--- In [EMAIL PROTECTED], "H. M. Nur
Abdurrahman" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Hatim Gazali dan djunaedi sahrawi wrote:
Alquran adalah gagasan Tuhan yang diterjemahkan oleh
Muhammad dalam bahasa manusia.
----------------------------
HMNA:
Pendapat di atas itu berasal dari asumsi spekulasi
intelektual dari Fazlur Rahman, gurunya Nurcholis
Madjid, yaitu bahwa Al Quran adalah "both the Word of
God and the word of Muhammad". Untuk selanjutnya,
silakan dibaca Seri di bawah
HMNA
=================================
BISMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIYM
WAHYU DAN AKAL - IMAN DAN ILMU
[Kolom Tetap Harian Fajar]
623. Intelektual Muslim yang Keranjingan Hermeneutika
Istilah hermeneutika berkaitan dengan mitos dewa
Yunani Kuno yang bernama Hermes, yang memiliki
kebiasaan "memintal". Mitos memintal ini mengungkap
dua hal dalam hermeneutika, yaitu: pertama, memastikan
maksud, isi suatu kata, kalimat, dan teks, kedua,
menemukan instruksi-instruksi dibalik simbol.
Hermeneutika tidak terlepas dari asumsi-asumsi dan
adanya purbasangka (prejudice) spekulasi intelektual.
Ada asumsi spekulasi intelektual dari Fazlur Rahman,
gurunya Nurcholis Madjid, yaitu bahwa Al Quran adalah
"both the Word of God and the word of Muhammad".
Asumsi ini bernuansa hermeneutika filosofis. Asumsi
ini berpijak pada paradigma (kerangka dasar) bahwa Al
Quran bukanlah teks yang turun dalam bentuk kata-kata
aktual secara verbal, melainkan merupakan spirit wahyu
yang disaring melalui Nabi Muhammad SAW dan sekaligus
diekspresikan dalam tapal batas intelek dan kemampuan
linguistiknya. Nabi Muhammad SAW sebagai penerima
wahyu diposisikan sebagai "pengarang" Al Quran. Inilah
latar belakang mengapa ada sementara kaum intelektual
Muslim yang
"keranjingan" hermeneutika untuk mengkaji Al Quran,
dengan bertitik tolak dari sikap "meragukan" mushhaf
(teks) Al Quran Rasm (ejaan) 'Utsmany.
Dalam 24 jam, sekurang-kurangnya 17 kali ummat Islam
bermohon kepada Allah:
-- AHDNA ALSHRATH ALMSTQYM (S. ALFTht, 1:5), dibaca:
ihdinash shira-thal mustaqi-m (s. alfa-tihah),
artinya: Tunjukilah kami kepada Jalan yang Lurus.
Allah SWT menjawab permohonan hambaNya itu dengan:
-- A-L-M . DZLK ALKTB LA RYB FYH HDY LLMTQYN (S.
ALBQRt 2:1-2), dibaca: alif, lam, mim . dza-likal
kita-bu la- rayba fi-hi hudal lilmuttaqiyn (s.
albaqarah), artinya: Alif, lam, mim . Itulah Al Kitab
tiada keraguan di dalamnya petunjuk bagi para
muttaqin.
Ayat (2:1) alif-lam-mim adalah kode matematis
Surah mim lam alif
Al Baqarah 2175 3204 4592
Ali 'Imran 1251 1885 2578
Al A'raf 1165 1523 2572
Ar Ra'd 260 479 625
Al 'Ankabut 347 554 784
Ar Rum 318 396 545
Luqman 177 298 348
As Sajadah 158 154 268
____________________
Jumlah 5871 + 8493 + 12312
= 26676 = 1404 x 19
Dalam ayat (2:2) ada tanda tiga titik (seperti titik
pada huruf 'tsa' dan 'syin') terletak diatas kata
"RYB" dan "FYH". Tanda tiga titik diatas dua
kata tsb dalam ayat (2:2) menunjukkan mu'jizat
lughawiyah, yaitu ayat (2:2) dapat bermakna dua yg
keduanya mempunyai keutamaan masing-masing. Ada dua
cara dalam membaca ayat (2:2) tersebut, yaitu dapat
berhenti pada kata RYB, dan dapat pula berhenti pada
kata FYH. Kedua cara bacaan tersebut menghasilkan
penekanan dalam bobot yang berbeda, namun yang satu
dengan yang lain saling bersinergi, saling mengisi.
Mari kita baca ayat (2:2):
Cara yang pertama, berhenti pada kata RYB: Dza-likal
kita-bu la- rayba, berhenti sebentar kemudian
dilanjutkan dengan fi-hi hudal lil muttaqi-n.
Kalau kita membaca serupa ini maka maknanya ialah:
Itulah Al Kitab tiada keraguan, pernyataan tegas dari
Allah bahwa Al Kitab tiada keraguan sumbernya dari
Allah SWT, kemudian dilanjutkan dengan: di dalamnya
mengandung petunjuk bagi para muttaqin. Jadi cara
membaca yang pertama ini bobotnya pada penegasan dari
Allah SWT bahwa tiada keraguan bahwa Al Kitab
bersumber dari Allah SWT.
Apa itu Al Kitab ? Dalam bahasa aslinya Kitab akarnya
dari Kef-Ta-Ba artinya tulis. Artinya Al Kitab itu
adalah Teks. Jadi cara membaca yang pertama ini
adalah penegasan dari Allah SWT bahwa tiada keraguan
Teks itu bersumber dari Allah SWT. Tabulasi penjabaran
ayat (1:1), yaitu alif-lam-mim sebagai al
muqaththa'aat (potongan-potongan huruf) persekutuan
dari 8 surah menunjukkan pula bahwa Teks itu bersumber
dari Allah SWT, sebab mana mungkin Teks yang
mengandung data numerik itu dapat dikarang oleh
manusia. Lagi pula penyimpangan ejaan satu huruf saja,
betapa pula perubahan kata, apa lagi perubahan
redaksional, data numerik itu tidak akan tersusun
seperti dalam tabulasi Alif - Lam - Mim di atas itu,
yang mengikat delapan surah dengan sistem numerik
kelipatan 19. Hermeneutika tidak mampu melawan sistem
numerik itu.
Alhasil paradigma bahwa Al Quran bukanlah teks yang
turun dalam bentuk kata-kata aktual secara verbal,
melainkan merupakan spirit wahyu yang disaring melalui
Nabi Muhammad SAW yang diekspresikan dalam tapal batas
intelek dan kemampuan linguistik beliau, ditolak oleh
ayat (2:1-2). Maka tersungkurlah juga asumsi spekulasi
intelektual dari Fazlur Rahman yang bertumpu pada
paradigma itu, yaitu asumsi bahwa Al Quran adalah
"both the Word of God and the word of Muhammad".
Al Quran, baik makna maupun teksnya adalah dari Allah
SWT. Nabi Muhammad saw hanyalah sekedar menyampaikan,
dan tidak mengapresiasi atau mengolah wahyu yang
diterimanya. Posisi Nabi Muhammad SAW dalam menerima
dan menyampaikan wahyu adalah pasif, hanya sebagai
'penyampai' apa-apa yang diwahyukan kepada beliau.
***
Cara membaca ayat (2:2) yang kedua, berhenti pada kata
FYH: Dza-likal kita-bu la- rayba fi-hi, berhenti
sebentar kemudian dilanjutkan dengan hudal lil
muttaqi-n. Cara membaca yang kedua ini bermakna:
Itulah Al Kitab tiada keraguan di dalamnya,
menunjukkan bahwa tiada keraguan merupakan alat ukur
bagi orang-orang taqwa dalam potongan ayat yang
selanjutnya: petunjuk bagi para muttaqin. Jadi bobot
cara pembacaan kedua ini ialah "tiada keraguan" adalah
"alat ukur" mengenai ketaqwaan kita. Kita dapat
mengukur ketaqwaan diri kita sendiri secara gradual
haqqa tuqaatih (sebenar-benarnya taqwa) seberapa jauh
qalbu kita istiqamah (konsisten, taat asas), setiap
kita menghadapi suatu masalah, tidak terkecuali
masalah "keranjingan" hermeneutika untuk mengkaji Al
Quran dalam kalangan kaum intelektual Muslim, yang
celakanya, bertitik tolak dari sikap "meragukan"
mushhaf (teks) Al Quran Rasm 'Utsmany. WaLlahu a'lamu
bisshawab.
*** Makassar, 2 Mei 2004
[H.Muh.Nur Abdurrahman].
==================================
----- Original Message -----
From: djunaedi sahrawi
To: [EMAIL PROTECTED] ;
[EMAIL PROTECTED] ;
[EMAIL PROTECTED] ;
[EMAIL PROTECTED] ;
[EMAIL PROTECTED] ;
[EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ;
[EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED]
; [EMAIL PROTECTED] ;
[EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED]
; [EMAIL PROTECTED] ;
[EMAIL PROTECTED] ;
[EMAIL PROTECTED]
Sent: Thursday, September 23, 2004 03:53
Subject: <Islam_liberal> Menyikapi Hal yang Dianggap
Benar - Oleh: Hatim Gazali
http://www.suaramerdeka.com/harian/0407/16/opi03.htm
Menyikapi Hal yang Dianggap Benar
Oleh: Hatim Gazali
SETIAP agama mengandung dua unsur penting; -dalam
istilah Prof. Dr. Amin Abdullah-yakni normativitas
dan
historitas. Secara normatif, agama berisi doktrin,
ajaran yang diturunkan Tuhan untuk manusia.
Karenanya,
ia "sunyi" dari intervensi manusia dan kebenarannya
bersifat universal.
Tujuan penurunan agama adalah untuk dijadikan
sebagai
mediasi menuju Tuhan (hablun min Allah)dan membangun
hubungan baik dengan sesamanya (hablun min al-nas).
Robert N. Bellah menegaskan, agama diturunkan
sebagai
instrumen ilahiah untuk memahami dunia (2000). Ia
turunkan sebagai way of life, untuk memanusiakan
manusia dan sebagai problem solver atas segala
persoalan yang dihadapi manusia.
Jadi agama, mempunyai dua fungsi dan makna yang
harus
dilaksanakan secara sejajar, yakni makna
transendental, sakral dan makna imanental, profan.
Namun secara historis, agama penuh dengan campur
tangan manusia. Sebab, agama tidak diturunkan dalam
ruang hampa. Ia diturunkan dalam aneka spektrum
historis-budaya tertentu, sehingga manusia mengambil
bagian penting dalam agama. Sebab agama diturunkan
hanya untuk manusia, yakni kemaslahatan manusia.
Peradaban, politik, sosial juga turut membentuk
lahirnya agama tersebut. Islam senantiasa bergumul
dalam realitas objektif yang menyejarah, ikut
mewarnai
dan membentuk kebudayaan manusia. Dalam bahasa
antropolog Clifford Geertz, agama bukanlah sesuatu
yang otonom. Misalnya, Islam turun di Jazirah Arab
yang sangat kompleks dari peradaban manusia. Di Arab
ada pelbagai macam suku, agama, ras yang saling
mempengaruhi dan dipengaruhi. Maka ajaran agama
sangat
terikat dengan kondisi dan situasi sosial setempat,
bersifat temporal-partikular. Sebab agama dengan
budaya setempat berdialektika secara terus-menerus.
Islam yang ada di Arab tentu akan berbeda (misalnya
dari aspek-aspek hukumnya) dengan Islam yang ada di
Indonesia. Maka kebenaran agama dalam optik
historitas
bersifat partikular.
Dalam memahami suatu agama, kedua aspek penting dari
agama ini selayaknya dibedakan, bukan dipisahkan.
Sebab, hubungan antara keduanya ibaratnya sebuah
koin
(mata uang) dengan dua permukaan. Kedua permukaan
koin
ini tidak bisa dipisahkan, namun bisa dibedakan.
Kedua
aspek tersebut bukanlah dua entitas yang berdiri
sendiri dan saling berhadap-hadapan, tetapi keduanya
terajut dalam satu kesatuan, sehingga kedua aspek
darinya tidak bisa dibuat tegang. Karena itulah,
mengabaikan salah satu aspeknya berarti kita
terjebak
dalam salah satu ekstrem tertentu. Akibatnya,
pemahaman tentang Islam tidak komprehensip, dan
sepotong-sepotong.
Kemudian, Islam sebagai hasil konstruksi budaya
lokal
yang bersifat historis juga harus ditafsirkan dalam
konteks sosial dimana Islam turun. Begitupula dengan
teks agama. Alquran adalah gagasan Tuhan yang
diterjemahkan oleh Muhammad dalam bahasa manusia
sebagai respon terhadap lokalitas yang mengitarinya
saat itu tidaklah untoucable. Karena itulah tafsir
terhadap Islam mesti beragam sesuai dengan
sejauhmana
Islam dipahami. Kesemua tafsir tersebut adalah absah
dan bisa diterima manakala dikontekstualisasikan
dengan realitas sosial yang berada di sekitarnya.
Begitu pula yang terjadi dengan pemikiran keagamaan
yang belakang ini terlihat kontroversial. Islam
Liberal tidak akan menemukan konsensus bersama dalam
memahami Islam dengan kalangan fundamentalis
Islam Fundamentalis akan meyakini dirinya yang benar
sementara Islam Liberal adalah salah sama sekali,
sehingga memerangi terhadapnya adalah salah satu
bentuk ekspresi pelaksanaan ajaran agamanya, jihad
(holy war).
Pesan Perdamaian
Jika kedua ekstrem gerakan keagamaan di Indonesia
ini
sama-sama memperhatikan kedua aspek di atas, maka
menghakimi orang lain dapat dihindari. Memang, Islam
secara normatif mengajarkan perdamaian, kerukunan.
Namun ketika pesan tersebut diterjemahkan dalam
realitas sosial yang beragam, maka ia bersifat
historis-sosiologis. Meski secara normatif Islam
mengajarkan perdamaian dan antikekerasan, dalam
realitasnya agama mudah sekali dijalankan dan
dipraktikkan dengan cara-cara yang angker, sangar,
dan
menyeramkan.
Pesan perdamaian dalam Islam berbeda maknanya dalam
realitas sosial antara Islam liberal dengan Islam
fundamentalis. Islam Liberal merujuk kepada subtansi
dari doktrin agama -atau meminjam istilahnya
Al-Syatiby adalah Maqashid al-Syariah-sekaligus
kurang
memperdulikan teks agama (non-literal), sementara
Islam fundamentalis lebih menekankan pada makna
tekstual dari agama, bukan pada subtansi. Akibatnya
dalam memahami pesan agamanya tidak menemukan titik
persamaan.
Islam Liberal memaknai agamanya sesuai dengan
paradigma (manhaj) yang dibangunnnya. Begitu pula
dengan Islam fundamentalis. Dua paradigma antara
tekstual dan kontekstual di atas akan semakin nampak
manakala diterjemahkan pada tingkat praksis.
Kalangan
fundamentalis menyakini agama melalui seruan
jihadnya
dengan pedang, bom atau senjata yang siap dihunuskan
kepada musuh-musuhnya. Kekerasan baginya merupakan
jalan satu-satunya untuk melawan kalangan tertentu
yang dianggap musuh. Sementara Islam liberal (atau
Islam subtantif) memaknai agamanya penuh dengan
kesantunan, dan pesan perdamaian dan anti kekerasan,
sehingga segala bentuk kekerasan dianggap menyalahi
agamanya. Maka, konfrontasi antara dua aliran
keagamaan ini tidak terbendung lagi.
Sebenarnya, dua pola pemikiran keagamaan di atas
dalam
studi pemikiran Islam, bukanlah hal baru. Sejak
awal-awal pertumbuhan Islam, dua paradigma tersebut
muncul sebagai upaya memahami kehendak Tuhan.
Munculnya aliran dalam teologi Islam,
madzhab-madzhab
dalam fikih bisa dijadikan referensi bahwa Islam
ketika menyejarah kebenarannya bersifat partikular
dang sangat historis.
Bahkan perbedaan pandangan dalam memahami pesan
Tuhan
sudah terjadi sejak masa Muhammad. Namun perbedaan
itu
bisa diminimalisir, karena Muhammad merupakan
pemegang
otoritas dalam memahami ide Tuhan. Sikap Muhammad
ketika menghadapi perbedaan itu sangat toleran dan
inklusif.
Pertanyaannya, bagaimana kita menyikapi dua arus
pemikiran di atas ? Apakah kita hendak mengikuti
salah
satunya atau justru kita ke luar dari salah satu
paradigma pemikiran di atas. Atau perlukah
memunculkan
aliran baru yang bisa mempertemukan dan mengadili
dua
paradiga tersebut, sehingga pandangan-pandangan
kontroversial tidak lagi bercokol di muka bumi ini
?.
Maka untuk menyikapinya dua paradigma berfikir
diatas
(manhaj al-fikr), kita patut menyegarkan kembali
ingatan kita pada ungkapan ulama salaf "ra'yuna
shawab
yahtamilu al-khatha', wa ra'yukum khatha' yahtamilu
al-shawab" [Pendapat kami adalah benar, tapi
mempunyai
potensi untuk salah dan pendapat Anda salah, tapi
mengandung kemungkinan untuk benar].
Jadi, potensi benar sama dengan potensi untuk salah
baik pada Islam liberal ataupun Islam fundamentalis.
Islam Fundamental tidak selamanya salah dan keras,
dan
islam liberal tidak seterusnya benar. Kedunya Karena
itulah dua paradigma pemikiran keagamaan di atas
harus
didudukkan secara sejajar. Islam liberal tidak
diposisikan sebagai paradigma yang lebih unggul, dan
begitu pula sebaliknya, Islam fundamental tidak
berarti lebih superior dari Islam liberal.
Seharusnya, munculnya perbedaan (ikhtilaf) pandangan
patut disambut dengan baik dan arif, bukan memaki
salah satunya. Sebab, adanya keragaman pemikiran
merupakan bukti bahwa Islam (Islam yang saya maksud
adalah Islam in mind yang menyejarah, bukan Islam
sebagi teks) sangat bermacam-macam tergantung orang
yang memahaminya. Jika arif dalam memandang adanya
kepelbagaian pandangan, maka tidak akan mengklaim
salah satu diantaranya sebagai kebenaran mutlak.
Karl. Popper dengan teori falsifikasinya mengatakan,
kebenaran baru dianggap benar manakala ada celah
untuk
menyalahkannya. Sebab menyalahkan salah satunya
merupakan bentuk dari sikap ekstrem.
Perbedaan pemahaman itu adalah wajar, sejauh tidak
saling menyalahkan antara yang satu dengan lainnya,
membenarkan hanya pendapatnya yang benar serta tidak
bertindak anarkis dan destruktif. Ketika perbedaan
tersebut berakibat pada pengrusakan, pengeboman,
pembakaran dan kekerasan lainnya, di saat itupula
kekerasan atas nama agama semakin menjadi-besar.
Kekerasan akan dibalas dengan kekerasan pula, begitu
seterusnya, dimana kekerasan setelahnya akan lebih
dahsyat dari yang sebelumnya. Mendikotomikan dua
kerangka berfikir di atas untuk mencari-cari pada
siapa kebenaran berpihak, adalah merupakan pekerjaan
yang sia-sia dan semakin memperparah perdebatan di
antara kedua kubu aliran di atas.
Ketidakarifan dalam memandang dua pola pemikiran
keagamaan di atas, tidak saja berakibat pada
pertentangan, adu argumentasi, adu kebenaran, tapi
seringkali berujung pada pertengkaran fisik,
pembunuhan. (18)
-Hatim Gazali Peneliti di Community for Religion and
Social engineering Yogyakarta
[Non-text portions of this message have been removed]
--- End forwarded message ---
__________________________________
Do you Yahoo!?
Read only the mail you want - Yahoo! Mail SpamGuard.
http://promotions.yahoo.com/new_mail
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppiindia.shyper.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/