http://www.kompas.com/kompas-cetak/0410/12/opini/1318158.htm

Selasa, 12 Oktober 2004

Demokrasi yang Terancam
Oleh AJ Susmana

MENYAMBUT presiden baru, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), beberapa peristiwa 
antibudaya demokrasi turut menyeruak di panggung nasional. Beberapa yang 
menonjol adalah Goyang Inul (meski peristiwa ini agak lama, tetapi penting 
ditonjolkan karena sebangun dengan), Buruan Cium Gue, pembakaran karya 
instalasi Perahu Doa Tisna Sanjaya, juga kasus Tempo versus Tommy Winata. 
Dalam bentuk lain, pemukulan aksi politik antimiliterisme di Yogyakarta pada 
1 Oktober 2004 dan Bali, 5 Oktober 2004.
Peristiwa-peristiwa ini menonjol sebagai peristiwa budaya antidemokrasi. 
Tendensi antikebebasan berekspresi dengan mengontrol, melarang, bahkan 
dengan tindakan pemukulan, didasarkan rasa suka-tidak suka; lebih didasarkan 
kekuasaan tirani, bukan atas kehendak untuk terus memajukan kesadaran budaya 
demokratik dan berpikir ilmiah. Tindakan seperti ini tentu berbalik arah 
dengan perjuangan antikediktatoran Orde Baru, Mei 1998, yang berbuah 
berkembangnya nilai-nilai demokrasi seperti ditunjukkan dengan kebebasan 
pers, menyatakan pendapat di depan umum, berorganisasi, dan berpartai.
DEMOKRASI dalam makna sebenarnya adalah basis dan batu uji untuk kebenaran 
ilmiah. Hanya demokrasi, bukan yang lain, yang sah untuk mengukur kebenaran 
ilmu pengetahuan. Monopoli, tirani, dan oligarki kebenaran ditolak karena 
tak melibatkan partisipasi banyak orang untuk menilainya. Sistem-sistem 
seperti itu hanya terjadi di masa kegelapan manusia dan menganggap 
sekelompok orang tak berhak berpikir bahkan untuk dirinya sendiri.
Pada masa perbudakan, misalnya. Pun pada masa ini, budak tak berhenti 
menjadi budak, tetapi bergerak melawan demokrasi pemilik budak untuk menjadi 
orang-orang merdeka; untuk menjadi bagian dari demokrasi itu sendiri. 
Spartacus muncul sebagai pejuang budak melawan sistem perbudakan Roma. Meski 
kalah, tak berarti legendanya habis, sebab legenda yang mulia dan abadi dari 
Spartacus adalah pemberontakannya melawan sistem perbudakan sendiri.
Pada masa modern ini, perbudakan adalah sebuah dosa. Pada zaman pergerakan 
di Indonesia, Serikat Islam (selain organisasi-organisasi lain) sudah 
memaknai kapitalisme sebagai bentuk perbudakan. Pada kongres Serikat Islam 
1918 dinyatakan, rakyat harus melawan kapitalisme. Sebelumnya, Untung 
Surapati, budak Bali, pun sanggup melawan kolonialisme Belanda di luar 
kebudayaannya sendiri yang Hindu, yakni di Jawa, bahkan jatuh cinta kepada 
perempuan Eropa dan menikahinya dengan sembunyi.
Arti semua ini adalah tak berhak, sebagai sesama Animalia Rationale, Zoon 
Politicon atau binatang yang berpikir menurut filsuf yang ditopang 
keistimewaannya oleh sistem perbudakan: Aristoteles, manusia hidup untuk 
saling melarang selera orang tanpa didasarkan pada ratio-nya (baca: 
otaknya). Ratio agung dari Yunani untuk mengatur kebenaran ilmu pengetahuan 
manusia itu menemukan demokrasi sebagai wujud dan batu uji kebenaran. 
Demikianlah, untuk menghargai sistem ini, Socrates tak menangis meski 
dihukum mati dengan minum racun, bahkan diceritakan tersenyum menyambut 
kematiannya. Sayang, demokrasi Yunani tak menyertakan kaum budak dan 
perempuan.
KARENA itu, atas nama demokrasi, peristiwa Goyang Inul, Buruan Cium Gue, 
Perahu Doa Tisna, Tempo, dan peristiwa yang menyertainya menjadi pro-kontra 
yang seharusnya tak sekadar berhenti pada pelarangan, tetapi harus 
diletakkan pada kerangka tegaknya demokrasi sendiri; pada perkembangan 
demokrasi itu sendiri; agar demokrasinya kian berkualitas, kian dewasa; tak 
bersifat kanak-kanak: kalau kalah menangis atau mengamuk tanpa arah; kalau 
tak suka melarang. Sementara itu pelarangan atau hukuman tanpa kaidah 
demokrasi hanya akan menimbulkan trauma, luka-dendam, dan menjadi penyakit 
sosial budaya yang akut. Contoh terbesar adalah pelarangan ideologi 
komunisme beserta undang-undang turunannya yang berwatak diskriminatif di 
Indonesia.
Pelarangan dengan motif korupsi kebenaran tanpa demokrasi seharusnya 
dihindari manusia yang berbudi dan berakal. Demokrasi mengarahkan 
"pelarangan" menjadi kerja keras untuk memperjuangkan kebenaran ontologis, 
axiologis, dan epistemologis.
Landasan demokrasi memungkinkan nilai yang dianut menjadi milik umum minimal 
mayoritas. Bung Karno pada masa Nasakom dalam bentuk lain menyatakan agar 
ideologi yang dianut menjadi milik rakyat, maka bekerja dan berjuanglah 
untuk rakyat, termasuk Islam; revolusi Indonesia yang sedang bergerak 
memungkinkan semua itu. Sejarah pun sudah membuktikan: Ken Arok dengan 
Syiwanya didukung kaum tani melawan penguasa sewenang-wenang yang Whisnu. 
Untung Surapati yang budak dan Hindu mendapat dukungan rakyat di Jawa 
melawan penguasa kolonial Belanda; Diponegoro yang ningrat didukung kaum 
tani melawan kesewenang-wenangan Belanda. PKI dan kaum ulama Islam memimpin 
kaum tani melakukan pemberontakan terhadap kolonialisme di tahun 1926. Dalam 
bentuk lain, Gus Dur, saat menjadi Presiden RI, menegaskan: agar rakyat 
Indonesia tak tergelincir kembali pada komunisme, ajarkanlah rakyat 
Indonesia ilmu pengetahuan sebaik-baiknya agar rakyat Indonesia tak memilih 
komunisme sebagai kebenaran. Jadi, bukan dengan tindakan larang-melarang.
TINDAKAN seperti ini bertahun-tahun lampau sudah menjadi cara dan metode 
kolonialisme Belanda memperpanjang penindasannya di Indonesia. Kebudayaan 
melarang menunjukkan, pemerintah kolonial Belanda menganggap rakyat 
Nusantara adalah barbar, tak dewasa; harus diatur bahkan termasuk bacaannya. 
Nota Dr Rinkes adalah bukti bagaimana kontrol terhadap kebebasan berekspresi 
dilaksanakan mesin negara kolonial dan didukung penulis-penulis yang 
berkumpul di lingkaran Balai Pustaka.
Politik dan pornografi yang menjadi acuan sastra Balai Pustaka Rinkes seakan 
lebih jahat dari tindakan penjajahan kolonialisme. Sementara Rinkes dan 
pendukungnya tak melawan dan berjuang menghapuskan kolonialisme sebagai 
sumber kejahatan dan penyebab dekadensi moral.
Rakyat Indonesia membutuhkan demokrasi untuk mengembangkan dirinya menjadi 
rakyat yang sejahtera, berwatak dan merdeka dalam berpikir dan bertindak. 
Demokrasi baru saja direbut dari kediktatoran Orde Baru. Susilo Bambang 
Yudhoyono, sebagai presiden baru 2004-2009, belum berposisi dengan tegas 
dalam rentetan peristiwa budaya antidemokrasi yang menyeruak di panggung 
nasional. Karena itu, pertanyaannya pun tetap, apakah SBY akan segera 
menjadi penganut Nota Dr Rinkes.

AJ Susmana Alumnus Filsafat UGM Yogyakarta; Anggota Divisi Sastra Sanggar 
Satu Bumi di Jakarta 



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
$9.95 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppiindia.shyper.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke