http://www.kompas.com/kompas-cetak/0410/11/opini/1276479.htm

Senin, 11 Oktober 2004

Mitos Pembangunan
Oleh B Hari Juliawan

SEKALI lagi kita disuguhi kenyataan pilu. Laporan tahunan Program 
Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa, UNDP, tahun 2004 menempatkan 
Indonesia pada peringkat ke-111 dari 177 negara dalam hal kualitas hidup 
(indeks pembangunan manusia). Dari tahun ke tahun sepertinya Indonesia sulit 
beranjak dari kisaran angka itu.
MESKI peringkat indeks pembangunan manusia bukan segala-galanya, ada pesan 
kuat yang harus diterima betapa pun pahit. Selama puluhan tahun kita 
terbiasa berbicara mengenai "pembangunan" sebagai ideologi, nama kabinet, 
maupun slogan sehari-hari.
Banyak orang yakin, Indonesia suatu saat akan mengejar kemajuan dan menjadi 
sejajar dengan negara-negara maju. Contoh terbaru berceceran selama kampanye 
pemilu legislatif maupun presiden-wakil presiden lalu. Semua calon menjual 
ide membuat bangsa ini maju dan makmur seperti negara-negara maju. 
Sebagaimana peringkat indeks pembangunan manusia yang tidak kunjung membaik, 
tampaknya kampanye itu terdengar seperti mimpi di siang bolong.
ADALAH Oswaldo de Rivero yang menyerukan pesan ini: pembangunan adalah 
mitos! Dalam buku The Myth of Development (2001), De Rivero berusaha 
membangunkan orang dari mimpi, pembangunan akan membawa negara-negara miskin 
menjadi makmur. Sepintas terdengar sinis dan pesimistis, tetapi seruan itu 
sebenarnya layak didengarkan.
Mitos pembangunan lahir dari ideologi peradaban Barat tentang kemajuan. 
Awalnya, pada Abad Pencerahan orang mulai menyadari gerak sejarah yang 
dianggap ke arah lebih baik. Gerak maju sejarah ini tercapai berkat prestasi 
peradaban yang didasarkan kinerja akal budi manusia.
Revolusi industri kian menegaskan keyakinan itu. Industrialisasi, untuk 
pertama kali dalam sejarah bangsa, memperlihatkan kemampuan untuk 
menciptakan kemakmuran dan mengatasi wabah kemiskinan yang merata.
Masyarakat industri yang lahir dari revolusi kian yakin ia mampu menciptakan 
ilmu pengetahuan, teknologi, dan industri yang merupakan motor penggerak 
kemajuan yang tiada batas. Seperti Australopithecus berevolusi menjadi 
makhluk pengguna alat, lalu homo erectus dan akhirnya homo sapiens, negara- 
negara di dunia pun sanggup beranjak dari masyarakat peramu-pemburu menjadi 
negara agraris dan akhirnya negara industri. Segala hambatan yang 
menghalangi jalan menuju kebahagiaan masyarakat industri itu bisa 
disingkirkan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Pembangunan pada dasarnya adalah ideologi tentang kebahagiaan yang 
didasarkan kemajuan material. Baik Adam Smith maupun Karl Marx mewartakan 
ideologi kemajuan material meski ujungnya berseberangan. Gagasan sama 
mendapat bentuk paling sistematis di tangan Walter Rostow dalam karya besar 
The Stages of Economic Growth (1960).
Buku ini menjadi semacam manifesto bahwa semua bangsa di dunia niscaya akan 
makmur setelah melewati lima tahap kemajuan: tradisi, prakondisi untuk lepas 
landas, lepas landas, dorongan menuju kematangan, dan periode konsumsi 
tinggi alias keberhasilan pembangunan. Persoalannya kini, bagaimana setiap 
bangsa menerapkan kebijakan yang jitu sehingga bisa menempuh tahap-tahap itu 
dalam waktu sependek mungkin.
Di Indonesia, optimisme ini tercermin jelas dalam slogan-slogan pembangunan 
Orde Baru. Anda masih ingat istilah Repelita atau Rencana Pembangunan Lima 
Tahun yang sebelum krisis tahun 1997 "sudah sampai" tahap akan tinggal 
landas.
Orang boleh optimistis. Nyatanya? Selama empat puluh tahun terakhir hanya 
ada dua negara yang berhasil beranjak dari masyarakat agraris menjadi 
masyarakat industri maju, yaitu Korea Selatan dan Taiwan. Tambahannya 
mungkin adalah Singapura dan Hongkong; keduanya tidak bisa disebut sebagai 
contoh negara bangsa karena ukurannya yang hanya seperti negara kota.
Yang lain? Beringsut pun mungkin tidak kalau bukan malah terjerembap lebih 
dalam menjadi masyarakat tanpa harapan alias non-viable economies. Sejarah 
yang diharapkan membuktikan kesahihan cerita sukses pembangunan justru 
berbalik dan menyampaikan pesan: pembangunan adalah mitos.
DE Rivero sebenarnya tidak sendirian. Beberapa pemikir, seperti Susan George 
dan Noreena Hertz, jelas-jelas memperlihatkan bahwa dunia tempat kita 
berpijak sudah lain sama sekali dari dunia yang menghasilkan negara-negara 
industri maju pada abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Negara-negara 
"berkembang" di abad ini mempunyai serangkaian masalah yang kronik. 
Pertambahan penduduk yang tak terkendali, kerusakan lingkungan, utang 
bertumpuk, politik labil, ditambah deraan arus neoliberalisme membuat mimpi 
kemakmuran kian kabur.
Kita lihat saja kota-kota besar di Indonesia. Pertambahan penduduk akibat 
kelahiran maupun urbanisasi tak mampu lagi disangga, baik oleh kekuatan 
anggaran pemda maupun oleh lingkungan alam dan sosial di sekitarnya. 
Kalaupun disertai kerja keras, kebijakan publik akan selalu tumpul 
berhadapan dengan pertambahan ini. Ruang urban yang terbatas menciptakan 
neraka-neraka kecil di pelosok-pelosok kota kita.
Pada skala nasional jelas kelihatan negara tidak mampu membiayai ongkos 
jaringan sosial yang mestinya menjadi bantal bagi mereka yang terlempar dari 
kompetisi kehidupan. Laporan Pembangunan Manusia Indonesia 2004 yang dirilis 
UNDP bersama Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) 20 Juli lalu 
menyatakan, pemerintah harus menyediakan dana Rp 103,7 triliun per tahun 
untuk memenuhi hak dasar rakyat. Dari mana uang itu? Anggaran negara telah 
habis untuk membayar utang yang tak kunjung selesai.
Nestapa ini kian kelihatan seperti lingkaran setan apabila kita melihat 
agresifnya agenda pasar bebas. Para teladan kemakmuran itu sepertinya 
sengaja melupakan bahwa pada awalnya ekonomi mereka berkembang dalam suasana 
proteksi yang luar biasa. Lagi pula, saat itu perdagangan bebas belum ada.
Seperti dikutip B Herry-Priyono (Basis, Mei-Juni 2004) dari karya Ha 
Joon-Chang (2002), negara-negara maju telah berlaku curang dengan "menendang 
tangga" yang dulu mereka pakai untuk meraih kemakmuran begitu sampai di 
atas. Kalau pembangunan itu mengasumsikan kekuasaan pemerintah menata 
anggaran dan menetapkan prioritas, tampaknya asumsi itu pun kini punah 
karena lalu lintas modal yang bebas.
Lalu, apa yang bisa dibuat? Apakah berhenti berharap suatu saat nanti bisa 
makmur?
De Rivero mengusulkan agar strategi pembangunan diganti strategi bertahan 
hidup. Ini berarti perhatian harus dipusatkan pada penyediaan syarat-syarat 
minimum bagi kehidupan sosial yang beradab. Sejak zaman Mesir kuno hingga 
hari ini tetap berlaku hukum, peradaban hanya bertahan apabila populasi dan 
konsumsi tak melebihi ketersediaan sumber-sumber daya vital, seperti 
makanan, air, dan energi. Ini berarti fokusnya ada pada pengendalian 
populasi dan penyediaan pangan, air, dan energi bagi masyarakat, serta 
mengubah gaya hidup.
Aneka kebijakan publik yang memihak rakyat hendaknya berisi agenda yang 
mendukung fokus itu. Tampaknya, selain mengubah cara pikir, pemerintah juga 
harus mengubah kebijakannya dengan memberi insentif para petani, bukan 
sebaliknya seperti sering terjadi.
Agenda bertahan hidup setidaknya masih akan menyisakan harapan: kita tidak 
akan terpuruk habis pada tahun-tahun mendatang. Lupakan mitos pembangunan 
dan siap-siap untuk bertahan hidup. Kalau masih saja mengobral janji 
kemajuan dan kemakmuran, baiklah kata-kata Rabindranath Tagore ini 
dikumandangkan, "kemajuan bagi siapa... maju ke mana".
B Hari Juliawan Mahasiswa Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma 
Yogyakarta 



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppiindia.shyper.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke