Media Indonesia
Selasa, 12 Oktober 2004

OPINI

Memilih Panglima TNI dalam Perspektif Soen Tzu
Prijanto, Anggota TNI

BERBICARA masalah panglima, terutama pascapengunduran diri Panglima TNI 
Jenderal Endriartono Sutarto, pikiran orang mengarah kepada sosok seseorang 
yang begitu disegani, baik karena kemampuan maupun sikapnya. Panglima adalah 
tokoh yang terpilih, yang diharapkan dalam memimpin perang akan selalu 
memenangkan setiap pertempuran.
Kemampuan dalam pertempuran memang ditentukan banyak faktor, antara lain 
kemampuan untuk memberikan komando yang merupakan faktor utama dalam 
pertempuran. Mengomando adalah suatu seni yang harus dikuasai dan memerlukan 
kemampuan, kepemimpinan khusus, intuisi yang berkembang dengan baik, 
intelegensia yang tinggi, memiliki kemampuan menalar, dan memiliki 
kecerdasan emosi serta kecerdasan spiritual yang baik.
Namun demikian, penerapan komando ini masih tergantung adanya tanggung jawab 
dan sampai sejauh mana otoritas atau kewenangan itu diberikan. Dengan 
demikian jelaslah bahwa dalam memilih seseorang untuk menjadi panglima, 
tidaklah semudah yang kita bayangkan, termasuk bagaimana kita memilih 
Panglima TNI.
Polemik tentang bagaimana cara memilih Panglima TNI saat pembahasan RUU TNI 
telah terlewati. Rumusan pada ayat 4 Pasal 13 UU tentang TNI yang 
menyebutkan bahwa jabatan Panglima TNI dapat dijabat secara bergantian oleh 
perwira tinggi aktif dari tiap-tiap angkatan yang sedang atau pernah 
menjabat sebagai kepala staf angkatan, suatu rumusan yang tepat. "Dapat 
dijabat secara bergantian" mengandung arti tidak harus secara bergantian, 
tetapi juga mengandung pengertian tidak selalu dari salah satu angkatan.
Dalam waktu dekat, pasal ini akan digunakan, sehubungan pengunduran Jenderal 
Endriartono sebagai Panglima TNI. Untuk memilih siapa yang paling tepat 
menjadi Panglima TNI, kita diingatkan adanya seorang panglima perang Cina 
yang sangat terkenal, yang hidup pada 500 tahun sebelum masehi, bernama Soen 
Tzu.
Soen Tzu adalah penduduk asli negara Chi'i yang telah menulis mengenai "Seni 
Berperang" yang sampai saat ini masih cukup dikenal di kalangan angkatan 
perang negara-negara di dunia. Pada waktu itu, tulisan Soen Tzu telah 
menarik Raja Ho Lu dari negara Wu dan raja ingin mengujinya. Sebagai ahli 
seni perang, ujian Raja Ho diterima Tzu. Dalam menguji Tzu, raja minta untuk 
mempergunakan wanita. Dipanggillah dayang-dayang istana sebanyak 180 orang 
yang dibagi dua kelompok, masing-masing dipimpin oleh selir kesayangan raja.
Pertama, Soen Tzu menjelaskan gerakan di tempat seperti hadap kanan, hadap 
kiri, balik kanan, dan lain-lain. Pada akhir penjelasan bertanyalah Tzu, 
apakah penjelasan yang disampaikan telah dimengerti. Semua dayang menjawab 
mengerti. Latihan dimulai, genderang dibunyikan, Tzu memberikan aba-aba 
'hadap kanan'. Tetapi para dayang bukannya melaksanakan perintah, tetapi 
justru tertawa terpingkal-pingkal. Soen Tzu berkata kepada mereka, "Jika 
perintah tidak jelas dan perintah tidak dipahami, panglimanya yang salah."
Selanjutnya latihan dimulai lagi, dengan satu perintah 'hadap kiri'. Tetapi 
para dayang tidak melaksanakan dan tetap tertawa. Tzu berkata, "Jika 
perintah tidak jelas dan perintah tidak dipahami, panglimanya yang salah. 
Tetapi jika perintah jelas dan tidak dipatuhi, maka itu kesalahan 
perwiranya. Oleh karena itu perwiranya harus dihukum dan pancunglah pimpinan 
pasukan!"
Soen Tzu segera memerintahkan memancung kepala kedua pimpinan kelompok, yang 
tidak lain selir yang disayangi raja. Menyaksikan itu, Raja Ho minta agar 
kedua selirnya tidak dipancung. Tetapi jawaban Soen Tzu sangat mengejutkan 
raja. Tzu menjawab, "Sekali kami memperoleh penugasan dari yang mulia 
menjadi panglima, maka ada perintah tertentu yang tidak dapat kami 
laksanakan sesuai kedudukan kami." Akhirnya kedua selir itu tetap dipancung, 
dan kedudukannya diganti yang lain.
Tindakan tegas Tzu menghasilkan situasi latihan yang serius. Latihan demi 
latihan terus dilaksanakan tanpa ada ikut campur dari orang luar yang tidak 
mengerti dan di luar tanggung jawab, sehingga pasukan yang dilatih Soen Tzu 
benar-benar menjadi pasukan yang siap berperang. Hasil ini membuat Raja Ho 
Lu yakin bahwa hanya Soen Tzu yang dapat memimpin pasukan kerajaan Wu untuk 
memperluas pengaruhnya. Tzu ditunjuk sebagai panglima perangnya, sehingga ke 
arah barat dia mengalahkan kerajaan Ch'u dan ke utara membuat ketakutan 
negara Ch'i dan Chin.
Dialog antara Raja Ho dengan Tzu ketika akan menghukum kedua selir di atas 
dapat kita tarik suatu pelajaran bahwa tugas akan memberikan konsekuensi 
adanya tanggung jawab. Tugas dapat dilaksanakan apabila ada otoritas atau 
kewenangan yang diberikan secara penuh kepada penerima tugas tanpa adanya 
campur tangan dari pihak lain. Prinsip inilah yang membuat Raja Ho bisa 
mengerti jawaban Soen Tzu yang tidak menerima permintaannya untuk 
membatalkan hukuman atas kedua selir kesayangannya.
Tzu memiliki prinsip bahwa tugas yang diberikan raja harus dilaksanakan 
sampai berhasil dan bagaimana agar berhasil itu adalah kewenangannya, di 
mana orang lain tidak bisa ikut campur. Ketegasan dan keteguhan akan 
tanggung jawab seperti Soen Tzu inilah yang harus dimiliki seorang panglima. 
Walaupun itu permintaan atasannya atau rajanya, seorang panglima harus 
berani menjelaskan bahwa perintah itu tidak dapat dijalankan disertai dengan 
penjelasan yang mendasari.
Sebagaimana Soen Tzu, Jenderal Tarto, mantan Panglima TNI, saat ini paling 
tidak telah dua kali menunjukkan sikap tegas dalam mengemban tugas dan 
kewenangannya. Pertama, saat Gus Dur akan mengeluarkan dekrit dan kedua di 
seputar kenaikan pangkat Mendagri Hari Sabarno dan Kepala BIN Hendropriyono 
beberapa hari yang lalu.
Ajaran Soen Tzu mengatakan bahwa untuk menjadi seorang panglima memerlukan 
beberapa persyaratan. Persyaratan dari Tzu itu antara lain sampai sejauh 
mana seorang panglima memahami tentang hukum moral, langit, bumi, 
kepemimpinan, metode, dan disiplin.
Hukum moral menyangkut hubungan yang harmonis antara rakyat dan penguasa, 
antara rakyat dan angkatan perangnya, sehingga rakyat membantu dan tidak ada 
rasa takut dalam menghadapi bahaya atau musuh. Langit diartikan dengan siang 
dan malam, panas dan dingin, musim dan waktu. Sedangkan bumi diartikan 
dengan jarak jauh dan dekat, besar dan kecil, terbuka dan tertutup, lebar 
dan sempit, serta kemungkinan hidup dan mati.
Dengan memahami hukum langit dan bumi, seorang panglima mampu untuk 
memanfaatkan dalam pengambilan keputusan atas strategi dan taktik yang 
dipilih. Kepemimpinan artinya menegakkan kearifan, kejujuran, kebaikan, 
keberanian dan ketelitian. Sedangkan metode dan disiplin diartikan dengan 
bagaimana cara mengatur atau menggelar pasukannya dalam bagian-bagian yang 
lebih kecil, pengaturan kepangkatan, pengaturan jalur pembekalan, dan 
melaksanakan pengawasan.
Dalam perkembangannya, persyaratan yang diperlukan untuk seorang panglima 
tidak hanya memahami hukum moral, langit, bumi, kepemimpinan, metode dan 
disiplin sebagaimana yang disampaikan Soen Tzu, tetapi juga harus memiliki 
kecerdasan emosi dan kecerdasan spiritual, serta penyesuaian atas kebutuhan 
tugas yang akan dihadapi dalam waktu dekat.
Ini berarti dalam pemilihan seorang Panglima TNI harus didasarkan pada 
pendekatan kualitas dan kebutuhan organisasi dan tugas, bukannya kepentingan 
politik praktis atau kedekatan dan sistem giliran. Baik presiden yang 
memiliki kewenangan mengajukan calon maupun DPR yang memiliki kewenangan 
menyetujui atau tidak menyetujui, hendaknya secara cerdas menempatkan 
pendekatan kualitas dan kesesuaian tugas pada posisi pertama.
Apabila dari sisi kualitas semua calon yang memenuhi syarat dalam 
undang-undang sama, baru dipertimbangkan siapa yang paling tepat untuk 
mengemban tugas pada lima tahun ke depan.
Berkaitan dengan disetujuinya RUU TNI menjadi undang-undang, berarti pada 
lima tahun ke depan akan terjadi proses penyesuaian di dalam tubuh TNI. Hal 
ini diperlukan sosok panglima TNI yang handal, mumpuni dan serba bisa, yang 
mampu membawa TNI sebagai alat pertahanan Negara Kesatuan Republik 
Indonesia.
Dia harus mampu memimpin TNI yang bertugas melaksanakan kebijakan pertahanan 
negara untuk menegakkan kedaulatan negara, mempertahankan keutuhan wilayah 
dan melindungi keselamatan bangsa, menjalankan operasi militer untuk perang 
dan operasi militer selain perang, serta ikut secara aktif dalam tugas 
pemeliharaan perdamaian regional dan internasional.
Ilmu seni berperang Soen Tzu sudah ditulis 500 tahun sebelum masehi dan 
telah diterapkan serta teruji di berbagai medan pertempuran. Beberapa syarat 
di atas baru sebagian dari sederetan persyaratan. Apakah kita akan memilih 
panglima TNI dalam perspektif Soen Tzu dan kebutuhan tugas yang akan 
dihadapi, ataukah hanya dengan pendekatan kepentingan sesaat atau politik 
praktis, itu semua tergantung sampai sejauh mana kita mencintai TNI, bangsa 
dan negara Indonesia. *** 



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
$9.95 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppiindia.shyper.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke