--- In [EMAIL PROTECTED], "H. M. Nur
Abdurrahman" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

djunaedi sahrawi dan Ziauddin Sardar wrote:
Syariat adalah produk buatan manusia yang merupakan
usaha memahami kehendak suci dalam konteks tertentu.
------------------------

HMNA:
Itu pendapat yang sesat, bertentangan dengan ayat:
-- TSM J'ALNK 'ALY SYRY'AT MN ALAMR FATB'AHA WLA TTB'A
AHWA^ ALDZYN LA Y'ALMWN (S. ALJATSYT, 18),  dibaca:
tsumma ja'alna-ka 'ala- syari-'atim minal amri
fattabi'ha-  wala- tattabi' ahwa-al ladzi-na la-
ya'lamu-n (s. alja-tsiyah), artinya: kemudian Kami
jadikan engkau (hai Muhammad) atas syari'at di antara
urusan, maka ikutilah syari'at itu dan janganlah
engkau turut hawa-nafsu orang-orang yang tidak berilmu
(45:18). Menurut ayat [45:18] syari'at bukanlah buatan
manusia.

Selanjutnya baca yang di bawah, yang dicuplik dari
Serial WAHYU DAN AKAL - IMAN DAN ILMU, Seri no.438,
berjudul Syari'at dan Fiqh, bertanggal 27 Agustus
2000.

Syari'at berbeda dengan fiqh. Kedua kata itu adalah
bahasa AL Quran. Syari'at dalam arti luas adalah
aqidah, jalannya hukum dan akhlaq, sedangkan fiqh
bermakna kecerdasan dalam memikirkan, mempelajari,
atau menyadari jalannya hukum. Mengenai pengertian
syari'at, demikianlah Firman Allah SWT: 
-- TSM J'ALNK 'ALY SYRY'AT MN ALAMR FATB'AHA WLA TTB'A
AHWA^ ALDZYN LA Y'ALMWN (S. ALJATSYT, 18),  dibaca:
tsumma ja'alna-ka 'ala- syari-'atim minal amri
fattabi'ha-  wala- tattabi' ahwa-al ladzi-na la-
ya'lamu-n (s. alja-tsiyah), artinya: kemudian Kami
jadikan engkau (hai Muhammad) atas syari'at di antara
urusan, maka ikutilah syari'at itu dan janganlah
engkau turut hawa-nafsu orang-orang yang tidak berilmu
(45:18). Sedangkan mengenai pengertian fiqh, Allah SWT
berfirman: 
-- WMA KAN ALMW^MNWN LYNFRWA KAFT FLWLA NFR MN KL FRQT
MNHM THA^FT LYTFQHWA FY ALDYN WLYNDZRWA QWMHM ADZA
RJ'AWA ALYHM L'ALHM YHDZRWN (S ALTWBT, 122), dibaca:
wama- ka-nal  mu'minu-na liyanfiru- ka-ffatan falawla-
nafara ming kulli firqatim  minhum tha-ifatal
liyatafaqqahu- fid di-ni waliyundziru- idza- rajau-
ilayhim la'allahum yahdzuru-n (s. attaubah), artinya:
tidaklah patut orang-orang beriman keluar semuanya (ke
medan perang), mengapakah tidak sebagian di antara
mereka yang tinggal berfiqh (memahami) tentang addin
(syari'at) dan memberi peringatan kepada kaumnya,
supaya mereka itu waspada (9:22). (S. Attaubah ini
ayat-ayatnya banyak mengemukakan tentang situasi
perang). 

Dari kedua ayat di atas itu jelas bahwa syari'at
antara lain ialah ketentuan hukum menurut Al Quran,
para penegak syari'at tidak diperbolehkan mengikuti
hawa-nafsu/pendapat orang-orang yang tidak berilmu.
Sedangkan fiqh berhubungan dengan pemikiran tentang
syari'at itu bagaimana diaplikasikan sesuai dengan
kondisi masyarakat. Itulah sebabnya dalam menentukan
hukum Imam Syafi'i berbeda waktu di Baghdad, yang
dikenal dengan qawlulqadim (kata-kata  terdahulu),
dengan pada waktu di Qahirah (Cairo), yang dikenal
dengan qawluljadid (kata-kata terkemudian).

Sebuah contoh populer yang sering dikemukakan: si
Fulan meminjam sebuah barang dari si Fulanah, lalu
dihilangkan oleh si Fulan. Menurut syari'at, si Fulan
wajib menebus barang si Fulanah yang dihilangkannya
itu, sebab Firman Allah:
-- FAN AMN B'ADHKM B'ADHA FLYW^D ALDZY AW^TMN AMANTH
WLYTQ ALLH RBH (S. ALBQRT, 283), dibaca: fain amina
ba'dhukum ba'dhan falyuaddil ladzi' tumina ama-natahu-
walyattaqiLla-ha  rabbahu- (s. albaqarah), artinya:
jika seorang dari kamu mempercayai orang lain (dengan
meminjamkan sesuatu barang), maka hendaklah orang yang
diserahi amanat itu menunaikan amanat (barang yang
dipinjamkan) padanya dan hendaklah ia takut kepada
Allah, Maha Pengaturnya (2:283). Begitulah menurut
hukum syari'at, namun timbul pertanyaan, bagaimana 
caranya menebus barang yang dihilangkan si Fulan itu.
Pemikiran tentang bagaimana cara menebus barang itu,
itulah fiqh. Mazhab Hanafi berpendapat, tebuslah
barang itu dengan harga tatkala barang itu dipinjam.
Mazhab Hambali berpendapat, tebuslah barang itu
menurut harga tatkala barang itu ditebus. Menurut
Mazhab Syafi'i, tebuslah barang itu dengan harga yang
paling menguntungkan bagi yang empunya barang. 

Jadi dari contoh yang sederhana tersebut jelaslah,
bahwa kewajiban menebus barang yang dihilangkan adalah
urusan hukum syari'at, sedangkan bagaimana cara
menebusnya adalah urusan fiqh. Ketentuan syari'at
tidak boleh dimusyawarakan, namun dalam wawasan fiqh
dapat dimusyawarakan. 

Wassalam,
HMNA


  ----- Original Message ----- 
  From: djunaedi sahrawi 
  To: [EMAIL PROTECTED] ;
[EMAIL PROTECTED] ;
[EMAIL PROTECTED] ;
[EMAIL PROTECTED] ;
[EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED]
; [EMAIL PROTECTED] ;
[EMAIL PROTECTED] ;
[EMAIL PROTECTED] ;
[EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ;
[EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ;
[EMAIL PROTECTED] ;
[EMAIL PROTECTED] ;
[EMAIL PROTECTED] 
  Sent: Saturday, September 25, 2004 06:46
  Subject: <Islam_liberal> Berperan aktif dalam
mencari sebuah kebenaran



  Mayoritas islam menganggap syariat yang
diterjemahkan sebagai hukum islam sebagai sesuatu yang
sakral. Padahal dalam Islam tak ada sesuatu hal pun
yang sakral, selain Alquran. Syariat adalah produk
buatan manusia yang merupakan usaha memahami kehendak
suci dalam konteks tertentu. Itulah sebabnya sebagian
besar isi dari syariat adalah fiqh yang tidak lain
adalah pendapat para fuqaha. Dan pengkultusan syariat
ini juga memiliki arti hilangnya kemandirian kaum
beriman. Karena semua ketentuan hukum sudah ditetapkan
dan umat Islam tak memiliki pilihan lain kecuali
mentaatinya. Ia memiliki peran yang pasif. Semestinya
umat Islam berperan aktif dalam mencari sebuah
kebenaran. 



  Minggu, 01 Agustus 2004
  Ziauddin Sardar 
  Demokrasi Indonesia Bisa Jadi Contoh 




  Ia salah satu penulis Islam progresif. Ada juga yang
menyebut dia seorang utopis, generalis. Dia, Profesor
Ziauddin Sardar. Sardar adalah seorang penulis
pemikiran Islam kontemporer, sains, dan juga seorang
kritikus budaya. Lelaki kelahiran Pakistan ini juga
penyiar radio, bekerja, antara lain, untuk jurnal
ilmiah Nature dan New Scientiest. Ia juga editor
Futures, sebuah jurnal bulanan mengenai kebijakan,
perencanaan, dan studi masa depan. Selain itu, ayah
tiga anak ini juga mengajar di City University,
London. Banyak sudah artikel yang keluar dari
tangannya. Sardar telah menerbitkan sekitar 40 buku. 

  Di antaranya adalah The A to Z of Postmodern Life
(2002), Aliens R Us (2002), Orientalism (1999). Selama
seminggu sejak Ahad (25/7) Sardar berkunjung ke
Indonesia. Ia bertemu dengan masyarakat Islam dari dua
ormas besar Indonesia, Nahdlatul Ulama dan
Muhammadiyah, di Jakarta, Surabaya, dan Medan. Di
sela-sela kunjungannya itu ia meladeni berbagai
pertanyaan wartawan, termasuk wartawan Republika Ferry
Kisihandi dan Nina Chairani dalam beberapa kesempatan
di Jakarta. Lelaki setengah baya berambut sepundak dan
gemar berpakaian casual ini tampak penuh semangat
menjawab berbagai pertanyaan. Terutama pertanyaan yang
menantang. ''Semua pertanyaan simpel buat saya,''
katanya sambil tertawa. Berikut nukilan wawancara
seputar pemikiran dan kehidupan pribadinya itu:


  Gagasan mengkaji kembali pemikiran Islam semakin
gencar. Sebenarnya apa perlunya hal itu dilakukan?
  Upaya mengkaji kembali pemikiran Islam perlu
dilakukan. Ini memberikan dampak pada kembalinya
peradaban Islam dalam kehidupan kontemporer. Islam
memiliki daya untuk merespons beragam kondisi
kontemporer, dan tak membuat umat islam tertinggal
dari umat lainnya. Namun nyatanya, kini umat Islam tak
mampu menghadapi modernitas. Padahal mengkaji ulang
pemikiran Islam telah lama dilontarkan para pemikir
Islam. Kita bisa mengambil contoh Malik bin Nabi, juga
ada Jamaluddin Al Afghani maupun Muhammad Abduh.
Bahkan Malik bin Nabi menyatakan bahwa kolonialisme di
negara-negara Islam bukan karena Barat yang kuat.
Namun, karena kelemahan umat Islam. Mereka tak mampu
melakukan perubahan untuk merespons perubahan zaman.
Pada masa selanjutnya ada pula Muhammad Iqbal yang
melontarkan gagasan gemilangnya agar Islam mampu
merespons kondisi kontemporer. Dan, hingga kini umat
Islam tampaknya tak mampu memenuhi panggilan ijtihad. 
  Dalam tataran praktis bagaimana gagasan ini
berjalan?
  Bagi saya pengkajian kembali pemikiran Islam
bukanlah mempersoalkan perlu atau tidaknya shalat,
haji, puasa, dan ibadah ritual lainnya. Namun,
bagaimana Islam dibawa ke dalam kehidupan politik,
teknologi bahkan transportasi. Dengan demikian, Islam
memberikan jiwa bagi umat Islam dalam merespons
kondisi yang mereka hadapi. Sayang memang dalam
kenyataannya, umat Islam telah menutup pintu
ijtihadnya. 
  Apa yang menyebabkan hal ini terjadi?
  Penyebab paling utama adalah fakta bahwa konteks
dari teks suci kita telah membeku dalam sejarah.
Seseorang hanya memiliki hubungan interpretatif dengan
teks, bahkan lebih tidak mungkin jika teks tersebut
dianggap sebagai hal yang abadi. Kemudian teks
tersebut tak mampu untuk merespons tantangan zaman.
Itulah sebabnya meski umat Islam memiliki hubungan
emosional yang kuat dengan Islam, mereka hanya lebih
terfokus pada hal yang bersifat ibadah ritual. Dengan
demikian, mereka tak menanggap bahwa Islam merupakan
sebuah pandangan dunia serta sumber etika. Yang mampu
memberikan pemecahan bagi permasalahan di setiap
zaman. Bukankah Islam telah diyakini sebagai agama
yang selalu sesuai dengan zaman? Artinya ijtihad,
pemikiran serta interpretasi baru tak akan terjadi.
Kemudian membuat umat Islam mengkultuskan syariat pada
tingkatan Tuhan. 
  Bisa Anda jelaskan mengenai pengkultusan syariat
tersebut? Mayoritas islam menganggap syariat yang
diterjemahkan sebagai hukum islam sebagai sesuatu yang
sakral. Padahal dalam Islam tak ada sesuatu hal pun
yang sakral, selain Alquran. Syariat adalah produk
buatan manusia yang merupakan usaha memahami kehendak
suci dalam konteks tertentu. Itulah sebabnya sebagian
besar isi dari syariat adalah fiqh yang tidak lain
adalah pendapat para fuqaha. Dan pengkultusan syariat
ini juga memiliki arti hilangnya kemandirian kaum
beriman. Karena semua ketentuan hukum sudah ditetapkan
dan umat Islam tak memiliki pilihan lain kecuali
mentaatinya. Ia memiliki peran yang pasif. Semestinya
umat Islam berperan aktif dalam mencari sebuah
kebenaran. 
  Namun pada kenyataannya, pemikir Muslim yang
melontarkan gagasan tersebut bukanlah mainstream dalam
masyarakat Islam. Bagaimana pendapat Anda mengenai hal
ini? 
  Memang perlu diakui bahwa para pemikir itu merupakan
kalangan minoritas dalam masyarakat Islam. Meski
demikian, pemikir Muslim yang memiliki gagasan seperti
ini hari demi hari semakin bertambah. Lihat saja di
Amerika, Inggris, dan negara Eropa lainnya, jumlahnya
kian bertambah. Mereka secara konsisten melontarkan
gagasan tersebut. Tariq Ramadhan, misalnya, yang
merupakan cucu Hasan Al Bana, juga turut melontarkan
gagasan mengenai pengkajian kembali pemikiran Islam.
Dengan demikian, kami tak merasa hal ini tak akan
berhasil. Meski memang menuntut kami untuk terus
berjuang. 
  Respons positif terhadap gagasan tampaknya sulit.
Sebab, banyak kalangan ulama konservatif yang tak
setuju. Padahal mereka memiliki pengaruh besar dalam
masyarakat Islam. Apa komentar Anda?
  Ini memang tak mudah untuk memberikan pemahaman
kepada masyarakat. Dan memerlukan waktu yang panjang.
Namun bagi kami upaya ini akan terus dilakukan. Sampai
masyarakat Muslim menyadari akan pentingnya upaya
pengkajian kembali pemikiran Islam. Artinya mereka
mesti sadar akan pentingnya terbukanya kembali pintu
ijtihad. 
  Banyak kalangan yang menyatakan bahwa para pemikir
yang melontarkan gagasan tersebut, telah terpengaruh
pola pikir Barat. Benarkah itu?
  Menurut saya anggapan ini salah. Mereka yang
melontarkan gagasan pengkajian kembali pemikiran Islam
merupakan orang alim yang mengkaji secara mendalam
kitab suci Alquran. Pemikiran-pemikiran yang saya
lontarkan juga berdasar pada Alquran. Dengan demikian,
tak semestinya anggapan tersebut berlanjut. Bahkan
dalam pengamatan saya, gaya hidup di sebuah negara
Asia Tenggara lebih Barat dibandingkan London. Lelaki
kelahiran Punjab, 1951 ini besar di Hackneyh, kawasan
timur London. 
  Dia aktivis mahasiswa Muslim. Dia ikut memprotes
eksekusi Nasser terhadap pemikir Mesir Sayyid Qutb
pada 1966, pendudukan Israel di Tepi Barat dan Gaza
pada 1967 dan pembakaran Masjid Al Aqsa tahun 1969.
Pada tahun 1970-an, Sardar bergerak antara dua pemikir
Abu Ala Maududi dan Sayyid Qutb, mengkaji teologi di
bawah seorang cendekiawan sudan, lalu pada mistisism
Sufi di Newington Green dan di Konya, Turki. Semua
mengecewakannya. Jika bukan karena sikap mereka
terlalu kaku pada ketaatan religius yang bersifat
eksternal atau karena mereka gagal mengamati kejatuhan
peradaban Muslim. Sardar berkelana ke Iran, Irak, dan
Suriah. Di Malaysia, ia berteman dengan kelompok Anwar
Ibrahim, mantan wakil perdana menteri Mahathir
Muhammad, yang kini meringkuk di penjara atas tuduhan
banyak hal. Ia banyak melakukan lawatan ke berbagai
negara. 
  Bagaimana kesan Anda dari kunjungan singkat ke
Indonesia ini?
  Kita tak bisa mendapatkan pandangan objektif lewat
kunjungan yang sangat singkat ini. Tapi, saya sungguh
surprised, kejutan yang menyenangkan. Saya menemukan
orang-orang yang saya perkirakan bakal berpikiran
sempit dan tidak bisa menerima gagasan saya, ternyata
sangat terbuka dan tertarik pada gagasan saya.
Misalnya, saat ke NU, Anda tentu berharap bahwa itu
adalah organisasi di mana ulama sangat berpegang kuat
dan tipe pemikiran ulama konvensional menjadi
pemikiran yang dominan. 
  Tapi, saya surprised, banyak dari orang NU yang saya
temui mengakui, para ulama telah melakukan kesalahan
serius dalam sejarah. Kita perlu menghormati semangat
pencarian mereka. Mempertanyakan itu perlu tentang
apa-apa saja yang tidak cocok lagi konteksnya, dan
kita sekarang harus berjalan terus. Ketika saya
bertemu dengan kelompok wanita NU di Medan, saya
berdiskusi tentang hukum syariah dan hak-hak azasi
perempuan. Dan, saya menyebutkan dalam syariah banyak
hak perempuan terlanggar, berbeda dari semangat
persamaan yang ada di dalam Alquran. Misalnya,
perempuan harus berpakaian yang modest, tetapi mengapa
pada laki-laki tidak ada keharusan? Sebab, prialah
yang memformulasikan syariah. Mereka (para perempuan
itu--red.) bisa menerima ide saya. 
  Anda bertemu dengan generasi muda atau generasi
tuanya?
  Saya bertemu dengan keduanya. Perbedaannya begini.
Saya menemukan generasi mudanya lebih menerima ide-ide
saya secara lebih terbuka. Tapi, mereka tidak puas
karena mereka mempertanyakan 'apa yang bisa mereka
lakukan'. Mereka mempertanyakan strategi ke depannya.
Itulah keterbatasan saya. Generasi tuanya, masih
bersikukuh bahwa mereka tak memerlukan perubahan yang
sebanyak itu. Mereka masih berpendapat bahwa ulama
adalah satu-satunya orang yang bisa berijtihad. Mereka
berpendapat bahwa kaum beriman tak mempunyai power. 
  Isu terorisme yang dikait-kaitkan dengan Islam kini
membuat kalangan Muslim berada dalam posisi yang
sulit. Bagaimana menurut Anda menghadapi masalah ini?
Orang-orang itu adalah bagian dari kita. Mungkin
tetangga kita, keluarga Anda, mereka adalah bagian
dari kita. Sekalipun, katakanlah, keluarga Bin Ladin.
Salah satu yang melakukannya adalah keluarga Bin
Ladin. Jadi, kita harus menyadari bahwa ekstremis
adalah bagian dari kita. Dan, pada akhirnya, adalah
tanggung jawab kita untuk melakukan sesuatu. Yang
pertama, tanggung jawab kita adalah berhubungan dengan
mereka. 
  Sangat sulit berdialog dengan orang-orang yang
menjadikan Islam sebagai ideologi. Tetapi, tetap jadi
tanggung jawab kita dan membuat mereka melihat.
Beberapa di antara mereka bisa menerima. Tapi, yang
terpenting, teroris tidak eksis dalam pengasingan.
Mereka eksis di dalam komunitas. Komunitas ini yang
memberikan tempat perlindungan bagi mereka. Kita harus
membuat komunitas ini menyadari bahwa yang mereka
lakukan adalah tidak mempromosikan ide Islam.
Sebenarnya menegasikan semua hal yang ideal yang
didukung Islam. (Ia pernah menulis betapa sebenarnya
ayat-ayat Alquran yang menunjukkan Islam cinta damai
jarang dikutip. Di antaranya, Sesungguhnya Allah
mengasihi orang yang berbuat kebaikan [2:195],
Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang adil
[5:42]. 
  Dalam tulisan Anda, standar ganda pun dilakukan
negara-negara Muslim? Maksud Anda?
  Hampir di mana pun, kita orang Muslim mempunyai
standar ganda. Kita menuding orang lain rasis, tetapi
kita sendiri lebih rasis di masyarakat kita. Di Sudan,
ada orang Arab yang berkulit sedikit putih, dan Arab
Afrika yang agak hitam. Yang berkulit sedikit putih
membunuhi yang berkulit hitam. Kalau ini bukan
rasisme, saya tak tahu apa lagi namanya. Atau kita
menuduh orang lain tidak menghargai persamaan, tetapi
di dalam sendiri kita menolak prinsip dasar persamaan.
Kita menuduh Barat tidak menerapkan HAM kepada kita,
tapi kita belum memberikan dasar HAM pada masyarakat
kita sendiri. Tentu saja Barat mempraktikkan standar
ganda. Tapi, kita juga harus melihat ke diri kita
sendiri juga. 
  Tumbuh suburnya bank syariah dan lain-lain apakah
Anda lihat sebagai bagian pembangunan kembali Islam?
  Tidak. Sudah dua puluh lima tahun bank seperti itu
ada di Arab Saudi dan beberapa negara lain. Tapi,
keberhasilannya belum tampak. Begitu juga, kita punya
banyak negara Islam. Negara Wahabi di Arab Saudi,
negara Islam revolusioner di Iran, ada lagi Pakistan.
Mereka tak disangkal lagi gagal. Pada akhirnya, kita
harus mengatakan, tak ada dalam Islam yang mengatakan
yudikatif dan eksekutif harus dipisahkan, tak ada
dalam Islam yang mengatakan tentang peralihan
kekuasaan dari yang satu ke yang lain. Tapi, satu hal
yang belum mereka coba dengan kejujuran dan integritas
adalah sistem demokrasi dalam Islam. Sejauh yang saya
ketahui, demokrasi dalam Islam adalah pemilihan
Khalifah. Misalnya, pemilihan Umar bin Khattab, Abu
Bakar, dari Khulafaur Rasyidin berlangsung dalam
semangat konsensus demokratik. 
  Itulah yang kita perlukan. Mekanismenya bisa saja
dengan mekanisme demokrasi kontemporer. Mereka yang
berpikir ijma hanya terbatas kewenangan ulama, adalah
orang yang menyangkal kemungkinan ijma digunakan dalam
demokrasi. Di mana ijma bisa berarti konsensus seluruh
rakyat untuk memilih pemimpin tertentu. Ijma bisa
digunakan secara konsep holistik, bisa digunakan pada
masyarakat secara keseluruhan. Bisa digunakan untuk
mencapai konsensus apa saja, seperti referendum,
pemilu. Itulah satu-satunya yang belum pernah kita
coba. Itulah yang dilakukan Indonesia. Indonesia
sedang mengeksperimenkannya. Dan, bisa menggunakan,
menurut pendapat saya, model yang asli. Bagusnya,
model ini tidak diimpor dari demokrasi Barat, tapi
mengembangkan model demokrasinya sendiri. Tentu saja,
Anda tak bisa menerapkan demokrasi pada suatu
masyarakat dalam satu malam. Perlu waktu. Saya rasa,
yang dilakukan Indonesia sangat unik, dan bisa ditiru
negara Muslim lainnya, seperti Arab Saudi. 
  Maksud Anda dalam kasus pemilihan presiden?
  Ya, tetapi tidak itu saja. Saya berpendapat, tiap
negara harus mengembangkan modelnya sendri. Misalnya,
di Irak adalah masyarakat tribal. Di situ tak mungkin
ada konsensus. Bila diadakan pemilihan, pasti ada
kelompok yang berkuasa dan yang tak berkuasa menjadi
marah. Sardar meladeni Republika dan Suara Pembaruan
sambil makan siang di sebuah restoran, di Jakarta,
Jumat lalu. Pada kesempatan itu, ia sempat
membuka-buka buku Islam For Beginners edisi terjemahan
yang terletak di meja. ''Begini cara saya melihat
Islam, bukan hal yang bersifat ritualnya semata,''
katanya sambil mengacungkan buku itu. 
  Hal yang paling menyenangkan dalam Islam, kata
lelaki yang penuh semangat itu, adalah ilmu. ''Anda
buka Alquran di halaman mana pun, ada ilm di sana,''
katanya. Pemikiran Sardar tentang hubungan antara
Islam dan sains pertama kali muncul pada awal 1970-an.
Al Biruni (940-998) adalah nama yang ia sebut sangat
berpengaruh pada pemikirannya. Ilmuwan besar dari
Turkmenistan itu mencurahkan seluruh waktunya untuk
ilmu pengetahuan dan filsafat. Sardar yang semasa
kecil hidup dalam kekurangan, kini menikmati ketenaran
dan kekayaan dari buku-bukunya. ''Saya selalu membayar
zakat saya,'' katanya seraya menambahkan, bahwa ia
sudah berhaji. Satu hal yang amat tidak disukainya
pada masjid-masjid di London. Ia tak suka melihat
perseteruan kelompok Pakistan dan kelompok India untuk
berebut penguasaan atas masjid. Sardar mencatat
pencariannya tentang arti modernitas bagi kaum Muslim
pada buku mutakhirnya Desperately Seeking Paradise:
Journeys of a Sceptical Muslim. Buku yang terbit pada
2004 ini,
  sempat ia perkenalkan di toko buku QB, Jakarta,
Jumat lalu. 
  Anda mengembangkan pemikiran menghidupkan peradaban
Islam, sains Islam. Bagaimana Anda melihatnya
sekarang? Masih relevankah sekarang?
  Sekitar setahun lalu, saya menulis di New Scientist,
saya menulis semua ide saya tentang sains Islam.
Yakni, tentang bagaimana sains bisa berhubungan dengan
etika Islam. Saya tidak terlibat dalam diskursus yang
dikembangkan kelompok Maurice Bucaille, yang saya
sebut Bucaillist. Yakni, orang-orang yang percaya
semua sains ada di Alquran. Mereka bisa menemukan
relativitas, kimia, ada di dalam Quran. Saya tidak
terlibat dalam diskursus ini. Saya bicara tentang
sains yang riil, bukan sistem kepercayaan. Tetapi,
peran Islam ada di etikanya. Sebab, sebagian besar
dari sains punya dimensi etikanya. Di situ saya
berada. Saya rasa ide itu masih valid. 
  Omong-omong, bagaimana sih asal-usul Anda? 
  Orangtua saya dari Pakistan. Mereka meninggalkan
Pakistan ketika saya berumur sembilan tahun. Saya
besar di London. 
  Dari mana Anda mendapat semangat mendalami Islam?
  Pertama dari ibu saya, dia hanya ibu rumah tangga
biasa. Pernah bekerja di pabrik. Kami berasal dari
keluarga miskin. Ayah saya bekerja di pabrik agar kami
bisa bertahan hidup, kendati ia seorang insinyur di
Pakistan. Tapi, ia tak masuk kualifikasi ia tidak
diterima. Jadi, dia bekerja di pabrik. Jadi, semangat
Islam saya berasal dari Ibu saya yang pertama, lalu
ayah. Lalu keterlibatan saya dengan gerakan Islam di
Inggris, yang didominasi Jamaah Islamiyah dan Muslim
Brotherhood. Saya belajar Islam tradisional dari
seorang Sudan yang mengelola kelompok usrah di akhir
1960-an dan awal 1970-an. Tujuh tahun saya bersamanya
setiap malam Jumat, mempelajari semua teks klasik
secara sistematis. Dialah yang memperkenalkan saya
pada Al Biruni, Al Ghazali, dan kawan-kawan. Kritik
saya terhadap kaum ulama adalah karena sebenarnya saya
bergaul akrab dengan mereka. Sebagai orang muda, saya
menjadi sekjen organisasi Islam di Inggris. Sangat
aktif. Jadi, keluarga dan lingkungan saya sangat
Islamis. 
  Apa yang Anda lakukan di waktu luang?
  Saya selalu bercanda. Yang saya lakukan, saya
membaca. Saya membaca apa saja. Saya membaca novel,
filosofi, komik, surat kabar, majalah serius,
segalanya. Saya bahkan membaca label botol. Khususnya
ingredient-nya, supaya saya tahu apa yang saya makan.
Saya membaca untuk alasan yang sederhana. Anda tak
bisa berpikir dan menulis tanpa membaca. Lalu, saya
melakukan diskusi-diskusi dengan banyak orang. Diskusi
sangat penting. Saya mencari tahu, mengapa orang tidak
bisa menerima gagasan saya? Apa yang salah pada diri
saya? Dari sana, saya menulis artikel. 
  Selain membaca dan menulis?
  Selain itu, saya tidak berolah raga. Saya bisa
tenggelam... (tertawa), saya tidak bisa berenang. Saya
dulu bermain kriket. Sekarang saya cuma menemani anak
saya yang fanatik dan tergila-gila pada pertandingan
kriket. Hal yang paling menyenangkan dalam Islam, kata
lelaki yang penuh semangat itu, adalah ilmu. ''Anda
buka Alquran di halaman mana pun, ada ilm di sana,''
kata Sardar. 


[Non-text portions of this message have been removed]
--- End forwarded message ---


__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
$9.95 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppiindia.shyper.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke