republika Ferry Kisihandi dan Nina Chairani dalam beberapa kesempatan di Jakarta. Lelaki setengah baya berambut sepundak dan gemar berpakaian casual ini tampak penuh semangat menjawab berbagai pertanyaan. Terutama pertanyaan yang menantang. ''Semua pertanyaan simpel buat saya,'' katanya sambil tertawa. Berikut nukilan wawancara seputar pemikiran dan kehidupan pribadinya itu: Gagasan mengkaji kembali pemikiran Islam semakin gencar. Sebenarnya apa perlunya hal itu dilakukan? Upaya mengkaji kembali pemikiran Islam perlu dilakukan. Ini memberikan dampak pada kembalinya peradaban Islam dalam kehidupan kontemporer. Islam memiliki daya untuk merespons beragam kondisi kontemporer, dan tak membuat umat islam tertinggal dari umat lainnya. Namun nyatanya, kini umat Islam tak mampu menghadapi modernitas. Padahal mengkaji ulang pemikiran Islam telah lama dilontarkan para pemikir Islam. Kita bisa mengambil contoh Malik bin Nabi, juga ada Jamaluddin Al Afghani maupun Muhammad Abduh. Bahkan Malik bin Nabi menyatakan bahwa kolonialisme di negara-negara Islam bukan karena Barat yang kuat. Namun, karena kelemahan umat Islam. Mereka tak mampu melakukan perubahan untuk merespons perubahan zaman. Pada masa selanjutnya ada pula Muhammad Iqbal yang melontarkan gagasan gemilangnya agar Islam mampu merespons kondisi kontemporer. Dan, hingga kini umat Islam tampaknya tak mampu memenuhi panggilan ijtihad. Dalam tataran praktis bagaimana gagasan ini berjalan? Bagi saya pengkajian kembali pemikiran Islam bukanlah mempersoalkan perlu atau tidaknya shalat, haji, puasa, dan ibadah ritual lainnya. Namun, bagaimana Islam dibawa ke dalam kehidupan politik, teknologi bahkan transportasi. Dengan demikian, Islam memberikan jiwa bagi umat Islam dalam merespons kondisi yang mereka hadapi. Sayang memang dalam kenyataannya, umat Islam telah menutup pintu ijtihadnya. Apa yang menyebabkan hal ini terjadi? Penyebab paling utama adalah fakta bahwa konteks dari teks suci kita telah membeku dalam sejarah. Seseorang hanya memiliki hubungan interpretatif dengan teks, bahkan lebih tidak mungkin jika teks tersebut dianggap sebagai hal yang abadi. Kemudian teks tersebut tak mampu untuk merespons tantangan zaman. Itulah sebabnya meski umat Islam memiliki hubungan emosional yang kuat dengan Islam, mereka hanya lebih terfokus pada hal yang bersifat ibadah ritual. Dengan demikian, mereka tak menanggap bahwa Islam merupakan sebuah pandangan dunia serta sumber etika. Yang mampu memberikan pemecahan bagi permasalahan di setiap zaman. Bukankah Islam telah diyakini sebagai agama yang selalu sesuai dengan zaman? Artinya ijtihad, pemikiran serta interpretasi baru tak akan terjadi. Kemudian membuat umat Islam mengkultuskan syariat pada tingkatan Tuhan. Bisa Anda jelaskan mengenai pengkultusan syariat tersebut? Mayoritas islam menganggap syariat yang diterjemahkan sebagai hukum islam sebagai sesuatu yang sakral. Padahal dalam Islam tak ada sesuatu hal pun yang sakral, selain Alquran. Syariat adalah produk buatan manusia yang merupakan usaha memahami kehendak suci dalam konteks tertentu. Itulah sebabnya sebagian besar isi dari syariat adalah fiqh yang tidak lain adalah pendapat para fuqaha. Dan pengkultusan syariat ini juga memiliki arti hilangnya kemandirian kaum beriman. Karena semua ketentuan hukum sudah ditetapkan dan umat Islam tak memiliki pilihan lain kecuali mentaatinya. Ia memiliki peran yang pasif. Semestinya umat Islam berperan aktif dalam mencari sebuah kebenaran. Namun pada kenyataannya, pemikir Muslim yang melontarkan gagasan tersebut bukanlah mainstream dalam masyarakat Islam. Bagaimana pendapat Anda mengenai hal ini? Memang perlu diakui bahwa para pemikir itu merupakan kalangan minoritas dalam masyarakat Islam. Meski demikian, pemikir Muslim yang memiliki gagasan seperti ini hari demi hari semakin bertambah. Lihat saja di Amerika, Inggris, dan negara Eropa lainnya, jumlahnya kian bertambah. Mereka secara konsisten melontarkan gagasan tersebut. Tariq Ramadhan, misalnya, yang merupakan cucu Hasan Al Bana, juga turut melontarkan gagasan mengenai pengkajian kembali pemikiran Islam. Dengan demikian, kami tak merasa hal ini tak akan berhasil. Meski memang menuntut kami untuk terus berjuang. Respons positif terhadap gagasan tampaknya sulit. Sebab, banyak kalangan ulama konservatif yang tak setuju. Padahal mereka memiliki pengaruh besar dalam masyarakat Islam. Apa komentar Anda? Ini memang tak mudah untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat. Dan memerlukan waktu yang panjang. Namun bagi kami upaya ini akan terus dilakukan. Sampai masyarakat Muslim menyadari akan pentingnya upaya pengkajian kembali pemikiran Islam. Artinya mereka mesti sadar akan pentingnya terbukanya kembali pintu ijtihad. Banyak kalangan yang menyatakan bahwa para pemikir yang melontarkan gagasan tersebut, telah terpengaruh pola pikir Barat. Benarkah itu? Menurut saya anggapan ini salah. Mereka yang melontarkan gagasan pengkajian kembali pemikiran Islam merupakan orang alim yang mengkaji secara mendalam kitab suci Alquran. Pemikiran-pemikiran yang saya lontarkan juga berdasar pada Alquran. Dengan demikian, tak semestinya anggapan tersebut berlanjut. Bahkan dalam pengamatan saya, gaya hidup di sebuah negara Asia Tenggara lebih Barat dibandingkan London. Lelaki kelahiran Punjab, 1951 ini besar di Hackneyh, kawasan timur London. Dia aktivis mahasiswa Muslim. Dia ikut memprotes eksekusi Nasser terhadap pemikir Mesir Sayyid Qutb pada 1966, pendudukan Israel di Tepi Barat dan Gaza pada 1967 dan pembakaran Masjid Al Aqsa tahun 1969. Pada tahun 1970-an, Sardar bergerak antara dua pemikir Abu Ala Maududi dan Sayyid Qutb, mengkaji teologi di bawah seorang cendekiawan sudan, lalu pada mistisism Sufi di Newington Green dan di Konya, Turki. Semua mengecewakannya. Jika bukan karena sikap mereka terlalu kaku pada ketaatan religius yang bersifat eksternal atau karena mereka gagal mengamati kejatuhan peradaban Muslim. Sardar berkelana ke Iran, Irak, dan Suriah. Di Malaysia, ia berteman dengan kelompok Anwar Ibrahim, mantan wakil perdana menteri Mahathir Muhammad, yang kini meringkuk di penjara atas tuduhan banyak hal. Ia banyak melakukan lawatan ke berbagai negara. Bagaimana kesan Anda dari kunjungan singkat ke Indonesia ini? Kita tak bisa mendapatkan pandangan objektif lewat kunjungan yang sangat singkat ini. Tapi, saya sungguh surprised, kejutan yang menyenangkan. Saya menemukan orang-orang yang saya perkirakan bakal berpikiran sempit dan tidak bisa menerima gagasan saya, ternyata sangat terbuka dan tertarik pada gagasan saya. Misalnya, saat ke NU, Anda tentu berharap bahwa itu adalah organisasi di mana ulama sangat berpegang kuat dan tipe pemikiran ulama konvensional menjadi pemikiran yang dominan. Tapi, saya surprised, banyak dari orang NU yang saya temui mengakui, para ulama telah melakukan kesalahan serius dalam sejarah. Kita perlu menghormati semangat pencarian mereka. Mempertanyakan itu perlu tentang apa-apa saja yang tidak cocok lagi konteksnya, dan kita sekarang harus berjalan terus. Ketika saya bertemu dengan kelompok wanita NU di Medan, saya berdiskusi tentang hukum syariah dan hak-hak azasi perempuan. Dan, saya menyebutkan dalam syariah banyak hak perempuan terlanggar, berbeda dari semangat persamaan yang ada di dalam Alquran. Misalnya, perempuan harus berpakaian yang modest, tetapi mengapa pada laki-laki tidak ada keharusan? Sebab, prialah yang memformulasikan syariah. Mereka (para perempuan itu--red.) bisa menerima ide saya. Anda bertemu dengan generasi muda atau generasi tuanya? Saya bertemu dengan keduanya. Perbedaannya begini. Saya menemukan generasi mudanya lebih menerima ide-ide saya secara lebih terbuka. Tapi, mereka tidak puas karena mereka mempertanyakan 'apa yang bisa mereka lakukan'. Mereka mempertanyakan strategi ke depannya. Itulah keterbatasan saya. Generasi tuanya, masih bersikukuh bahwa mereka tak memerlukan perubahan yang sebanyak itu. Mereka masih berpendapat bahwa ulama adalah satu-satunya orang yang bisa berijtihad. Mereka berpendapat bahwa kaum beriman tak mempunyai power. Isu terorisme yang dikait-kaitkan dengan Islam kini membuat kalangan Muslim berada dalam posisi yang sulit. Bagaimana menurut Anda menghadapi masalah ini? Orang-orang itu adalah bagian dari kita. Mungkin tetangga kita, keluarga Anda, mereka adalah bagian dari kita. Sekalipun, katakanlah, keluarga Bin Ladin. Salah satu yang melakukannya adalah keluarga Bin Ladin. Jadi, kita harus menyadari bahwa ekstremis adalah bagian dari kita. Dan, pada akhirnya, adalah tanggung jawab kita untuk melakukan sesuatu. Yang pertama, tanggung jawab kita adalah berhubungan dengan mereka. Sangat sulit berdialog dengan orang-orang yang menjadikan Islam sebagai ideologi. Tetapi, tetap jadi tanggung jawab kita dan membuat mereka melihat. Beberapa di antara mereka bisa menerima. Tapi, yang terpenting, teroris tidak eksis dalam pengasingan. Mereka eksis di dalam komunitas. Komunitas ini yang memberikan tempat perlindungan bagi mereka. Kita harus membuat komunitas ini menyadari bahwa yang mereka lakukan adalah tidak mempromosikan ide Islam. Sebenarnya menegasikan semua hal yang ideal yang didukung Islam. (Ia pernah menulis betapa sebenarnya ayat-ayat Alquran yang menunjukkan Islam cinta damai jarang dikutip. Di antaranya, Sesungguhnya Allah mengasihi orang yang berbuat kebaikan [2:195], Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang adil [5:42]. Dalam tulisan Anda, standar ganda pun dilakukan negara-negara Muslim? Maksud Anda? Hampir di mana pun, kita orang Muslim mempunyai standar ganda. Kita menuding orang lain rasis, tetapi kita sendiri lebih rasis di masyarakat kita. Di Sudan, ada orang Arab yang berkulit sedikit putih, dan Arab Afrika yang agak hitam. Yang berkulit sedikit putih membunuhi yang berkulit hitam. Kalau ini bukan rasisme, saya tak tahu apa lagi namanya. Atau kita menuduh orang lain tidak menghargai persamaan, tetapi di dalam sendiri kita menolak prinsip dasar persamaan. Kita menuduh Barat tidak menerapkan HAM kepada kita, tapi kita belum memberikan dasar HAM pada masyarakat kita sendiri. Tentu saja Barat mempraktikkan standar ganda. Tapi, kita juga harus melihat ke diri kita sendiri juga. Tumbuh suburnya bank syariah dan lain-lain apakah Anda lihat sebagai bagian pembangunan kembali Islam? Tidak. Sudah dua puluh lima tahun bank seperti itu ada di Arab Saudi dan beberapa negara lain. Tapi, keberhasilannya belum tampak. Begitu juga, kita punya banyak negara Islam. Negara Wahabi di Arab Saudi, negara Islam revolusioner di Iran, ada lagi Pakistan. Mereka tak disangkal lagi gagal. Pada akhirnya, kita harus mengatakan, tak ada dalam Islam yang mengatakan yudikatif dan eksekutif harus dipisahkan, tak ada dalam Islam yang mengatakan tentang peralihan kekuasaan dari yang satu ke yang lain. Tapi, satu hal yang belum mereka coba dengan kejujuran dan integritas adalah sistem demokrasi dalam Islam. Sejauh yang saya ketahui, demokrasi dalam Islam adalah pemilihan Khalifah. Misalnya, pemilihan Umar bin Khattab, Abu Bakar, dari Khulafaur Rasyidin berlangsung dalam semangat konsensus demokratik. Itulah yang kita perlukan. Mekanismenya bisa saja dengan mekanisme demokrasi kontemporer. Mereka yang berpikir ijma hanya terbatas kewenangan ulama, adalah orang yang menyangkal kemungkinan ijma digunakan dalam demokrasi. Di mana ijma bisa berarti konsensus seluruh rakyat untuk memilih pemimpin tertentu. Ijma bisa digunakan secara konsep holistik, bisa digunakan pada masyarakat secara keseluruhan. Bisa digunakan untuk mencapai konsensus apa saja, seperti referendum, pemilu. Itulah satu-satunya yang belum pernah kita coba. Itulah yang dilakukan Indonesia. Indonesia sedang mengeksperimenkannya. Dan, bisa menggunakan, menurut pendapat saya, model yang asli. Bagusnya, model ini tidak diimpor dari demokrasi Barat, tapi mengembangkan model demokrasinya sendiri. Tentu saja, Anda tak bisa menerapkan demokrasi pada suatu masyarakat dalam satu malam. Perlu waktu. Saya rasa, yang dilakukan Indonesia sangat unik, dan bisa ditiru negara Muslim lainnya, seperti Arab Saudi. Maksud Anda dalam kasus pemilihan presiden? Ya, tetapi tidak itu saja. Saya berpendapat, tiap negara harus mengembangkan modelnya sendri. Misalnya, di Irak adalah masyarakat tribal. Di situ tak mungkin ada konsensus. Bila diadakan pemilihan, pasti ada kelompok yang berkuasa dan yang tak berkuasa menjadi marah. Sardar meladeni Republika dan Suara Pembaruan sambil makan siang di sebuah restoran, di Jakarta, Jumat lalu. Pada kesempatan itu, ia sempat membuka-buka buku Islam For Beginners edisi terjemahan yang terletak di meja. ''Begini cara saya melihat Islam, bukan hal yang bersifat ritualnya semata,'' katanya sambil mengacungkan buku itu. Hal yang paling menyenangkan dalam Islam, kata lelaki yang penuh semangat itu, adalah ilmu. ''Anda buka Alquran di halaman mana pun, ada ilm di sana,'' katanya. Pemikiran Sardar tentang hubungan antara Islam dan sains pertama kali muncul pada awal 1970-an. Al Biruni (940-998) adalah nama yang ia sebut sangat berpengaruh pada pemikirannya. Ilmuwan besar dari Turkmenistan itu mencurahkan seluruh waktunya untuk ilmu pengetahuan dan filsafat. Sardar yang semasa kecil hidup dalam kekurangan, kini menikmati ketenaran dan kekayaan dari buku-bukunya. ''Saya selalu membayar zakat saya,'' katanya seraya menambahkan, bahwa ia sudah berhaji. Satu hal yang amat tidak disukainya pada masjid-masjid di London. Ia tak suka melihat perseteruan kelompok Pakistan dan kelompok India untuk berebut penguasaan atas masjid. Sardar mencatat pencariannya tentang arti modernitas bagi kaum Muslim pada buku mutakhirnya Desperately Seeking Paradise: Journeys of a Sceptical Muslim. Buku yang terbit pada 2004 ini, sempat ia perkenalkan di toko buku QB, Jakarta, Jumat lalu. Anda mengembangkan pemikiran menghidupkan peradaban Islam, sains Islam. Bagaimana Anda melihatnya sekarang? Masih relevankah sekarang? Sekitar setahun lalu, saya menulis di New Scientist, saya menulis semua ide saya tentang sains Islam. Yakni, tentang bagaimana sains bisa berhubungan dengan etika Islam. Saya tidak terlibat dalam diskursus yang dikembangkan kelompok Maurice Bucaille, yang saya sebut Bucaillist. Yakni, orang-orang yang percaya semua sains ada di Alquran. Mereka bisa menemukan relativitas, kimia, ada di dalam Quran. Saya tidak terlibat dalam diskursus ini. Saya bicara tentang sains yang riil, bukan sistem kepercayaan. Tetapi, peran Islam ada di etikanya. Sebab, sebagian besar dari sains punya dimensi etikanya. Di situ saya berada. Saya rasa ide itu masih valid. Omong-omong, bagaimana sih asal-usul Anda? Orangtua saya dari Pakistan. Mereka meninggalkan Pakistan ketika saya berumur sembilan tahun. Saya besar di London. Dari mana Anda mendapat semangat mendalami Islam? Pertama dari ibu saya, dia hanya ibu rumah tangga biasa. Pernah bekerja di pabrik. Kami berasal dari keluarga miskin. Ayah saya bekerja di pabrik agar kami bisa bertahan hidup, kendati ia seorang insinyur di Pakistan. Tapi, ia tak masuk kualifikasi ia tidak diterima. Jadi, dia bekerja di pabrik. Jadi, semangat Islam saya berasal dari Ibu saya yang pertama, lalu ayah. Lalu keterlibatan saya dengan gerakan Islam di Inggris, yang didominasi Jamaah Islamiyah dan Muslim Brotherhood. Saya belajar Islam tradisional dari seorang Sudan yang mengelola kelompok usrah di akhir 1960-an dan awal 1970-an. Tujuh tahun saya bersamanya setiap malam Jumat, mempelajari semua teks klasik secara sistematis. Dialah yang memperkenalkan saya pada Al Biruni, Al Ghazali, dan kawan-kawan. Kritik saya terhadap kaum ulama adalah karena sebenarnya saya bergaul akrab dengan mereka. Sebagai orang muda, saya menjadi sekjen organisasi Islam di Inggris. Sangat aktif. Jadi, keluarga dan lingkungan saya sangat Islamis. Apa yang Anda lakukan di waktu luang? Saya selalu bercanda. Yang saya lakukan, saya membaca. Saya membaca apa saja. Saya membaca novel, filosofi, komik, surat kabar, majalah serius, segalanya. Saya bahkan membaca label botol. Khususnya ingredient-nya, supaya saya tahu apa yang saya makan. Saya membaca untuk alasan yang sederhana. Anda tak bisa berpikir dan menulis tanpa membaca. Lalu, saya melakukan diskusi-diskusi dengan banyak orang. Diskusi sangat penting. Saya mencari tahu, mengapa orang tidak bisa menerima gagasan saya? Apa yang salah pada diri saya? Dari sana, saya menulis artikel. Selain membaca dan menulis? Selain itu, saya tidak berolah raga. Saya bisa tenggelam... (tertawa), saya tidak bisa berenang. Saya dulu bermain kriket. Sekarang saya cuma menemani anak saya yang fanatik dan tergila-gila pada pertandingan kriket. Hal yang paling menyenangkan dalam Islam, kata lelaki yang penuh semangat itu, adalah ilmu. ''Anda buka Alquran di halaman mana pun, ada ilm di sana,'' kata Sardar. [Non-text portions of this message have been removed] --- End forwarded message --- __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> $9.95 domain names from Yahoo!. Register anything. http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppiindia.shyper.com *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

